Waktu Baca5 Menit, 34 Detik

Trading forex disebut makin menarik di tengah fluktuasi kurs mata uang karena pandemi Covid-19. Nah, berikut cara trading forex agar tetap cuan, meski pasar mata uang tengah berfluktuasi.

Ekonomi global, termasuk Indonesia, tengah mengalami tekanan hebat akibat roda ekonomi yang sempat terhenti gara-gara virus Covid-19. Bahkan, beberapa negara sudah mengalami resesi ekonomi, sedangkan Indonesia sedang berada di jurang resesi setelah ekonomi kuartal II/2020 mengalami kontraksi alias minus 5,32%. 

Resesi ekonomi adalah ketika pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) suatu negara mencatatkan minus selama dua kuartal berturut-turut. 

BACA JUGA: Saham IPO, Cek Untung Rugi Beli Emiten Debutan di Sini

Pergerakan nilai tukar rupiah pun naik turun sempat tembus Rp15.000-an dolar AS saat kasus Covid-19 mencuat pertama kali pada Maret 2020. Kini, rupiah bergerak di kisaran Rp14.600 sampai Rp14.800 per dolar AS.

Pergerakan fluktuasi nilai tukar mata uang itu tidak hanya dialami rupiah, tetapi juga mata uang besar lainnya seperti, dolar AS, euro, pound sterling, yen, maupun dolar Australia. 

Misalnya, indeks dolar AS sempat melejit ke level 101,6 pada 20 Maret 2020, tetapi kini indeks dolar AS menyusut bergerak di kisaran 92-93. 

Kepala Riset dan Edukasi PT Monex Investindo Futures Ariston Tjendra mengatakan kalau pasar lagi berfluktuasi justru menjadi momentum yang tepat untuk melakukan trading forex. 

“Soalnya, karakter forex ini berbeda dengan saham. Trading forex memiliki kelebihan two way opportunity. Maksudnya, ketika lagi turun, trader bisa ambil posisi jual, setelah itu lihat peluang posisi beli ketika posisi lebih rendah daripada saat jual,” ujarnya. 

Ariston menjelaskan trader forex bisa mendapatkan keuntungan dari harga beli yang lebih rendah ketimbang harga jual sebelumnya. Selain itu, trader juga bisa mendapatkan keuntungan lainnya, yakni menjual dengan harga yang lebih tinggi ketimbang harga beli. 

“Inilah yang membuat fluktuasi pasar mata uang justru membuat trading forex menjadi lebih menarik,” ujarnya. 

Lalu, bagaimana cara trading forex di tengah fluktuasi mata uang di dunia saat ini?

Pilih Trading di Produk Major Currencies

Major Currencies adalah istilah untuk menyebut pasangan forex yang paling banyak diperdagangkan secara global saat ditransaksikan dengan dolar AS. Beberapa pasangan forex yang termasuk major currencies antara lain, euro-dolar AS, pound sterling-dolar AS, yen-dolar AS, dan dolar Australia-dolar AS. 

Kelebihan dari mentrasaksikan major currencies adalah aktivitas trading bisa dilakukan sepanjang hari tanpa mengenal batas waktu. Lalu, biasanya spread dan biaya broker untuk transaksi jenis forex ini lebih rendah.  

Nah, situasi pandemi Covid-19 yang membuat banyak mata uang berfluktuasi menjadi momen yang tepat untuk memiliih trading forex di major currencies. Soalnya, trader bisa menyesuaikan waktu untuk melakukan trading forex kapan pun sesuai momen yang tepat.

Selain major currencies, ada juga minor currencies dan exotic currencies

Minor currencies adalah pasangan mata uang di luar dolar AS yang paling banyak diperdagangkan secara global. Perbedaannya dengan major currencies adalah waktu perdagangannya harus menyesuaikan waktu masing-masing regional alias tidak bisa setiap waktu. 

Beberapa minor currencies antara lain, euro-pound sterling, euro-dolar Australia, pound sterling-yen, dan franc Swiss-yen.

Lalu, exotic currencies adalah pasangan mata uang antara dolar AS dengan negara berkembang. Salah satu karakter exotic currencies biasanya memiliki spread yang cukup tinggi dibandingkan dengan major currencies.

Beberapa exotic currencies antara lain, euro-lira Turki, dolar AS-dolar Hong Kong, yen-krone Norwegia, pound sterling-rand Afrika Selatan, dan dolar Australia-peso Meksiko.

