Waktu Baca5 Menit, 30 Detik

Kopi Jago mencuat dalam industri minuman kopi kekinian dengan bentuk yang berbeda. Sebagai salah satu minuman yang lagi populer, persaingan kedai kopi sangat sengit.

Apalagi, pasar kopi bisa dibilang cukup luas, dari segmen anak muda sampai tua. Lalu, segmen atas hingga menengah ke bawah.

Dua elemen terpenting dalam minuman kopi adalah petani dan barista. Di sini, edukasi masyarakat Indonesia soal kopi lebih dalam sangat minim sekali sehingga esensi peran barista dan petani dalam industri kopi masih dipandang sebelah mata.

BACA JUGA: Pasar Indonesia Sangat Potensial, Berikut Faktanya

Untuk itu, Yoshua Tanu, CEO Kopi Jago, membangun bisnis minuman kopi keliling dengan kualitas terbaik. 

Yoshua mengatakan tren kopi kekinian yang menjamur itu memang pertanda baik bagi industri kopi di Indonesia. Namun, barista sampai pelanggan tetap harus memahami kualitas dan asal usul kopi tersebut. 

“Pemahaman tentang kopi itu sangat penting agar industri kopi Indonesia bisa dibawa ke tahap selanjutnya, yakni tak lagi sekadar gaya hidup,” ujarnya. 

Apalagi, Indonesia bisa dibilang salah satu produsen kopi terbesar di dunia. Dari sisi konsumen, penikmat kopi di Indonesia berpotensi terus tumbuh semakin tinggi lagi ke depannya. Untuk itu, edukasi tentang kopi menjadi kebutuhan untuk semua pihak.

Yoshua pun memperkenalkan konsep kopi keliling untuk mempermudah edukasi minuman populer itu kepada konsumen. Dengan memanfaatkan platform digital, Kopi Jago akan makin mudah untuk mengedukasi konsumen. 

“Sampai saat ini [selain Jago Kopi], belum ada barista yang langsung menghampiri konsumen untuk menyakikan dan menjelaskan langsung tentang kopi yang di konsumsi,” ujarnya. 

Soalnya, jika barista dan konsumen mengalami loss communication. Dampaknya adalah makna dari kopi dan petaninya bisa hilang. 

Kopi Keliling yang Berbeda dengan Starling

Masyarakat Indonesia sudah sangat akrab dengan kopi keliling yang biasa disebut Starling alias Starbuck Keliling. Biasanya, Starling adalah penjual kopi instan yang berkeliling menjemput konsumennya dengan sepeda. 

Nah, Kopi Jago pun menawarkan produk yang hampir mirip dengan starling, yakni naik sepeda berkeliling menjemput konsumen. Namun, Yoshua menekankan kalau Kopi Jago tidak mengambil pasar Starling. 

“Ada perbedaan yang mencolok antara kopi kami dengan starling. Kami menggunakan kopi 100% arabica dan pangsa pasar kami adalah yang telah paham tentang olahan biji kopi,” ujarnya. 

Kopi Jago memilih menggunakan sepeda listrik untuk kebutuhan meracik karena hemat energi. Biaya yang dikeluarkan pun bisa lebih hemat ketimbang membuka kafe fisik. 

Dengan biaya yang lebih murah, harga kopi yang dijajakan juga bisa menjadi lebih murah dengan kualitas yang tetap nomor satu. 

Secara modal, harga satu sepeda listrik berbentuk gerobak produksi Selis itu senilai Rp45 juta. 

Kopi Jago mengklaim sudah mendapatkan banyak permintaan untuk bergabung menjadi mitra, tetapi perusahaan rintisan ini masih selektif untuk menentukan kerja sama dengan mitra. Alasannya, Kopi Jago hanya ingin memilih mitra yang terpercaya. 

Demi Kualitas Kesegaran Kopi yang Terjaga

Kopi Jago yang memiliki konsep menjajakan minuman kopi dengan sepeda keliling itu bukan sekadar untuk memudahkan edukasi ke pelanggan semata. Lebih dari itu, konsep kedai kopi keliling ini demi bisa menjaga kualitas kopi hingga sampai ke tangan konsumen. 

Yoshua mengatakan dirinya memiliki keinginan untuk mendekatkan kopi kepada konsumen tanpa harus datang ke kedai kopi atau menunggu pesanan dari kurir online. 

“Kurir makanan online memang memudahkan orang untuk memesan kopi. Namun, kualitas kopi berpotensi turun saat dalam perjalanan dari kedai kopi ke tempat konsumen memesan,” ujarnya. 

Untuk itu, Kopi Jago dibuat berkeliling untuk bisa langsung memberikan kopi dengan kualitas terbaik dari tangan barista. 

