Saham Bali United anjlok hingga 11,2% menjadi Rp222 per saham pada perdagangan Jumat 14 Februari 2020. Entah apa yang menyebabkan, satu-satunya perubahan yang terjadi di Bali United adalah kepergian Irfan Bachdim ke PSS Sleman.

Memasuki tahun tikus logam tampaknya bukan menjadi periode positif bagi saham Bali United. Saham klub Bola itu malah terus turun padahal bisa dibilang mereka cukup agresif di bursa transfer. Harga saham Bali United pun telah merosot 32,72%.

Bali United sudah mendatangkan beberapa pemain dengan label bintang maupun pemain timnas.

BACA JUGA: Bali United IPO, Ini 4 Sosok Di Balik Layarnya

Beberapa nama itu antara lain, Gavin Kwan Adsit, Hariono, dan Nadeo Argawinata. Entah sudah sesuai dengan ekspektasi pasar atau tidak, kedatangan ketiga pemain itu belum mampu mendongkrak harga saham BOLA.

Secara kepemilikan saham di atas 5%, pemegang saham emiten berkode BOLA itu memang mengalami sedikit perubahan pada perdagangan 13 Februari 2020. PT Asuransi Jiwa Kresna yang pada 24 Januari 2020 memegang 9,2% saham BOLA menyusut jadi 5,38%.

Kepemilikan Asuransi Jiwa Kresna di BOLA itu tinggal dimiliki oleh produk Unit Link Investa 4 AJK. Sisanya, kepemilikan saham Bali United dimiliki oleh Ayu Patricia Rachmat sebesar 5,25%, Miranda 5,25%, Pieter Tanuri 24,23%, PT Indolife Pensiontama 5,39%, dan PT Asuransi Central Asia 8,88%.

Selaras dengan perubahan kepemilikan di atas 5% itu, harga saham Bali United turun 12% dalam periode 24 Januari 2020 – 13 Februari 2020.

Jika dilihat secara historis awal sejak melantai di BEI pada 17 Juni 2019, harga saham BOLA memang diprediksi tidak bakal melejit drastis.

Hal itu melihat historis saham klub bola global yang sangat labil. Sentimen saham klub bola banyak dipengaruhi oleh hal non fundamental, seperti hasil pertandingan, transfer pemain, pergantian pelatih, dan polemik pendukung setia dengan manajemen.

Tulisan sebelumnya, saya menyebutkan kalau ada 4 sosok di balik Bali United sebelum IPO. Keempat sosok itu adalah Grup Salim, Pieter Tanuri, Grup Kresna, dan Grup Ascend.

Dalam prospektus, Salim masuk ke BOLA melalui PT Bali Paraga Bola, sedangkan Piter Tanuri masuk bersama saudaranya Yabes Tanuri.

Bulan Madu Saham Bali United Pasca IPO

Setelah melantai di BEI, harga saham Bali United langsung auto rejection atas (ARA) setelah melejit 69,14% menjadi Rp296 per saham. Padahal, Bali United menawarkan harga saham senilai Rp175 per saham saat IPO.

Beberapa pemegang saham di atas 5% yang tercatat di sana antara lain, PT Graha Kreasindo Prima sebanyak 5,81%, PT Bali Peraga Bola 15,67%, Ayu Patricia Rahmat 6,3%, Miranda 6,3%, dan Pieter Tanuri 13,44%.

Menariknya, di sini ada nama putri dari taipan T.P Rachmat. Ayu juga merupakan istri dari Patrick Walujo. Artinya, ada tangan taipan lain dalam Bali United.

Sehari kemudian 18 Juni 2019, harga saham Bali United kembali melonjak sebesar 25% menjadi Rp370 per saham. Perubahan kepemilikan di atas 5% terjadi pada PT Bali Peraga Bola.

Entitas yang diduga terafiliasi dengan Salim Grup itu menambah kepemilikan saham sebesar 10% menjadi 16,67%.

Keesokan harinya, 19 Juni 2019, harga saham BOLA kembali melejit 14,05% menjadi Rp422 per saham. Kenaikan itu tampaknya berhubungan erat dengan hadirnya PT Asuransi Jiwa Kresna yang memiliki saham hingga 5,01%.

Tak hanya itu, Pieter Tanuri juga menambah kepemilikan sahamnya di BOLA menjadi 13,49% dibandingkan dengan 13,44% pada periode sebelumnya.

