Views 2
Waktu Baca2 Menit, 24 Detik

Prospek TikTok diprediksi bisa menyalip Instagram sebagai media sosial paling digemari saat ini. Namun, apakah TikTok mampu melakukan itu atau malah senasib seperti Snapchat?

Fenomena Bowo Alpenliebe yang viral pada 2018 lewat TikTok ternyata tak membuat label ‘Alay’ terus tersemat di aplikasi besutan Bytedance tersebut. Malah, Kementerian Komunikasi dan Informasi yang sempat blokir TikTok sudah membuat akun di media sosial itu sejak 22 Maret 2019.

Kini, Kemenkoinfo sudah memiliki 2.113 pengikut dengan 11.100 suka. Rudiantara, Menteri Komunikasi dan Informasi periode 2014-2019, yang memblokir TikTok sempat muncul dalam postingan pada 16 April 2019. Dalam konten itu, Rudiantara mengajak masyarakat [terutama anak muda yang main TikTok] untuk ikut berpartisipasi dalam pemilu 2019.

BACA JUGA: Nasib AISA, Ekspansi Gila-gilaan Selama Dua Dekade

TikTok makin melejit namanya sejak akhir 2019 ketika banyak influencer Instagram mulai membuat akun media sosial tersebut. Seorang teman yang berstatus influencer pun mulai membuat akun TikTok pada Januari 2020. Alasannya, TikTok terlihat menyenangkan.

“Main TikTok tuh kayak bisa nunjukkin elu apa adanya gitu sih,” ujarnya.

Dari data Hootsuite, 60% pengguna TikTok sampai akhir 2019 masih dikuasai warga China, sisanya tersebar di seluruh dunia. Rata-rata pengguna platform ini berumur 16 – 24 tahun.

Prospek TikTok Bisa Senasib dengan Snapchat atau Tidak?

Lalu, apakah prospek TikTok benar-benar bisa menggeser Instagram sebagai media sosial yang paling digandrungi saat ini atau bakal senasib seperti Snapchat?

Jika dilihat secara keseluruhan, nasib TikTok mungkin akan berbeda dengan Snapchat dan bisa saja menjadi pesaing berat Instagram. Soalnya, TikTok ini ibarat perubahan jogres [istilah para penggemar anime Digimon] antara Instagram dengan Snapchat.

Bentuk konten TikTok adalah video selama 15 detik, 60 detik, atau kumpulan foto yang menjadi bentuk video yang bisa ditambah dengan efek dan langsung edit di aplikasi tersebut. Hasil konten akan muncul di lini masa yang bentuknya mirip Instagram.

PODCAST: Virus Corona dan Dampaknya ke Bulu Tangkis

Lini masa yang mirip Instagram itu pula yang bisa membedakan nasib TikTok dengan Snapchat. Aplikasi Snapchat bisa dibilang sebagai pelopor video vertikal, tetapi pamornya di Asia kalah jauh dari Instagram, karena tidak memiliki linimasa permanen.

Ditambah, konten TikTok bisa dibagikan di Instagram dengan menyematkan logo dan ID penggunanya. Hal itu bisa saja membuat pengguna Instagram tergoda untuk membuat akun TikTok.

Sebenarnya, Instagram pun tidak tinggal diam. Sejak 2018, Instagram juga mulai fokus membuat lini masa khusus konten video dengan hadirnya IGTV. Dengan melejitnya TikTok sejak 2019, kehadiran IGTV seolah menjadi inovasi Facebook Grup untuk melawan Youtube dan bertahan dari serangan TikTok.

Beberapa update IGTV pun dilakukan Instagram dari bentuk kaku harus video vertikal hingga menjadi fleksibel untuk video Horizontal. Toh, para pengguna banyak yang sekadar memindahkan konten Youtube ke IGTV sehingga Instagram tampaknya memilih fleksibel demi meningkatkan pamor fitur barunya tersebut.

Hal ini bisa jadi pelajaran untuk TikTok dalam pengembangan fitur ke depannya agar bisa bersaing ketat dengan Instagram. Karakter fleksibel lebih disukai pengguna ketimbang harus kaku demi eksklusivitas yang malah membuat pengguna lari.

0 0
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

One thought on “Prospek TikTok, yang Alay Berjoget Siap Berjaya

  1. Bukan tidak mungkin ya tahun 2020 ini TikTok mampu mengalahkan Instagram. Bisa dibilang tahun 2020 ini adalah tahunnya TikTok lantaran banyak user Instagram mulai merambah (bukan beralih ya) ke aplikasi aL4y satu ini. Apalagi beberapa waktu lalu sempat disorot artis TikTok Indonesia, Bowo yang katanya para haters mulai jadi followers

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Social profiles