Telkom alias PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk. mendapatkan kritik tajam dari Menteri BUMN Erick Thohir pada awal 2020. perseroan dianggap lamban dalam berinovasi, terutama di bidang big data dan komputasi awan.

Memang, Telkom terlihat buntu soal inovasi. Padahal, satu dekade silam, perseroan bisa dibilang sangat inovatif, terutama dalam membangun SDM di bidang teknologi.

Era 1990-an sampai 2000-an awal, Telkom terkenal dengan pendidikan SDM yang mumpuni. Dari sekolah kejuruan Sandhy Putra sampai Sekota Tinggi Teknik (STT) Telkom menjadi impian banyak orang tua untuk anaknya sekolah di sana. Harapannya, mereka bisa bekerja di perusahaan pelat merah setelah lulus.

BACA JUGA: Sektor Bank Bakal Tertekan, Ini Cerita dari India

Sayangnya, kini kinerja Telkom 64,78% bergantung kepada Telkomsel. Lalu, layanan Indihome berkontribusi sebesar 13,51% dari total pendapatan sepanjang 2019. Sisanya, produk perseroan bak barang berdebu yang tidak berkembang seperti, Blanja.com dan MelOn.

Khusus Blanja.com, Telkom klaim memiliki 62.900 pengguna aktif sepanjang 2019. Penetrasinya pun bisa dibilang cukup lamban, meski sudah berkolaborasi dengan e-Bay sejak 2017.

Bentuk kolaborasinya adalah Blanja.com menjadi jaringan penjualan e-Bay di Indonesia. Jadi, konsumen enggak perlu repot transaksi dengan kartu kredit atau Paypal.

Namun, apa daya, penetrasi toko daring Blanja.com masih sunyi senyap dan kalah dari Tokopedia, Bukalapak, Shopee, Lazada, sampai Blibli.

Kalimat kalah itu pun bukan sekadar opini belaka. Faktanya, total nilai penjualan atau Gross Merchandise Value (GMV) Blanja.com sepanjang 2019 hanya Rp188,3 miliar. Kalah jauh dibandingkan dengan Tokopedia yang mencapai Rp222 triliun, sedangkan Bukalapak sekitar puluhan triliun.

Selain Blanja.com, Telkom juga memiliki layanan musik dan gim bernama MelOn. Sayangnya, nama produk itu sangat asing di telinga masyarakat. Padahal, layanan itu menyediakan jasa konten musik, mungkin setara Spotify atau Joox.

Dari laporan tahunan perseroan pada 2019, Telkom mengklaim sudah menggaet 33,9 juta pengguna aktif MelOn. Layanan musik yang dikombinasikan dengan gim milik Telkom itu disebut jadi penopang pertumbuhan portofolio digital lifestyle dan konten perseroan sebesar 70%.

Telkom Langsung Berbenah

Kritikan tajam dari Erick Thohir itu langsung direspons oleh manajemen Telkom. Perusahaan telekomunikasi Indonesia itu langsung siap alokasikan 25% dari pendapatan untuk belanja modal pengembangan bisnis digital seperti pusat data, big data, dan komputasi awan.

Emiten berkode TLKM itu mencatatkan pendapatan senilai Rp135,56 triliun pada 2019. Artinya, belanja modal yang digunakan untuk pengembangan digital bisa setara Rp33,89 triliun.

Selaras dengan rencana itu, perseroan menggaet pendiri Bukalapak Fajrin Rasyid sebagai direktur bisnis digital perseroan. Langkah ini selaras dengan rencana belanja modal besar untuk pengembangan digital perseroan.

Direktur Utama Telkom Ririek Adriansyah mengatakan Fajrin diharapkan bisa memenuhi kebutuhan perseroan terkait kompetensi transformasi perseroan menuju ke layanan digital.

“Saat ini, kami memang sulit menentukan proyeksi kinerja karena adanya pandemi Covid-19. Namun, kami harus tetap melakukan ekselerasi transformasi digital dan memanfaatkan segala peluang yang ada,” ujarnya.

Adapun, Menteri BUMN Erick Thohir menuturkan penunjukan Fajrin Rasyid sangat tepat untuk memimpin pengembangan bisnis digital TLKM.
“Dengan rekam jejak dan pengalaman, Fajrin yang masih muda pantas memimpin pengembangan bisnis digital Telkom,” ujarnya.

Jika merujuk pernyataan perseroan sebelumnya, Fajrin bakal diberikan uang belanja senilai Rp33 triliun untuk pengembangan produk digital perseroan tersebut. Kira-kira sejauh apa pengembangan bisnis digital Telkom di tangan Fajrin ya?

0Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Social profiles