wakil rakyat

Wakil rakyat bisa dibilang sebuah pekerjaan bagi mereka yang sudah prustasi mencari kerja kantoran dan para pemburu uang. Soalnya, menjadi legislatif yang dibutuhkan adalah suara terbanyak dan modal awal untuk berkampanye.

Jelang pemilu 2019, banyak poster calon wakil rakyat yang minta dipilih tanpa mengutarakan program dan rencananya. Ada yang memberikan program dan rencananya, tetapi mengawang-awang dan sulit direalisasikan.

Salah satu program yang tidak realistis itu adalah menghapuskan pajak STNK seumur hidup.

Bayangkan, dampak negatif dari kebijakan yang diajnjikan calon wakil rakyat itu bisa membuat potensi kredit macet pembiayaan motor dan mobil semakin tinggi. Selain itu, kemacetan bisa merajalela karena tidak ada pajak kendaraan.

Program itu hanya ingin menarik perhatian warga yang ingin bergaya dengan kendaraan pribadi, tetapi enggan membayar pajak.

Agresi Caleg memburu suara juga dilakukan secara door to door, tetapi yang datang hanya berupa sepucuk surat. Isinya minta memilih salah satu capres dan dirinya sebagai caleg.

Untungnya, di dalam surat itu tidak ada uang. Kalau ada, bisa habis saya mati-matian buat viral dia. (hehe)

Semua kisah tentang caleg itu diceritakan dengan apik dalam dorama Jepang berjudul Minshu no Teki atau Public Enemy.

Wakil Rakyat, Jalan Tomoko untuk Dapat Uang

Kisahnya menceritakan tentang ibu rumah tangga bernama Tomoko Sato yang ingin menjadi anggota DPRD kotanya. Tujuannya, untuk mendapatkan gaji yang besar dan tunjangan lainnya.

Dia ingin anaknya bisa merasakan makan daging sapi sehingga berani mengelontorkan semua tabungannya untuk menjadi anggota DPRD kotanya tersebut.

BACA JUGA : Bobobox, Menginap Murah Tanpa Perlu ke Hotel Melati

Menariknya, Tomoko digambarkan memiliki latar belakang lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Ketika Sekolah Menengah Atas (SMA), Tomoko harus dikeluarkan dari sekolahnya.

Lalu, Tomoko sangat buta tentang politik, tetapi demi uang dia nekat menjadi anggota DPRD.

Dalam kampanye, Tomoko pun mengalami kesulitan karena tidak memiliki dana sebesar caleg lainnya. Bahkan, dia sempat mendapatkan sentimen negatif dari warga sekitar sebagai ibu yang ingin menelantarkan anaknya.

Akhirnya, Tomoko berhasil lolos menjadi anggota DPRD setelah salah satu caleg yang menang mengalami sakit. Khas film drama memang, tapi di sinilah pertempuran Tomoko dimulai.

Ketika masuk hari pertama, dia berada satu ruangan dengan caleg baru lainnya yakni, Mia Koide, Ryo Okamoto, Ryutaro Sonoda, dan Makoto Todo.

Mia Koide adalah perempuan muda cantik, tetapi tidak memiliki kemampuan apapun. Kemenangannya menjadi anggota DPRD diprediksi 100% karena penampilannya saja.

Lalu, Ryo Okamoto, dia adalah caleg muda yang memiliki janji membangun wilayah masa kecilnya untuk menjadi ramai kembali. Setiap hari dia melewati gang kumpulan ruko yang sudah sepi dan berambisi membuat program yang meramaikan wilayah tersebut.

Ryutaro Sonoda adalah caleg di luar kubu koalisi maupun oposisi. Dia berada di pihak netral.

Lalu, Makoto Todo adalah anak dari politikus terkenal Jepang. Dia diharapkan menjadi penerus ayahnya, tetapi dia terus berupaya menolak.

Si Bukan Siapa-siapa yang Berupaya Mengubah Kota

Nah, pada kisah ini, Tomoko yang buta akan politik berupaya merealisasikan janjinya ketika kampanye. Namun, itu sulit dilakukan jika dia hanya sendiri alias tidak ada koalisi yang membantu.

Mau enggak mau, anggota dewan kota harus punya bekingan agar programnya bisa dijalankan. Tomoko pun memilih bergabung dengan oposisi walikota.

Keputusan itu membuat Tomoko harus menghadapi berbagai masalah yang menjadi pokok ceritanya.

Peluang Perempuan Berkarir

Tomoko memiliki suami yakni, Kohei Sato, tetapi sang suami hanya berperan sebagai bapak rumah tangga.

Sebelum menjadi anggota DPRD, Tomoko juga sempat menjadi wanita karir dalam pekerjaan customer service. Namun, dia dipecat karena tidak boleh menjawab keluhan pelanggan di luar panduan buku perusahaan.

Melihat fakta itu, film ini tampaknya ingin memberikan pesan perempuan harus punya peluang yang sama dalam berkarir.

Ketika Tomoko sibuk dengan kerjaan sebagai dewan kota. Tetangga dan ibu teman anaknya sekolah mulai mencibir Tomoko menelantarkan anaknya.

Alhasil, Kohei Sato turun tangan mengantar jemput anaknya sekolah.

Tak hanya itu, pesan peluang perempuan berkarir makin diperkuat sosok Kazumi Hirata. Dia adalah seorang jurnalis dengan satu anak, tetapi tidak punya suami.

Usut punya usut, dia memang tidak mau menikah, tetapi ingin punya anak. Akhirnya, dia meminjam sperma rekan kerjanya untuk bisa memiliki anak.

Namun, setelah melahirkan, dia malah dibuang ke divisi nonpemberitaan. Alasannya, dia seorang ibu sehingga butuh waktu luang cukup banyak untuk anaknya.

Padahal, dia masih bernafsu memburu berita sebagai jurnalis.

Menampilkan Sisi Positif dari Politik

Secara keseluruhan film ini memberikan edukasi tentang peran partai dan politik untuk kehidupan.

Film ini seperti ingin memberikan pesan tentang pentingnya politik. Pasalnya, generasi muda saat ini cenderung acuh dengan politik karena melihatnya hanya dari sisi yang kotor.

Public Enemy ingin menceritakan sisi positif politik dalam kehidupan sehari-hari.

Alur cerita film ini pun tidak serta merta membahas politik saja, tetapi juga keluarga, emansipasi perempuan, dan kerja sama tim.

Mungkin bisa dijadikan salah satu pilihan tontonan menjelang pemilu 2019. Ketimbang, memandangi media sosial yang berisi pertempuran settingan antar buzzer yang membuat panas pendukung kedua calon.

Saya menyaksikan serial drama ini di Viu secara cuma-cuma. Buat yang penasaran sama filmnya boleh unduh Viu untuk sekedar menyaksikan drama yang memiliki 10 episode tersebut.

Skor untuk Public Enemy : 8,6/10

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.