piala sudirman

Piala Sudirman gagal pulang kampung pada 2019 setelah Indonesia kalah 1-3 dari Jepang di babak semifinal. PBSI harus segera mencari cara agar kekuatan Indonesia bisa merata, apalagi jelang Piala Thomas dan Uber 2020.

Pada pertandingan Sabtu (25/5/2019), Indonesia sempat unggul 1-0 lewat ganda putra Kevin Sanjaya/Marcus Gideon yang menang cepat dua set langsung atas Takeshi Kamura/Keigo Sonoda 21-14,21-18.

Sayangnya, nasib Indonesia di Piala Sudirman tamat setelah tidak ada wakil lainnya yang mampu menang melawan Bird Jepang.

BACA JUGA : Peluang Indonesia di Piala Sudirman 2019

Pada pertandingan kedua, Gregoria Mariska Tunjung belum terlalu tangguh untuk menghadapi Akane Yamaguchi. Jorji, sapaan Gregoria, kalah dua set langsung 13-21, 13-21 hanya dalam 33 menit.

Tim piala sudirman
Tim Indonesia di Piala Sudirman 2019. / BadmintonIndonesia.org

Indonesia hampir memiliki asa di pertandingan ketiga setelah Anthony Sinisuka Ginting menekan tunggal putra nomor satu dunia Kento Momota.

Sayangnya, penampilan hampir sempurna Ginting belum mampu meredam Momota. Ginting pun kalah dua set langsung 17-21. 19-21 dalam waktu 1 jam 6 menit.

Tertinggal 1-2, Indonesia berharap ada keajaiban dari sisi ganda putri. Greysia Pollo/Apriyani Rahayu menjadi ujung tombak agar Indonesia bisa menyamakan kedudukan.

BACA JUGA : Wonderkid Tunggal Putra Indonesia yang Tak Kunjung Bersinar

Namun, lawan Greysia/Apriyani memang tidak mudah, Mayu Matsumoto/Wakana Nagahara adalah peringkat 1 dunia. Hasilnya, Greysia/Apriyani harus mengakui keunggulan Matsumoto/Wakana dua set langsung 15-21, 17-21.

Kekalahan Indonesia pada kejuaraan beregu ini adalah masalah klasik sejak peforma sektor tunggal baik putra dan putri menurun drastis.

Piala Sudirman, Peforma Tunggal Putra masih Fluktuatif

Inkonsistensi Ginting dan Jonatan Christie membuat tunggal putra Indonesia belum bisa bicara banyak di kancah dunia. Meskipun begitu, Ginting dan Jojo, sapaan Jonatan, sudah bertengger di peringkat 10 besar dunia.

Sayangnya, rekan seangkatan mereka, Ihsan Maulana malah menurun peformanya hingga terjerembab di peringkat ke-45 dunia.

Anthony Ginting di Piala Sudirman
Anthony Ginting gagal mengandaskan Kento Momota di semifinal Piala Sudirman 2019. / badmintonindonesia.org

Hendri Saputra, pelatih tunggal putra, harus bisa meracik menu latihan agar para pemainnya mengurangi melakukan kesalahan sendiri dan cepat beradaptasi dengan instrumen lapangan tanding.

Beberapa kali, inkonsisten tunggal putra dijawab dengan alasan kondisi kok yang berat, angin di lapangan, dan sebagainya. Jika, pemain kelas dunia masih mempermasalahkan hal itu, maka dia akan sulit untuk konsisten.

Selain itu, Hendri Saputra juga harus mematanngkan tunggal putra ketiga selain Jojo dan Ginting.

Saat ini, Shesar Hiren Rhustavito yang diajak ke Piala Sudirman 2019. Namun, untuk jangka panjang, Shesar bukan pilihan yang pas jika melihat umurnya saat ini sudah 25 tahun dan berada di peringkat ke-41 dunia.

Jonatan Christie
Jonatan Christie mendukung kawan-kawannya bertanding di semifinal Piala Sudirman 2019 dari bench tim Indonesia./ BadmintonIndonesia.org

Firman Abdul Kholik atau Chico Aura Dwi Wardoyo seharusnya bisa dikembangkan oleh PBSI untuk menjadi tunggal dunia.

Saat ini, Firman yang berumur 21 tahun berada di peringkat ke-42 dunia, sedangkan Chico yang berumur 20 tahun berada di peringkat ke-57 dunia.

Hal ini harus dilakukan dengan cepat oleh PBSI mengingat Piala Thomas akan digelar pada 2020 di Denmark.

Evaluasi Tunggal Putri

Lalu, tunggal putri juga tidak memberikan perkembangan yang berarti dalam setahun terakhir. Jorji maupun Fitriani tidak kunjung menampilkan peforma yang signifikan.

Jorji yang memiliki peringkat tertinggi di Indonesia masih kerap kepayahan di babak awal turnamen super series. Padahal, Jorji salah satu pemain berbakat yang dimiliki Indonesia.

