Waktu Baca5 Menit, 9 Detik

Lo Kheng Hong mungkin punya keberuntungan lebih di saham yang punya afiliasi dengan Soeharto. Teranyar, Lo Kheng Hong memborong 942 juta lembar saham PT Global Mediacom Tbk. pada pekan lalu.

Dalam catatan KSEI, Lo membeli sebanyak 6,14% saham emiten berkode BMTR itu pada 13 Agustus 2020. Saat itu, harga saham BMTR ditutup turun 6,06% menjadi Rp248 per saham.

BACA JUGA: Saham TLKM di Paruh Kedua, Persaingan Pangsa Pasar Kian Sengit

Kabarnya, Lo melakukan transaksi pembelian saham BMTR sebanyak enam kali. Paling banyak pada tahap terakhir, yakni 700 juta lembar saham.

Alasan Warren Buffett Indonesia itu membeli saham BMTR karena perusahaan induk MNC Grup itu masih bisa membukukan laba Rp551 miliar di tengah pandemi. Selain itu, valuasi saham BMTR juga dinilainya masih murah.

Aksi borong saham BMTR oleh Lo dilakukan sebelum perseroan melakukan private placement senilai Rp140 miliar. Pelaksanaan private placement itu akan dilakukan pada 25 Agustus 2020.

Lo Kheng Hong dan Hubungan dengan Saham Soeharto

Jika melihat koleksi saham Lo yang di atas 5% ada sebuah kesamaan, yakni semuanya memiliki hubungan dengan Soeharto.

Sejauh ini, di KSEI, Lo tercatat memiliki tiga saham dengan kepemilikan di atas 5%. Ketiga saham itu antara lain BMTR, PT Mitrabahtera Segara Sejati Tbk. (MBSS), dan PT Petrosea Tbk, (PTRO).

BMTR jelas sempat menjadi salah satu gurita bisnis anak-anak dari Soeharto. Perusahaan yang dulunya bernama PT Bimantara Citra Tbk, itu didirikan pada 1981 dan mulai melantai di bursa pada 1989.

Setelah Soeharto lengser pada 1998. BMTR diakuisisi oleh oleh PT Bhakti Investama Tbk. (BHIT), sekarang bernama PT MNC Corporation Tbk., pada 2002. Di sini tangan Hary Tanoesoedibjo mulai bermain mengembangkan bisnis BMTR.

Seluruh bisnis media massa yang ada di BMTR disatukan menjadi MNC Grup yang eksis hingga saat ini.

Di sisi lain, pengembangan bisnis MNC Grup di sektor media sempat terjadi polemik dengan salah satu anak Soeharto, yakni Siti Hardiyanti Rukmana alias Mbak Tutut.

Saat BHIT akuisisi BMTR, Hary Tanoe juga turun tangan membantu Tutut untuk menyelesaikan utang-utangnya. Hary Tanoe lewat anak usahanya PT Berkah Karya Bersama sepakat ambil alih utang Tutut senilai US$55 juta dengan kompensasi memperoleh 75% saham TPI.

Namun, kehebohan terjadi setelah Hary Tanoe mengubah nama TPI menjadi MNC TV. Tutut merasa Hary enggak punya hak untuk mengubah nama tersebut.

Ditambah, Tutut klaim tidak pernah mengalihkan 75% saham TPI ke perusahaan Hary. Sempat tersiar kabar Tutut akan membangkitkan kembali TPI, meski sudah tidak ada kabarnya hingga saat ini.

Lalu, Bagaimana dengan MBSS dan PTRO?

Kedua emiten itu berada dalam satu grup yang sama, yakni Indika Grup. Nah, Indika Grup itu dibangun oleh sepupu Soeharto, yakni Sudwikatmono. Kini, bisnis Indika dikelola oleh anaknya yang berarti keponakan Soeharto, Agus Lasmono.

Selain Indika, Sudwikatmono sempat terlibat di Indofood Grup dan Semen Tiga Roda.

Menariknya adalah Indika Grup itu berawal dari PT Indika Entertainment yang bergerak di bisnis hiburan. Namun, krisis 1997-1998 mengubah segalanya.

Seperti dikutip dari Bisnis.com, Agus Lasmono bercerita Indika melakukan restrukturisasi utang saat itu. Ayahnya yang juga punya Bank Surya dan Golden Truly dibohongi mitranya.

