Saham Big Caps Jeblok, Ekonomi Indonesia Kontraksi 5,32 persen

saham big caps

Saham big caps tampaknya juga tertatih-tatih kinerja keuangannya di tengah ekonomi Indonesia yang mengalami kontraksi, meski IHSG tetap ditutup menguat 1,03% menjadi 5.127 setelah pengumuman pertumbuhan ekonomi tersebut.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia secara year on year mengalami kontraksi 5,32% pada kuartal II/2020. Lalu, secara kuartalan, pertumbuhan ekonomi Indonesia kontraksi 4,19%.

Di sisi lain, pencapaian kinerja keuangan emiten pada kuartal II/2020 tampaknya selaras dengan ekonomi Indonesia. Dari 5 saham big caps yang sudah melaporkan kinerja keuangannya, 4 diantaranya mengalami babak belur dari sisi bottom line atau laba bersihnya.

BACA JUGA: Ekonomi Indonesia Kontraksi, UMKM Bonyok Dihajar Covid-19

Sampai 5 Agustus 2020, 5 saham big caps yang sudah melaporkan kinerja kuartal II/2020 antara lain, PT Bank Central Asia Tbk., PT Unilever Indonesia Tbk., PT Astra International Tbk., PT HM Sampoerna Tbk., dan PT Chandra Asri Petrochemical Tbk.

Adapun, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. melakukaan telaah terbatas untuk kinerja kuartal II/2020. Lalu, PT Telkom (Persero) Tbk. mengalami keterlambatan publikasi laporan keuangan hingga 7 Agustus 2020 nanti.

Terus, bagaimana nasib 5 saham big caps yang sudah publikasikan kinerjanya itu ya?

1. Bank Central Asia (BBCA)

Bank swasta terbesar di Indonesia dan juga saham dengan kapitalisasi terbesar di BEI ini mengalami tekanan di laba bersih.

Laba bersih kuartal II/2020 saham berkode BBCA itu turun 4,83% menjadi Rp12,24 triliun dibandingkan dengan Rp12,86 triliun pada periode sama tahun lalu. Padahal, pendapatan bunga bersih perseroan tumbuh 10,46% menjadi Rp27,06 triliun dibandingkan dengan Rp24,5 triliun.

Adapun, penurunan laba bersih itu disebabkan oleh kenaikan beban pemulihan atau penyisihan kerugian penurunan nilai aset dari kredit yang diberikan. Dari pos itu, BBCA mencatatkan kenaikan beban sebesar 167,42% menjadi Rp5,36 triliun.

Kenaikan beban itu kemungkinan besar ada hubungannya dengan kenaikan rasio kredit bermasalah perseroan. Pada kuartal II/2020, rasio kredit bermasalah kotor BBCA naik menjadi 2,08% dibandingkan dengan 1,41% pada periode sama tahun lalu.

Rasio kredit bermasalah bersih perseroan juga naik menjadi 1,05% dibandingkan dengan 0,52% pada periode sama tahun lalu.

Sampai penutupan perdagangan 5 Agustus 2020, saham BBCA mencatatkan penurunan sebesar 0,08% menjadi Rp31.025 per saham. Secara year to date, harga saham BBCA masih turun 7,18%.

Dari segi price to earning ratio, saham BBCA berada di level 27,15 kali. Lalu, price to book ratio perseroan sebesar 4,52 kali.

2. Unilever Indonesia (UNVR)

Unilever Indonesia menjadi salah satu emiten konsumer yang dinilai tahan krisis. Hal itu terbukti dari segi pendapatan, perseroan mencatatkan pertumbuhan yang lebih tinggi pada kuartal II/2020 dibandingkan dengan kuartal II/2019. Pada periode itu, saham berkode UNVR itu mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 1,46% menjadi Rp21,77 triliun dibandingkan dengan Rp21,45 triliun.

Persentase pertumbuhan pendapatan Unilever pada paruh pertama tahun ini lebih tinggi ketimbang tahun lalu yang hanya sebesar 1,29%.

Sayangnya, dari segi bottom line, Unilever justru mencatatkan penurunan laba bersih sebesar 2,09% menjadi Rp3,61 triliun dibandingkan dengan Rp3,69 triliun pada periode sama tahun lalu.

Penyebab turunnya laba bersih UNVR adalah kenaikan beban pemasaran, umum, administrasi, dan lain-lain sebesar 8,66% menjadi Rp6,44 triliun dibandingkan dengan periode sama pada tahun lalu.

Sampai penutupan perdagangan 5 Agustus 2020, saham UNVR mencatatkan kenaikan sebesar1,63% menjadi Rp8.250 per saham. Secara year to date, harga saham UNVR masih turun sebesar 1,78%.

