Pemain terbaik di dunia telah bertempur di turnamen BWF Tour Final yang berakhir pada 15 Desember 2019. Kira-kira sepanjang satu tahun seri turnamen BWF ini, siapa pemain terbaik dan pemain yang berkembang paling pesat sepanjang tahun ini?

Dari para pemain terbaik yang bertempur di BWF Tour Final, beberapa pemain yang meraih juara antara lain, Kento Momota, Chen Yu Fei, Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan, Chen Qi Chen/Jia Yi Fan, dan Zheng Si Wei/Huang Ya Qiong.

BACA JUGA: Anak Jalanan Penjual Tisu, Eksploitasi yang Halal?

Namun, hasil itu bukan berarti langsung menasbihkan para pemain itu menjadi yang terbaik. Untuk itu, saya menggunakan indikator raihan gelar terbanyak, konsistensi, dan hasil di turnamen besar seperti, BWF Tour seri 1000 dan Kejuaraan Dunia.

Lalu, siapa saja mereka?

Pemain Terbaik Tunggal Putra 2019

Pemain bulu tangkis terbaik tunggal putra Kento Momota

Ada dua nominasi pemain tunggal putra terbaik pada tahun ini versi saya, yakni Kento Momota asal Jepang dan Chou Tien Chen asal Taiwan.

Jika dilihat dari prestasi, Momota jelas jauh lebih banyak ketimbang Chou. Namun, Chou juga mencatatkan peforma yang apik sepanjang tahun ini.

Meskipun begitu, pemain tunggal putra terbaik dunia sepanjang seri turnamen BWF tetap saya berikan kepada Kento Momota.

Alasannya, secara prestasi, Momota sudah meraih 10 gelar di seri turnamen BWF Tour, termasuk BWF Tour Final.

PODCAST: Kenapa Mereka Menjadi Pemain Terbaik dan Perkembangan Terpesat Sepanjang Tahun Ini

Kesepuluh gelar itu menunjukkan konsistensi sang pemain asal Jepang itu sepanjang tahun ini. Dia pun sudah bertengger di peringkat pertama dunia sejak 27 September 2018.

Salah satu kelayakan Momota menjadi pemain terbaik adalah momen kebangkitannya setelah sempat dihukum tidak boleh bertanding karena kasus judi bersama Kenichi Tago pada 2016.

Kala itu, Momota sempat dihukum tidak boleh bermain selama satu tahun sejak 21 April 2016. Alhasil, peringkatnya melorot drastis hingga ke level 282 pada 20 Juli 2017.

Namun, Momota enggak butuh waktu lama untuk bisa bangkit ke papan atas dunia. Hanya dalam setahun, Momota bisa mendongkrak karirnya menjadi raja tunggal putra di dunia.

Meskipun begitu, Momota bukan tanpa celah. Sang raja Momota pun juga bisa kalah dan kelelahan. Pemain Jepang itu beberapa kali kandas di babak awal seperti, di Malaysia Master, Malaysia Open, Indonesia Open, dan Hong Kong Open.

Pemain Terbaik Tunggal Putri 2019

Chen Yu Fei pemain bulu tangkis terbaik perempuan

Saya menominasikan tiga pemain tunggal putri terbaik pada tahun ini, yakni Chen Yu Fei, Tai Tzu Ying, dan Akane Yamaguchi. Sayangnya, peforma Akane mengalami penurunan jelang akhir tahun akibat cedera.

Di sisi lain, Tai Tzu Ying yang menjadi ratu tunggal putri beberapa tahun terakhir juga mulai tampak mengendor. Hasilnya, pemain tunggal putri terbaik tahun ini dimiliki oleh Chen Yu Fei.

Pencapaian prestasi Chen Yu Fei sepanjang seri turnamen BWF tahun ini cukup mencolok. Dia mampu meraih 7 gelar sepanjang tahun ini, meskipun ratu tunggal putri masih dipegang oleh Tai Tzu Ying.

Gelar itu jauh lebih banyak ketimbang Akane dan Tai Tzu Ying yang masing-masing meraih 3 gelar.

Namun, jika dilihat dari level turnamennya, Chen Yu Fei hanya mampu meraih gelar All England yang levelnya 1.000.

