TP Rachmat memiliki pusaran bisnis bank yang tidak terlalu mencolok seperti Djarum, Lippo, maupun Astra. Dari segi sejarahnya, T.P Rachmat lebih terkenal sebagai orang Astra yang membangun kerajaan bisnis sendiri, yakni Triputra Grup.

Namun, ketertarikan TP Rachmat beserta jejaringnya berinvestasi di sektor perbankan Indonesia ternyata sangat tinggi.

Salah satunya, ketika menantunya, Patrick Walujo, mengakuisisi PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk. pada Maret 2008. 
Patrick mengakuisisi bank yang lebih dikenal dengan nama BTPN itu melalui perusahaan patungan TPG Nusantara. Perusahaan patungan itu didirikan oleh Texas Pacific Group dan Northstar Group.

BACA JUGA: Bank Artos Bakal Jadi Bank Gojek?

Patrick mengakuisisi 71,61% saham BTPN pada 2008 dengan menggelontorkan dana senilai US$195 juta atau setara Rp1,75 triliun. [dengan asumsi kurs rupiah terhadap dolar AS pada 2008-an berada di kisaran Rp9.000] . Patrcik mengambil alih saham BTPN milik PT Recapital Advisors, PT Danatama Makmur, PT Bakrie Capital Indonesia, dan Fuad Hasan Masyur.

PODCAST: Petjahhh, Indonesia Pesta Gelar di Istora

Setelah aksi korporasi itu, TPG Nusantara pun menguasai 71,61% saham BTPN. Sisanya, 1% dimiliki oleh PT Multi Kencana Mulia dan 27,39% dimiliki publik.

Beberapa hari sebelum transaksi dengan Patrick, BTPN lebih dulu melantai di bursa dengan mematok harga penawaran saham perdana Rp2.850 per saham.

Dari aksi go public itu, BTPN meraup dana segar Rp763,7 miliar. Namun, seluruh dana hasil melantai di bursa itu diserahkan kepada PT perusahaan Pengelola Aset (PPA).

Dana hasil melantai di bursa itu akan digunakan untuk memenuhi setoran PPA ke Anggaran Pendapatan Belanja Negara pada 2008.

TPG Mulai Percaya Diri Jual Saham BTPN ke Jepang

Lima tahun memiliki saham BTPN, TPG mulai melepasnya secara bertahap. Pada Mei 2013, TPG Nusantara melepas 16,87% sahamnya di BTPN kepada Sumitomo Mitsui Banking Corporation.

Dengan mengambil beberapa persen dari porsi publik, kalai itu SMBC memiliki 24,3% saham BTPN. Nilai transaksinya mencapai Rp9,2 triliun dengan harga jual premium Rp6.500 per saham. 
Dalam penjualan saham kepada SMBC ini, posisi TPG masih menjadi pengendali BTPN. Soalnya, TPG masih memiliki lebih dari 41% saham BTPN.

Setahun kemudian, TPG kembali melepas sedikit sahamnya di BTPN kepada SMBC senilai Rp5,97 triliun pada Maret 2014. Dengan begitu, SMBC memiliki 40% saham di BTPN sehingga bank yang fokus pada segmen pensiunan dan UMKM itu memiliki dua pengendali, yakni TPG dan SMBC. Harga jual kepada SMBC pun diharga yang sama dengan sebelumnya, yakni Rp6.500 per saham. 

Sampai akhir 2014, SMBC menjadi pemegang saham terbesar BTPN sebanyak 40%, TPG 25,88%, publik 32,32%, dan 1,8% dimiliki oleh direksi perseroan. Memasuki 2015,

TPG Perlahan Tinggalkan BTPN

TPG kian mantap meninggalkan BTPN dengan cuan yang besar setelah menjual 17,5% saham yang dimiliki kepada Summit Global Capital Management B.V. Summit membeli 17,5% saham itu senilai Rp5,92 triliun dengan harga Rp5.800 per saham. Summit disebut masih terafiliasi dengan SMBC sehingga bisa dibilang bank terbesar ketiga Jepang itu hampir menguasai sepenuhnya BTPN kala itu. 
Sampai akhir 2015, komposisi pemegang saham BTPN menjadi 40% dipegang SMBC, 20% dipegang Summit Global Capital Management B.V, TPG Nusantara 8,38%, dan publik 31,62%. 

