Waralaba makanan cepat saji McDonald’s menjadi heboh sepanjang pekan lalu setelah gerai di Sarinah terpaksa ditutup. Namun, kalian tahu enggak sih kalau di Bursa Efek Indonesia ada beberapa emiten yang lini bisnisnya makanan cepat saji baik dalam bentuk lisensi waralaba atau malah membuat waralaba itu sendiri.

BACA JUGA: Mending Beli Rumah atau Saham Properti Ya?

Saya pun merangkum emiten sektor makanan cepat saji itu menjadi empat emiten saja, yakni PT Fast Food Indonesia Tbk. (FAST), PT Map Boga Adiperkasa Tbk. (MAPB), PT Pioneerindo Gourmet International Tbk. (PTSP), dan PT Sarimelati Kencana Tbk. (PZZA).

Nah, emiten sektor ini bisa dibilang juga kena dampak besar akibat pandemi Covid-19 loh. Pasalnya, gerai mereka yang berada di pusat perbelanjaan maupun tempat pariwisata terpaksa berhenti beroperasi.

Kira-kira, bagaimana ya nasib mereka saat ini?

1. Waralaba Makanan Cepat Saji FAST

waralaba makanan cepat saji

Pemegang waralaba Kentucky Fried Chicken (KFC) di Indonesia itu sedang berencana cukup agresif pada tahun ini. Selain menambah gerai, emiten berkode FAST itu juga tengah berencana membuka waralaba baru, yakni Taco Bell.

Kalau dicek, Taco Bell adalah waralaba makanan cepat saji asal AS, yang merupakan anak usaha Yum!. Yum! adalah perusahaan yang juga membawahi KFC itu sendiri.

Sayangnya, pandemi Covid-19 mungkin bakal membuat ekspansi FAST itu tertunda. Hal itu sudah ditegaskan seperti, penambahan gerai yang tertunda juga.

Malah, ada 97 gerai KFC milik FAST tutup karena lokasinya berada di dalam pusat perbelanjaan yang juga tutup karena pembatasan sosial berskala besar.

Terkait Taco Bell, sampai Februari 2020, pihak FAST menyebutkan masih belum beroperasi karena dalam tahap uji kelayakan.

Di tengah ekspansi yang tertahan pandemi, FAST tetap melancarkan sejumlah aksi korporasi. Salah satunya pemecahan nilai saham dengan rasio 1:2 pada 14 Februari 2020.

Pemecahan nilai saham itu diharapkan bisa membuat saham FAST bisa lebih likuid. Sejauh ini, saham FAST bisa dibilang kurang likuid.

Lalu, di tengah gejolak pasar saham pada akhir Februari 2020 sampai Maret 2020, FAST juga merencanakan aksi buyback saham. Pemegang lisensi KFC itu menggelontorkan Rp10 miliar untuk buyback pada periode 12 Maret 2020 sampai 11 Juni 2020.

Nantinya, harga maksimum yang dibeli kembali perseroan berada di level Rp1.300 per saham.

Adapun, satu aksi korporasi lainnya, yakni rights issue terpaksa ditunda terlebih dulu.

Jika melihat kinerja keuangan FAST yang terakhir dilaporkan, yakni pada kuartal III/2019, bisa dibilang pencapaiannya cukup bagus.

Dari segi penjualan, perseroan mencatatkan kenaikan 12,91% menjadi Rp5,01 triliun dibandingkan dengan Rp4,43 triliun pada periode sama tahun sebelumnya.

Lalu, dari segi laba bersih melejit 81,55% menjadi Rp175,69 miliar.

Kontribusi pendapatan terbesar FAST berasal dari penjualan makanan dan minuman yang tumbuh 12,6% menjadi Rp4,93 triliun. Di sisi lain, penjualan CD yang digabung lewat paket makanan juga melejit 56,31% menjadi Rp68,83 miliar.

Sayangnya, pendapatan perseroan dari layanan jasa antar malah turun 45,02% menjadi Rp5,49 miliar.

Adapun, dari segi valuasi sahamnya, FAST bisa dibilang yang termurah kedua dari 4 emiten yang dibahas kali ini.

FAST mencatatkan Price earning ratio (PER) 16,78 kali, sedangkan Price Book Value Ratio (PBVR) sebesar 2,47 kali.

Harga saham FAST ditutup menguat 3,12% menjadi Rp990 per saham pada perdagangan Jumat 15 Mei 2020.

Waralaba KFC antara Gelael dengan Salim

Menariknya, ada sosok Anthoni Salim di kursi Komisaris Utama FAST. Apakah FAST ini adalah anak usahanya Salim Grup?

Kalau ditelusuri lebih dalam, FAST bukanlah anak usaha dari Salim Grup. Pasalnya, Dick Gelael pemilik usaha Gelael Grup yang memiliki bisnis supermarket, yang menunjuk taipan itu untuk duduk diposisi komisaris utama.

Namun, secara tidak langsung, Salim juga memiliki saham FAST melalui PT Indoritel Makmur International Tbk. (DNET) sebesar 35,84%. Namun, PT Gelael Pratama masih memegang porsi saham terbesar 43,84%.

