Views 2
Waktu Baca5 Menit, 6 Detik

Olimpiade 1992, musim panas di Barcelona, Spanyol, menjadi kenangan indah bagi Indonesia yang tak terlupakan sampai kapanpun. Nama Indonesia mengemuka ke seluruh dunia dalam ajang perdana bulu tangkis di Olimpiade tersebut.

Bahkan, media Inggris The Independent menulis berita berjudul “Olympics/Barcelona 1992 – Round Up: Badminton: Indonesia off the mark” pada 5 Agustus 1992 pukul 00:02 waktu setempat.

Hasil yang diraih Indonesia di Barcelona mencatatkan rekor baru. Negara dari Asia Tenggara itu memecahkan rekor emas pertamanya di Olimpiade melalui cabang bulu tangkis.

Susi Susanti, pemain tunggal putri Indonesia berhasil mengalahkan pemain muda Korea Selatan Bang Soo-Hyun lewat rubber set 5-11, 11-5, 11-3.

BACA JUGA: Mau Tau Kelompok 10 Besar di Bulu Tangkis Dunia, Cek Di Sini Aja

Indonesia diwakilkan oleh dua pemain di sektor tunggal putri, yakni Susi Susanti dan Sarwendah Kusumawardhani.

Memulai pertandingan perdana di Olimpiade, Susi Susanti langsung mendapatkan bye di babak pertama. Di babak kedua, Susi bertemu dengan wakil Jepang Harumi Kohara yang juga mendapatkan bye di babak pertama.

Susi melewati babak kedua dengan indah setelah mengalahkan Kohara 11-2, 11-2.

Lanjut ke babak ketiga, Susi harus berhadapan dengan wakil Hong Kong Wong Chun Fan. Sebelumnya, Wong Chun Fan sudah menyingkirkan dua wakil dari Eropa, Eline Coene dari Belanda dan Silvia Albrecht dari Swiss.

Olimpiade 1992, Mimpi All Indonesian Final di Tunggal Putra dan Putri

Senasib dengan Susi, Sarwendah juga mendapatkan bye di babak pertama. Melenggang tanpa perjuangan ke babak kedua, Sarwendah berhadapan dengan wakil Belanda Erica van den Heuvel.

Hasilnya, Sarwendah menang 11-8, 11-2 atas wakil Belanda tersebut. Di babak ketiga, Sarwendah menghadapi wakil Thailand Pornsawan Plungwech, Sarwendah lagi-lagi bisa menang 11-4, 11-2 dari pemain Negeri Gajah Putih tersebut.

Melaju ke babak perempat final, hanya tersisa 8 pemain terbaik di olimpiade perdana bagi bulu tangkis ini.

Ke-8 pemain itu antara lain, Susi Susanti dari Indonesia yang harus berhadapan dengan wakil Thailand Somharuthai Jaroensiri.

Lalu, ada wakil China Huang Hua yang harus berhadapan dengan wakil Korea Selatan Lee Heung Soon.

Kemudian, Sarwendah yang berhadapan dengan wakil Korea Selatan Bang Soo-hyun. Terakhir, wakil Australia Anna Lao yang berhadapan dengan wakil China Tang Jiuhong.

Susi dan Sarwendah yang berada di sisi berbeda memunculkan mimpi All Indonesian Final di sektor tunggal putri.

Sayangnya, hanya Susi yang melaju ke semifinal setelah mengalahkan Jaroensiri 11-6, 11-1. Di sisi lain, Sarwendah harus akui keunggulan Soo-hyun lewat rubber set 2-11, 11-3, 11-12. Sebuah pertandingan ketat nan tipis untuk bisa merebut partai ke semifinal.

Di babak semifinal ada dua wakil asal China dan satu Indonesia, serta satu Korea Selatan. China seolah membuka pintu lebar melahirkan All China Final.

Sayangnya, Huang Hua dikalahkan Susi Susanti 4-11, 1-11, sedangkan Tan Jiuhong dikalahkan Soo-Hyun 3-11, 2-11. Indahnya lagi, Susi berhasil membalaskan dendam Sarwendah di babak final dari pemain muda Korea Selatan tersebut.

Kenangan Manis Pasangan Susi Susanti dan Alan Budi Kusuma

Tak lama setelah emas pertama dari Susi Susanti, Indonesia sudah memastikan emas kedua dari cabang olahraga yang sama yang berasal dari tunggal putra. Kepastian itu muncul setelah dua pemain tunggal putra Indonesia beradu raket di final.

