Pesona AISA menggoda perusahaan Amerika Serikat KKR untuk berinvestasi di emiten konsumer tersebut. Dengan tiga bisnis utama makanan, beras, dan kelapa sawit, Tiga Pilar Sejahtera menjelma sebagai emiten konsumer yang patut diperhitungkan di Indonesia.

Priyo Hadi Sutanto, salah satu pendiri memutuskan mundur dari jabatan komisaris utama PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk. pada 2012. Dengan begitu, pengelolaan emiten brkode AISA itu sepenuhnya jatuh ke tangan generasi ketiga, yakni Joko Mogoginta.

BACA JUGA: Seri Pertama Tulisan AISA, Perjalanan Generasi Pertama dan Kedua Tiga Pilar Sejahtera

Apalagi, anak Priyo, Hengky Koestanto diangkat sebagai komisaris AISA pada 2011.

Setelah melakukan ekspansi besar-besaran sepanjang dua dekade resmi berdiri, AISA mulai mencari pendanaan untuk mendorong ekspansinya.

Salah satunya adalah dengan menerbitkan obligasi dan sukuk ijarah dengan total dana yang diincar Rp900 miliar. Rinciannya, dana dalam bentuk obligasi Rp600 miliar, sedangkan sukuk ijarah senilai Rp300 miliar.

Surat utang AISA itu memiliki tenor selama 5 tahun dengan kupon 10,25% per tahun.

Dana dari surat utang itu digunakan untuk ekspansi perseroan sepanjang 2013. Pada tahun itu, Tiga Pilar Sejahtera Food mengakuisisi produk bihun jagung dari Subafood senilai Rp100 miliar.

Lalu, Tiga Pilar juga berinvestasi pada sektor makanan pokok, yakni mie kering dengan nilai investasi Rp12,5 miliar. Investasi itu diharapkan bisa mendongkrak produksi mie kering hingga 1.000 ton per bulan.

Selain itu semua, ada satu ekspansi terbesar AISA pada tahun itu, yakni investasi di sektor kelapa sawit. Perseroan berencana melakukan investasi di sektor sawit dengan anggaran investasi senilai Rp600 miliar.

Dalam keterangannya, Tiga Pilar Sejahtera akan melakukan semua rencana itu dengan dana dari kombinasi kas, obligasi, sukuk ijarah, dan pinjaman bank.

Di sini, AISA masih sangat bergairah untuk terus ekspansi, terutama di sektor kelapa sawit.

Pesona AISA Bikin KKR Ngiler

Agresivitas AISA selama dua dekade terakhir ternyata telah menggoda salah satu perusahaan asing untuk masuk ke sana. Perusahaan itu adalah Kohlberg Kravis Roberts (KKR) Asset Management LLC. Pesona AISA bisa dibilang meningkat drastis

Perusahaan asal Negeri Paman Sam itu terkenal cukup ahli dalam sektor makanan dan ritel. Hal itu selaras dengan lini bisnis AISA yang berada di sektor makanan dari ringan sampai pokok.

Beberapa perusahaan Indonesia yang disinggahi KKR antara lain, Gojek, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk., dan PT Nippon Indosari Corpindo Tbk.

Nah, KKR melakukan akuisisi 9,5% saham AISA pada 2013. Kala itu, Tiga Pilar Sejahtera menilai hadirnya KKR bukan sekadar untuk mendapatkan pemegang saham yang kuat di sektor ritel, tetapi juga bisa membantu perseroan tumbuh lebih kencang.

KKR sendiri melalui Ridha Wirakusumah yang kala itu masih bekerja di sana menilai sektor konsumer Indonesia sangat potensial. Konon, sektor konsumer Indonesia bisa menjadi yang ketiga terbesar di dunia pada 2050.

Untuk itu, KKR tertarik untuk investasi di perusahaan konsumer seperti Tiga Pilar Sejahtera.

Aksi korporasi itu membuat KKR menjadi pemegang saham terbesar AISA setelah PT Tiga Pilar Sejahtera.

Selain itu, memasuki umur 21 tahun, AISA juga menambah kapasitas produksi dua sektor bisnisnya, yakni kelapa sawit dan produksi makanan pokok.

Untuk kelapa sawit, perseroan merampungkan pabrik minyak sawit dengan kapasitas 30 ton tandan buah segar per jam. Lalu, untuk makanan pokok, perseroan merampungkan pabrik produksi miekering dengan produksi sebesar 1.000 ton per bulan.

