Jangan buang makanan, sayang loh banyak yang membutuhkan di luar sana, tapi kita sia-siain. Kalimat yang suka keluar kalau ada temen yang makanannya enggak abis terus mau dibuang aja.

Nah, ngomong-ngomong jangan buang makanan, jadi inget sama sosok yang sempat viral di Twitter pada 2019, yakni Muhammad Farras. Dia menjadi viral di Twitter pada 20 Februari 2019 setelah membuat thread tentang perjalanan pendidikannya di Korea Selatan.

Di awal thread Twitternya, dia cerita kalau akan wisuda S1 di Korea University jurusan teknik sipil, arsi, dan lingkungan.

Farras pun menceritakan saat itu dia adalah founder startup yang berbasis di Korea Selatan dan sudah incorporated. Nama startupnya adalah DamoGo.

“Incorporated artinya sudah berbadan hukum”

Cuma masalah yang diangkat Farras dalam threadnya itu bukan masalah mau wisuda dan dia adalah founder startup, tetapi menceritakan dirinya bukan siapa-siapa, tapi bisa membuat apa-apa.

BACA JUGA: Airy Hentikan Operasional, RedDoorz, OYO, dan AirBnB Coba Bertahan

Dia cerita kalau dirinya hanya seorang lulusan SMA 2 Bantul yang nama sekolahnya pun enggak muncul di Google Maps. Awalnya, Farras bermimpi untuk masuk ITB jurusan teknik pertambangan dan perminyakan atau sekolah bisnis dan manajemennya.

Sayangnya, mimpi Farras masuk ke ITB kandas di SNMPTN. Alhasil, dia menjajal SBMPTN dengan daftar ITB lagi, tapi gagal lagi.

Alhasil, dia pun memilih ikut ujian mandiri di UGM, Unbraw, UI, Undip, sampai Unpad. Hasilnya, enggak ada yang terima.

Satu-satunya yang nerima dia adalah UNS Solo, itu pun pilihan ke-2nya, yakni teknik industri. Sayangnya, setelah menjalani pendidikan di UNS dia merasa kurang sreg karena lingkungan yang terlalu statis.

Farras pun nekat cari beasiswa sambil bolak balik Yogyakarta-Solo untuk mengurus dokumen dan juga juggling courses selama 2 bulan.

Tanpa referensi, Farras pun mencari di internet dan ada beberapa beasiswa yang buka, yakni di Korea Selatan, Malaysia, dan Turki.

“Gue daftar aja semuanya,” ujarnya di thread tersebut.

Secara mengejutkan, dia diterima di ketiga negara tersebut dengan skema beasiswa penuh. Alhasil, Farras memiliki Korea University jurusan gabungan teknik sipil, arsi, dan lingkungan.

“Gue simpen keinginan untuk masuk jurusan bisnis. Alasannya, orang tua maunya dijurusan itu sih,” ujarnya.

Namun, Farras punya keinginan berbisnis yang kuat. Setelah dipendam selama tiga tahun, dia mulai mempelajari cara membuka bisnis.

“Fyi, keluarga gue enggak ada yang punya latar belakang bisnis. Belajar keuangan aja belajar otodidak dan dari lingkaran pertemanan” ujar Farras.

Di Negeri Gingseng, dia mengklaim melakukan riset, menghitung saham, melakukan trading, cicip peer to peer lending, sampai akhirnya menemukan konsep perusahaan rintisan atau startup.

Awal Mendirikan Startup Jangan Buang Makanan Bernama Damogo

Memasuki masa pendidikan semester 6, Farras terus belajar tentang startup sambil mencari ide bisnis baru. Sampai akhirnya, dia menemukan satu ide yang merupakan minatnya.

Bisnis yang digarap Farras di sana di sektor makanan. Dari situ, dia juga mulai mencari rekan bisnis.

“Gue ketemu senior, sebut aja Bambang ya, nah gue execute idenya. Gue jadi CCO [Chief Commercial Officer] dan si Bambang CEOnya,” ujarnya

Perusahaan rintisannya mulai digarap pada Agustus 2017. Pada akhir bulan itu, dia menemukan lomba citypreneur, yang merupakan kompetisi startup tingkat Asia Timur dengan tenggat waktu yang tersisa 3 minggu lagi.

Masalahnya, Farras dan si ‘Bambang’ ini sadar kalau mereka enggak akan lolos jika tidak memiliki rekanan yang kuat. Nah, di sini si ‘Bambang’ menemui CEO Halal Guys Korea di Food Festival.

“Untungnya, dia tertarik sama ide kami dan mau join,” ujarnya.

Alhasil, lahirlah satu tim yang berisi 2 amatiran dan 1 profesional dengan modal semangat doang.

Hasilnya, mereka masuk top 20 semifinalis di ajang tersebut. Mereka pun menjadi satu dari 3 perusahaan rintisan termuda. Soalnya, baru mulai dieksekusi tiga mingguan.

CEO Mundur, Keluarga Tak Setuju

Namun, membangun perusahaan rintisan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Farras melakukan riset mati-matian atas ide bisnisnya selama 3 semester dari semester 6 sampai 8.

“Sempet down enggak? iya banget, berkali-kali malah,” ujarnya.

Apalagi, ketika si ‘Bambang’ keluar karena dia pengen ganti kerjaan. Padahal, mereka sudah dua bulan bersama di perusahaan rintisan yang dibangunnya tersebut.

“Terus, dia CEOnya lagi. Kebayang enggak CEO lu sendiri yang mengundurkan diri?” ceritanya.