Alan Budi Kusuma yang masih berstatus pacar Susi Susanti akan berhadapan dengan juara All England 1991 Ardy Wiranata.

Setelah meraih emas dan membuat lagu Indonesia Raya berkumandang di Barcelona, Susi menyaksikan pertandingan Alan.

“Saya tidak segugup ketika Alan bermain di semifinal,” ujar Susi yang menonton lebih santai karena pertemuan antar sesama pemain Indonesia.

Di Olimpiade 1992, Indonesia mengirimkan tiga wakil tunggal putra, yakni Hermawan Susanto, Ardy Wiranata, dan Alan Budikusuma.

Hermawan Susanto yang berada di sesi satu mendapatkan bye di babak pertama. Setelah itu, dia harus berhadapan dengan wakil Finlandia Robert Lijequist dan menang 15-11, 15-3.

Melaju ke babak ketiga, Hermawan mengandaskan perjuangan wakil Thailand Teeranun Chiangta 15-7, 15-8.

Di sesi kedua, Ardy Wiranata juga mendapatkan bye di babak pertama. Melenggang tanpa keringat di babak kedua, dia berhadapan dengan wakil Swedia Jens Olsson.

Hasilnya, sang Juara All England 1991 itu menang 15-11, 15-6. Di babak ketiga, Ardy mengalahkan wakil Malaysia Foo Kok Keong 15-4, 15-6.

Di sesi ketiga, Alan Budikusuma harus bermain sejak babak pertama. Pada awal turnamen, dia harus bertemu dengan wakil Singapura Koh Leng Kang 15-2, 15-2.

Melenggang ke babak kedua, Alan Budikusuma berhadapan dengan wakil Thailand Sompol Kukasemkij dan menang 15-11, 15-2.

Di babak ketiga, Alan harus berhadapan dengan wakil Rusia Andrey Antropov dan menang 15-4, 15-7.

Digdaya Tunggal Putra Indonesia di Barcelona dan Apesnya China

Di babak perempat final, Indonesia menjadi penguasa dengan tiga wakil. Sisanya, China diwakilkan Zhao Jianhua, Denmark diwakilkan Poul-Erik Hoyer Larsen dan Thomas Stuer-Lauridsen, dan Malaysia diwakilkan Rashid Sidek.

Hermawan Susanto membuka asa pesta geral Indonesia di Barcelona setelah mengalahkan wakil China Zhao Jianhua 15-2, 14-17, 17-14.

Apalagi, setelah Ardy juga mengalahkan wakil Denmark yang kini jadi petinggi BWF Poul Erik dengan skor 15-10, 15-12.

Artinya, Indonesia sudah mengunci satu wakil di babak final karena Hermawan akan bertemu dengan Ardy di semifinal.

Lalu, Alan juga membuka asa Indonesia untuk All Indonesian Final setelah menang dari wakil Korea Selatan Kim Hak-kyun 15-9, 15-4.

Di babak semifinal, Alan harus berhadapan dengan wakil Denmark Thomas Stuer. Susi Susanti selaku pacar Alan saat itu mengaku gugup menyaksikan pertandingan kekasihnya di semifinal.

Untungnya, Alan menang 18-14, 15-8 atas Thomas Stuer. Dengan begitu, Indonesia memastikan emas di babak final setelah Ardy mengalahkan Hermawan lewat rubber set 15-10, 9-15, 9-15.

Pertemuan sesama pemain Indonesia bukan berarti Alan dan Ardy langsung main mata. Keduanya bermain sengit, Ardy selaku pemegang tahta All England 1991 enggak mau kalah begitu saja dari Alan.

Meskipun begitu, Alan menutup pertandingan dengan kemenangan 15-12, 18-13 dalam pertandingan selama 1 jam 13 menit. Pertandingan antara Alan dengan Ardy disebut penuh dengan reli-reli panjang yang mengandalkan kesabaran.

Indonesia yang pesta emas di bulu tangkis olimpiade 1992 berbanding terbalik dengan China. Pemain papan atas dunia asal China semuanya kandas seperti Zhai Jianhua.

China hanya mencatatkan perunggu dari tunggal putrinya, Huang Hua dan Tang Jiuhong.

0 0
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Social profiles