Turnamen level 1.000 lainnya terdistribusi secara merata. Indonesia Open diraih Akane, Kejuaraan Dunia diraih Pusarla Sindhu, dan China Open diraih oleh Carolina Marin.

Karir Chen Yu Fei mulai menanjak pada 17 Desember 2015 setelah menembus peringkat 50 dunia. Setelah itu, Chen Yu Fei tembus 20 besar dunia pada 16 Februari 2017.

Hanya butuh sekitar 7 bulan, Chen Yu Fei pun tembus peringkat 10 dunia. Pemain berumur 22 tahun itu, tembus peringkat 5 besar dunia pada 19 April 2018.

Setelah tembus 5 besar dunia, Chen Yu Fei terus konsisten hingga saat ini bertengger di peringkat kedua dunia.

Pemain Terbaik Ganda Putra 2019

Hendra/Ahsan pemain ganda putra dunia terbaik

Nominasi ganda putra terbaik dunia pada tahun ini dari versi saya ada dua pasangan, yakni Marcus Gideon/Kevin Sanjaya dan Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan. Alasannya, kedua pasangan ini menguasai gelar mayoritas kejuaraan level 300 ke atas.

Dari 25 turnamen level 300 ke atas, ada 12 gelar yang diraih oleh kedua pasangan tersebut. Lalu, dari 12 gelar itu, 5 diantaranya mempertemukan kedua pasangan di final.

Artinya, persaingan ganda putra dunia bisa dibilang dikuasai oleh dua pasangan tersebut. Lalu, dari mereka berdua, siapa yang terbaik?

Jika melihat perolehan gelar, Minions, julukan Kevin/Marcus, jauh lebih unggul dibandingkan The Daddies, julukan Hendra/Ahsan.

Minion sudah meraih 8 gelar sepanjang tahun ini, tetapi 5 diantaranya didapatkan setelah bertemu The Daddies di final.

Lalu, 8 gelar minions bisa dibilang kurang lengkap karena gagal di All England dan Kejuaraan Dunia.

Sebaliknya, The Daddies seolah menjadi benteng terakhir Indonesia untuk meraih gelar setelah Minions kalah. Pasangan veteran asal Indonesia ini mampu meraih gelar di All England dan Kejuaraan Dunia ketika Minions yang diandalkan harus keok.

Dengan fakta itu, saya memilih The Daddies yang sekarang berada di peringkat 2 dunia sebagai ganda putra terbaik dunia pada 2019.

Pemain Terbaik Ganda Putri 2019

Cheng Qi CHen / Jia Yifan Pemain terbaik ganda putri

Persaingan di sektor ganda putri lebih ketat antara pemain China, Jepang, dan Korea Selatan.

Namun, alurnya, pemain Jepang yang sempat menggeliat pada awal tahun mulai meredup di akhir tahun. Lalu, pemain Korea Selatan yang kurang menonjol awal tahun, malah menajam di akhir tahun.

Beberapa pemain Jepang yang menjadi sorotan antara lain, Wakana Nagahara/Mayu Matsumoto dan Yuki Fukushima/Sayaka Hirota. Lalu, dari Korea Selatan yang menonjol adalah Kim So Yeong/Hee Yong.

Sayangnya, bukan dari kedua negara itu pemain ganda putri terbaik pilihan saya pada tahun ini, melainkan dari China.

Pasangan ganda putri terbaik pada tahun ini adalah CHen Qing Chen/Jia Yi Fan yang kini menduduki peringkat 1 dunia untuk ganda putri.

Alasannya, di tengah tidak konsistennya ganda Jepang dan Korea Selatan, pasangan China ini bisa terus kompetitif hingga akhir musim.

Chen Qing Chen mencatatkan 5 gelar di seluruh seri BWF Tour termasuk BWF Tour Final.

Pemain Terbaik Ganda Campuran 2019

Zheng Si Wei/ Huang Ya Qiong pemain ganda campuran terbaik dunia

Peta persaingan ganda campuran dunia sedikit berubah setelah Liliyana Natsir memutuskan pensiun pada awal tahun ini. Belum ada ganda campuran asal Indonesia yang mumpuni untuk merangsek ke peringkat 5 besar dunia.

Di sisi lain, pemain ganda campuran lainnya yang bisa menandingi dua pasangan China Zheng Si Wei/Huang Ya Qiong dan Wang Yilyu/ Huang Dong Ping praktis cuma pasangan Jepang Yuta Watanabe/Arisa Higashino.

