Transaksi kode QR tengah menjadi tren di kalangan masyarakat seiring dengan agresifnya fintech sistem pembayaran menggaet konsumen. Geliat transaksi kode QR sampai memudahkan transaksi konsume di pedagang kaki lima.

Saya pertama kali mengetahui transaksi kode QR bisa digunakan untuk pembayaran di kaki lima pada Indonesia Banking Expo (IBEX) 2017. Kala itu, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. menampilkan gerobak kopi di booth pamerannya.

BACA JUGA: Bisnis Kedai Kopi Lokal Mulai Saingi Starbuck

Namun, itu bukan gerobak kopi biasa karena pembayarannya harus menggunakan Mopay, aplikasi sistem pembayaran yang dipamerkan BNI kala itu. Misi Mopay memang menjamah UMKM dan pedagang kaki lima agar lebih mudah dalam melakukan sistem pembayaran.

Nah, awal 2018, BNI meluncurkan aplikasi pembayaran kode QR, tetapi bukan Mopay, melainkan Yap!. Bisa dibilang Yap! memiliki misi sama dengan Mopay, yakni menggaet UMKM dan pedagang kaki lima.

Hal itu bisa terlihat dari kehadiran Yap! di tempat makan pinggir jalan depan gedung BNI lama. Pedagang di sana menyediakan transaksi pembayaran menggunakan Yap! saat aplikasi itu baru diluncurkan.

Tak hanya di depan Gedung BNI lama, saya pun melihat tukang nasi goreng di dekat rumah [kawasan Kota Tangerang] juga menyediakan pembayaran dengan Yap!.

“Hebat juga nih, tukang makanan kaki lima sudah menggunakan transaksi kode QR,” ujar saya dalam hati.

Setelah kehebohan Yap!, sistem pembayaran fintech seperti Gopay, OVO, dan DANA juga mulai merambah kaki lima. Stiker kode QR ketiga fintech dompet elektronik itu kini sudah banyak terpasang di pedagang kaki lima, salah satunya tukang soto di dekat rumah saya.

transaksi kode QR
Salah satu penjual pecel ayam dan soto lamongan di pinggir jalan yang sudah menyediakan transaksi nontunai dengan kode QR. / Pribadi

 “Bang, saya pesan soto ayam enggak pakai nasi 2 ya, bayarnya pake OVO ya. Dapat cashback kan?” tanya seorang ibu-ibu ke tukang soto dekat rumah saya.

Abang tukang soto pun mengangguk sambil tersenyum tipis.

“Sekarang gampang ya kalau transaksi tinggal pencet aja, terus masukkin harga selesai sudah,” ujarnya.

Transaksi Kode QR Standar: Enggak Ada Alasan Tidak Punya Kembalian

Transaksi kode QR memang memudahkan sistem pembayaran di tambah promo dan cashback bikin konsumen kerajingan untuk melakukan transaksi. Namun, masih ada satu masalah, yakni satu merchant bisa memiliki beberapa kode QR yang berasal dari beberapa platform.

Demi efisiensi dan kelancaran transaksi kode QR, Bank Indonesia pun meluncurkan QR Indonesia Standard (QRIS) tepat pada 17 Agustus 2019. Adapun, QRIS akan resmi diterapkan serentak di seluruh Indonesia pada 1 Januari 2020.

Saat ini, implementasi QRIS masih dalam tahap transisi, para penyedia jasa sistem keuangan diberikan waktu sekitar 4 bulan untuk menyiapkan infrastruktur kode QR standar tersebut.

Dengan QRIS, merchant cukup memiliki satu kode QR yang bisa digunakan berbagai platform. Jadi,  penataan untuk sistem pembayaran kode QR bisa lebih rapi dan terjaga.

Di sisi lain, QRIS juga memiliki misi menjamah Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) agar lebih mudah dalam melakukan transaksi. Dengan kelancaran transaksi diharapkan mampu mendongkrak bisnis dan meningkatkan penetrasi inklusi keuangan di kalangan konsumen.

Perkembangan transaksi uang elektronik melejit sejak 2017 karena kombinasi kewajiban transaksi nontunai di jalan tol dan ekspansifnya Gopay, OVO, dan DANA untuk menggaet konsumen.

Secara praktis, keberadaan QRIS akan membuat konsumen lebih efisien dan UMKM tidak ada alasan memberikan kembalian lebih banyak sampai membatalkan transaksi karena tidak ada uang kembalian.

Beberapa kali saya pernah mengalami gagal melakukan transaksi di pedagang kaki lima dan toko kelontong karena tidak ada uang kembalian.

Ada pedagang yang menolak jika menggunakan nominal uang besar. Selain itu, ada juga yang percaya dengan konsumennya sehingga meminta bayarnya keesokan hari ketika sudah ada uang dengan nilai pecahan yang sesuai.

Lalu, ada juga pedagang yang rela memberikan kembalian lebih besar karena masalah uang kembalian.

Nah, kelancaran pembayaran dengan kode QR standar oleh QRIS ini bisa menjadi jawaban terkait polemik uang kembalian tersebut.

