Ojek online mulai menggema di Indonesia sejak Gojek muncul ke permukaan pada medio 2015. Setelah itu, Grab yang berawal dari Taksi online, ikut menyajikan fasilitas ojek online.

Bahkan, Uber, platoform transportasi daring kelas dunia, turut menyesuaikan pasar dengan menyediakan Uber Bike. Padahal, motor bukanlah transportasi umum yang diizinkan oleh regulasi pemerintah kala itu.

PODCAST: Indonesia Kecanduan Pemain Naturalisasi, Timnas Tak Kunjung Berkembang

Namun, tak hanya Gojek, Grab, dan Uber [yang akhirnya merger dengan Grab untuk bisnis di kawasan Asia Tenggara], tetapi juga ada penyedia jasa transportasi daring lokal yang bertebaran mencari secuil pasar.

Teranyar, Bonceng yang membuat kehebohan pada hari sumpah pemuda 28 Oktober 2019. 5.000 mitra Bonceng pun berupaya merah putihkan Jakarta dengan melakukan konvoi.

Lalu, bagaimana prospek Bonceng ke depannya? Apakah bisa bersaing ketat dengan Gojek dan Grab?

Bonceng adalah platform transportasi daring yang dijajakan melalui PT Swa Nusa Multimedia. Pemimpin perusahaanya adalah Faiz Noufal yang di beberapa media tertulis sebagai CEO Bonceng.

Keberadaan Bonceng bisa dibilang sudah berjalan setahun terakhir. Pada Maret 2019, Faiz sempat tampim di Asia Mayors FOrum.

Di sana, Faiz menuturkan, Bonceng bakal lebih melirik kawasan daerah untuk area ekspansinya. Alasannya, masyarakat daerah lebih membutuhkan keberadaan platform transportasi daring ketimbang kota besar.

BACA JUGA: Jurnalis Indonesia Tidak bermutu, Siapa yang Salah?

Konon, saat ini Bonceng tengah mengonsolidasikan infrastruktur operasional di Labuan Bajo, Ambon, dan beberapa daerah lainnya.

Kala itu, Faiz mengklaim Bonceng sudah memiiki lebih dari 22.000 mitra yang mendaftar. Bahkan, aplikasi Bonceng sudah diunduh sebanyak 78 kali oleh pengguna android.

Dari catatan Playstore, aplikasi Bonceng memang sudah diunduh lebih dari 50.000 kali dengan rating 4 dari 5.

Ojek Online, Mampukah Bonceng bersaing

Jauh sebelum keberadaan Bonceng, sudah ada beberapa jasa transportasi daring yang lahir untuk bersaing dengan Gojek. Namun, mereka hanya mampu bertahan seumur jagung.

Bisa disebut beberapa platform daring yang tidak mampu bersaing saat itu, yakni Blujek sampai Ladyjek. Namun, keberadaan ojek online selain Grab dan Gojek seperti siluman yang tidak tahu kapan munculnya.

Sampai saat ini, Ojek online seperti, Shejack, Indojek, Anterin, dan Cyberjek, termasuk Bonceng muncul ke permukaan. Mayoritas, mereka mengincar pasar yang lebih mengerucut seperti, daerah [Indojek] maupun gender [Shejack].

Namun, mereka kemungkinan besar bakal kesulitan bersaing dengan pemain papan atas seperti, Gojek dan Grab. Persoalan keterbatasan modal menjadi faktor utamanya.

Di sisi lain, aplikasi Bonceng cukup mencari perhatian setelah sistem pembayarannya terintegrasi dengan Linkaja, dompet elektronik milik BUMN.

Titisan Tcash itu bisa dibilang salah satu calon pemain besar di industri sistem pembayaran. Dengan begitu, apakah ini artinya membuka peluang Bonceng bisa bersaing dengan pemain papan atas?

Sempat berekspektasi demikian, tetapi saya merasa pesimistis setelah mengunduh dan install aplikasinya di ponsel pintar android.

