Saham LUCK kembali mencuat selaras dengan skandal perencana keuangan kekinian Jouska. Bahkan, Founder dan CEO Jouska Aakar Abyasa Fidzuno sempat membandingkan saham LUCK dengan Amazon. Apakah keduanya memiliki nasib yang sama?

Sebelum masuk ke saham LUCK, saya akan sedikit bercerita tentang saham Amazon. Perusahaan besutan Jeff Bezos itu didirikan pada 1994 di garasinya.

Namun, hanya butuh waktu tiga tahun setelah didirikan, Amazon memberanikan diri melantai di Nasdaq pada 15 Mei 1997. Kala itu, Amazon menawarkan harga perdana senilai US$18 per saham.

BACA JUGA: Bisnis Gagal, Ini Tiga Hal yang Sebaiknya Kalian Lakukan

Jika dilihat dari segi model bisnisnya, Amazon didirikan sebagai penjual buku online. Namun, seiring berjalannya waktu, Amazon kini menjadi marketplace dan penyedia jasa komputasi awan terbesar di dunia. Bahkan, kapitalisasi pasar Amazon mencapai US$1 triliun pada 2018.

Bahkan, Amazon sudah melakukan pemecahan saham sebanyak tiga kali. Biasanya alasan perusahaan melakukan pemecahan nilai saham agar harganya lebih terjangkau oleh investor. Terutama, untuk saham yang memiliki harga tinggi.

Pemecahan nilai saham pertama Amazon dilakukan pada Juni 1998 dengan rasio 1:2.

Lalu, pemecahan saham kedua dan ketiga dilakukan pada Januari dan September 1999. Pada pemecahan yang kedua, Amazon melakukannya dengan rasio 1:3, sedangkan pemecahan saham yang ketiga sebesar 1:2.

Sampai perdagangan 27 Juli 2020, harga saham Amazon berada di level US$3.055 per saham dengan kapitalisasi pasar senilai US$1,52 triliun.

Kalau Punya 1 Lembar Saham Amazon Waktu IPO, Berapa Nilainya Sekarang?

Jika kalian memiliki satu lembar saham Amazon pada saat IPO 1997 [meski tidak mungkin memiliki 1 lembar karena minimal pembelian 1 lot], kira-kira nilai dan jumlah saham yang dimiliki sekarang berapa yak?

IPO dengan harga US$18, Amazon telah melakukan pemecahan saham sebanyak 3 kali seperti dijelaskan di atas. Artinya, jika memiliki 1 saham saat IPO, kini kalian akan memiliki sebanyak 12 lembar saham.

Nah, 12 lembar saham Amazon itu senilai US$36.662 atau setara Rp533,17 juta. Angka yang fantastis bukan? enggak heran kalau Jeff Bezos jadi orang terkaya di dunia.

Terus Bagaimana dengan Saham LUCK, Apakah Bisa Disetarakan dengan Amazon?

Saham LUCK bisa dibilang menjadi yang cukup fenomenal saat IPO pada akhir November 2018. Dengan harga penawaran Rp286 per saham, harga saham Sentra Mitra Informatika itu langsung melejit 131% menjadi Rp660 per saham.

Dari aksi IPO itu, LUCK yang melepas 21,6% saham telah menghimpun dana senilai Rp44,06 miliar.

Selain itu, dari aksi IPO ini, Serial System Pte. Ltd, perusahaan Singapura, juga melakukan konversi Mandatory Convertible Bond (MCB) dengan harga pelaksanaan Rp174,64 per saham. Dengan begitu, Serial System Pte. Ltd. juga akan memiliki 20% saham LUCK.

Sampai akhir Juni 2020, pemegang saham LUCK terdiri dari Caroline Himawati sebanyak 29,2%, Josephine Handayani dan CHristine Herawati masing-masing sebanyak 14,6%, Serial System Pte. Ltd. sebanyak 20%, dan publik sebanyak 21,6%.

Nah, kalau begini apa sih bisnis dari LUCK ini?

Dari laporan keuangan kuartal I/2020, perseroan memiliki lini bisnis perdagangan dan sewa.

Segmen perdagangan berasal dari penjualan barang elektronik. Lalu, segmen sewa berasal dari penyewaan printer, klik, dan jasa lainnya.

Secara keseluruhan, nilai aset LUCK per 31 Maret 2020 senilai Rp174,72 miliar dengan total liabilitas Rp36,97 miliar dan ekuitas Rp137,75 miliar.

Dari sini, bisa dilihat model bisnis LUCK bukan sesuatu yang luar biasa. Soalnya, perseroan hanya menjadi pedagang dan penyewa barang elektronik. Berbeda dengan Amazon yang mengikuti tren dotcom saat itu dalam bentuk penjualan buku secara online.

Terus Dana IPO Rp40-an miliar itu DiPakai Buat Apa Ya?

Nah dari prospektusnya, saham LUCK akan menggunakan 20% dana IPO untuk sewa tempat. Jadi, perseroan berencana membuka 15 kantor cabang dalam setahun pasca melantai di BEI.

Kemudian, 50% dana IPO akan digunakan pembelian aset berupa printer. Aksi pembelian printer itu dilakukan berdasarkan kontrak dengan penyewa selaras dengan ekspansi 15 kantor cabang perseroan.

Lalu, sisanya 30% dana IPO akan digunakan untuk modal kerja seperti, penyediaan barang berupa notebook, tinta printer, dan spare parts lainnya.

Jadi, bisa dibilang fokus perseroan memang penjualan dan penyewaan produk elektronik. Terutama printer. Jadi bisa dibilang setara Amazon belum?

Terus Kenapa Saham LUCK Katanya Sempat Jadi Primadona?

Jadi gini, setelah melantai di BEI pada akhir 2018, saham LUCK terus melejit hingga sempat tembus Rp2.000 per saham pada awal Agustus 2019.

Disitulah saham LUCK jadi perbincangan hangat di kalangan trader dan investor pemula, tetapi cuma jadi bahan guyon bagi para legend di pasar saham. Soalnya, lonjakan harga saham LUCK itu sangat tidak wajar.

Akhirnya, itu pun terbukti, selepas Agustus 2019, harga saham LUCK terjun bebas. Sampai penutupan perdagangan 28 Juli 2020, harga saham LUCK naik secara harian 1,25% ke level Rp324 per saham.

Meskipun begitu, nilai saham itu sudah jauh lebih rendah dibandingkan ketika LUCK booming pasca IPO.

Di sinilah kok bisa perencana keuangan kekinian Jouska menyarankan kliennya investasi di LUCK dengan alasan sekadar sahamnya sedang uptrend. Padahal di media sosialnya Jouska menjelaskan kalau investasi saham itu jangka panjang.

Setelah itu banyak pula yang mengait-kaitkan IPO LUCK, Phillip Sekuritas Indonesia sebagai penjamin emisi, dan Jouska. Apalagi, ada Aakar posting foto bersama dengan orang Philip dan LUCK di akun Instagram pribadinya.

Terlepas dari itu, bisa dibilang saham LUCK tidak setara dengan Amazon. LUCK adalah saham IPO yang seberentung namanya, meski kini harga sahamnya ambrol lagi di bawah Rp500 per saham.

Kalian juga salah satu korban LUCK?

0Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Social profiles