Masalah berlanjut, setelah si ‘Bambang’ selakuk CEO cabut. Keluarga Farras juga enggak setuju dengan jalur kariernya.

Alasannya, dia kuliah jurusan teknik sipil, tetapi bikin perusahaan rintisan bidangnya makanan lagi.

“Neko-neko kalau kata orang Jawa mah,” ujarnya.

Namun, dalam ceritanya, Farras tak gentar. Dia yakin sama dirinya sendiri.

Di sini ceritanya sedikit loncat ketika dia bilang timnya [di mana awalnya bertiga dan si Bambang keluar artinya sisa berdua] serta orang di sekitaran percaya dengan idenya. Apalagi, timnya mau kerja bareng juga. Semua itu dianggapnya visi.

“Entah gimana caranya, gue dan tim percaya pada satu titik dan terus menunjukkan kemajuan kerjaan. Itulah misi,” ujarnya.

Di sini, saya sedikit kurang memahami ceritanya yang loncat dari kejatuhan menjadi semangat bangkit sih.

Intinya, di sana dia bercerita pada Juli 2018 alias setahun setelah merintis perusahaan, startupnya sudah berbadan hukum. Lalu, Agustus 2018 dia menjadi pemenang pertama di Seoul Incubator.

Kemudian, pada Oktober 2018 mendapatkan pendanaan senilai US$90.000, sedangkan pada Desember 2018 mendapatkan outstanding performance dari Markplus Jakarta, Indonesia.

Setelah itu dia menggandeng 70 tempat makan untuk menjadi mitranya pada Januari 2019. Lalu, Februari 2019, aplikasi perusahaan rintisannya bernama Damogo rilis di iOS dan Android.

Atmosfer Startup di Korea Selatan

Dalam threadnya itu, Farras menceritakan kalau atmosfer Startup alias perusahaan rintisa di Korea Selatan cukup menarik menuju aneh.

Dia bilang pemerintah Korea Selatan sudah mengalokasikan banyak uang untuk warganya yang mau bangun startup. Namun, warga Korea Selatan enggak terlalu berminat.

“Jadi, macam ke php gitu si pemerintahnya,” ujarnya.

Warga Korea Selatan tidak tertarik bangun startup karena banyak perusahaan multinasional di sana. Lalu, startup-startup Korea Selatan pun sering dicaplok oleh perusahaan multinasional tersebut.

Punya nama sedikit aja, startup dan karyawan-karyawannya langsung dicaplok sama perusahaan multinasional tersebut.

“Orang Korea Selatan pada tau itu sehingga jarang yang mau bikin startup. Minder kali ya,” ujarnya sambil memberikan simpulan.

Nah, hasilnya dana alokasi pemerintah Korea Selatan itu banyak digunakan oleh para pendiri startup dari luar negeri. Dari data yang dipaparkan Farras pada Februari 2019 sih katanya 60% pemain startup di sana bukan orang Korea Selatan.

Lalu, inkubator startup di Korea Selatan konon banyak banget.

“Gue bisa bilang lebih banyak dari Indonesia. Di sana, mereka banyak dana, tapi kekurangan ide,” ujarnya.

Awal 2020, Damogo Ekspansi ke Indonesia

Awal 2020, akun media sosial Damogo Indonesia muncul. Di Instagram, Damogo sudah muncul dengan postingan pertamanya pada 8 Januari 2020. Nah, Maret 2020, Damogo Indonesia muncul di Twitter dan Youtube.

Farras membawa Damogo ke Indonesia di bawah entitas PT Solusi Cerdas Nusantara. Nah, apa sih yang ditawarkan oleh Damogo ini?

Dari awal saya mengetahui tentang DamoGo, mereka menyediakan jasa penjualan makanan yang berlebihan dan berpotensi dibuang dengan harga yang lebih murah. Jadi, imbauan jangan buang makanan bisa dimaksimalkan dengan aplikasi ini.

Hal ini kayak Lawson yang mendiskon makanannya ketika sudah malam, tetapi belum laku terjual.

Semua itu menjadi solusi bagi para penjual yang butuh menghabiskan pasokan makanannya agar tidak terbuang. Lalu, jadi solusi juga bagi masyarakat yang ingin makan enak dengan harga murah.

Nah, dalam aplikasi DamoGo itu, nanti konsumen akan mendapatkan rincian tempat makan yang sedang kelebihan makanan siap dijual lebih murah. Nanti, konsumen langsung membayar via aplikasi dan mengambil makanannya di tempat makanan tersebut.

Dikutip dari situs resminya DamoGo, 67% makanan terbuang percuma bukan dari piring konsumen, melainkan dari balik dapur. Alasannya, bisa jadi ada miskomunikasi antara manajer, catatan inventori, hingga estimasi persediaan makanan yang berlebihan.

Masalah makanan terbuang ini sudah mengglobal dan di Asia Tenggara menjadi lebih rumit karena rendahnya digitisasi dan kesaran terkait makanan yang terbuang.

Masalah makanan terbuang ini terjadi di semua level dari restoran, toko kelontong, pengecer, produsen makanan, hingga lini pengemasan.

Sayangnya, ketika saya menjajal aplikasinya, saya kesulitan mendapatkan nomor verifikasi untuk bisa membuat akun di sana. Alhasil, saya mencoba masuk tanpa mendaftar.

Sudah ada beberapa mitra yang bergabung dari Waroeng Steak sampai martabak. Namun, ketersediaannya banyak yang kosong sih.

Kira-kira startup DamoGO yang lebih dulu meluncur di Korea Selatan ini bisa gacor di Indonesia enggak ya?

0Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Social profiles