“Ada uang US$300 juta di bawa lari dan ayah saya selaku komisari enggak tahu apa-apa, tapi harus terlibat dengan banyak gonjang-ganjing tersebut,” ujarnya.

Semua urusan restrukturisasi utang pasca krisis 1997-1998 sudah selesai pada 2003. Kala itu, Agus Lasmono hanya tinggal punya SCTV.

Setelah restrukturisasi utang selesai, Agus ingin membangun kembali Indika, tetapi dengan bisnis yang baru. Salah satu yang diincarnya adalah pembangkit listrik.

“Namun, kami harus pegang hulunya juga, yakni batu bara. Untuk itu, kami akuisisi Kideco pada 2004,” ujarnya.

Masuknya PTRO dan MBSS ke Indika Grup

Menjajal bisnis baru, Indika kian agresif. Pada 2009, Indika memutuskan untuk membeli PT Petrosea Tbk. dari Clough INternational Singapore. Saat itu, Indika membeli 81,95% saham PTRO senilai Rp1 triliun atau Rp12.194 per saham.

Saat itu, sumber pendanaan akuisisi Petrosea dari kas internal Indika. Booming batu bara membuat kas Indika lumayan gendut sehingga mampu menggelontorkan Rp1 triliun dengan mudahnya.

Akuisisi Petrosea menjadi salah satu strategi perseroan untuk diversifikasi investasi di bidang sumber daya energi, jasa konstruksi, dan bidang energi.

Nantinya, kehadiran Petrosea akan melengkapi rencana Indika dalam mengembangkan bisnis tambang.

Nah, untuk mengakuisisi MItrabara Segara Sejahtera, Indika menggelontorkan uang lebih banyak lagi, yakni Rp1,4 triliun atau sekitar Rp1.600 per saham, untuk 51% saham emiten berkode MBBS tersebut.

Kehadiran MBBS disebut makin memperkuat bisnis pertambangan batu bara Indika.

Lalu, Apa Hubungan Lo Kheng Hong dengan Perusahaan Terafiliasi Soeharto?

Konon, Lo sudah berkenalan dengan saham PTRO sejak lama. Bahkan, dia mengaku tidak ingat kapan dia membelinya.

Sebelum diakuisisi oleh Indika, Petrosea sudah menjadi perusahaan terbuka. PTRO sudah melantai di BEI sejak 1990 dengan harga penawaran Rp9.500 per saham.

Salah satu alasan Lo Kheng Hong membeli saham Petrosea karena kegiatan usahanya mirip dengan PT United Tractors Tbk. (UNTR).

Petrosea memang penyedia jasa kontrak pertambangan yang berdiri sejak 1972. Kegiatan usahanya antara lain, kontraktor pertambangan yang menyediakan jasa pertambangan dari pit to port, rekayasa dan konstruksi, serta jasa logistik pendukung kegiatan migas.

UNTR menjadi acuan Lo dalam membeli PTRO karena dirinya pernah mendapatkan untung besar dari anak usaha Grup Astra tersebut.

Kisah Lo dengan UNTR

Jadi, saat krisis 1998 semua harga saham rontok. Saat itu Lo Kheng Hong membeli saham UNTR di level Rp250 per saham.

Kemudian, Lo menjual saham UNTR di level Rp15.000 per saham pada 2004. Artinya, dalam 6 tahun, Lo sudah mendapatkan keuntungan berlipat ganda dari saham tersebut.

Sayangnya, setelah Lo melepas UNTR, harga saham anak Grup Astra itu terus melejit. Alhasil, Lo memilih cari saham yang lebih murah dengan lini bisnis mirip UNTR, yakni PTRO.

Saat ini, Lo memegang saham PTRO sebanyak 150,96 juta lembar atau setara 14,97 per saham.

Selain PTRO, Lo juga memberikan kejutan dengan muncul sebagai salah satu pemegang saham di atas 5% dari emiten MBSS pada 2016. Saat ini, Lo memiliki 101,39 juta lembar atau setara 5,79% saham MBSS.

Sayangnya, tidak ada informasi detail alasan Lo memutuskan investasi di MBSS. Namun, Lo mengaku dengan investasi di PTRO, dia makin mengenal Indika Grup secara keseluruhan.

Bisa jadi, ini yang menjadi alasan Lo juga masuk ke MBSS.
Jika melihat alur strategi Lo berinvestasi saham, hubungan antara dirinya dengan portofolio yang terafiliasi dengan Soeharto bisa jadi sebuah hal yang tidak disengaja.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Social profiles