Rencana Pertamina IPO atau penawaran saham perdana di Bursa Efek Indonesia menjadi hal yang dinantikan. Pasalnya, dengan ukuran bisnis Pertamina yang besar, artinya bakal ada emiten berkapitalisasi besar baru yang masuk ke pasar saham Indonesia.

Nah, mimpi itu bisa menjadi nyata ketika Menteri BUMN Erick Thohir mendorong anak usaha Pertamina untuk melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI). Untuk yang pertama, PT Pertamina Hulu Energi (PHE) yang akan didorong untuk melantai di bursa.

Rencana Pertamina IPO anak usahanya itu memang belum jelas waktunya. Namun, dengan bisnis hulu di sektor migas, ukurang bisnis Pertamina Hulu Energi bisa cukup besar.

BACA JUGA: Gojek dan Grab PHK Karyawan, Luckin Coffee Bakal Diusir dari Bursa, Masih Minat Menanti Startup Bervaluasi Raksasa IPO?

Keputusan Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati memilih PHE lebih dulu yang melantai di bursa selaras dengan kebutuhan modal yang besar untuk mengelola dua blok migas besar di Indonesia. Saat ini, PHE menjadi pengelola blok Mahakam dan juga Rokan. Untuk blok Rokan, PHE akan mulai mengelola pada tahun depan.

Sayangnya, rencana Pertamina IPO lewat anak usaha hulu migasnya itu dihadang oleh berbagai isu seperti penjualan aset negara. Padahal, melantai di bursa bukan berarti aset negara dijual. Ketika melantai di bursa, tidak semua saham diperjualbelikan langsung, hanya saham free float atau publik yang diperjualbelikan di pasar reguler.

Kecuali, ada transaksi di pasar negosiasi. Itu pun harus transparan dan diketahui seluruh pemangku kebijakan.

Dengan menjadi perusahaan terbuka, PHE bisa lebih transparan dan dipantau oleh seluruh masyarakat Indonesia. Bahkan, masyarakat bisa membeli saham PHE sebagai partisipasi untuk menjaga aset negara yang dikhawatirkan pindah ke tangan asing.

Di sisi lain, keputusan membagi kepemilikan saham blok Rokan atau Mahakam tidak ada hubungannya dengan melantai di bursa. Pembagian kepemilikan saham di blok Rokan itu disesuaikan dengan kebutuhan Pertamina untuk mengoptimalkan blok migas terbesar di Indonesia.

Pasalnya, eksploitasi blok migas itu membutuhkan modal yang besar. Salah satu jalan untuk tetap optimal produksi migas adalah mencari mitra yang kokoh.

Rencana Pertamina IPO, Seberapa Besar PHE Jika Melantai di Bursa?

Di sini, saya mengadu kinerja PHE sejak 2015 dengan emiten BUMN sektor tambang serta satu emiten swasta yang satu sektor dengan PHE. Emiten BUMN sektor tambang ada PT Bukit Asam Tbk., PT Aneka Tambang Tbk., dan PT Timah Tbk.

Emiten sektor gas yang juga sister company PHE adalah PT Perusahaan Gas Negara Tbk. Lalu, emiten swasta sektor migas yang cukup besar, yakni PT Medco Energi Internasional Tbk.

Jika dibandingkan dengan ke-5 emiten itu, posisi PHE menjadi yang terbesar kedua dari segi pendapatan pada 2019 di bawah Perusahaan Gas Negara atau PGAS. Namun, dari segi laba bersih, PHE menjadi yang tertinggi ketimbang ke-5 emiten tersebut.

Sepanjang 2019, PHE mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 5,8% menjadi Rp38,21 triliun dibandingkan dengan Rp36,11 triliun pada 2018. Lalu, PGAS mencatatkan penurunan pendapatan sebesar 4,53% menjadi Rp53,5 triliun dibandingkan dengan Rp56,04 triliun pada 2018.

Dari segi laba bersih, PHE mencatatkan pertumbuhan sebesar 23,48% menjadi Rp8,36 triliun dibandingkan dengan Rp6,77 triliun pada tahun sebelumnya. Pencapaian itu jauh lebih besar dibandingkan dengan PGAS yang mencatatkan penurunan laba bersih sebesar 78,72% menjadi Rp939,48 miliar dibandingkan dengan Rp4,41 triliun.

Artinya, pengelolaan biaya dan beban operasional PHE bisa dibilang lebih baik ketimbang PGAS, yang memiliki pendapatan besar, tetapi laba cenderung rendah.

Dari segi laba bersih, Bukit Asam alias PTBA yang paling mendekati pencapaian PHE. BUMN sektor batu bara itu mencatatkan penurunan laba bersih 2019 sebesar 19,29% menjadi Rp4,05 triliun dibandingkan dengan Rp5,02 triliun.

PTBA juga bisa dibilang lebih baik dalam mengelola biaya dan beban ketimbang PGAS. Pasalnya, pendapatan PTBA bisa dibilang hampir setengahnya PGAS, yakni Rp21,78 triliun. Namun, PTBA mampu mendulang cuan lebih besar ketimbang PGAS.

Jika dibandingkan dengan Medco Energi Internasional, PHE jelas jauh lebih unggul dari segi pendapatan maupun laba bersih.

Sepanjang 2019, Medco mencatatkan kenaikan pendapatan sebesar 13,72% menjadi Rp19,97 triliun dibandingkan dengan Rp17,56 triliun. Lalu, Medco mencatatkan rugi bersih dalam dua tahun terakhir. Pada 2019, Medco rugi senilai Rp187,94 miliar.

Setelah melihat ini, kalau PHE beneran IPO, kalian mau beli enggak?

0Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Social profiles