Portofolio saham masih saja memerah, tanpa ada sinyal kapan mulai menghijau. Mau nyerok pun susah karena keterbatasan uang yang siap untuk diinvestasikan.

Satu paragraf itu menjadi curhatan seorang teman yang portofolio investasinya berdarah-darah.

Seorang teman yang enggan disebutkan namanya karena ingin menceritakan secara penuh nasib investasinya ini memiliki portofolio di deposito bank, obligasi ritel negara, reksa dana, dan saham.

BACA JUGA: Kisah Thailand, Si Penyebab Krisis Ekonomi 1997

“Porsinya sih masih mayoritas di deposito bank karena saya cenderung konservatif, tetapi portofolio terbesar kedua ada di saham,” ujarnya.

Secara total, nilai investasinya di seluruh portofolio itu mencapai Rp180 juta. Sejauh ini, nilai investasinya sudah turun sebesar 24,21%.

Dia mengatakan paling besar turun di saham sebesar 45,76% menjadi tersisa Rp30,82 juta.

PODCAST: Teori Konspirasi Krisis Ekonomi 1997 dan Pandemi 2020

“Investasi saham saya sudah hilang sekitar Rp26 juta,” ujarnya.

Angka itu mungkin kecil bagi para taipan, tetapi tidak bagi investor ritel seperti teman saya ini.

Portofolio Saham yang Berdarah-darah

Saham digembar-gemborkan menjadi salah satu instrumen yang menguntungkan. Setidaknya itu yang muncul terutama sejak mencuatnya kampanye Yuk Nabung Saham yang penuh pro dan kontra.

Berawal dari penasaran, teman saya ini memiliki portofolio pada 5 saham yang bukan gorengan.

“Saya anti sama yang gorengan karena bisa bikin jantungan,” ujarnya.

Portofolio saham terbesarnya berada di PT Astra International Tbk. alias ASII. Salah satu saham dengan kapitalisasi pasar terbesar.

Sayangnya, investasi dia di emiten berkode ASII itu sudah susut 49,98%. Harga rata-rata saham ASII yang dimilikinya berada di level Rp7.222 per saham, sedangkan harga saham ASII saat ini sekitar Rp3.620 per saham.

Portofolio terbesar kedua berada di PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. Dia memiliki sekitar di atas 50 lot saham bank BUMN tersebut.

Sayangnya, investasi di saham bank pelat merah itu sudah susut sebanyak 63,3%. Bahkan, rata-rata harga BBTN yang dimilikinya di level Rp2.384 per saham. Padahal, harga saham BBTN saat ini sudah jatuh di bawah Rp1.000.

Portofolio ketiga terbesar ada di saham PT Selamat Sempurna Tbk. alias SMSM. Saham SMSM justru yang melemah paling rendah diantara portofolionya yang lain.

“Rata-rata harga saham SMSM saya sekitar Rp1.500 per saham, sedangkan harga saat ini masih sekitar Rp1.265 per saham,” ujarnya.

Portofolio keempat dan kelimanya cenderung kecil, yakni PT AKR Corporindo Tbk. (AKRA) dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITMG).

“Di kedua emiten itu [AKRA dan ITMG] masing-masing investasi saya sudah turun 51,08% dan 44,59%,” ceritanya.

Dia mengaku ada hasrat untuk “serok” agar rata-rata harga saham yang dimilikinya bisa turun juga, tetapi kondisi pandemi saat ini sangat membutuhkan uang tunai juga.

“Bisa dibilang arus kas is the king lah saat ini. Kita enggak pernah tahu bakal seperti apa ke depannya,” ceritanya.

Berharap Tambahan Arus Kas dari Obligasi Ritel Negara

Meskipun begitu, peluang untuk bisa menyerok itu tetap ada. Itulah jawaban teman saya tersebut.

Dia memiliki obligasi ritel negara yang bakal jatuh tempo pada semester II/2020.

“Dengan uang itu saya bisa menyerok harga saham yang sudah hancur lebur luluh lantah,” ujarnya.

Dia pun berharap semoga harga saham belum naik terlalu tinggi pada semester kedua nanti. Demi mendapatkan kesempatan untuk menurunkan harga rata-rata di saham yang dimilikinya tersebut.

“Harapan utamanya sih pandemi ini bisa selesai, tetapi ada harapan juga agar bisa ngerasain nyerok saham biar bisa mendapatkan untung lebih besar ke depannya,” ujarnya.

Secara perhitungan, seharusnya dampak dari Covid-19 ini cukup panjang, terutama kepada kinerja emiten sepanjang tahun ini.

Seorang pekerja yang pernah merasakan krisis 1997-1998 mengatakan kondisi pandemi Covid-19 dirasanya lebih parah ketimbang masa krisis saat itu.

“Kalau saat itu kan masalahnya ada kerusuhan dan penjarahan, tetapi dari segi ekonomi mikro enggak terlalu terasa,” ujarnya.

Adapun, saat ini kondisinya sangat terasa kepada usaha mikro. Hal itu pula yang disebutkan Menteri Keuangan Sri Mulyani di mana ketika pandemi Covid-19, pelaku UMKM yang paling merasakan dampaknya.

“Berbeda dengan krisis 1998 di mana UMKM yang justru paling kokoh menghadapi kondisi ekonomi. Korporasi besar yang banyak kewalahan,” ujarnya.

Reksa Dana Pasar Uang Menjadi Andalan untuk Dana Darurat

Kembali ke kisah investasi teman saya, dia bercerita menyiapkan dana darurat yang siap ambil di reksa dana pasar uang. Alasannya, reksa dana pasar uang bisa diambil kapanpun.

“Berbeda dengan deposito yang harus nunggu jatuh tempo baru bisa diambil, reksa dana pasar uang bisa dibilang lebih fleksible dengan potensi imbal hasil mirip deposito,” ujarnya.

Dia pun mengisahkan pengalaman saat mencairkan deposito di dua bank besar.

“Satu bank pelat merah, kalau mencairkan di luar masa jatuh tempo kena denda 1,5% dari total imbal hasil yang didapatkan. Satu lagi bank swasta, kalau di luar masa jatuh tempo, semua keuntungan dari deposito itu hilang semua,” ceritanya.

Reksa dana pasar uang dinilainya menjadi instrumen yang paling pas untuk menyimpan dana darurat yang sangat jangka pendek.

“Syaratnya, kamu harus mencari platform reksa dana yang gampang mencairkannya. Kalau, belinya di bank kan agak susah ya,” ujarnya.

Sejauh ini, dia mencoba tutup mata terkait portofolio investasinya yang berdarah-darah.

“Saya coba tutup mata saja untuk tahun ini hingga menatap tahun depan. Cuma, kalau dapat dana dari obligasi ritel negara dan pandemi sudah selesai, saya pengen nyerok sih,” ungkap keinginannya tersebut.

0Shares

3 thoughts on “Portofolio Saham Berdarah-darah, Tutup Mata Hingga Tahun Depan

  1. saya termasuk yang ngalamin saham saya susah bangkit lagi, tapi ga separah temannya mas surya. setengah dari emitan yang saya punya uda saya ambil pertengahan tahun lalu.
    memang investasi yang tetap survive ada di emas, meski cuannya sedikit.
    kondisi skrg yang menjanjikan justru investasi yang terkait langsung dengan pangan seperti beras dan ternak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Social profiles