Selain masalah posisi komisaris utama dan kepemilikan saham, hubungan antara FAST dengan Salim Grup lebih erat lagi. Salim Grup menjadi pemasok bahan baku untuk operasional makanan dan minuman FAST.

Hal itu tampak ketika Pepsi dkk hingga Ichi Ocha yang menjadi menu minuman di KFC. Namun, ketika Pepsi tidak bersama Indofood lagi pada tahun lalu, KFC pun harus mengganti vendor minuman bersodanya tersebut.

Namun, bahan bakunya tak sebatas itu saja karena hampir seluruh lini bisnis Salim berpartisipasi di FAST.

PT Salim Ivomas Pratama Tbk. yang memiliki produk Bimoli. Artinya, ayam yang dimasak di KFC menggunakan Bimoli.

Tidak hanya itu, PT Indofood Sukses Makmur Tbk. juga memasok tepung untuk waralaba asal AS di Indonesia tersebut. Nah, misterinya apakah bumbu rahasianya juga diproduksi oleh Indofood?

Soalnya, PT Indofood Sukses Makmur CBP Tbk. ikut menjadi pemasok bahan baku di sana.

Bisa dibilang, Salim Grup menjadi tulang punggung operasional dari KFC di Indonesia, meski perusahaannya secara mayoritas dimiliki oleh Gelael.

2. MAPB, Pemilik Starbucks hingga Genki Sushi

waralaba makanan dan minuman

PT Map Boga Adiperkasa Tbk. menjadi salah satu pemegang waralaba makanan dan minuman yang cukup banyak. Selain, induk usahanya PT Mitra Adi Perkasa Tbk. juga memegang beberapa lisensi waralaba makanan dan minuman seperti, Burger King.

Beberapa lisensi waralaba yang dipegang oleh emiten berkode MAPB ini antara lain, Starbucks, Pizza Marzano, Cold Stone, Krispy Kreme, Genki Sushi, dan Paul Bakery.

Di tengah pandemi Covid-19, MAPB tidak bersuara terlalu banyak di laman keterbukaan informasi IDX. Namun, bisnis makanan dan minumannya itu terdampak cukup besar.

Soalnya, mayoritas gerainya berada di pusat perbelanjaan yang menutup operasionalnya selama PSBB. Paling, beberapa gerai yang buka mandiri masih melayani layanan pesan antar.

Secara kinerja, pendapatan MAPB masih sedikit lebih rendah ketimbang KFC Indonesia. Pemegang lisensi Starbucks itu mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 20,1% menjadi Rp3,09 triliun pada 2019. Lalu, laba bersihnya naik 39,33% menjadi Rp160,38 miliar.

Adapun, kontributor pendapatan terbesar masih berasal dari produk minuman. Perseroan mencatatkan pertumbuhan pendapatan dari minuman sebesar 17,13% menjadi Rp1,99 triliun.

Lalu, produk makanan tumbuh 16,06% menjadi RP841,87 miliar, sedangkan pendapatan lain-lain tumbuh 73,4% menjadi Rp259,41 miliar.

Di sisi lain, harga saham MAPB bisa dibilang terlampaui mahal jika dibandingkan dengan ketiga emiten lainnya.

Saham MAPB memiliki PER 21,84 kali, sedangkan PBVnya sebesar 2,92 kali.

Sampai perdagangan Jumat 15 Mei 2020, harga saham MAPB melejit 6,07% menjadi Rp1.660 per saham.

3. PTSP, Waralaba Lokal yang Bersaing dengan Brand Dunia

waralaba cfc

PT Pioneerindo Gourmet International Tbk. adalah pemilik makanan cepat saji California Fried Chicken (CFC). Jadi, kalau masih ada yang menyangka CFC produk waralaba dari luar negeri adalah sebuah kesalahan besar.

Emiten berkode PTSP itu justru menawarkan waralaba makanan cepat sajinya di Indonesia, meski memang belum mampu sebesar KFC yang sudah ada di Indonesia sejak 1979.

Menariknya, PTSP enggak cuma punya CFC loh. Emiten itu juga punya produk lainnya, yakni Sapo Oriental, Cal Donat, dan Sugakiya. Nama terakhir adalah produk anyar yang baru mulai dijalankan dengan menyasar segmen pecinta makanan Jepang.

Nah, menariknya adalah melihat kinerja perseroan pada kuartal ketiga tahun lalu. Meski nama CFC tak setenar KFC, perseroan tetap mencatatkan pertumbuhan pendapatan yang cukup positif.

Pendapatan perseroan tumbuh 21,94% menjadi Rp528,7 miliar, sedangkan laba bersih melejit 69,63% menjadi RP20,11 miliar.

Pendapatan terbesar masih berasal dari CFC yang tumbuh 20,79% menjadi Rp491,11 miliar. Sapo Oriental di posisi kedua dengan kenaikan penjualan 22,53% menjadi Rp20,39 miliar.

Lalu, Cal Donat di posisi ketiga dengan kenaikan pendapatan sebesar 37,89% menjadi Rp7,68 miliar. Sugakiya yang baru dirintis mencatatkan kenaikan pendapatan tertinggi sebesar 383,35% menjadi Rp6,68 miliar.