Selain itu, belum ada pemain yang bisa mengotak-atik posisi tiga besar dunia.

Dengan melihat konsistensi sepanjang tahun ini, saya memilih Zheng Si Wei/Huang Ya Qiong sebagai ganda campuran terbaik pada tahun ini. Alasannya, pasangan ini bisa dibilang sulit ditembus oleh pasangan-pasangan lainnya.

Sepanjang tahun ini, ZHeng Si Wei/Huang Ya Qiong telah meraih 7 gelar dari total 25 turnamen seri BWF 300 ke atas.

Apalagi, Zheng Si Wei/Huang Ya Qiong tampaknya masih nyaman di kursi peringkat pertama dunia.

Pasangan China itu sudah berada di peringkat 1 dunia sejak 9 Agustus 2018. Artinya, sudah hampir 1,5 tahun menduduki takhta ganda campuran terbaik dunia.

Pemain yang Berkembang Paling Pesat Sepanjang Tahun Ini

Selain pemain terbaik, saya juga akan memilih pemain yang berkembang paling pesat setiap sektornya sepanjang tahun ini.

Ada beberapa pemain muda atau pemain yang baru dipasangkan yang berkembang sangat pesat. Sayangnya, tidak ada satu pun wakil Indonesia yang termasuk di dalamnya.

Siapa saja mereka?

Tunggal Putra

Anders Antonsen Pemain tunggal putra dengan perkembangan paling pesat

Sebenarnya, saya ada beberapa nominasi pemain tunggal putra yang berkembang cukup pesat pada tahun ini, yakni Anders Antonsen, NG Ka Long Angus, Kanta Tsuneyama, Lee Zii Jia, Rasmus Gemke, dan Loh Kean Yew.

Namun, melihat konsisten perkembangannya, Anders Antonsen menjadi pemain tunggal putra yang berkembang paling pesat pada tahun ini.

Hal itu mulai tampak ketika Antonsen mengalahkan Momota di final Indonesia Master 2019. Gaya main Antonsen yang tanpa pelatih saat itu benar-benar ulet hingga memaksa Momota mengibarkan bendera putih.

Seolah mendapatkan magis di Istora, peforma Antonsen di Indonesia Open level 1000 juga tidak kalah garang. Dia mampu ke final dan menghadapi kaisar Chou Tien Chen.

Sayangnya, Antonsen harus kalah dari Chou Tien Chen, tetapi dia tidak menundukkan kepala atas kekalahannya tersebut. Antonsen tetap mengapresiasi prestasinya di turnamen level tinggi tersebut.

Selain itu, prestasi Antonsen kian mencolok ketika berhasil melaju ke final kejuaraan dunia pada 2019. Sayangnya, dia harus mengakui keunggulan Momota di babak final dan puas meraih posisi runner-up.

Awal tahun ini, peringkat Antonsen masih berada di posisi ke-18 dunia. Namun, Antonsen ngebut hingga melampaui seniornya Viktor Axelsen dan kini bertengger di peringkat 3 dunia.

Sepanjang tahun ini, pemain berusia 22 tahun itu hanya mencatatkan 1 gelar, yakni di Indonesia Master 2019.

Tunggal Putri

An Se Young pemain tunggal putri dengan perkembangan paling pesat

Enggak perlu basa-basi lagi, salah satu pemain tunggal putri yang memiliki perkembangan paling pesat adalah pemain muda asal Korea Selatan, An Se Young. Pemain berusia 17 tahun itu mampu menggemparkan dunia, terutama jelang akhir seri turnamen BWF.

Sepanjang tahun ini, An Se Young berhasil meraih 3 gelar.

Pertama, di New Zealand Open level 300 ketika An Se Young mampu mengandaskan Li Xierui asal China di final.

Kedua, An Se Young menang di Prancis Terbuka 750 setelah mengalahkan Carolina Marin di final.

Ketiga, An Se Young juga juara di Korea Master level 300 setelah mengalahkan Sung Ji Hyun di final.

Kini, An Se Young sudah bertengger di peringkat ke-9 dunia.