Gregoria Mariska
Gregoria Mariska harus mengakui keunggulan Akane Yamaguchi di semifinal Piala Sudirman 2019. / BadmintonIndonesia.org

Namun, gaya main yang kurang ngotot membuat dia kerap kalah bahkan oleh pemain yang memiliki peringkat di bawahnya.

Fitriani pun yang digadang-gadang punya kemauan keras juga kepayahan di turnamen super series. Saat ini, Fitriani terjebak di peringkat ke-29 dunia.

Kemenangan An Se Young, tunggal putri Korea Selatan, atas Tai Tzu Ying, tunggal putri nomor 1 dunia, harus bisa menjadi penyemangat Gregoria maupun Fitriani.

An Se Young yang saat ini berada di peringkat ke-50 dunia pun bisa menembus kokohnya Tzu Ying lewat usaha ekstra keras.

Apalagi, umur An Se Young dan Jorji tidak jauh berbeda. Jika, Jorji mau berusaha keras bukan tidak mungkin kelak Jorji dengan An Se Young ibarat Lin dengan dan Lee Chong Wei.

Rionny Mainaky bersama Eng Hian
Rionny Mainaky mendampingi Eng Hian ketika Greysia Polli/Apriyani berlaga di semifinal Piala Sudirman 2019. / BadmintonIndonesia.org

Kehadiran Rionny Mainaky, eks pelatih Jepang, pun diharapkan bisa membuat daya tahan, daya juang, dan kepercayaan tunggal putri bisa kian maksimal.

Akane Yamaguchi bisa menjadi contoh untuk Fitriani kalau tinggi badan bukan menjadi masalah besar dalam bulu tangkis.

Akane dan Fitriani memiliki tinggi tubuh yang hampir sama. Akane memiliki tinggi 1,56 meter, sedangkan Fitriani 1,54 meter.

Namun, Akane mampu membuat Carolina Marin, Tzu Ying, sampai Pusarla V. Sindhu kepayahan.

Pelapis Sepadan Ganda Putri

Dari sisi ganda putri, Indonesia masih mengandalkan Greysia Polli yang kini bertandem dengan Apriyani Rahayu. Namun, Greysia sudah mengisyaratkan akan pensiun, mungkin setelah olimpiade Tokyo 2020.

Untuk itu, PBSI harus segera mematenkan pelapis Greysia agar transisinya bisa lancar.

Greysia Polli
Greysia Polli/Apriyani gagal memperpanjang napas Indonesia untuk bisa lolos ke final Piala Sudirman 2019. / BadmintonIndonesia.org

Indonesia masih memiliki ganda kedua yakni, Rizki Amelia Pradipta/Della Destiara. Namun, gaya permainan pasangan ini cenderung ‘alon-alon asal klakon’ hingga terkadang malah kehilangan konsentrasi dan kelelahan sendiri.

Meskipun begitu, pasangan peringkat ke-16 dunia ini bisa mematikan langkah ganda putri peringkat 3 dunia Chen Gingchen/Jia Yifan dengan head to head 3-1.

Sayangnya, Rizki/Della harus kandas dari pasangan China itu dalam pertemuan terakhirnya di Badminton Asia Championship 2019.

Selain itu, Indonesia memiliki ganda putri muda lainnya seperti, Yulfira Barkah/Jauza Fadhila Sugiarto dan Tania Oktaviani/Vania Arianti Sukoco.

PBSI harus bisa memperkuat ganda putri muda agar transisi ketika Greysia pensiun bisa lancar.

Pematangan dan Siapkan Penerus Ganda Campuran

Pasca Liliyana Natsir pensiun, ganda campuran masih nihil gelar sepanjang tahun ini. Praveen Jordan/Melati Daeva maupun Hafiz Faizal/Gloria E. Widjaja belum mampu membangkitkan sektor itu pasca ditinggal megabintangnya.

Tontowi Ahmad yang dipasangkan dengan Winny pun belum memberikan taji yang signifikan.

Meskipun begitu, Hafiz/Gloria dan Praveen/Melati sudah menembus peringkat 10 besar dunia. Tinggal konsisten dan pengalaman bertanding yang membuat mereka untuk meraih gelar.

Ganda campuran
Herry IP dan Richard Mainaky memberikan arahan kepada Praveen Jordan/Melati Daeva di perempat final Piala Sudirman 2019./ badmintonIndonesia.org

Apalagi, jika Praveen bisa bermain konsisten dan meminimalisir kesalahan sendiri, bukan tidak mungkin dia bisa kembali menjadi bintang seperti ketika menjuarai All England 2016 bersama Debby Susanto.

Selain itu, PBSI juga harus menyiapkan ganda campuran muda untuk bisa bersaing di kancah dunia. Rinov Rivaldy/Pitha Haningtyas Mentari yang saat ini bertengger di peringkat ke-18 dunia mungkin bisa kian dimatangkan.

