Views 0
Waktu Baca7 Menit, 4 Detik

Piala Thomas dan Uber 1994 menjadi kenangan indah bulu tangkis Indonesia. Setelah puasa gelar selama satu dekade, Indonesia mampu mengawinkan piala Thomas dan Uber di Istora Senayan.

Hariyanto Arbi dan Mia Audina bisa dibilang menjadi wonderkid yang menggila di gelaran Piala Thomas dan Uber 1994.

BACA JUGA: Beli Saham BBCA Sejak Awal IPO Sampai Sekarang Bisa Cuan Hingga Rp200 Juta

Tim Piala Thomas saat itu antara lain, sektor tunggal ada Joko Supriyanto, Hariyanto Arbi, Ardy B. Wiranata, dan Hermawan Susanto. Lalu, dari sektor ganda ada Rexy Mainaky, Ricky Subagdja, Bambang Suprianto, Ruddy Gunawan, dan Deny Kantono.

Di babak grup, Indonesia satu kelompok dengan China, Swedia, dan Finlandia, sedangkan di Grup sebelah ada Malaysia, Korea Selatan, Denmark, dan Thailand.

PODCAST: Kisah Manis Susi dan Alan di Barcelona

Hasilnya, Indonesia menggila di Istora Senayan. Pasalnya, tim Thomas Indonesia sapu bersih pertandingan grup tanpa pernah kalah satu kali pun.

China yang diunggulkan pun keok dari Indonesia dan harus puas sebagai runner up grup A Piala Thomas 1994.

Tingkat kepercayaan diri tim Thomas Indonesia menguat, termasuk Hariyanto Arbi, si pemilik smash 100 watt.

Piala Thomas dan Uber 1994, Ketika Arbi Terlalu Percaya Diri

Hasil sempurna Indonesia di babak grup membawa harapan besar untuk membawa pulang Piala Thomas tetap di Jakarta. Apalagi, Indonesia sudah puasa gelar sejak 1984.

Namun, harapan itu bisa menjadi pedang bermata dua, bukannya menjadi penyemangat malah bisa menjadi beban.

Untungnya, hasil sempurna di babak grup membawa rasa percaya diri tim Indonesia kala itu sangat baik, termasuk Arbi.

Di semifinal, Indonesia harus berhadapan dengan Korea Selatan, yang merupakan runner up grup B. Arbi yang masih berumur 22 tahun dipercayakan menjadi tunggal pertama. Padahal, Indonesia masih memiliki tunggal senior seperti, Joko Suprianto, Ardy Wiranata, maupun Hermawan.

Terlebih, Ardy adalah peraih All England 1991 dan finalis Olimpiade 1992.

Namun, pilihan tunggal pertama tetap jatuh kepada si pemilik Smash 100 Watt tersebut. Di sisi lain, Korea Selatan mempersiapkan Park Soo Woo sebagai tunggal pertama.

Dalam sebuah tulisannya di Detik.com, Arbi mengaku saat itu dirinya terlalu over confidence.

“Bayangkan, ada sekitar 15.000 penonton yang memenuhi Istora Senayan membuat saya begitu semangat untuk membawa Indonesia menang,” ujarnya.

Sayangnya, semangat itu malah berbuah petaka. Arbi bisa dibilang masih cukup awam dalam bermain grup, terutama untuk masalah strategi.

“Saya memilih strategi terus melakukan smash keras terus menerus. Dukungan suara penonton yang meneriakkan “Sikat” membakar semangat saya,” ceritanya.

Sayangnya, semua smash kerasnya itu tidak berbuah poin. Malah, Arbi kehabisan tenaga menghadapi tunggal Korea Selatan tersebut. Arbi harus kalah 16,17 dan 1-15 dari Park Sung Woo.

Matangnya Tim Thomas Indonesia 1994

Untungnya, Tim Thomas Indonesia pada 1994 begitu matang. Indonesia sempat bedebar setelah ganda putra Rudy Gunawan/Bambang Suprianto harus bermain ketat dengan Kim Dong-moon/Yoo Yong-sung.