Kopi Jago sepenuhnya memanfaatkan teknologi untuk pemesanan hingga pembayaran produk kopinya. Lewat aplikasinya, Kopi Jago bisa mempertemukan konsumen dengan barista kelilingnya yang paling dekat. 

Mendorong Pengusaha Mikro di Industri Kopi

Kopi Jago juga memiliki misi untuk memberdayakan pengusaha mikro memiliki bisnis sendiri dengan menjadi mitranya. Para mitra tidak hanya dilatih sebagai barista profesional, tetapi juga terjun sebagai pemilik bisnis. 

Sebelum terjun ke konsumen, mitra Kopi Jago dilatih selama dua pekan untuk mempelajari soft skill sampai hard skill melayani konsumen. Yoshua pun memiliki filosofi sendiri kalau barista itu bukan sekadar berarti di belakang mesin, tetapi juga harus mampu melayani konsumen dengan baik. 

Para mitranya itu juga diajari mengendarakan dan menggunakan sepeda tempat mereka menjajakan Kopi Jago. Sepeda listrik itu bisa menjual hingga 125 cup per hari dengan jarak tempuh hingga 35 km. 

Yoshua bercerita program kemitraan ini muncul karena ada aspirasi dari anggota asosiasi barista yang ingin memiliki kedai sendiri. 

“Namun, akan susah melakukan pemasaran jika belum memiliki nama kedai. Untuk itu, kami perkenalkan mereka sebagai pemilik bisnis mikro lewat merek Kopi Jago,” ujarnya. 

Para mitra Jago pun tidak dikenakan biaya untuk bergabung. Mereka mendapatkan starter kit usaha kopi senilai Rp4 juta yang terdiri satu set alat manual brewing, helm sepeda, sling bag, lap, dan jaket. 

Seluruh starter kit itu bisa menjadi hak milik mitra jika sudah membayar biayanya dengan cicilan selama 12 bulan.Adapun, untuk sepeda elektrik akan dipinjamkan selama menjadi mitra Jago.

Nantinya, Kopi Jago akan mendapatkan komisi dari setiap penjualan yang didapatkan oleh mitranya tersebut. 

“Saat ini, kami sudah ada 14 mitra dengan radius 8 km dari Kuningan, Pondok Indah, hingga Monas.” ujar Yoshua. 

Selain memberdayakan pelaku usaha mikro lewat program kemitraan itu, Kopi Jago juga membantu penjualan kopi petani. Soalnya, Kopi Jago melakukan perdagangan langsung dengan para petani lokal. 

“Kami menggunakan bahan kopi arabika berkualitas tinggi dari petani lokal, susu segar, dan tidak ada sama sekali menggunakan produk kalengan,” ujarnya. 

Jejak Yoshua si Penggila Kopi Sejak Muda

Yoshua adalah salah satu barista terbaik yang ada di Indonesia. Hal itu dibuktikannya dengan meraih tiga gelar Indonesia Barista Championship ICE pada 2014, 2016, dan 2017.

Sebelum mendirikan Kopi Jago, Yoshua juga sudah mendirikan dua kedai kopi, yakni Common Grounds dan St. Ali. 

Awalnya, Yoshua memiliki kedai kopi bernama Pandava Coffee, tetapi dia melakukan rebranding menjadi Common Grounds pada 2010. 

Dalam membangun Common Grounds, dia menggelontorkan kocek pribadi senilai Rp700 juta. Menariknya, dalam dua tahun, Yoshua mengklaim sudah balik modal dari bisnis kedai kopinya tersebut. 

Modal Rp700 juta untuk Common Grounds itu digunakan Yoshua untuk menyewa lokasi kedai, membeli bahan baku dan sebagainya, hingga membayar karyawan. 

Yoshua mengatakan Common Grounds bersaing dengan kedai kopi lainnya lewat kualitas. Strategi bisnisnya untuk bisa bersaing di industri kopi adalah dengan menciptakan menu-menu baru yang inovatif. 

“Kami juga mencari kebun kopi yang belulm digarap oleh orang lain,” ujarnya. 

Common Grounds yang menjadi salah satu pemberi pendanaan tahap awal Kopi Jago bukan sekadar kedai kopi, tetapi juga pemasok dan produsen speciality kopi di Indonesia. 

Untuk menjaga kualitas di kedai kopinya, Yoshua bersama timnya selalu melakukan cupping setiap minggunya. 

“Hal itu kami lakukan untuk mengetahui lebih dalam kualitas roasting, green bean, hingga produk jadi yang diberikan kepada konsumen,” ujarnya. 

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Social profiles
Close