Semoga saja, Tontowi/Winny juga mulai bisa berbicara banyak di turnamen super series seperti ketika Nova Widianto berpasangan dengan Liliyana. Kekuatan ganda campuran akan sangat diperlukan untuk Piala Sudirman 2021, jika tidak ada perkembangan signifikan berarti jangan berharap piala itu pulang kampung ke Indonesia.

Perkokoh Ganda Putra

Jika Jepang menguasai sektor ganda putri dunia, maka Indonesia penguasa sektor ganda putra di dunia saat ini.

Indonesia menempatkan Kevin/Marcus di peringkat 1 dunia. Disusul Hendra Setiawan/Mohamad Ahsan di peringkat ke-4 dan Fajar Alfian/Muhammad Rian diperingkat ke-5.

Kevin Sanjaya / Marcus Gideon
Kevin/Marcus sempat membuka peluang Indonesia ke final Piala Sudirman 2019 setelah mengalahkan ganda Jepang Kamura/Sonoda. / BadmintonIndonesia.org

Namun, Indonesia tidak boleh puas dengan digdaya ganda putranya tersebut. Pekerjaan rumah terbesar PBSI adalah membuat Fajar/Rian memiliki mental juara untuk bisa bersaing di papan atas dunia.

Pasalnya, Fajar/Rian memiliki teknik dan kemampuan yang mumpuni, tetapi daya juangnya cukup rendah, serta mental juara dan kepercayaan diri yang belum begitu kokoh.

Kevin/Marcus pun tidak boleh berpuas diri karena seluruh ganda putra di dunia bakal berupaya mengalahkan mereka.

Minions, julukan Kevin/Marcus harus memiliki beberapa strategi agar permainannya tidak mudah terbaca oleh lawan. Lalu, dengan semakin tinggi jam terbang, Minions diharapkan bisa lebih sabar dalam pertandingan.

Periode stagnan bahkan penurunan pasti akan terjadi, tetapi Minions harus bisa melewatinya. Hendra/Ahsan membuktikan setelah sempat turun penampilannya pada 2016, mereka bisa bangkit lagi saat ini.

Jelang Piala Thomas dan Uber 2020

Piala Thomas dan Uber tahun depan akan digelar di Denmark. PBSI tidak bisa berhela-hela melihat banyaknya lubang di sektor selain ganda putra.

Jika ingin kembali merasakann podium juara Piala Thomas atau Uber, pembenahan besar-besaran harus dilakukan saat ini.

Tim Uber Indonesia masih Sulit Bersaing

Dengan melihat hasil beberapa turnamen super series dan Piala Sudirman 2019, tim Uber Indonesia masih sulit bersaing.

Bisa dibilang, tim putri Indonesia hanya bertumpu pada ganda putri, terutama Greysia/Apriyani. Lalu, tunggal putri masih kerap kewalahan bahkan melawan pemain yang peringkatnya lebih rendah.

Susi Susanti
Ekspresi Susi Susanti pada laga semifinal Piala Sudirman 2019./ BadmintonIndonesia.org

Berarti, poin pasti tim Uber Indonesia ketika berhadapan dengan tim besar seperti, Jepang, China, Korea Selatan, dan Thailand hanya ada dipundak Greysia/Apriyani.

Dengan kata lain, peluang menang tim Uber jelas di bawah 30%.

Kecuali, gemblengan Rionny bisa membangkitkan tunggal putri Indonesia sehingga peluang untuk ke semifinal bahkan menjadi juara menjadi lebih besar.

Tim Thomas Indonesia Berharap Konsistensi Tunggal Putra

Ganda putra Indonesia memang sudah kokoh, tetapi ketika bermain beregu seperti, Piala Thomas, kontribusi tunggal putra sangat dibutuhkan.

Kondisi ini sangat tercermin ketika Final Piala Thomas 2016. Indonesia hanya bisa unggul dari segi ganda putra, tetapi selalu keok di sektor tunggal.

Alhasil, Piala Thomas yang berada di depan mata pun melayang.

Selanjutnya, optimistis Indonesia bisa membawa pulang Piala Thomas pada 2018 juga sirna setelah dikalahkan China 1-3 pada semifinal.

Ginting dan Jonatan harus semakin mematangkan diri untuk mengurangi kesalahan sendiri dan meningkatkan daya tahan dalam setiap pertandingan melawan pemain papan atas dunia.

Selanjutnya, PBSI tinggal mematangkan tunggal putra ketiga untuk antisipasi peluang permainan ketat hingga partai kelima.

Namun, apakah semua itu bisa dilakukan dalam waktu yang kurang dari setahun? Kita tunggu saja gebrakan PBSI demi membawa pulang Piala Thomas dan Uber tahun depan.

2 thoughts on “Piala Sudirman Kandas, Indonesia ‘Kudu’ Tatap Piala Thomas Uber 2020”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.