Namun, pendapatan royalti waralaba perseroan turun 17,02% menjadi Rp2,81 miliar.

Sayangnya, mimpi indah di 2019 akan terhadang oleh pandemi Covid-19. Apalagi, pada 16 Maret 2020, mereka mengeluarkan keterbukaan informasi tekait rencana merger, pemisahan usaha, peleburan usaha, atau pembentukan usaha patungan.

Namun, keterbukaan informasi itu tidak terlalu jelas membahas apa, tetapi PTSP menjelaskan kondisi perseroan yang dalam kondisi sulit karena tempat wisata tutup dan bahan baku harganya naik, serta sulit didapat.

Dampaknya, penjualan perseroan mengalami penurunan dan ekspansi penambahan jumlah gerai terpaksa ditunda. perseroan juga tengah melakukan negosiasi ulang atas sewa.

Nah, saham PTSP bisa dibilang yang paling mahal dibandingkan MAPB maupun FAST. PER PTSP tembus 33,61 kali, sedangkan PBVnya 4,78 kali. Padahal, arus kas yang dimilikinya paling rendah dibandingkan dengan emiten lainnya, senilai Rp34,32 miliar.

Harga sahamnya pun anjlok 6,92% menjadi Rp3.630 per saham pada perdagangan 15 Mei 2020.

Suyanto Gondokusumo di Balik CFC?

Lalu, ada siapa dibalik CFC? kalau merujuk dari berbagai sumber, awalnya CFC adalah merek dari AS. Namun, pada 1989, mereknya dimiliki oleh perusahaan Indonesia berkode PTSP itu sepenuhnya.

Sayangnya, tidak jelas siapa pendirinya. Namun, jika merujuk pemegang sahamnya, ada satu nama yang mencuat, yakni Suyanto Gondokusumo.

Suyanto Gondokusumo hanya memiliki 10,68% saham CFC tersebut. Namun, ada entitas yang tampaknya memiliki keterkaitan dengan Suyanto, yakni PT Graha Sentosa Persada yang memegang 26,88% saham perseroan, dan PT Bayu Buana Tbk. memiliki 8,9%.

Bayu Buana adalah emiten yang memiliki lini usaha sektor pariwisata, artinya bakal terdampak oleh Covid-19.

Nama Suyanto Gondokusumo sempat mencuat pada 2001 terkait sengketa jual beli saham PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia yang melibatkan pemerintah Kanada.

Suyanto adalah eks Dirut PT Dharmala Sakti Sejahtera Tbk. Perusahaan itu terkait dengan sengketa jual beli perusahaan asuransi tersebut. Dharmala Sakit Sejahtera adalah perusahaan di bidang investasi.

Setelah kasus itu, nama Suyanto jarang terdengar lagi.

4. Pizza Hut

Pizza Hut

Emiten waralaba makananan cepat saji keempat yang dibahas kali ini adalah PT Sarimelati Kencana Tbk. alias Pizza Hut. Sebenarnya, Pizza Hut adalah waralaba milik Yum! bersama KFC dan Taco Bell.

Emiten pemilik lisensi Pizza Hut di Indonesia itu mencatatkan pertumbuhan pendapatan sepanjang 2019 sebesar 11,54% menjadi Rp3,98 triliun, sedangkan laba bersihnya tumbuh 15,55% menjadi Rp200,02 miliar.

Secara rinci, pendapatan perseroan dari sektor makanan tumbuh 14,89% menjadi Rp3,57 triliun. Namun, pendapatan dari segi minuman turun 9,12% menjadi Rp426,34 miliar.

Selain itu, aksi korporasi yang disiapkan emiten berkode PZZA yang dilakukan pada awal tahun ini adalah rencana buyback saham. Perseroan menyiapkan anggaran Rp60 miliar untuk buyback saham pada periode 17 Maret 2020 sampai 16 Juni 2020.

PZZA dimiliki oleh PT Sriboga Raturaya yang memiliki lini usaha bisnis tepung via PT Sriboga Flour Mill. Lalu, anak usaha lainnya adalah PT Sarimelati Kencana Tbk. yang memegang lisensi Pizza Hut.

Sriboga Raturaya pun tak hanya memegang lisensi Pizza Hut saja, tetapi juga Marugame Udon, makanan cepat saji ala Jepang.

PZZA bisa dibilang menjadi saham dengan valuasi termurah dibandingkan ketiga emiten lainnya. PER PZZA masih menyentuh level 10,45 kali, sedangkan PBV 1,56 kali.

Pemegang lisensi Pizza Hut itu pun memiliki arus kas terbesar, yakni Rp1,34 triliun. Rasio utang terhadap modalnya pun paling rendah dibandingkan dengan yang lain, yakni 57,42%.

Harga saham PZZA ditutup naik 0,73% menjadi Rp690 per saham pada perdagangan Jumat 15 Mei 2020.

Meskipun begitu, saham emiten waralaba ini kurang likuid. Jadi, saya sendiri tidak terlalu menyarankan untuk masuk ke sini ya.

0Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Social profiles