Saham Indofood CBP Sukses Makmur sontak menjadi obrolan pasar sepanjang perdagangan Rabu (12/2/2020). Penyebabnya, harga saham yang anjlok karena isu akuisisi perusahaan terafiliasi produsen mie instan di Timur Tengah.

Harga saham PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. alias ICBP anjlok 6,32% menjadi Rp10.750 per saham. Posisi itu mendekati level terendah sejak awal Agustus 2019.

Di sisi lain, emiten Grup Salim lainnya, PT Indofood Sukses Makmur Tbk. alias INDF juga anjlok 8,79% menjadi Rp7.000 per saham. Harga itu mendekati level terendah pada pertengahan Juli 2019.

BACA JUGA: Pesona AISA Bikin Perusahaan AS Tergoda

Semua itu bermula dari keterbukaan informasi yang dirilis ICBP pada Rabu (12/2/2020) pagi. Dalam keterbukaan itu, ICBP mengumumkan rencana penjajakan akuisisi seluruh saham Pinehill Company Limited.

Transaksi ini bisa dibilang transaksi terafiliasi karena pemegang saham Pinehill Company Limited, Pinehill Corpora Limited dan Steele Lake Limited adalah perusahaan afiliasi perseroan.

ICBP menjelaskan mereka masih dalam tahap penjajakan untuk penawaran akuisisi seluruh saham Pinehill tersebut.

“Kami akan melakukan uji kelayakan atas Grup Pinehill sebelum memutuskan terima tawaran itu,” tulisnya dalam keterangan resmi.

Pinehill Grup adalah perusahaan holding yang memiliki 4 anak usaha. Kegiatan usaha utamanya adalah di sektor produksi mie instan di Arab Saudi, Nigeria, Turki, Mesir, Kenya, maroko, dan Serbia.

Produk Pinehill juga menggunakan merek Indomie lewat perjanjian lisensi dengan INDF, induk usaha ICBP.

Salah satu perusahaan yang berada di bawah Pinehill Grup adalah Pinehill Arabia Food Limited (PAFL).

PAFL memiliki tiga pabrik di Arab Saudi, dua pabrik memproduksi mie instan, sedangkan satu pabrik lagi memproduksi saus untuk bumbu mie instan. Posisi pabrik itu berada di dua tempat, Jeddah dan Dammam.

Pabrik di Jeddah di bangun pada Oktober 1992 dan terus melakukan ekspansikapasitas produksi sebanyak 4 kali dalam periode 1996 sampai 2005. Pada 1 Agustus 2005, PAFL ekspansi membangun pabrik produksi minyak dan rasa.

Lalu, PAFL mulai membangun pabrik di Dammam pada Juli 2005. Pabrik itu pun terus melakukan ekspansi mulai April 2007 sampai Februari 2012.

Jadi Beli Saham Indofood CBP atau Sukses Makmur?

Penurunan harga saham kedua emiten Grup Salim itu sangat menggoda untuk dibeli, meski ada juga yang galau akankah penurunan harga saham lanjut atau tidak.

Jika tertarik, investor ritel bisa menyiapkan dana minimal Rp1,07 juta untuk membeli 1 lot saham ICBP atau Rp700.000 untuk membeli 1 lot saham INDF.

Nah, untuk melihat prospeknya, kita akan membedah sedikit fundamental kedua emiten tersebut.

Untuk ICBP, secara pertumbuhan pendapatan sampai kuartal III/2019 mencatatkan hasil lebih tinggi ketimbang periode sama pada 2018. Pada kuartal ketiga tahun lalu, ICBP mencatatkan pertumbuhana pendapatan sebesar 11,24%, sedangkan pada kuartal III/2018 pertumbuhan pendapatan cuma 7,47%.

Sayangnya, dari segi laba bersih, ICBP mencatatkan sedikit perlambatan. Pada kuartal III/2019, pertumbuhan laba bersih perseroan sebesar 11,5%, lebih rendah dari periode sebelumnya yang sebesar 14,57%.

Meskipun begitu, secara keseluruhan fundamental keuangan ICBP masih sangat kokoh dengan arus kas Rp5,21 triliun. Debt to Equity Ratio (DER) pun terkelola dengan baik di level 52,37%.

Alhasil, kekhawatiran ICBP mengakuisisi Pinehill Grup dengan harga di atas wajar pun seharusnya tidak berdampak signifikan terhadap kinerja keuangannya. Apalagi, pasar Indomie bisa dibilang sudah mendunia dan akuisisi itu bisa mendongkrak kinerja perseroan.

Jika fundamental sudah kuat, apakah harga saham ICBP saat ini sudah benar-benar murah?

Kalau melihat dari segi Price Earning Ratio (PER) dan Price Book Value (PBV) ratio sih kayaknya masih cukup mahal. PER ICBP sebesar 23,21 kali, sedangkan PBV ICBP sebesar 5,23 kali.

Namun, secara industri, valuasi Indofood itu bisa dibilang lebih murah dengan kekuatan fundamentalnya tersebut. Bayangkan, emiten sektor konsumer dalam bentuk makanan dan minuman lainnya, yakni PT Siantar Top Tbk. (STTP) memiliki PER 12,21 kali dengan PBV 3,06 kali.

Kini harga STTP berada di level Rp4.690 per saham, meski terkesan lebih murah, tetapi saham STTP tidak selikuid ICBP.

Apalagi, jika ICBP dibandingkan dengan PT Unilever Indonesia Tbk. atau UNVR yang baru saja stock split.

Kini, PER dan PBV UNVR berada di level 39,18 kali dan 55,07 kali. Jelas, ICBP lebih murah ketimbang UNVR yang saat ini harga sahamnya di level Rp7.600 per saham.

Bagaimana Prospek Induk ICBP alias INDF?

Secara kinerja sampai kuartal III/2019, pertumbuhan pendapatan dan laba bersih INDF berkembang cukup apik.

Dari segi pendapatan, INDF mencatatkan kenaikan sebsar 5,67%. persentase itu lebih besar ketimbang pertumbuhan pada kuartal III/2018 sebesar 3,05%.

Lalu, pertumbuhan laba bersih INDF juga membaik setelah turun 13,96% pada kuartal III/2018 menjadi tumbuh 25,21% pada kuartal III/2019.

Sayangnya, pertumbuhan laba bersih INDF terkesan labil. Jika dilihat 5 tahun kebelakang, pertumbuhan laba bersih INDF sempat mengalami dua kali penurunan pada 2015 sebesar 23,61% dan 2018 0,06%.

Meskipun begitu, saham INDF bisa dibilang masih kokoh dengan arus kas saat ini Rp7,65 triliun. Namun, DER INDF harus diperhatikan karena nilainya sudah melebihi 100%, yakni 124,24%.

Dengan kondisi fundamental INDF itu, valuasi perusahaan Grup Salim ini jauh lebih murah ketimbang anak usahanya ICBP.

Valuasi INDF dari segi PER hanya 13,06 kali, sedangkan PBVnya 1,69 kali.

Namun, jika kalian mengincar keuntungan capital gain, tampaknya lebih baik membeli ICBP ketimbang INDF. Pasalnya, dengan tren kinerja bottom linenya yang labil, harga saham perseroan juga ikut labil.

Kecuali, jika kalian mengincar dividen, dari segi dividend yield, INDF jauh lebih besar ketimbang ICBP. Dividend yield INDF berada di level 3,37%, sedangkan ICBP di level 1,81%.

Sepanjang 5 tahun terakhir saja, harga saham INDF terjebak di kisaran Rp7.000 sampai Rp8.000 per saham.

0Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Social profiles