jurnalis indonesia

Jurnalis Indonesia dianggap tidak bermutu oleh sebagian warganet. Penghakiman itu terbentuk dari melihat banyak berita tanpa verifikasi terlebih dulu dan cenderung mengejar kepadatan arus masuk situs beritanya.

Dalam beberapa bulan terakhir, ada beberapa kasus yang menyudutkan jurnalis-jurnalis di Indonesia.

BACA JUGA: Kereta Bandara Lupa Arah

Dari dunia hiburan, kasus Livi Zheng mengarah kepada cemoohan terhadap jurnalis Indonesia. Kemampuan pemasaran Livi yang luar biasa dianggap telah mengelabui jurnalis di Indonesia sehingga media arus utama terpedaya dengannya.

Dengan membawa embel-embel sutradara yang mampu tembus dunia Hollywood [yang mungkin benar jika indikatornya cuma bisa menayangkan film di Amerika Serikat], nama Livi melejit bak anak bangsa yang sangat berprestasi.

PODCAST: Timnas Indonesia Gagal Gara-gara Candu Pemain Naturalisasi

Dia pun mengelu-elukan masuk sebagai calon nominasi Piala Oscar yang juga dibalas dengan pemberitaan luar biasa di media arus utama.

Setelah ada tulisan opini dari orang yang disamarkan namanya, mata warganet terbelalak dan menghakimi jurnalis di Indonesia tidak bermutu.

Tak hanya itu, isu politik juga menyudutkan jurnalis di Indonesia. Gara-gara pemberitaan yang tidak bernada positif untuk kubu yang didukungnya, jurnalis di Indonesia dituduh berpihak pada petahana.

Teranyar, pemberitaan tentang kasus bunuh dirinya salah satu idol Korea Selatan juga menyoroti kalau jurnalis di Indonesia bobrok.

Fokus hujatan pun mengawang antara ke jurnalisnya atau media massanya. Arah hujatan mengarah menjadi bullying dengan dukungan influencer yang berkomentar tidak senonoh.

Media sosial pun ibarat pedang bermata dua, bisa digunakan untuk promosi maupun mematikan citra seseorang atau kelompok.

Jurnalis Indonesia di Era Media daring

Sebelum era industri 4.0 alias yang ‘online-online’ itu, persepsi negatif aktivitas jurnalistik juga sudah ada. Kalimat bad news is good news menjadi kritikan tajam dari masyarakat.

Persepsi negatif itu lebih banyak datang dari pihak yang merasa diberitakan negatif. Mereka hanya ingin diberitakan positif.

Jurnalis pun dianggap tidak punya hati jika memberitakan berita buruk yang bersifat kemanusiaan. Terutama, koran-koran kuning yang memang memakan informasi kriminal dan mengemasnya dengan sangat menggemaskan.

Namun, dulu belum ada media sosial yang bisa menghakimi hingga viral. Bad news is good news kelakuan media massa hanya sekedar obrolan warung kopi.

Menuju industri 4.0, telah terjadi transisi media massa cetak menuju daring. Dari periode 2010 sampai sekarang, banyak media massa daring yang lahir maupun mati seumur jagung.

Kemudahan membuat media massa daring menjadi alasannya. Dengan membeli hosting dan domain sampai server [jika lebih serius], siapapun sudah bisa membuat media massa meskipun isinya kayak blog.

Lalu, salah satu yang merusak industri media massa adalah berita klikbait yang digunakan demi meraih kepadatan arus masuk ke situs berita atau trafik.

Hal ini mengingatkan indikator trafik pada media massa televisi. Indikator trafik itu membuat program-program di televisi berdasarkan keinginan khalayak mayoritas, bukan kebutuhan khalayak.

“Kebutuhan adalah segala sesuatu yang dibutuhkan untuk mempertahankan hidup serta memperoleh kesejahteraan dan kenyamanan”

“Keinginan adalah kebutuhan yang tidak harus dipenuhi. Sifatnya hanya kebutuhan tambahan”

Begitu juga dengan media massa daring saat ini, pemberitaan klikbait yang lebih sering muncul adalah hasil dari keinginan mayoritas khalayak.

Bahkan, ada media massa yang mengotak-atik judulnya menjadi bombastis demi bisa mendapatkan klik dari khalayak.