Rudy/Bambang sempat bikin resah gelisah setelah kalah di set pertama. Untungnya, Pasangan Indonesia itu akhirnya mampu menang lewat rubber set 12-15, 15-5, 15-10.

Sisanya, Indonesia mampu melibas sisa game yang ada. Joko Suprianto unggul 15-12, 15-5 dari Kim Hak-kyun.

Lalu, pasangan emas Indonesia Ricky Subagja/Rexy Mainaky juga menggila membuat pasangan Korea Selatan Lee Kwang-jin/Choi Ji-tae menjadi cercaan di Istora setelah dibantai 15-1, 15-2.

Artinya, Indonesia melaju ke final dan siap menghadapi Negeri Jiran yang juga menang 4-1 dari China.

Beban Berat Arbi di Babak Final

Indonesia memang menang, tetapi Arbi yang kalah terus merenung merasa bersalah.

“Perasaan saya berantakan, saya bingung kenapa persiapan sudah bagus, tapi hasilnya tidak sesuai harapan,” tulisnya dalam artikel tersebut.

Arbi merasa tidak enak, terutama dengan rekan-rekannya di sektor tunggal putra. Bahkan, Arbi mengaku tidak beranni lagi menatap babak final.

Namun, malam sebelum pertandingan final, pelatih Indra Gunawan dan psikolog Singgih Gunarsa datang ke kamar Arbi.

Arbi diberikan wejangan oleh pelatih dan psikolog tim Indonesia yang berusaha membangkitkan mentalnya yang ambrik.

Pelatih pun menunjukkan kelemahan dan kesalahannya pada pertandingan semifinal.

Arbi menceritakan saat itu pelatihnya bertanya apakah dirinya siap untuk main lagi di final.

“Setelah ditenangkan, saya pun menjawab dengan yakin siap,” ujarnya.

Belasan Ribu Pendukung dan Kebangkitan Arbi

Pelatih tim Thomas berjudi bukan main, bukannya bermain aman dengan menurunkan pemain berpengalaman seperti, Joko Supriyanto. Mereka berkukuh memasang Arbi sebagai tunggal pertama melawan andalan Malaysia Rashid Sidhek.

Suasa Istora padat memenuhi hingga ke dekat pinggir lapangan. Suara gemuruh mungkin lebih menggila dibandingkan dengan suara pukulan balon ketika Indonesia Open atau Indonesia Master.

Icuk Sugiarto yang menjadi komentator di ANTV pun geleng-geleng bukan kepalanng.

“Melihat pertandingan sebelumnya, seharusnya Indonesia menurunkan pemain yang lebih berpengalaman seperti Joko, Ardy, atau Hermawan,” ujarnya.

Namun, dia tidak tahu mungkin ada alasan lain dari tim pelatih menurunkan Arbi.

Arbi seolah berusaha menjawab keraguan Icuk dan mungkin banyak orang Indonesia lainnya. Bahkan, Arbi mencoba melawan keraguan dalam dirinya sendiri.

Arbi menggila dan kandaskan Rashid dua set langsung 15-6, 15-11.

Pertandingan kedua, Indonesia antara Malaysia memanas. Rudy Gunawan/Bambang Suprianto lagi-lagi membuat penonton Istora degdegan setelah kalah di set kedua oleh Cheah Soon Kit/Soo Beng Kiang.

Pertandingan pun berlangsung ke rubber set. Untungnya, pasangan Indonesia yang bikin bedebar ini bisa menang 15-10, 6-15, 15-8.

Pertandingan ketiga, Indonesia menurunkan Ardy B. Wiranata yang harus berhadapan dengan Ong Ewe Hock. Hasilnya, Indonesia pesta gelar di Istora setelah Ardy menang 15-11, 15-5.

Wonderkid Tunggal Putri di Piala Uber 1994

Indonesia terakhir kali menyicipi gelar Piala Uber pada 1975. Warga Indonesia pun berharap Piala itu bisa pulang kampung ke Jakarta, mumpung turnamen beregu itu diadakan di Indonesia.