TPG pun benar-benar melepas kepemilikan dari BTPN pada Oktober 2017. Kala itu, TPG Nusantara melepas  3,48% saham BTPN sehingga kepemilikannya menjadi di bawah 5% dan masuk ke porsi publik.

Setelah TPG menghilang dari BTPN, SMBC pun merger perseroan dengan anak usahanya di Indonesia, PT Bank Sumitomo Mitsui Indonesia. 

Secara keseluruhan, dari dana yang tercatat, TPG mendapatkan keuntungan cukup besar dari berinvestasi di BTPN tersebut. Dengan menggelontorkan Rp1,75 triliun pada 2008, mereka menjual saham BTPN sekitar Rp20 triliun atau melonjak 1.042%. Namun, keuntungan itu belum termasuk pembagian dividen dan penggelontoran modal untuk mendongrak kinerja BTPN. 

Aroma TP Rachmat di BTPN Syariah

Investasi TP Rachmat di bank bukan cuma di BTPN, tetapi juga PT BTPN Syariah Tbk. Sang taipan tercatat telah memiliki BTPN Syariah saat masih bernama Bank Sahabat Purba Danarta.

T.P Rachmat tercatat menjadi pemilik 95% saham Bank Sahabat Purba Danarta. Pada periode 2012, Bank Sahabat Purba diwacanakan untuk diakuisisi oleh BTPN, bank yang kala itu masih dimiliki oleh TPG .

Proses akuisisi pun rampung dua tahun kemudian alias pada 2014 ketika TPG juga melego saham BTPN kepada SMCB.

BTPN mengakuisisi 70% saham bank milik T.P Rachmat itu senilai Rp600 miliar. Tidak tahu seberapa besar keuntungannya karena memang sulit melacak keberadaan atau investasi awal sang taipan di bank kecil tersebut.

Setelah diakuisisi BTPN, Bank Sahabat pun dimerger dengan unit usaha syariah perseroan. Alhasil, nama Bank Sahabat berubah menjadi PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Syariah.

Adapun, komposisi kepemilikan BTPN syariah setelah akuisisi rampung menjadi 70% milik BTPN, 28,6% milik Triputra Persada, dan 1,4% milik Yayasan Purba Danarta.

Empat tahun setelah akuisisi BTPN rampung, BTPN Syariah pun memutuskan melantai di bursa pada 2018. BTPN Syariah menawarkan saham perdananya senilai Rp975 per saham.

Dari aksi penawaran saham perdana itu, BTPN Syariah meraup dana segar senilai Rp751,11 miliar. Saat ini, komposisi pemegang saham BTPS antara lain, 70% BTPN dan 30% publik.

Harga saham BTPS pun sudah melejit 401,53% dari harga penawaran perdananya menjadi Rp4.890 per saham.

Mencari Cuan Lewat Bank Artos

Kabar menarik lainnya adalah ketika Patrick Walujo bersama Jerry Ng dkk, eks direksi BTPN sebelum merger dengan SMBCI, menjadi pemegang saham baru bank kecil di BEI, yakni PT Bank Artos.

Patrick Walujo bersama PT Metamorfosis Ekosistem Indonesia membeli 51% saham Bank Artos senilai Rp242,99 miliar pada 2019. Bank Artos memang menjadi salah satu bank kecil yang tengah mencari investor baru sejak 2017.

Di sana, Patrick memang hanya punya bagian 13,35% dengan keterangan untuk investasi, sedangkan Metamorfosis Ekosistem Indonesia yang dikomandoi oleh Jerry Ng dkk memang berniat akuisisi bank tersebut.

Meskipun begitu, jejak T.P Rachmat lewat Patrick masih terasa di sana. Apalagi, ketika mereka masuk, harga saham ARTO, ticker Bank Artos di BEI, langsung melejit hingga ke level di atas Rp1.000 per saham.

Sampai penutupan hari Jumat (25/1/2020), harga saham ARTO berada di level Rp3.290 per saham. Lonjakan itu selaras dengan rencana sang pemegang saham baru menyuntikkan modal senilai Rp1,5 triliun.

Dengan begitu, T.P Rachmat dkk bisa dibilang pemilik bank dengan harga saham di atas Rp3.000 per saham, meski itu cuma sekadar bank kecil BUKU I seperti BTPS atau Bank Artos.

Kamu salah satu pemegang saham ritel di emiten yang ada jejak T.P Rachmatnya?

0Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close
Social profiles
Close