Khalayak pun suka mencibir media massa yang membuat berita klikbait, tetapi mereka juga tidak tahan untuk tidak membaca. Alhasil, trafik tetap deras mengalir dari berita jenis tersebut.

Kebijakan Media Massa, Reporter Jadi Garda Terdepan untuk Dicaci

Era 4.0 bisa dibilang cukup ganas, warganet bisa langsung membuat viral sosok yang dianggap buruk. Begitu juga nasib jurnalis yang menjadi korban jika beritanya dianggap bodoh atau tidak layak tayang.

Sebagian warganet seolah menutup mata kalau jurnalis kelas reporter adalah kasta terbawah dari perusahaan media massa, meskipun dunia jurnalistik selalu membawa embel-embel egaliter.

Para reporter mendapatkan tugas menulis berita sesuai dengan desknya masing-masing. Redaktur pun kerap memberikan isu untuk dibuat beritanya pada hari itu juga.

jurnalis indonesia

Bahkan, redaktur juga bisa mengubah judul agar lebih menggoda dibaca khalayak. Judul yang biasa-biasa saja tersering tidak laku diklik oleh khalayak.

Redaktur pun bukan kasta tertinggi di media massa, mereka berada di bawah redaktur pelaksana yang mengelola beberapa redaktur.

Di atas redaktur pelaksana masih ada pemimpin redaksi yang mengatur sistem di keredaksian dari segi isu maupun alur proses berita.

Nah, pemimpin redaksi pun bukan kasta tertinggi dari komponen media massa. Manajemen direksi perusahaan, seperti direktur utama bisa dibilang membawahi pemimpin redaksi dalam pengelolaan media, terutama dalam hal kinerja perusahaan.

Lebih tinggi lagi, pemegang saham membawahi semuanya. Jadi, ketika ada berita klikbait yang dianggap jelek, itu pun hasil dari sebuah sistem manajemen yang panjang, bukan sekadar salah sang reporter yang berada di kasta terendah.

Lalu, apakah khalayak berada di atas pemegang saham? kayaknya sih enggak meskipun secara teoritis jurnalis harus berada di sisi masyarakat. Namun, pengertian masyarakat punya arti luas, masyarakat yang mana?

Media Massa pun Butuh Uang

Bicara idealisme seorang jurnalis sudah menjadi bahasan sejak masih di bangku kuliah. Boleh saja individu jurnalis punya idealisme yang kuat, tetapi perusahaan juga butuh uang untuk menggajinya.

Setiap tahun Aliansi Jurnalis Independen (AJI) merilis media massa yang sudah menggaji jurnalis secara layak. Hasilnya sangat jauh dari harapan, hanya sedikit media massa yang mampu memberikan upah layak, itu pun berada di level batas bawah.

Dengan gaji yang masih di bawah layak saja, media massa sudah engap-engapan gaji karyawan. Hal itu berhubungan erat dengan pendapatan media massa.

Jika dulu, harga koran setidaknya ‘mungkin’ bisa balik modal untuk gaji karyawan. Nah, kini pembaca koran sudah sedikit sehingga pendapatan dari harga jual koran tidak sebanding dengan beban operasional yang terus meningkat.

Mengandalkan iklan, klien pun jadi semena-mena dan media massa jadi seperti humas yang membantu publisitas untuk hal-hal yang enggak penting. Namun, patut diakui, uang hasil iklan seperti itu cukup besar.

Di sisi lain, media massa daring juga belum memberikan pendapatan optimal. Produksi berita belum punya nilai rupiah yang besar karena dijajakan secar cuma-cuma meskipun beberapa media sudah mulai berbayar.

Nilai iklan daring pun jauh lebih rendah dari cetak. Mengandalkan Google Adsense juga tidak bisa diandalkan dan merusak pemandangan situs berita.

Alhasil, media massa banyak yang membuka lini usaha lain dari, event organizer, agensi, dan lini usaha yang masih berhubungan dengan media.

Di sisi lain, trafik dijadikan indikator kalau media itu memiliki pembaca yang banyak. Indikator itu pun dijadikan tawaran menggoda ke klien untuk menggunakan jasa media tersebut.