Memekatkan Bisnis Sektor Sawit

Jika 2013 diwarnai dengan penghimpunan dana lewat obligasi, sukuk ijarah, serta kehadiran pemegang saham baru, yakni KKR. Pada 2014, perseroan kembali melakukan kehebohan dengan melakukan private placement.

AISA melepas 10% saham baru dengan harga pelaksanaan Rp2.250 per saham. Dengan begitu, perseroan akan mendapatkan dana segar senilai Rp658,35 miliar.

KKR, pemegang saham AISA sejak 2013, menjadi pengambil saham baru emiten sektor konsumer tersebut.

Dengan jumlah kepemilikan saham yang lebih besar, KKR bisa menempatkan satu direktur di manajemen AISA.

Di sisi lain, kala itu ada isu yang menyebutkan AISA berencana akuisisi pabrik susu dengan kapasitas 7.800 ton per bulan. Lalu, KKR memiliki pengalaman di bisnis produk susu.

Perusahaan asal AS itu memiliki relasi dengan dua perusahaan susu terbesar di China, yakni China Modern Dairy Ltd dan China Mengiu Dairy Co. Ltd. Jumlah kepemilikan KKR di AISA yang membesar diharapkan memberikan keuntungan untuk rencana tersebut.

Namun, bukannya pabrik susu, nayatanya AISA malah memperkuat bisnis kelapa sawit setelah mengakuisisi PT Golden Plantation. Nilainya memang dirahasiakan, tetapi berkisar Rp600 miliar atau sama dengan nilai private placement yang dilakukan AISA.

Setelah mengakuisisi Golden Plantation, perseroan melakukan divestasi saham di Bumiraya Investindo. Setelah itu, Golden Plantation pun melantai di bursa.

Setelah memecah divisi kelapa sawitnya, Golden Plantation makin agresif dengan melakukan akuisisi dua perusahaan.

Pertama, PT Persada Alam hijau pada 2014 dan PT Bailangu Capital Investment pada 2015.

Tiga Pilar Sejahtera pun sudah mendapatkan kontribusi pendapatan dari bisnis kelapa sawitnya, meski nilainya masih kecil.

Perseroan mencatatkan tiga pos pendapatan dari sektor sawit pada 2014, yakni tanda buah segar senilai Rp23,14 miliar, minyak sawit mentah senilai Rp103,15 miliar, dan inti sawit serta turunannya senilai Rp11,31 miliar.

Selain sawit, bisnis beras juga makin besar setelah Dunia Pangan mendirikan PT Tani Unggul Usaha dan PT Swasembada Tani Selebes.

Priyo Hadi Sutanto, Sayonara

2014 menjadi momentum duka yang mendalam bagi Tiga Pilar Sejahtera. Priyo Hadi Sutanto adalah pengusaha meneruskan bisnis ayahnya Tan Pia Sioe hingga membentuk Tiga Pilar Sejahtera bersama keponakannya Joko Mogoginta.

Kabarnya, Priyo meninggal setelah sakit paru-paru. Sempat melakukan operasi di Singapura, tetapi setelah itu tidak ada kabar lagi hingga berhembus kabar duka tersebut.

Priyo adalah salah satu taipan terkenal di Solo, selain Iwan Lukminto yang memiliki Sritex.

Dengan meninggalnya Priyo, pada 2014 bisnis Tiga Pilar Sejahtera dipegang oleh generasi ketiga, yakni Joko Mogoginta yang masih menjaba sebagai direktur utama dan Hengky Koestanto yang berposisi sebagai komisaris.

Priyo meninggalkan Tiga Pilar dengan bisnis yang sudah menggurita. Tiga Pilar Sejahtera memiliki tiga lini usaha utama, yakni makanan, beras, dan minyak sawit.

Lini usaha makanannya sudah berkembang setelah memiliki empat anak usaha dan tiga cucu usaha.

Lalu, lini usaha beras memiliki satu anak usaha dengan lima cucu usaha.

Bisnis minyak sawitnya lebih besar lagi dengan 3 anak usaha, 5 cucu usaha, dan 1 cicit usaha.

Dalam 8 tahun, laba bersih AISA pun tercatat melonjak 1.047% menjadi Rp323,44 miliar pada 2015.

Dari segi penjualan sampai 2015, AISA mencatatkan hasil yang menganggumkan setelah tembus Rp6,01 triliun. Padahal, pada 2018 pendapatannya masih Rp489,17 miliar.

Masa ini memperkuat kalau pesona AISA membuat perseroan dianggap calon kuat pesaing Indofood yang menguasai pasar sektor konsumer, termasuk kelapa sawit.

0Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close
Social profiles
Close