Menariknya, tim Uber Indonesia memasukkin pemain berumur 14 tahun bernama Mia Audina. Pemain yang digadang-gadang sebagai penerus Susi Susanti peraih emas Olimpiade 1992.

Tim Uber Indonesia saat itu beranggotakan Susi Susanti, Mia Audina, Meiluawati, dan Mia Audina. Lalu, pemain ganda beranggotakan Eliza Nathanael/Zelin Resiana dan Finarsih/Lili Tampi.

Tim Uber Indonesia satu grup dengan Swedia, Denmark, dan Thailand di Grup B. Lalu, di Grup A ada China, Korea Selatan, Jepang, dan Rusia.

Di babak grup, Tim Uber Indonesia menyapu bersih kemenangan. Hanya Denmark yang mampu membuat Indonesia hampir kalah, untungnya sang tuan rumah menang 3-2.

Hampir senasib dengan tim Thomas, Tim Uber harus bertemu Korea Selatan di semifinal.

Indonesia bisa dibilang sudah memastikan gelar setelah mencetak kemenangan tiga kali berturut-turut di 3 pertandingan awal.

Susi Susanti membuka kemenangan dari Kim Ji-Hyun dua set langsung 11-4, 11-2.

Lalu, FInarsih/Lili Tampi juga menang 15-9, 15-5 dari Shim Eun-jung/Jang Hye Ock. Lalu Yuliani Santosa juga menang atas Ra Kyung-Min 11-3, 11-9.

Sisanya, Eliza Nathanael/Zelin Resiana harus kandas dari Gil Young-ah/ Bang Soo-Hyun 2-15. 15-2, 15-18.

Aksi Wonderkid 14 Tahun yang Menggila di Final

Sementara itu, pertandingan sudah tidak menentukan, tetapi Mia Audina tetap menggila dengan menang rubber set atas Lee Joo-Hyun 9-11, 11-2, 11-6. Kekalahan di set pertama tidak menghancurkan mental Mia, justru malah membuatnya makin menggila di Istora.

Di babak final, Indonesia harus berhadapan dengan calon juara favorit China. Formasi Indonesia tidak jauh berbeda seperti saat menghadapi Korea Selatan di babak semifinal.

Susi Susanti membuka kemenangan Indonesia setelah menang 11-4, 12-10 dari Ye Zhaoying.

Lalu, ganda putri Indonesia membuka asa meraih gelar Uber setelah hampir dua dekade puasa gelar. Finarsih/Lili menang dua set langsung 15-13, 17-16 lawan Chen Ying/Wu Yuhong.

Sayangnya, pesta gelar Indonesia harus tertunda sejenak setelah Yuliani Santosa kalah 5-11, 5-11 dari Han Jingna.

Ditambah, Eliza Nathanael/Zelin Resiana juga kalah 10-15, 8-11 dari Ge Fei/Gu Jun.

Akhirnya, beban terakhir untuk gelar Indonesia diberikan kepada sang wonderkid berumur 14 tahun Mia Audina berhadapan Zhang Ning.

Zhang Ning adalah pemain peringkat 12 dunia saat ini, sedangkan Mia Audina hanya anak seumur jagung yang terbebani nasib gelar Piala Uber untuk Indonesia.

Namun, Mia malah menggila di Istora. Seruan penonton seolah membakar semangatnya hingga membuat pemain peringkat ke-12 dunia kandas di set pertama 7-11 dari bocah tersebut.

Sayangnya, pesta kemenangan lagi-lagi tertunda setelah Zhang Ning bisa ambil set kedua mengalahkan Mia 12-10.

Di set penentuan, Mia seolah bermain tanpa beban dan sangat ringan. Zhang Ning dibungkamnya 11-4 dan Indonesia pun membawa pulang gelar Uber bersama Thomas ke Jakarta.

Kini kedua piala itu sudah lama tak singgah di Indonesia. Piala Thomas terakhir singgah di Jakarta pada 2002. Lalu, Piala Uber terakhir juara pada 1996.

Kira-kira, tahun yang diwarnai pandemi Covid-19 ini akan menjadi momentum Indonesia kembali menjuarai Piala Thomas dan Uber enggak ya?

0 0
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Social profiles