Saham UNTR, Seberapa Besar Berkah dari Martabe Ke Depannya?

saham UNTR

Saham UNTR alias PT United Tractors Tbk. menjadi sorotan beberapa hari terakhir. Lonjakan harga sahamnya pun dihubung-hubungkan dengan lonjakan harga emas. Memang bagaimana sih prospek kinerja bisnis emasnya anak usaha PT Astra International Tbk, tersebut?

Sampai penutupan perdagangan hari ini Selasa 11 Agustus 2020, Harga saham UNTR melejit 92,65% sejak turun ke level terendah sepanjang tahun ini pada 19 Maret 2020. Namun, secara harian, harga saham UNTR lagi turun 2,02% menjadi Rp24.275 per saham.

Menariknya, UNTR menjadi salah satu saham dengan price to earning ratio (PER) di bawah 10, yakni 8,98 kali.

BACA JUGA: Saham HOKI, Kecil-kecil Cabe Rawit

Dari segi kinerja, UNTR mengalami penurunan pada semester I/2020. Pendapatan perseroan mencatatkan penurunan sebesar 23,37% menjadi Rp33,19 triliun dibandingkan dengan Rp43,31 triliun. Lalu, dari segi laba bersih turun 28,26% menjadi Rp4,06 triliun dibandingkan dengan Rp5,66 triliun.

Nah, dari total pendapatan sampai paruh pertama tahun ini kontributor terbesar tetap berasal dari kontraktor pertambangan sebesar 45,37% dari total pendapatan.

Lalu, pos pendapatan terbesar kedua dan ketiga berasal dari hasil batu bara dan penjualan mesin konstruksi. Masing-masing berkontribusi 18,31% dan 18,28%.

Nah, pendapatan dari pertambangan emas menjadi yang terbesar keempat sebesar 12,17% dari total pendapatan. Kira-kira sampai akhir tahun ini nominal penjualan hasil tambang emas saham UNTR bisa makin joss enggak ya?

Saham UNTR dan Berkah Martabe

Saham UNTR merampungkan akuisisi tambang Martabe pada Januari 2019. Perseroan menggelontorkan dana hingga US$1,14 miliar untuk akuisisi tambang emas di Sumatra Utara tersebut.

Nantinya, UNTR akan memegang operasional tambang Martabe hingga 2043. Konon, tambang emas di daerah Tapanuli Selatan itu memiliki cadangan sekitar 4,3 sampai 4,5 juta ton logam.

UNTR mengakuisisi tambang Martabe melalui PT Agincourt Resources, anak usaha PT Danusa Tambang Nusantara, yang merupakan anak usahanya saham UNTR.

UNTR berharap dengan mengelola tambang Martabe perseroan bisa mendiversifikasi pendapatan yang selama ini bergantung kepada penjualan batu bara.

Hal itu bisa meredam risiko pada penjualan alat berat atau ketika harga batu bara melorot tajam seperti saat ini.

Pandemi Covid-19 dan Tantangan Cuan dari Martabe

Dikutip dari situs Agincourt Resources, total sumber daya tambang emas Martabe sebesar 7,8 juta ounce emas dan 64 juta ounce perak. Lalu, cadangan emas di sana sekitar 4,5 juta ounce dan perak sebesar 34 juta ounce.

Jika dikonversi menjadi gram. total sumber daya tambang Martabe utnuk emas sebesar 275.132 gram dan perak sebesar 2,25 juta gram.

Lalu, cadangan emas di sana sekitar 158.730 gram dan 1,19 juta gram.

Jika dihitung dengan harga saat ini, total aset sumber daya dan cadangan emas di Martabe sekitar US$28,01 juta, sedangkan perak senilai US$3,11 juta. Nilai itu dengan menghitung harga emas dunia di level US$2.008 per troy ounce dan harga perak di level US$28,25 per troy ounce.

Sayangnya, bisnis emas UNTR ini lagi enggak begitu baik, meski harga emas terus naik. Pasalnya, aktivitas pemurnian PT Aneka Tambang Tbk. sempat terhenti saat pandemi Covid-19.

Untuk itu, PT Pamapersada Nusantara, anak usaha UNTR, berencana memberikan pinjaman senilai US$70 juta atau Rp973,07 miliar.

Transaksi terafiliasi ini dilakukan karena Agincourt Resources belum memiliki fasilitas pinjaman bank yang siap tarik.

Lalu, isu lain yang dihadapi Agincourt adalah pembatasan logistik dan terhambatnya proses pemurnian di Antam. Jika proses pemurnian terhambat bisa berdampak kepada arus kas perseroan.

Untuk itu Pamapersada memilih jalur pinjaman terafiliasi kepada anak usahanya tersebut.

Namun, melihat penjualan emas UNTR sampai paruh pertama ini masih mampu tumbuh dua digit sebesar 11,28% menjadi Rp4,03 triliun. Artinya, potensi risiko di bisnis batu bara bisa saja diredam oleh pendapatan dari tambang emas dan perak tersebut.

Selain emas, pendapatan dari jasa mesin konstruksi juga mencatatkan kenaikan sebesar 9,47% menjadi Rp1,2 triliun. Namun, porsi pendapatan tambang emas masih lebih besar ketimbang jasa mesin konstruksi tersebut.

Jadi dari segi kinerja, saham UNTR masih bisa lebih baik lagi hingga akhir 2020 dari segi tambang emas. Apalagi, jika pemurnian di Antam kembali berjalan normal.

Kalian tertarik koleksi saham UNTR?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.