Saham Bank Aladini, Jejak Bank Ghoib yang Mulai Terlihat Samar

Prospek saham Bank Aladin

Saham BANK atau PT Bank Aladin Syariah Tbk. memang sempat heboh setelah mengumumkan diri sebagai bank digital kedua yang ada di Indonesia setelah PT Bank Jago Tbk. (ARTO), di luar beberapa bank konvensional yang bikin aplikasi digital. Namun, sudah hampir dua tahun, jejak BANK justru bak barang ghoib alias tidak pernah ada. Begini jejaknya. 

Sejarah Awal Bank Aladin Syariah

Sebelum menjadi Bank Aladin Syariah, nama bank syariah yang berencana go digital itu adalah PT Bank Maybank Nusa Internasional yang didirikan pada 1994. 

Awalnya, bank itu memiliki konsep bank konvensional atau non-syariah. Bahkan, ketika kepemilikan saham Bank Nusa Nasional itu diambil Kementrian Keuangan pada 2000. Saat itu, nama bank ghoib itu pun berubah menjadi PT Bank Maybank Indocorp. 

BACA JUGA: Cerita Saham ARTO dari Rp100 Menjadi Tembus di Atas Rp10.000

Baru pada medio 2010, Bank Maybank Indocorp berubah konsep menjadi bank syariah. Saat itulah, bank itu menjadi bernama PT Bank Maybank Syariah Indonesia. 

Diminta Merger dengan Unit Usaha Syariah BNII

Adapun, Maybank juga memiliki saham di PT Bank Maybank Indonesia Tbk. (BNII) yang dulunya bernama PT Bank Internasional Indonesia Tbk. Di sini, BNII juga memiliki unit usaha syariah di mana Bank Indonesia sampai Otoritas Jasa Keuangan yang baru hadir pada medio 2013 meminta agar Maybank Syariah dan Unit Usaha Syariah BNII merger. 

Aktivitas di Maybank Syariah di Indonesia
Tampilan operasional Maybank Syariah sebelum diakuisisi NTI Global

Tujuannya, agar secara model bisnis, bank syariah itu lebih kokoh dan bisa berkontribusi terhadap sektor perbankan syariah di Indonesia. Namun, rencana besar itu tak kunjung direalisasikan. 

Saya sempat berbicara dengan komisaris BNII pada medio 2017, yakni Tan Sri Dato’ Megat Najmuddin terkait rencana merger Maybank Syariah dengan Unit Usaha Syariah Maybank Indonesia. Jawabannya sangat normatif yang cenderung keputusan pemegang saham yang sulit untuk menyatukan keduanya. 

Sampai akhirnya, Maybank Syariah diakuisisi oleh NTI Global yang sempat diisukan terafiliasi dengan perusahaan rokok Nojorono, pemilik rokok Minak Djinggo dan Class Mild pada 2020. 

Ketika Bank Aladin Diambil Alih Oleh NTI Global

Aksi akuisisi Bank Maybank Syariah oleh NTI Global sudah terjadi pada akhir 2019. Setelah 70 persen saham dikuasai oleh NTI Global, Maybank Syariah berganti nama menjadi PT Bank Net Syariah Tbk. 

Kehadiran NTI Global yang secara mendadak di bank syariah milik Maybank itu cukup mengejutkan. Setelah usut punya usut, ada yang menilai NTI Global punya keterkaitan dengan produsen rokok Class Mild, yakni Nojorono. 

Apalagi, jajaran petinggi di NTI Global ada yang termasuk keluarga Nojorono. 

Namun, pihak Nojorono menegaskan pihaknya tidak terafiliasi dengan NTI Global. Jika ada keluarga Nojorono di sana, itu dianggap murni bisnis pribadi tidak terkait dengan Grup Nojorono. 

Bicara NTI Global, perusahaan itu sempat menjadi pemegang saham di salah satu saham teknologi di BEI, yakni PT Kioson Komersial Indonesia Tbk. (KIOS) pada 2018 silam. 

