Resesi ekonomi diprediksi terjadi pada tahun depan. Perang dagang antar negara terutama Amerika Serikat (AS) dengan China menjadi salah satu pemicunya.

Setidaknya itu ringkasan yang dituliskan oleh The Economist disitus resminya yang diposting di Instagram pada 28 Desember 2019.

Dengan membuka tulisan membahas ekspansi ekonomi yang sering dibunuh oleh kenaikan suku bunga atau krisis keuangan. The Economist menceritakan dua hal itu adalah kejutan yang merusak hukum ekonomi seperti, penurunan permintaan barang dan jasa.

BACA JUGA: Patrick Walujo dan Untung-rugi Investasi di Bank Kecil

Tak hanya itu, dari sisi penawaran juga mengalami resesi karena adanya penurunan kapasitas produksi.

Namun, sejarah mencatatkan tidak ada resesi yang diakibatkan penurunan pasokan akibat penurunan produksi sejak guncangan harga minyak pada 1970-an.

Sayangnya, rekor itu diprediksi akan pecah pada tahun depan karena perseteruan AS dan China.

Sebenarnya, sejarah sudah memandu gambaran dampak resesi oleh perang dagang serta bagaimana meresponsnya secara tepat. Namun, tampaknya tidak banyak yang menggunakan teori ekonomi tersebut.

PODCAST: Benarkah Sindhu Tak Punya Hati?

Hal itu disebabkan oleh perkiraan dampak dari perang dagang hanya sebatas inflasi. Padahal, lebih daripada itu, perang dagang telah membuat penurunan kepercayaan bisnis, kemerosotan manufaktur global, dan keraguan untuk investasi.

Dampak seperti inflasi memang ada, tetapi sifatnya cenderung jangka panjang, seperti dampak perubahan suku bunga. Hal itu membuat perlambatan yang terjadi dalam perang dagang cenderung dianggap normal.

Resesi Ekonomi dan Gerak Cepat Bank Sentral

Untungnya, Federal Reserve (The Fed) sadar diri dengan menurunkan tiingkat suku bunga secara bertahap. Tak hanya itu, European Central Bank (ECB) juga sudah memulai kembali pelonggaran kuantitatif.

China pun tak tinggal diam, Negeri Panda sudah melakukan pelonggaran moneter dan fiskal.

Di sisi lain, pemilihan presiden AS pada tahun depan akan menjadi inti utama nasib perang dagang AS-CHina. Jika Donald Trump selaku petahana kembali terpilih, tantangan yang harus dihadapi adalah nasib independensi The Fed sebagai bank sentral.

Bisa saja Jerome Powell yang memimpin The Fed saat ini digantikan sebelum masa kerjanya selesai pada 2022.

Lalu, jika pihak Demokrat yang menguasai gedung putih akan lahir kebijakan kontras dari presiden sebelumnya DOnald Trump seperti, pemangkasan pajak.

Terburuknya, resesi benar-benar tidak bisa dihindari. Salah satu contohnya di AS. Awalnya, pasar tenaga kerja dan konsumen yang baik menjadi pertahanan utama untuk melawan resesi.

Namun, apa daya, pertahanan utama untuk melawan resesi itu mulai goyah.

Perang dagang tak sekadar menyebabkan inflasi, tetapi juga diperparah dengan kenaikan harga minyak di tengah pertumbuhan ekonomi yang melambat.

Cuma, pernah ada kutipan yang saya baca kalau mayoritas prediksi tentang resesi ekonomi dunia selalu meleset.

Hal itu ditambah dengan sebuah acara yang membahas antisipasi krisis pada 2017 di Bali yang diadakan Bank Indonesia.

Kala itu, Perry Warjiyo yang masih menjabat sebagai Deputi GUbernur Bank Indonesia bilang krisis ekonomi itu tidak bisa diprediksi.

“Datangnya tiba-tiba, enggak ada angin enggak ada apa-apa tiba-tiba krisis. Untuk itu, harus menyiapkan pencegahan sejak dini,” ujarnya.

Sepanjang menjadi jurnalis ekonomi dan bisnis sejak 2014, saya sudah beberapa kali mendengar bahwa ekonomi dunia tengah mengalami perlambatan, mungkin tiap tahun malah.

Namun, hasilnya tidak ada krisis yang benar-benar terjadi seperti 1998 atau 2008. Akankah keresahan resesi ekonomi yang dibahas kali ini akan benar-benar terjadi pada 2020? Hanya tuhan dan bumi yang mengetahuinya.

0Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close
Social profiles
Close