Kemudian, pada 20 Juni 2019, harga saham BOLA melemas 10,9% menjadi Rp376 per saham. Pelemahan ini mungkin juga ada hubungannya dengan tidak ada transaksi signifikan yang terjadi di kelompok pemegang saham di atas 5%.

Hal itu bisa saja terjadi jika melihat transaksi pada 21 Juni 2019. Harga saham BOLA kembali melejit 2,65% menjadi Rp386 per saham. Padahal, Ayu Patricia Rachmat dan Miranda sama-sama mengurangi kepemilikan sahamnya di Bali United menjadi 5,25% dibandingkan dengan 6,3% pada hari sebelumnya.

Perubahan Kepemilikan Saham di Atas 5% Bali United

Nah, setelah dua bulan melantai di BEI, ada perubahan signifikan yang terjadi dalam komposisi pemegang saham Bali United.

Nama Bali Peraga Bola menghilang dari daftar pemegang saham di atas 5%. Per 2 Agustus 2019, komposisi pemegang saham BOLA antara lain, Ayu Patricia Rahmat dan Miranda masing-masing 5,25%, Pieter Tanuri 13,57%, PT Asuransi Jiwa Kresna 5,02%, dan PT Asuransi Central Asia 5,61%.

Harga saham Bali United pada 2 Agustus 2019 pun lebih rendah 1,55% menjadi Rp380 per saham dibandingkan dengan 21 Juni 2019 yang senilai Rp386 per saham.

Lompat ke 8 November 2019, harga saham Bali United kian turun. Padahal klub berkandang di Bali itu tengah berada di puncak peformanya.

Harga saham BOLA susut sebesar 5,26% menjadi Rp360 per saham dibandingkan dengan RP380 per saham pada 2 Agustus 2019.

Komposisi pemegang saham di atas 5%nya pun sedikit mengalami perubahan. Pieter Tanuri gencar menambah kepemilikan hingga 23,62%, sedangkan PT Asuransi Jiwa Kresna menghilang dari kelompok pemegang saham di atas 5%.

Lalu, PT Indolife Pensiontama dan PT Asuransi Jiwa Central Asia juga masuk menjadi pemegang saham diatas 5% dengan masing-masing memegang 5,39% dan 5,61%. Kedua perusahaan asuransi itu bisa dibilang masih punya hubungan dengan Grup Salim.

Kemudian, PT Asuransi Central Asia menambah kepemilikan sahamnya di BOLA menjadi 8,88% dibandingkan dengan 5,61% pada periode sebelumnya.

Menuju Kampiun, Harga Saham BOLA Terus Menyusut

Sampai 27 November 2019, jelang Bali United menjadi juara, harga saham BOLA malah terus turun. Harga saham BOLA susut 2,85% menjadi Rp350 per saham dibandingkan dengan Rp360 per saham pada 8 November 2019.

Di tengah penurunan itu, Pieter Tanuri terus menambah kepemilikan sahamnya di BOLA menjadi 24,23% dibandingkan dengan sebelumnya sebesar 23,62%.

Awal Desember 2019 menjadi kabar yang membahagiakan bagi Bali United karena menjadi kampiun Liga 1 Shopee musim 2018/2019. Namun, pergerakan harga sahamnya berkata lain.

Per 9 Desember 2019, harga saham BOLA malah turun sebesar 0,57% menjadi Rp348 per saham dibandingkan dengan periode 27 November 2019.

Di tengah penurunan harga saham itu, PT Asuransi Jiwa Central Asia menambah kepemilikannya menjadi 6,4% dibandingkan dengan 5,61% pada periode sebelumnya.

Nasib apes tidak henti-hentinya mewarnai harga saham BOLA. Emiten klub bola satu-satunya di Asean itu mencatatkan penurunan harga saham sebesar 7,47% menjadi Rp322 per saham pada 13 Desember 2019 dibandingkan dengan 9 Desember 2019.

Dalam periode itu, PT Asuransi Jiwa Kresna kembali masuk menjadi pemegang saham di atas 5% sebesar 9,2%. Sayangnya, masuknya Asuransi Jiwa Kresna itu nyatanya belum mendongkrak harga saham BOLA secara berkelanjutan.

Nah, apakah ada perubahan komposisi kepemilikan saham di atas 5% yang membuat harga saham Bali United anjlok hingga 11% pada periode valentine kemarin? Nantikan jawabannya besok ya.

0Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Social profiles