IPO Bank Net Syariah dan Kabar OVO serta Shopee yang Simpang Siur

NTI Global pun membawa Bank Net Syariah menuju lantai bursa BEI dengan cerita menjadi bank digital syariah pertama di Indonesia. 

Bank Net Syariah menawarkan harga IPO di level Rp103 per saham dan mendapatkan dana segar Rp515 miliar. Dari situ, harga saham BANK terus melejit hampir 1.000% hanya dalam 17 hari sejak IPO. Akhirnya, saham BANK pun disuspensi oleh BEI gara-gara kenaikannya di luar wajar. 

Saham Bank Naik Hampir 1.000%

Setelah IPO, banyak rumor yang mewarnai BANK, kode saham dari Bank Net Syariah yang kini bernama Bank Aladin. Apalagi, saat itu dalam euforia bank digital sejak kelompok Patrick Walujo mengakuisisi ARTO. 

Dari situ, muncul banyak spekulasi siapa calon investasi bank digital dari emiten berkode BANK tersebut. Sampai mencuat kabar kalau Sea Ltd., induk usaha Shopee tertarik ke saham bank digital tersebut. 

Sayangnya, kabar itu hanya bersifat rumor. Dengan tegas, pihak Shopee dan Sea Ltd. membantah rencana akuisisi Bank Aladin saat itu. 

Berselang beberapa lama kemudian, BANK kembali dikabarkan bakal dicaplok oleh OVO. Penyebabnya, manajemen tinggi BANK berubah total, dan beberapa berasal dari modal ventura investor pertama Grab, yang juga pemilik OVO. 

Namun, sampai saat ini tidak jelas bagaimana kabar rencana OVO di BANK. 

Berganti Nama Menjadi Bank Aladin Syariah

Di tengah ketidakjelasan siapa investor strategis BANK, pemegang saham pengendalinya NTI Global justru berganti nama menjadi PT Aladin Global Ventures. Pergantian nama di pemegang saham juga turun mengubah nama BANK dari Bank Net Syariah menjadi Bank Aladin Syariah.

Di sini, juga muncul berbagai cerita kalau Aladin Global Ventures juga berhubungan dengan PT Bank Capital Tbk. (BACA). Sampai-sampai ada rumor yang bilang akankah Bank Aladin Syariah akan bersatu dengan BACA? 

Berganti nama menjadi Bank Aladin Syariah hingga saat ini

Ya, itu hanya sekadar rumor, toh Bank Aladin juga kerepotan karena direksi barunya tidak kunjung lolos fit and proper tes di OJK. Sampai-sampai rencana rights issue pun tertunda cukup lama. 

Kehadiran Alfamart, Halodoc, dan OVO

Rumor investor strategis makin kencang berhembus di kubu Bank Aladin. Setelah sempat muncul logo Bank Aladin di beberapa Alfamart. 

Ditambah, PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT) pemilik Alfamart juga berencana rights issue untuk membeli salah satu fintech. Akhirnya, banyak yang membuat korelasi antara Alfamart dengan Bank Aladin. 

Apalagi, setelah Alfamart dan Bank Aladin mengumumkan kerja sama pada Juli 2021. Ditambah, adanya sosok OVO makin kuat karena kehadiran Komisars PT Visionet Internasional (OVO) Harianto Gunawan dalam acara tersebut. 

Namun, pasar mengesampingkan keberadaan OVO di acara tersebut. Mereka lebih menyoroti kerja sama antara BANK dengan Alfamart. Apakah nantinya BANK akan bisa memanfaatkan jaringan dan masuk ke ekosistem Alfamart? 

Dari sini, saya juga mencerna kerja sama apa  yang dilakukan antara Bank Aladin dengan Alfamart. Setelah dilihat ya itu kerja sama seperti bank lainnya, yakni membantu dalam hal sistem pembayaran. 

Masalahnya, Bank Aladin ini belum punya aplikasi maupun cabang untuk buka rekening. Lalu, siapa yang akan transaksi di sana?

Terlepas, spanduk Bank Aladin terbentang luas di setiap Alfamart. 

