Saham UNTR alias PT United Tractors Tbk. menjadi sorotan beberapa hari terakhir. Lonjakan harga sahamnya pun dihubung-hubungkan dengan lonjakan harga emas. Memang bagaimana sih prospek kinerja bisnis emasnya anak usaha PT Astra International Tbk, tersebut?
Update Kinerja Saham UNTR
Harga saham UNTR sudah naik sekitar 36,54 persen menjadi Rp29.800 per saham. Tren naik itu didorong oleh sentimen positif harga komoditas akibat perang Rusia-Ukraina.
Ditambah, kinerja UNTR 2021 hasilnya juga mentereng. Pendapatan UNTR 2021 tumbuh 31,67 persen menjadi Rp79,46 triliun. Lalu, laba bersih UNTR melejit 71,23 persen menjadi Rp10,27 triliun.
Lonjakan laba bersih UNTR itu pun juga ditopang oleh manajemen biaya yang cukup baik oleh UNTR.
BACA JUGA: Cerita Lo Kheng Hong yang Cuan Besar dari UNTR hingga Borong Saham Terafiliasi Soeharto
Biaya operasional UNTR sepanjang 2021 turun 7,58 persen menjadi Rp6,52 triliun. Di sisi lain, penghasilan keuangan seperti dari bunga deposito dan lainnya, serta bagian laba dari entitas asosiasi naik 22,19 persen menjadi Rp1,32 triliun.
Secara lini bisnis, pendapatan UNTR dari mesin konstruksi naik paling tinggi sebesar 55,42 persen menjadi Rp29,44 triliun. Lalu, tambang batu bara juga tumbuh 40,59 persen menjadi Rp15,2 triliun.
Lalu, bagaimana prospek saham UNTR dengan kehadiran tambang emas Martabe sejak awal 2019?

Potensi Matarbe untuk UNTR
Saham UNTR merampungkan akuisisi tambang Martabe pada Januari 2019. Perseroan menggelontorkan dana hingga senilai Rp16 triliun atau 1,14 miliar dolar AS untuk akuisisi tambang emas di Sumatra Utara tersebut.
Nantinya, UNTR akan memegang operasional tambang Martabe hingga 2043. Konon, tambang emas di daerah Tapanuli Selatan itu memiliki cadangan sekitar 4,3 sampai 4,5 juta ton logam.
UNTR mengakuisisi tambang Martabe melalui PT Agincourt Resources, anak usaha PT Danusa Tambang Nusantara, yang merupakan anak usahanya saham UNTR.
UNTR berharap dengan mengelola tambang Martabe perseroan bisa mendiversifikasi pendapatan yang selama ini bergantung kepada penjualan batu bara.
Hal itu bisa meredam risiko pada penjualan alat berat atau ketika harga batu bara melorot tajam seperti saat ini.
Dikutip dari situs Agincourt Resources, total sumber daya tambang emas Martabe sebesar 7,8 juta ounce emas dan 64 juta ounce perak. Lalu, cadangan emas di sana sekitar 4,5 juta ounce dan perak sebesar 34 juta ounce.
Jika dikonversi menjadi gram. total sumber daya tambang Martabe utnuk emas sebesar 275.132 gram dan perak sebesar 2,25 juta gram.
Lalu, cadangan emas di sana sekitar 158.730 gram dan 1,19 juta gram.
Jika dihitung dengan harga saat ini, total aset sumber daya dan cadangan emas di Martabe sekitar 28,01 juta dolar AS, sedangkan perak senilai 3,11 juta dolar AS. Nilai itu dengan menghitung harga emas dunia di level 2.008 dolar AS per troy ounce dan harga perak di level 28,25 dolar AS per troy ounce.
Sempat Mendapatkan Tantangan dari Pandemi Covid-19
Sayangnya, bisnis emas UNTR ini lagi tidak begitu baik, meski harga emas terus naik. Pasalnya, aktivitas pemurnian PT Aneka Tambang Tbk. sempat terhenti saat pandemi Covid-19.
Untuk itu, PT Pamapersada Nusantara, anak usaha UNTR, berencana memberikan pinjaman senilai 70 juta dolar AS atau Rp973,07 miliar.
Transaksi terafiliasi ini dilakukan karena Agincourt Resources belum memiliki fasilitas pinjaman bank yang siap tarik.
Lalu, isu lain yang dihadapi Agincourt adalah pembatasan logistik dan terhambatnya proses pemurnian di Antam. Jika proses pemurnian terhambat bisa berdampak kepada arus kas perseroan.
Untuk itu Pamapersada memilih jalur pinjaman terafiliasi kepada anak usahanya tersebut.
Kinerja tambang emas UNTR pada 2020 memang mengalami penurunan. Dari segi pendapatan turun sebesar 11,72 persen menjadi Rp7 triliun, sedangkan laba kotornya turun sebesar 30,42 persen menjadi Rp2,48 triliun.
Cuan UNTR dari Matarbe
Sejak diboyong ke UNTR pada awal 2019, tambang emas Martabe sudah memberikan kontribusi ke pendapatan dan laba kotor yang cukup signifikan.
Sampai akhir 2021, UNTR mencatatkan pertumbuhan pendapatan tambang emas sebesar 18,6 persen menjadi Rp8,3 triliun. Lalu, laba kotornya tumbuh 44,53 persen menjadi Rp3,59 triliun.

Pencapaian pendapatan tambang emas UNTR pun sudah melebihi dari realisasi 2019, atau sebelum pandemi. Pasalnya, saat pandemi Covid-19, aktivitas produksi tambang emas UNTR sempat terganggu hingga pendapatan tertekan.
Jika dibandingkan dengan 2019, pertumbuhan pendapatan tambang UNTR tumbuh 4,65 persen, sedangkan laba kotornya tumbuh tipis 0,56 persen.
Namun, pertumbuhan bisnis tambang emas UNTR memang belum sementereng lini bisnis lainnya seperti, mesin konstruksi dan tambang batu bara yang sepanjang 2021 bisa tumbuh hingga 40 persen.
Dengan pencapaian selama 4 tahun terakhir dari tambang emas, akumulasi laba kotor UNTR dari tambang emas Martabe sejak 2018 sampai 2021 sudah senilai Rp10,03 triliun. Hanya butuh sekitar dua tahun lagi untuk balik modal dari aksi akuisisi Martabe.
Kira-kira setelah Martabe balik modal, apalagi ya aksi ekspansi UNTR selanjutnya?
Mau Investasi Saham?
Buka rekening saham-mu dalam hitungan menit dengan aplikasi yang asik banget buat investasi saham + reksa dana sekarang juga