saham Telkom ditutup anjlok 2,36% menjadi Rp3.730 per saham. Sindiran Erick Thohir kepada perusahaan pelat merah itu ditenggarai menjadi salah satu faktornya. Lalu, apakah saham berkode TLKM itu tetap layak dikoleksi?

Kalau mengutip Bisnis.com, Menteri BUMN Erick Thohir menyindir Telkom yang dinilai kurang melakukan inovasi di dunia teknologi. Padahal, perusahaan itu berada di sektor yang sangat berdekatan dengan teknologi.

BACA JUGA: Pasca Anjlok, Mending Beli INDF atau ICBP?

Erick menuturkan Telkom itu sangat enak sekali karena 70% pendapatan diraih dari Telkomsel. Belum lagi, Telkom mendapatkan dividen dari Telkomsel.

“Kalau begini, mending Telkomsel saja yang langsung dimiliki oleh Kementerian BUMN biar dividennya lebih jelas,” ujarnya.

Erick pun menceritakan pengalamannya ketika mengurus Asian Games 2018. Kala itu, dia terpaksa menggunakan Ali Cloud untuk menyelenggarakan gelaran acara multi event tersebut.

“Bisnis seperti big data, cloud, dan sebagainya jangan sampai diambil oleh asing. Telkom harusnya bisa,” ujarnya.

Lalu, bagaimana fakta kontribusi Telkomsel kepada Telkom?

Telkom memiliki banyak anak usaha, salah satunya PT Telekomunikasi Selular atau Telkomsel. Operator selular itu pun menjadi anak usaha Telkom dengan aset paling besar.

Sampai September 2019, aset Telkomsel senilai Rp83,68 triliun, tetapi Telkom tidak memiliki 100% Telkomsel.

Perusahaan pelat merah itu hanya memiliki 65% saham Telkomsel. Sisanya, dimiliki oleh Singapore Telecom Mobile Pte Ltd.

Jika melihat laporan keuangan Telkom, pos pendapatan yang berasal dari bisnis Telkomsel memang mendominasi.

Dari 15 pos pendapatan saham Telkom, ada tiga yang merupakan bagian dari bisnis Telkomsel. Ketiga pos pendapatan itu antara lain, jaringan Telepon bergerak [seluler], internet dan data seluler, serta SMS.

Namun, pada kuartal III/2019, ketiga pos pendapatan itu berkontribusi sebesar 65,87% pendapatan Telkom. Artinya, peran Telkomsel ditubuh Telkom memang sangat signifikan.

Saham Telkom yang Bertumpu Pada Telkomsel

Tak hanya kontribusi kinerja saja yang diterima oleh Telkom dari Telkomsel. Perusahaan itu juga menikmati legitnya dividen dari Telkomsel.

Mengutip laporan tahunan Telkomsel pada 2018, perusahaan operator seluler itu mencatatkan arus kas keluar untuk dividen tunai senilai Rp27,86 triliun.

Dengan mengenggam 65% saham Telkomsel, artinya Telkom berhak atas dividen tunai itu senilai Rp18,11 triliun.

Nilai dividen tunai Telkomsel itu pun lebih besar ketimbang nilai dividen Telkom pada 2018 yang diambil dari kinerja keuangan 2017. Pada periode itu, Telkom membagikan dividen senilai Rp16,6 triliun.

Nilai dividen itu pun tidak semuanya dinikmati oleh pemerintah karena 43,02% pemegang saham dari pihak masyarakat.

Wajar saja jika Erick menilai lebih baik Telkomsel langsung di bawah Kementerian BUMN agar pendapatan ke negara lebih besar ketimbang Telkom.

Prospek Saham TLKM Selanjutnya

Meskipun begitu, masih sulit bagi Erick jika menghilangkan Telkom begitu saja. Prosesnya akan memakan waktu panjang, apalagi Telkom adalah perusahaan publik.

Namun, sindiran Erick memang menjadi masukan yang bagus buat Telkom. Soalnya, perusahaan pelat merah dengan kapitalisasi pasar saat ini senilai Rp369,5 triliun cenderung lambat berinovasi.

Bahkan, e-Commerce besutan Telkom yang merupakan hasil kerja sama dengan e-Bay, yakni Blanja.com nasibnya seperti mati segan, hidup pun tidak mau.

Di luar itu, masih banyak yang menilai saham TLKM masih layak koleksi. Apalagi, dengan adanya Telkomsel di dalamnya.

Jika dilihat dari historis fundamental keuangan, pertumbuhan pendapatan Telkom memang terus melambat sejak 2015 sampai 2018. Adapun, kinerja pendapatan kuartal III/2019 tumbuh tipis sebesar 3,46%, persentase itu masih lebih tinggi ketimbang periode sama pada 2018 yang sebesar 2,27%.

Persentase pertumbuhan itu juga jauh lebih besar daripada peforma sepanjang 2018 yang hanya tumbuh 1,97%. Artinya, pada 2019 bisa saja Telkom mencatatkan pertumbuhan pendapatan yang sedikit jauh lebih tinggi ketimbang 2018.

Sayangnya, dari sisi laba bersih perseroan mencatatkan penurunan drastis pada 2018. Pada periode itu, laba bersih Telkom susut 18,57%.

Sebelum 2018, pertumbuhan laba bersih Telkom memang mulai melambat sejak 2016. Pada periode itu, laba bersih Telkom memang melejit tinggi 24,94%, tetapi tren selanjutnya terus melambat.

Meskipun begitu, nasib kinerja laba bersih TLKM di kuartal III/2019 bisa dibilang membaik setelah tumbuh 15,65%. Jika mampu dipertahankan hingga akhir tahun, artinya pertumbuhan laba bersih TLKM akan lebih pesat dibandingkan dengan 2018.

Jadi, Beli, Jual, atau Dipantau Saja Saham Telkom Ini?

Setelah penurunan yang terjadi dalam perdagangan harian pada 13 Februari 2020, apakah harga saham Telkom sudah murah?

Saat ini, Telkom memiliki arus kas senilai Rp38,26 triliun dengan tingkat Debt to Equity Ratio (DER) 98,95%. Nilai DER TLKM itu adalah yang terendah di sektor telekomunikasi.

PT Indosat Tbk., PT XL Axiata Tbk., dan PT Smartfren Tbk. memiliki tingkat DER jauh lebih tinggi di atas TLKM.

Dengan melihat kondisi arus kas dan DERnya, saham Telkom memiliki valuasi Price to Earning Ratio 16,8 kali dan Price Book Value (PBV) ratio 3,71 kali.

Secara sektoral, TLKM menjadi saham yang paling murah dengan fundamental baik. Sisanya, Indosat dan Smartfren memiliki PER minus, sedangkan XL Axiata memiliki PER 40,45 kali, meski PBVnya 1,51 kali.

Dengan rasio valuasi itu, saham Telkom rasa-rasanya masih sangat direkomendasikan untuk dibeli. Apalagi, kalau manajemen perseroan segera berbenah setelah disindir oleh sang menteri.

0Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close
Social profiles