Jika dilihat sejak awal tahun, kenaikan peringkat An Se Young bisa dibilang cukup signifikan. Pada 2 Januari 2019, peringkat An Se Young masih di level 99, tetapi dalam setahun dia bisa melonjak hingga ke peringkat 9 dunia.

Kira-kira An Se Young bisa mematahkan dominasi tunggal putri yang dikuasai oleh Tai Tzu Ying, Chen Yu Fei, Akane Yamaguchi, Ratchanok Intanon, dan Nozomi Okuhara enggak ya?

Ganda Putra

Lee Yang/Wang Chin-lin ganda putra dengan perkembangan paling pesat

Ada beberapa pemain ganda putra yang mencatatkan perkembangan pesat. Beberapa diantaranya, yakni ganda taiwan Lee Yang/Wang Chi-lin, ganda Malaysia Aaron Chia/Soh Wooi Yik, dan ganda Jepang Takuro Hoki/Yugo Kobayashi.

Namun, yang paling konsisten sampai saat ini hingga mampu tembus BWF Tour Final adalah Lee Yang/ Wang Chi-lin.

Pasangan asal Taiwan itu mencatatkan dua gelar sepanjang tahun ini yang berasal dari India Open level 500 dan Korea Master level 300.

Perkembangan Lee Yang/Wang Chin-lin bisa dibilang sangat pesat karena mereka baru dipasangkan pada Februari 2019. Saat itu, mereka memulai langkahnya di peringkat ke 161 dunia.

Dalam 6 bulan, pasangan Taiwan ini bisa melejit hingga ke peringkat 10 dunia. Kini, pasangan Taiwan itu sudah bertengger di peringkat tujuh dunia.

Dengan perkembangan pesat yang kurang dari setahun itu, bisa saja keduanya akan berbicara lebih banyak pada tahun depan, terutama di Olimpiade.

Ganda Putri

Ki So Yeong/Kong Hee Yong ganda putri dengan perkembangan terpesat

Jika bicara ganda putri yang berkembang paling pesat sepanjang tahun ini, kita bisa melihatnya dari pemain satu negara, yakni Korea Selatan.

Pemain ganda putri Korea Selatan itu bisa dibilang calon-calon penguasa ganda putri dunia pada tahun depan.

Dua ganda putri Korea Selatan, Lee So Hee/Shin Seung Chan dan Ki So Yeong/Kong Hee Yong juga bak membawa Negeri Gingseng bangkit dari kubur.

Namun, di antara kedua pemain itu, Ki So Yeong/Kong Hee Yong bisa dibilang mencatatkan perkembangan paling pesat.Pada 2 Januari 2019, pasangan ini masih berada di peringkat 59 dunia dan saat ini sudah bertengger di peringkat 6 dunia.

Sepanjang tahun ini, pasangan Korea Selatan itu sudah meraih 3 gelar. Ketiga gelar itu diraih di New Zealand Open level 300, Japan Open level 750, dan Korea OPen level 500.

Melihat kondisi ini, peluang penguasa ganda putri dunia bisa saja beralih dari Jepang ke Korea Selatan.

Ganda Campuran

Seo Seung Jae/Chae Yujung ganda campuran dengan perkembangan paling pesat

Korea Selatan bak menguasai pasar pemain potensial yang siap menggila pada tahun depan. Selain di tunggal putri dan ganda putri, Korea Selatan juga memiliki potensi di ganda campuran.

Pasangan Seo Seung Jae/Chae Yujung bisa menjadi pendombrak penguasa ganda campuran dari China Zheng Si Wei/Huang Ya Qiong dan Wang Yi Lyu/Huang Dong Ping.

Perkembangan pasangan ganda campuran Korea Selatan ini termasuk ngebut jika melihat di awal tahun masih berada di peringkat 19 dunia.

Hanya dalam kurang dari 3 bulan, mereka langsung bisa merangsek ke 10 besar ganda campuran dunia, tepatnya berada di peringkat ke-7 dunia.

Hingga saat ini, pasangan Korea Selatan itu pun terus mempertahankan posisi di peringkat ke-7 dunia.

Sepanjang tahun ini, pasangan Korea Selatan ini baru meraih satu gelar di tur Eropa Jerman Open level 300.

Kira-kira, pasangan Korea Selatan ini benar-benar bisa menembus duo tembok China di peringkat 1 dan 2 dunia ganda campuran enggak ya?

0Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.