Tampilan aplikasinya jauh dari kata user friendly. Bahkan, bentuk yang sengaja dimirip-miripkan dengan Gojek itu masih terlihat kasar.

Kelebihan dari Bonceng dibandingkan dengan kompetitor lainnya adalah bisa memesan untuk perjalanan selanjutnya. Selain itu, Bonceng juga bisa memilih ojek dari pangkalan.

Namun, untuk bisa memesan ojek secara online di Bonceng butuh upaya keras. Jika Bonceng ingin bersaing, mereka harus memperbaiki aplikasi agar lebih user friendly.

Kebuntuan Bisnis Ojek Online

Bisa dibilang, bisnis ojek online sudah di ujung kebuntuan. Hal itu terlihat dari upaya Grab maupun Gojek mengeluarkan fasilitas Grab Now atau Gojek Instan.

Fasilitas itu bisa dibilang mengembalikan kembali pola ojek pangkalan dengan skema daring. Perbedaannya, tarif tidak bisa ditentukan seenak jidat oleh tukang ojeknya, tetapi sesuai perhitungan aplikasi.

Apakah itu sebuah kemajuan? justru menjadi kemunduran bagi aplikasi transportasi daring. Fasilitas itu malah membuat masalah keberadaan mitra transportasi daring makin menjadi-jadi.

Bahkan, di beberapa stasiun sudah digembar-gemborkan pelarangan menggunakan grab now di jam-jam padat. Soalnya, para mitra jadi memilih seperti ojek pangkalan, yakni berdiam mencari penumpang yang mau naik ojek dengan tarif terjangkau secara instan.

Ojek pangkalan pun sudah berteriak-teriak mengusir ojek online yang menggunakan fasilitas grab now. Pasalnya, tingkat kesemrawutan di wilayah padat di jam sibuk makin menjadi-jadi.

Beberapa konsumen pun sudah ‘ngeh’ tentang ketidakberesan keberadaan ojek online tersebut.

Grab dan Gojek pun sudah beralih ke lini usaha lainnya yang lebih menggiurkan, yakni sistem pembayaran sampai hiburan video on demand. Artinya, Perkembangan bisnis ojek online hanya sekedar ekspansi wilayah dan jumlah, tetapi sudah mentok dari segi teknologi.

Mekanisme Pasar yang Bisa Ancam Ekonomi Indonesia

Selain model bisnis yang sudah mentok, ada masalah besar yang bisa mengancam ekonomi Indonesia dari keberadaan transportasi daring tersebut.

Permasalahan itu adalah ketergantungan masyarakat Indonesia untuk mencari pendapatan lewat transportasi daring. Di sisi lain, jumlah armada transportasi daring menggunakan skema mekanisme pasar.

Maksud dari mekanisme pasar adalah, jumlah pasokan akan menyesuaikan permintaan dengan sendirinya. Berarti, ketika pasokan alias mitra transportasi daring melonjak drastis, tetapi jumlah permintaan stagnan, berarti jumlah armada mitra akan berkurang dengan sendirinya.

Berkurang di sini artinya akan ada mitra yang menyerah karena tidak mendapatkan pendapatan sesuai dengan ekspektasi dan kebutuhan hidupnya.

Dampaknya, jumlah pengangguran terbuka di Indonesia bisa saja meningkat pada waktu yang belum ditentukan.

Apalagi, kementerian perhubungan selaku regulator tampaknya tidak berniat untuk membatasi jumlah armada transportasi daring maupun penyedia platformnya seperti taksi konvensional.

Kini, armada terus makin banyak, jumlah platform juga terus bertambah. Tanpa sadar, sudah banyak pula yang menyerah dengan skema mekanisme pasar tersebut.

0Shares

One thought on “Ojek Online, Peluang Bonceng Lawan Dominasi Gojek dan Grab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close
Social profiles
Close