Apalagi, Alfamart Grup yang dimiliki taipan Djoko Susanto dengan kekayaan Rp38,8 triliun itu belum punya bank. Jika benar BANK dan Alfamart terintegrasi, banyak yang prediksi BANK bakal diuntungkan cukup besar.

Cuma sampai saat ini, belum jelas status Alfamart di BANK itu hanya mitra biasa atau juga sebagai pemegang saham.

Pelatihan Facebook sama dengan Investasi?

Hal konyol lainnya muncul terkait rumor Bank Aladin. Kali ini, muncul cerita Facebook juga berpotensi masuk ke bank syariah yang mengusung konsep digital tersebut. Alasannya, Facebook bekerja sama dengan Bank Aladin untuk membuat pelatihan. 

Acara yang terkesan diadakan diam-diam itu membuat muncul kabar Facebook tertarik masuk ke bank syariah yang belum ada penghuninya tersebut. 

Ya seperti rumor-rumor lainnya, cerita dengan Facebook juga menguap begitu saja dan tanpa jejak lagi saat ini. 

Rencana Besar Bank Aladin yang Cukup Ghoib

Rencana besar Bank Aladin yang dianggap ghoib ini mulai terlihat. Perseroan disebut ingin mengoptimalkan jaringan Alfamart untuk menggapai calon nasabah yang masih unbankable

Saya juga sempat bertanya ke petugas Alfamart di Solo. Mereka bercerita nantinya dalam pembuatan rekening sampai menabung bisa dilakukan di Alfamart. Jadi, masyarakat yang unbankable, tapi sudah bolak-balik Alfamart bisa dijangkau sehingga tingkat unbankable di Indonesia bisa turun. 

Unbankable adalah fenomena di mana masyarakat belum mendapatkan akses perbankan.

Namun, bingungnya pada akhir 2021 adalah Bank Aladin belum punya aplikasi maupun kantor cabang untuk buka rekening. Lalu, siapa yang bakal bertransaksi dan menjadi nasabahnya? meski sudah ada Alfamart. Di sini, saya senang memberikan sebutan untuk Bank Aladin adalah Bank Ghoib. 

Ternyata, waktu lama itu dibutuhkan untuk mengembangkan aplikasi digitalnya. Sampai 2022, aplikasi Bank Aladin sudah rilis. Artinya, ke Ghoib-an Bank Aladin samar-samar mulai terlihat. 

Investor Strategis dari China

Setelah kabar Alfamart akan masuk ke BANK juga perlahan mulai menguap. Kini, muncul nama salah satu investor strategi Bank Aladin yang kabarnya berasal dari China. 

Yaps, investor strategisnya Bank Aladin ini berasal dari China, yakni Zhong An Online P&C Insurance Co.

Menurut Katadata, Zhong An tertarik berinvestasi di Bank Aladin karena ingin menargetkan bisnis bank syariah lewat platform digital di Indonesia. Nantinya, Zhong An dikabarkan masuk ke BANK lewat penambahan modal baru seperti rights issue atau private placement. 

Rencana masuknya Zhong An mencuat setelah ada konferensi pers antara Bank Aladin Syariah dengan Zhong An dalam topik One Unity: Enhancing Indonesia Digital Ecosystem.

Sebagai informasi, Zhong An adalah perusahaan yang sempat didirikan beberapa konglomerat China seperti, Jack Ma,, Pony Ma, dan Mingzhe Ma, yang juga pemilik Ping An insurance. 

Jika Zhong An menjadi investor strategis BANK, artinya teka-teki investor strategis pun bakal mulai terjawab. 

Namun, masalahnya, jika kerja sama BANK dengan Zhong An hanya bersifat mitra seperti BANK dan Alfamart. Mungkin hal itu justru bisa menjadi sentimen negatif untuk Bank Aladin. 

Jadi, kira-kira menurutmu Bank Aladin ini termasuk bank ghoib atau tidak? 

Puas dengan Konten Ini?

Traktir blog ini sekarang juga agar bisa makin berkembang hingga
menambah insight hingga skill barumu

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.