Price to earning ratio (PER) perseroan sebesar 42,83 kali, sedangkan Price to Book Ratio sebesar 35,73 kali.

3. Astra International

Di tengah pandemi Covid-19, Astra International menjadi satu-satunya saham di antar 5 saham big caps yang sudah publikasi laporan keuangan yang mencatatkan hasil bottom line positif.

Saham berkode ASII itu mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 16,06% menjadi Rp11,37 triliun dibandingkan dengan Rp9,8 triliun pada periode sama tahun lalu. Namun, dari segi pendapatan, perseroan mencatatkan penurunan sebesar 22,71% menjadi Rp89,79 triliun dibandingkan dengan Rp116,18 triliun.

Ada dua hal yang membuat laba bersih ASII melejit di tengah penurunan pendapatan tersebut.

Pertama, keuntungan dari penjualan PT Bank Permata Tbk. kepada Bangkok Bank senilai Rp5,88 triliun. Kedua, penurunan beban pokok pendapatan sebesar 24,08% menjadi Rp69,62 triliun dibandingkan dengan periode sama pada tahun lalu.

Sampai penutupan perdagangan 5 Agustus 2020, saham ASII mencatatkan kenaikan sebesar 1,81% menjadi Rp5.050 per saham. Secara year to date, saham ASII masih melemah 27,07%.

Price to earning ratio perseroan menjadi salah satu yang terendah dari para saham big caps, yakni sebesar 8,62 kali. Lalu, price to book ratio perseroan sebesar 1,33 kali.

4. HM Sampoerna

Sementara itu, nasib saham HM Sampoerna tengah tertekan. Ibaratnya, kepulan asap emiten rokok itu mulai memudar.

Perseroan mencatatkan penurunan pendapatan paruh pertama tahun ini sebesar 11,8% menjadi Rp44,73 triliun dibandingkan dengan Rp50,71 triliun pada periode sama tahun lalu. Laba bersih perseroan turun lebih dalam sebesar 27,82% menjadi Rp4,88 triliun dibandingkan dengan Rp6,77 triliun.

Di sisi lain, saham berkode HMSP itu memang tengah seret penjualannya. Sepanjang paruh pertama tahun ini, perseroan mencatatkan penurunan volume penjualan sebesar 18,2% menjadi 38,5 miliar batang dibandingkan dengan 47,1 miliar batang pada periode sama tahun lalu.

Beberapa analis memprediksi turunnya penjualan HMSP disebabkan oleh kenaikan rata-rata harga jual produk rokok tersebut.

Salah satu upaya agar bottom line HMSP tetap terjaga adalah dengan melakukan efisiensi biaya pemasaran, administrasi, dan penelitian.

Sampai penutupan perdagangan 5 Agustus 2020, saham HMSP mencatatkan penurunan sebesar 0,61% menjadi Rp1.630 per saham. Secara year to date, harga saham perseroan sudah turun sebesar 22,38%.

Price to earnings ratio perseroan berada di level 15,95 kali, sedangkan price to book ratio sebanyak 7,12 kali.

5. Chandra Asri Petrochemical

Nasib malang diderita oleh Chandra Asri petrochemical. Perusahaan milik taipan Prajogo Pangestu itu harus mencatatkan penurunan kinerja selama dua periode berturut-turut.

Teranyar, pada paruh pertama tahun ini, pendapatan perseroan turun 17,86% menjadi Rp12,01 triliun dibandingkan dengan Rp14,63 triliun pada periode sama tahun lalu. [Nilai kinerja Chandra Asri sudah disesuaikan dengan kurs konversi acuan perseroan]

Lebih miris dari sisi bottomlinenya, perseroan harus mencatatkan kerugian Rp426,49 miliar dibandingkan dengan sebelumnya yang merugi Rp457,21 miliar. Adapun, penurunan ini sudah terjadi sejak paruh pertama 2019, saat itu laba bersih perseroan terpangkas 72,61% menjadi Rp457,21 miliar dibandingkan dengan Rp1,66 triliun pada paruh pertama 2018.

Di tengah penurunan kinerja itu, saham berkode TPIA ini sudah mencatatkan penurunan beban pokok pendapatan sebesar 7,38% menjadi Rp12,18 triliun. Sayangnya, penurunan beban pokok pendapatan itu tidak bisa mengimbangi tekanan dari penurunan pendapatan.

Enggak cuma pendapatan yang seret, perseroan juga mencatatkan kenaikan rugi kurs sebesar 285% menjadi Rp125,78 miliar dibandingkan dengan periode sama pada tahun lalu.

Sampai penutupan perdagangan 5 Agustus 2020, saham TPIA mencatatkan penurunan sebesar 0,68% menjadi Rp7.325 per saham. Secara year to date, harga saham perseroan sudah turun sebesar 29,39%.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.