Pantau Berita Global yang Memengaruhi Pergerakan dolar AS

Di tengah kondisi pandemi Covid-19, berbagai negara berupaya untuk memulihkan perekonomiannya dengan berbagai stimulus. Jika, trader sudah memilih trading di major currencies, berarti dia juga harus memantau perkembangan kebijakan pemerintah AS dan isu global lainnya yang bisa memengaruhi gerak dolar AS. 

Selain itu, perkembangan data ekonomi juga bisa menggerakkan dolar AS. Salah satunya, data tenaga kerja dan pengangguran di AS sebagai indikator perkembangan ekonomi Negeri Paman Sam. 

Nah, per 8 September 2020, ada dua sentimen positif yang mendongkrak pergerakan dolar AS terhadap beberapa mata uang utama dunia. Kedua sentimen itu, yakni data tenaga kerja dan rasio pengangguran di Negeri Paman Sam untuk periode Agustus 2020. 

AS mencatatkan penambahan jumlah tenaga kerja sebanyak 1,4 juta pekerja dengan rasio pengangguran di level 8,4%. Angka-angka realisasi itu jauh lebih baik dibandingkan dengan ekspektasi para analis di mana jumlah tenaga kerja diprediksi 1,32 juta pekerja dengan rasio pengangguran 9,8%. 

Selain isu terkait ekonomi, polemik geopolitik antara AS dengan China atau perseteruan di Timur Tengah juga bisa memengaruhi pergerakan kurs mata uang utama. 

Perseteruan antara AS dengan China bisa memengaruhi pergerakan kurs mata uang karena bisa memengaruhi perekonomian dunia. Pasalnya, AS dan China adalah dua negara yang memiliki pengaruh kuat terkait supply dan demand ekonomi dunia. 

Lalu, apa hubungannya dengan Timur Tengah? Gejolak di Timur Tengah bisa memengaruhi pergerakan kurs mata uang karena berkaitan dengan supply minyak dunia. Jika supply minyak dunia terganggu bisa memengaruhi harga minyak. 

Jika harga minyak dunia naik, hal itu bisa berdampak kepada ekonomi banyak negara. Dampaknya bisa positif untuk jangka dekat bagi para produsen minyak, tetapi negatif bagi negara importir minyak. 

Hasilnya, supply dan demand transaksi perdagangan dunia bisa saja terganggu sehingga membuat pergerakan major currencies menjadi berfluktuasi.

Persiapkan Risk Management dengan Matang

Dalam trading forex, pengelolaan risiko yang matang menjadi salah satu kunci untuk bisa meredam potensi risiko yang besar. 

Ariston mengatakan pasar forex terus bergerak sehingga tidak ada acuan baku untuk meredam risiko. Untuk itu, diperlukan risk management yang baik agar tidak mengalami kerugian yang besar dalam trading forex. 

Salah satu risk management dalam trading forex adalah mematok stop kerugian di level tertentu untuk meredam potensi kerugian lebih dalam lagi. 

“Dengan mematok harga untuk stop loss, trader bisa menghitung seberapa risiko yang terbesar yang akan diterima dari trading tersebut,” ujarnya. 

Terus Berlatih Analisis Teknikal

Salah satu kunci lainnya dalam melakukan trading forex adalah analisis teknikal, yakni dengan melihat pergerakan grafik secara historis sehingga bisa memperkirakan potensi pergerakan jangka pendek ke depannya. 

Ariston mengatakan analisis teknikal ini sangat diperlukan oleh para trader forex, tetapi tidak bisa dipelajari dalam semalam. Trader harus sering latihan untuk terbiasa membaca pergerakan grafik sehingga analisis teknikalnya lebih akurat. 

“Beberapa yang perlu dilatih adalah melihat tren harga dari grafik itu sedang naik atau turun. Biasanya, secara teknikal akan ada grafik yang arahnya cenderung turun atau naik untuk jangka dekat. Di sini, trader bisa menentukan aksi jual atau beli,” ujarnya. 

Kesulitan dari analisis teknikal ini adalah tidak ada aturan baku yang tetap untuk menentukan saatnya naik atau turun. Untuk itu, trader harus meneliti pergerakan grafik harga satu per satu sehingga bisa memahami arah pergerakan untuk jangka pendek. 

Jadi, siap cuan melakukan trading forex di tengah pandemi Covid-19?

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Social profiles
Close