Harga saham pakan ternak lagi menanjak seiring dengan kebijakan pemerintah dalam mengendalikan harga bibit ayam. Apakah ini saat yang tepat untuk meraup capital gain atau cuan dari kenaikan harga saham emiten sektor tersebut?

Emiten sektor itu memang terkenal paling labil dari segi harga saham. Soalnya, faktor permintaan dan pasokan sangat fluktuatif.

Ingat kejadian peternak melepas ayamnya secara cuma-cuma karena harga jual yang jatuh terlalu dalam, tetapi harga ayam dan telur bisa saja menanjak tiba-tiba ketika permintaan naik drastis.

Hal itu pula yang terjadi dengan harga saham emiten sektor tersebut.

Sebenarnya, ada empat emiten pakan ternak di BEI, yakni PT Charoen Phokphand Indonesia Tbk., PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk., PT Malindo Feedmill Tbk., dan PT Sierad Produce Tbk. Namun, dari keempat saham pakan ternak itu, hanya tiga yang cukup likuid.

Ketiga saham pakan ternak yang cukup likuid adalah Charoen Pokphand (CPIN), Japfa (JPFA), dan Malindo (MAIN).

Secara harian, harga saham CPIN naik 1,54% menjadi Rp6.575 per saham. Harga saham JPFA naik sebesar 1,34% menjadi Rp1.515 per saham. Harga saham MAIN naik 3,68% menjadi Rp845 per saham, sedangkan harga saham SIPD turun 8,99% menjadi Rp810 per saham.

Kenaikan harga saham emiten pakan ternak ini sudah mulai terjadi sejak akhir pekan lalu. Lonjakan harga saham emiten pakan ternak berkaitan erat dengan upaya pemerintah mengatur harga acuan bahan pangan pokok, termasuk bibit anak ayam usia sehari atau day old chick (DOC).

Harga bibit ayam itu dipatok dikisaran Rp5.000 sampai Rp6.000 per ekor. Harga itu dinilai ideal.

Saat ini, harga bibit ayam tengah anjlok di kisaran Rp4.000 per ekor atau di bawah harga normal.

Meskipun begitu, harga bibit ayam masih bisa bergerak sesuai dengan permintaan dan pasokan.Namun, pemerintah akan melakukan langkah pemangkasan populasi bibit ayam jika harga pasar lebih rendah atau malah terlalu tinggi di pasar.

Selain terkait harga bibit ayam, pemerintah juga mengatur harga jagung pipil kering menjadi RP4.500

Selain itu, harga acuan pembelian di tingkat petani untuk daging ayam ras dan telur ayam juga diubah dari Rp18.000 – Rp20.000 per kg menjadi Rp19.000 – Rp21.000.

Harga Saham Pakan Ternak Naik, Saatnya Jual?

Untuk masalah jual, saya menyarankan kalian pemegang saham pakan ternak tidak menanti cuan yang lebih tinggi. Alasannya, harga saham pakan ternak bakal tetap labil, apalagi sebentar lagi jelang bulan puasa dan lebaran.

Biasanya, bukannya harga saham naik, pada periode padat permintaanitu harga saham pakan ternak malah anjlok.

Namun, kalian harus lihat dulu juga apakah sudah cuan atau belum. Jika masih merugi, lebih baik tahan hingga bisa mendapatkan sedikit cuan.

Sebagai gambaran, meski harga saham emiten pakan ternak tengah naik, tetapi secara year to date belum menunjukkan kenaikan yang signifikan, malah masih minus.

PODCAST: Mengulas Jejak Saham Bali United dari Tembus Rp442 per saham Hingga Terseok-seok Menuju Rp100-an per Saham

CPIN menjadi satu-satunya saham pakan ternak yang masih memberikan capital gain sepanjang tahun ini sebesar 1,15%.

Lalu, JPFA, MAIN, dan SIPD malah cenderung masih minus. JPFA minus sebesar 1,3%, MAIN sebesar 15,92%, dan SIPD 4,7%.

Artinya, justru bisa jadi saat ini momentumnya beli jika ingin mengambil opsi jangka pendek.

Bagaimana Valuasi Harga Saham Pakan Ternak?

Jika dilihat dari segi price earning to ratio (PER) dan Price to Book Value (PBV) ratio, MAIN bisa dibilang paling murah ketimbang CPIN dan JPFA.

MAIN memiliki PER 7,28 kali dengan PBV 0,93 kali. Harga saham MAIN yang sudah anjlok 15,92% sepanjang tahun ini membuat saham daya tarik untuk membeli saham ini makin kuat.

Apalagi, MAIN juga memiliki dividen yield 4,5%. Jadi, jika pun nyangkuters selama setahunan, masih bisa menikmati dividennya.

Jika ingin menjajal yang lebih oke, JPFA bisa menjadi pilihan. Harga saham JPFA memang agak lebih mahal valuasinya ketimbang MAIN, tetapi secara fundamental lebih bagus Japfa.

BACA JUGA: Goyangan Kresna dan Salim Belom Bikin Saham Bali United Meroket

PER JPFA sebesar 12,73 kali dengan PBV 1,77 kali membuat emiten pakan ternak itu masih terjangkau untuk dibeli. Apalagi, secara sektoral, dividen yield JPFA paling besar, yakni 6,6%.

Emiten pakan ternak yang paling besar adalah CPIN, tetapi perusahaan asal Thailand itu sudah kepalang mahal.

PER CPIN sudah mencapai 31,46 kali dengan PBV 5,39 kali. Dividen yieldnya pun lebih kecil ketimbang MAIN dan JPFA, yakni sebesar 1,79%.

Jika kamu ingin membeli JPFA yang harga sahamnya kini di level Rp1.515. Artinya, minimal kalian harus menggelontorkan Rp160.000 per lotnya.

Namun, jika memilih MAIN, kamu bisa menggelontorkan sekitar Rp90.000-an per lotnya.

Tertarik bertaruh di sektor pakan ternak?

0Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Social profiles