Memang sampai saat ini kayaknya belum ditemukan model bisnis media daring yang sesuai.

Walaupun begitu, banyak perubahan yang terjadi demi menemukan model bisnis yang pas. Salah satunya, media mulai bergerak untuk tidak menjajakan beritanya secara cuma-cuma alias berbayar.

Hal itu harusnya efektif untuk menekan masyarakat mengklik berita klik bait. Namun, belum tentu juga sukses untuk meraup pendapatan agar bisa menggaji wartawan dengan layak batas atas.

Peluang Pers Mahasiswa

Melihat berbagai tantangan di media massa arus utama, saya justru melihat peluang besar untuk menerapkan idealisme jurnalistik di pers mahasiswa.

Alasannya, kini pers mahasiswa tidak memiliki beban percetakan jika ingin mempublikasikan karyanya.

Saya masih ingat dulu mati-matian mencari uang agar majalah persma bisa terbit. Namun, dengan era media daring, persma cukup membeli domain dan hosting yang biayanya cenderung murah.

Biaya domain dan hosting mungkin bisa ditutupi dari anggaran tahunan kampus. Sisanya, mahasiswa tinggal bergerak untuk membuat karya jurnalistik yang ideal.

Masalah biaya operasional seperti gaji pegawai juga sudah tidak ada karena sifatnya adalah unit kegiatan mahasiswa. Malah, persma justru bisa mendapatkan untung jika ada pengiklan yang berminat, tetapi sifatnya bukan kewajiban sehingga pengiklan tidak bisa semena-mena.

Sayangnya, mahasiswa ini adalah pemuda seumur jagung yang kerap galau menentukan arah [jalan ninjanya]. Biasanya, mereka mengikuti beberapa unit kegiatan mahasiswa sehingga tidak bisa fokus.

Untuk itu, persma membutuhkan pembina yang aktif untuk melatih perkembangan individu di dalam persma tersebut.

Selain itu, jaringan alumni juga bisa membantu persma menembus narasumber skala nasional. Lalu, mengajarkan kepada mereka strategi menciptakan karya jurnalistik sesuai dengan pengalaman praktis.

Sayangnya, sejauh ini, saya belum melihat situs berita persma yang mumpuni. Rata-rata beritanya standar dan terkesan ogah-ogahan. Padahal, masa mahasiswa adalah waktu yang paling enak untuk membebaskan diri dari realita.

Lalu, Khalayak Bisa Apa?

Saya pikir khalayak hanya akan menghabiskan tenaga jika sekadar memaki-maki jurnalis yang dianggap menulis tidak sesuai standar, tetapi masih saja mengklik berita yang tidak sesuai standar.

Toh, atmosfer industri media massa mengikuti keinginan [bukan kebutuhan] khalayak. Untuk itu, khalayak juga harus keras untuk menghentikan aksi klik berita yang sekedar klikbait.

Setidaknya itu bisa menjadi hukuman langsung ke media pemburu klik kelas maniak. Dengan begitu, atmosfer industri media massa akan terarah.

Memang seperti telur atau ayam dulu yang lahir, tetapi jika dimulai dari media massanya, bisa saja berita berkualitas yang dibuat malah tidak diminati dan kalah dari berita klikbait.

Mungkin sebaiknya media massa dan khalayak berjalan secara beriringan meninggalkan konten klikbait. Sayangnya, hal itu pasti sulit dilakukan.

Cuma, ya miris juga, kalau dulu cuma ada koran kuning [Lampu Merah, Poskota dkk] yang membuat berita klikbait menggemaskan. Kini, seluruh media daring bak menjadi koran kuning demi mendapatkan trafik.

Jadi, semuanya mulai dulu saja dari diri sendiri untuk melakukan yang terbaik ketimbang menghujat sana-sini untuk sesuatu yang mungkin kalian tidak pahami.

One thought on “Jurnalis Indonesia Tidak Bermutu, Salah Siapa?”

  1. Nah iya bener, media massa pun merupakan bisnis. Dulu saingannya media masa ya sesama media. Tapi kali ini ada media sosial yang ikut bersaing. Koran sekelas tempo dapat face to face dengan akun influencer.
    Kalau gak ikut pasar ya bisa-bisa bangkrut beneran.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.