Konsumen pun bisa lebih percaya diri bertransaksi di kaki lima tanpa perlu memikirkan uang kembalian. Selain itu, konsumen juga bisa lebih efisien karena tidak perlu menyimpan receh kembalian yang bisa hilang dalam sekejap.

Tak Hanya Lancar, Transaksi dengan Kode QR Standar Menjanjikan Keamanan

Bicara transaksi nontunai atau online, pasti ada kekhawatiran terkait keamanan data pribadi. Kekhawatiran itu kian memuncak setelah banyak info beredar kalau aplikasi yang punya keterkaitan pembayaran maupun pinjaman online sangat rentan membahayakan data pribadi.

Kode QR standar yang membuat interkoneksi antar penyedia jasa uang elektronik memunculkan kekhawatiran terkait data pribadi konsumen tersebar ke beberapa platform. Apalagi, kode QR statis dinilai tidak terlalu aman ketimbang kode QR dinamis dari electronic data capture (EDC).

Dikutip dari Bisnis.com, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Onny Widjanarko menjelaskan QRIS memiliki fitur yang bisa mendeteksi dan mencegah kejahatan transaksi di merchant palsu.

Namun, dia tetap mewanti-wanti agar konsumen melakukan verifikasi setiap bertransaksi.

“Konsumen harus periksa lagi, nama merchant yang ditampilkan pada aplikasi pembayaran harus cocok dengan nama merchant di label QRIS,” ujarnya.

Senada dengan ucapan pihak BI, Head of Digital Banking, Branchless, & Partnership Bank CIMB Niaga Bambang Karsono Adi menuturkan transaksi dengan QRIS [kode QR standar] baru berhasil jika sudah ada notifikasi uang masuk dari konsumen ke merchant.

Jika konsumen berbelanja di merchant tertentu, tetapi kode QR itu bukan milik merchant itu, maka transaksi tidak akan berhasil.

“Lagipula, proses autorisasi kode QR merchat tidak bisa diproduksi sembarangan. Hanya bank acquiring mitra merchant yang bisa memproduksi kode QR tersebut,” tuturnya seperti dikutip dari Kontan.co.id.

Rencana Kode QR Standar sudah Mencuat Sejak 2017

Indonesia Banking Expo (IBEX) 2017 menjadi momen di mana obrolan sistem pembayaran kode QR mencuat di perbankan.

Seperti memberikan sinyal kalau transaksi kode QR akan menjadi tren ke depannya, hasil ngobrol dengan beberapa bankir pun berujung dengan pembahasan sistem pembayaran kode QR.

Perkembangan jumlah peredaran uang elektronik berbasis kartu maupun server. Pada 2017, jumlah peredaran uang elektronik meningkat drastis seiring penerapan transaksi nontunai di jalan tol. Lalu, geliat peredaran uang elektronik terus melejit tinggi seiring dengan agresifnya uang elektronik berbasis server seperti, Gopay, OVO, dan DANA menggaet konsumen lewat promo dan cashbacknya.

Salah satunya, Kresno Sediarsi yang dulu masih menjabat sebagai Direktur Utama PT Bank DKI. Saat ngobrol tentang perkembangan Bank Pembangunan Daerah (BPD), Kresno justru mengangkat obrolan terkait standarisasi kode QR.

Obrolan itu mencuat karena Kresno ingin memperkenalkan produk Jakone Mobile yang sudah ada fasilitas sistem pembayaran kode QR.

Terkait hal itu, Kresno berharap ada standarisasi kode QR secara nasional sehingga merchant antar bank bisa melakukan transaksi satu sama lain. Namun, kalimat saat itu memang masih antar bank, belum antar penyedia jasa keuangan seperti fintech.

“Kami sudah usulkan ke ASPI [Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia] untuk mengkaji standarisasi kode QR secara nasional. Kalau sekarang [2017], kode QR hanya untuk masing-masing bank,” ujarnya saat IBEX 2017.

Direktur PT Bank Central Asia Tbk. Santoso Liem, yang juga pengurus ASPI, menuturukan pihaknya berencana menyeralaskan kode QR agar bisa sesuai dengan standar internasional.

“Dengan standarisasi, pembayaran kode QR bisa mencakup domestik sampai transaksi luar negeri,” ujarnya.

Di sisi lain, keberadaan kode QR diharapkan bisa mengurangi beban perbankan dalam menyediakan mesin electronic data captured (EDC) untuk transaksi menggunakan kartu. Dengan kode QR, transaksi bisa langsung lewat smartphone.

Dari kisah 2017 itu, mimpi para bankir adanya standarisasi kode QR pun terealisasi pada tahun ini.

Bagaimana dengan pengalamanmu dalam bertransaksi lancar pakai QR standar?  #TransaksiLancarPakaiQRStandar

0Shares

2 thoughts on “Transaksi Kode QR Standar Lancarkan Pembayaran Hingga Ke Kaki Lima

  1. Iyaaaa sekarang semua transaksi udah gampang banget, lebih hemat karena uang kembalian terkelola dengan baik, tapi jadi boros karena sangking mudahnya wkwkwkwk

  2. Polemik uang kembalian, iya bener juga. Sekarang dari sisi pedagang tidak perlu repot menyiapkan kembalian, pun juga di sisi pembeli tidak perlu khawarir tidak ada kembalian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close
Social profiles