kereta bandara

Kereta bandara seolah lupa arah. Memang, dalam beberapa waktu terakhir, kereta menuju bandara Soekarno Hatta itu mulai ramai penumpang.

Namun, penumpangnya tidak menuju ke bandara, tetapi berhenti di Stasiun Batuceper untuk bisa sampai ke rumah dengan cepat dan nyaman.

Tidak bisa dipungkiri, kereta yang menuju ke bandara Soekarno Hatta memang nyaman dan cepat. Bagi penduduk di kawasan Kota Tangerang, moda transportasi kereta bandara bisa dimanfaatkan untuk pergi atau pulang kerja.

BACA JUGA: Unilever Stock Split, Ini Perjalanan Historisnya

Apalagi, Railink, pengelola kereta itu memberikan promo tarif murah Rp10.000 jika naik dari Stasiun Duri menuju Batuceper, Duri menuju BNI City, maupun sebaliknya sejak September 2019. Harga itu bisa dibilang cukup kompetitif dibandingkan dengan harga Commuterline yang berkisar Rp3.000 sampai Rp5.000 untuk sekali naik.

Promo itu pun berlanjut hingga Oktober 2019. Perjalanan dari Duri-Batuceper yang memakan waktu sekitar 18 menit tetap dipatok Rp10.000.

PODCAST: Timnas Indonesia Kecanduan Naturalisasi

Tarif itu lebih murah dibandingkan jalur Batuceper – Bandara Soekarno-Hatta atau sebaliknya yang dikenakan tarif Rp20.000. Padahal waktu tempuh jalur itu lebih cepat, yakni hanya 12 menit.

Terlepas dari strategi promosi, pengenaan tarif yang lebih murah untuk perjalanan bukan ke bandara membuat fungsi kereta itu berubah. Akhirnya, kereta itu malah digunakan para penglaju untuk perjalanan sehari-harinya.

Hal ini mengingatkan kepada rencana PT Kereta Commuterline Indonesia yang berencana merilis kereta Commuterline Premium pada akhir 2018. Sayangnya, rencana itu urung terjadi karena derasnya kritik dari masyarakat.

Kereta Bandara Sepi Peminat, Ini Masalahnya

Sejak diluncurkan, ada beberapa masalah pada kereta bandara sehingga tidak diminati masyarakat.

Pertama, jarak stasiun menuju bandara membutuhkan waktu cukup lama. Penumpang harus berjalan dari stasiun menuju tempat pemberhentian Kalayang sekitar 10 menit – 15 menit. Lalu, headway Kalayang juga cukup lama, yakni 15 menit sekali. Artinya, ada potensi 30 menit yang terbuang dari stasiun menuju bandara.

Kedua, kereta itu lebih cocok untuk yang berpergian sendirian. Jika berpergian dengan banyak orang, taksi atau transportasi daring justru lebih murah dan mudah. Padahal, kelas eksekutif yang ditawarkannya diharapkan membuat nyaman penumpang yang sendirian maupun beramai-ramai.

Ketiga, jangkauan kereta bandara cenderung terbatas karena hanya berhenti di beberapa stasiun. Akhirnya, beberapa penumpang yang tidak terjangkau stasiun kereta itu cenderung memilih moda transportasi lain ketimbang harus menuju ke stasiun kereta bandara terdekat.

Dari permasalahan itu, konsep kereta menuju ke bandara seolah dibuat tanpa melihat kebutuhan dari masyarakat. Kebutuhan masyarakat bukan kereta ‘keren’ kelas eksekutif, melainkan kereta yang mudah dijangkau dengan tarif terjangkau.

Bila saja konsep kereta menuju bandara itu terintegrasi langsung dengan Commuter Line, maka tarifnya bisa lebih terjangkau, headway jalur KRL yang dilalui kereta bandara lebih cepat,dan jangkauan ke penumpang juga lebih besar.

Kalau kadung begini, apakah kereta bandara bisa lupa arah dan justru menjadi KRL premium?

terbit di harian Bisnis Indonesia pada Selasa 15 Oktober 2019

One thought on “Kereta Bandara Lupa Arah Tujuannya”

  1. kereta bandara agak mahal sih menurut saya .. misalnya kita sekeluarga terdiri dari mama papa anak 2..dikaliin aja sama harganya..
    udah gitu kurang praktis mesti dari rumah ke stasiun badaranya udah harus naik mobil/taksi juga kan mending dari awalnya aja..:D

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.