Saham Siantar Top jadi obrolan setelah melejit sebesar 115,35% dalam sepekan terakhir. Ada sesuatu apakah yang terjadi pada emiten berkode STTP tersebut?

Harga saham Siantar Top dalam 5 tahun terakhir bergerak di level sekitar Rp3.000-an. Selain itu, pergerakan harga saham emiten sektor konsumer ini juga kurang likuid.

Meskipun begitu, harga saham Siantar Top sempat melejit dari level Rp150 per saham pada 30 September 2005 hingga tembus level Rp1.000-an untuk pertama kalinya pada 2012.

Lalu, lonjakan harga saham Siantar Top hingga tembus Rp10.100 kali ini apa penyebabnya?

Bursa Efek Indonesia (BEI) pun mengonfirmasikan hal itu ke pihak manajemen Siantar Top. Seperti, apakah pihak manajemen mengetahui ada yang menyebabkan lonjakan harga saham, termasuk aksi korporasi pemegang saham pengendali.

Jawabannya, manajemen Siantar Top tidak mengetahui apapun yang terjadi tentang lonjakan harga sahamnya. Untuk aksi korporasi, perseroan mengaku tidak ada rencana hingga tiga bulan ke depan.

BACA JUGA: Gojek Kenapa Sempat Viral, Ini Fakta Penyiksa Driver Gojek

Jika melirik hasil paparan publik terakhir perseroan, yakni pada 20 Desember 2019. Sesungguhnya tidak ada rencana spesial dari emiten berkode STTP tersebut.

Siantar Top hanya akan meningkatkan mitra distribusi lokal di domestik. Saat ini, mereka memiliki 70 merek yang dijajakan oleh distribusi lokal di 180 titik.

Selain itu, perseroan juga telah membuka jaringan pasar internasional baru di kawasan Asia, Timur Tengah, Afrika, dan Australia. Lalu, kontribusi penjualan ekspor saat ini masih sebesar 10%.

Siantar Top menargetkan secara keseluruhan penjualan bisa tumbuh 15% pada tahun ini. Dari sisi penjualan ekspor di targetkan bisa tumbuh hingga 20%.

Selain itu, tidak ada rencana besar dari emiten konsumer tersebut.

Saham Siantar Top, Tidak Ada Borong Saham dari Sang Empunya

Jika dilihat transaksi pemegang saham di atas 5% Siantar Top sejak 13 Februari 2020 sampai saat ini, tidak ada transaksi sama sekali.

Satu-satunya pemegang saham di atas 5% Siantar Top adalah PT Shindo Tiara Tunggal yang kemungkinan besar dimiliki oleh Shindo Sumidomo. Shindo Tiara Tunggal memiliki 56,76% saham Siantar Top.

Sisanya, ada Shindo Sumidomo yang secara langsung memiliki 3,1% saham Siantar Top. Lalu, ada Juwita Jaya yang memiliki 0,03%.

Sisanya, dimiliki oleh publik alias yang kepemilikannya di bawah 5% sebanyak 40,11%.

Sepanjang perdagangan Senin (24/02/2020), harga saham Siantar Top naik 12,22%. Namun, dari segi transaksi hanya ada 4 transaksi beli dengan harga di kisaran Rp7.300 – Rp9.000 per saham.

Lalu, transaksi jual ada 38 dengan rentang harga Rp9.850 per saham – Rp10.475 per saham.

Sepanjang sepekan terakhir, ada tujuh sekuritas yang melakukan transaksi saham Siantar Top.

Ketujuh sekuritas itu antara lain, Mandiri Sekuritas, Daewoo Securities Indonesia, Valbury Asia Securities, Phillip Securities Indonesia, CIMB Securities Indonesia, BNI Securities, dan Indo Premier Securities.

Daewoo Securities menjadi Top Buyers dan Sellers dengan total transaksi Buy 1.700 lembar, sedangkan sell sekitar 1.600 lembar.

Posisi kedua, top buyers adalah Mandiri Sekuritas dengan transaksi buy sebanyak 700-an lembar dan transaksi sell sekitar 300-an lembar.

Kinerja Siantar Top

Sementara itu, dari sisi kinerja, Siantar Top mencatatkan hasil yang cukup renyah pada 2019.

Sampai kuartal III/2019, perseroan mencatatkan pertumbuhan penjualan sebesar 26,73% menjadi Rp2,59 triliun, sedangkan laba bersih sebesar 88,93% menjadi Rp377,19 miliar.

Dari sisi fundamental lainnya, perseroan masih memegang arus kas sekitar Rp337,34 miliar dengan ekuitas Rp2,01 triliun dan aset Rp2,76 triliun.

Dari sisi debt to equity ratio (DER) alias utang dibandingkan dengan modal, Siantar Top masih cukup oke dengan persentase 36,67%.

Namun, Siantar Top menjadi emiten yang jarang bagikan dividen. Dikutip dari laporan keuangan perseroan, catatan dividen terakhir pada 2004 dengan total nilai Rp11,31 miliar atau setara dengan Rp8,63 per saham.

Seteah itu, sejak 2010-2018, perseroan selalu menjadikan 100% laba bersih sebagai laba ditahan untuk memperkuat modal.

Di sisi lain, angka return on equity (ROE) alias keuntungan yang diperoleh dengan menggunakan modal dari pemegang saham sebesar 25%. Lalu, Return on asset (ROA) alias keuntungan yang diperoleh dari aset sebesar 18,19%.

Sayangnya, valuasi harga saham STTP sudah terlalu tinggi. Price earnings ratio (PER) sebesar 26,3 kali. Lalu, Price Book Value (PBV) ratio sebesar 6,58 kali. Angka itu menunjukkan sudah harga saham perseroan sudah terlalu mahal.

Entah siapa yang menggoreng dan ada aksi apa yang terjadi atas lonjakan saham STTP ini. Namun, dengan fundamental oke, saham Siantar Top kurang likuid dan jarang bagikan dividen lagi. Jadi, kurang menarik bagi investor ritel.

0Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Social profiles