Indosat merger dengan XL Axiata, Fren, dan Tri menjadi rumor hangat sejak tahun lalu. Industri operator seluler disebut butuh konsolidasi demi menciptakan bisnis yang keberlanjutan. Bakal sebesar apa ya hasil merger itu jika dibandingkan dengan Telkomsel?

Secara pengguna, saat ini Telkomsel menjadi pemimpin pasar dengan jumlah 110,3 juta pengguna. Posisi kedua, ada Indosat dengan jumlah pengguna 59,3 juta. Lalu, posisi ketiga ada XL Axiata dengan 56,7 juta pengguna.

BACA JUGA: Persaingan Gojek dengan Grab Berebut LinkAJA

Tri dan Smartfren masing-masing berada di posisi keempat dan kelima dengan jumlah pengguna 23,5 juta dan 37 juta.

Lalu, apakah perusahaan hasil Indosat merger dengan XL Axiata, Fren, dan Tri bakal bisa menggoyahkan Telkomsel? secara jumlah pengguna jika digabung pastinya langsung mengalahkan anak usaha Telkom dan Temasek tersebut.

Total jumlah pengguna keempatnya sebanyak 176,5 juta pengguna. Namun, jumlah pengguna yang besar itu belum tentu berujung kepada kinerja keuangan yang lebih oke.

SOalnya, merger bukanlah perkara mudah. Ketika ada lebih dari dua perusahaan yang merger, artinya akan ada banyak hal yang dikonsolidasikan.

Ada dua hal yang menjadi perhatian ketika beberapa perusahaan merger. Pertama, persetujuan pemegang saham. Kedua, konsolidasi produk.

Indosat merger dengan XL Axiata dkk, Bagaimana Nasib Pemegang Saham?

Biaya merger keempat operator seluler itu bukan hal yang mudah. Tiga dari empat operator seluler itu sudah melantai di BEI. Artinya, ketika merger, akan ada tender offer saham publik.

Hal itu akan memunculkan biaya besar. Apalagi, rata-rata saham publik pada ketiga perusahaan tersebut di atas 20%.

Jika ketiga operator seluler itu merger, mereka harus mengeluarkan biaya tender offer sekitar Rp20,43 triliun.

Rinciannya, XL Axiata diprediksi harus menggelontorkan Rp10,21 triliun dengan harga tender offer Rp2.840 per saham. Lalu, Indosat wajib tender offer sekitar Rp2,84 triliun dengan asumsi harga Rp2.530 per saham.

Lalu, Smart Fren harus melakukan tender offer sekitar Rp7,37 triliun dengan asumsi harga Rp129 per saham.

Dengan kebutuhan biaya tender offer itu, ketiga operator seluler itu tidak memiliki arus kas yang cukup.

Dari data RTI, XL Axiata cuma punya arus kas Rp4,76 triliun, Indosat Rp2,37 triliun, dan Fren Rp722,98 miliar.

Jika ingin lewat pinjaman bank atau surat utang, tingkat liabilitas ketiga perusahaan ini sudah sangat tinggi. Bahkan, liabilitas ketiganya sudah di atas tingkat ekuitas. Artinya, rasio utang dibandingkan dengan ekuitas di atas 100%.

Tantangan Kedua, Konsolidasi Produk

Jika ketiga operator seluler bisa menggelontorkan biaya untuk tender offer, permasalahan selanjutnya adalah konsolidasi produk.

Ada sih cara gampangnya, yakni produk tetap sama hanya perusahaannya yang konsolidasi. Namun, jika langkah itu yang dilakukan, artinya tidak ada manfaatnya melakukan merger.

Merger operator seluler itu diharapkan bisa membuat perusahaan makin efisien. Salah satu yang membuat efisien adalah dari segi skema penjualan produk.

Nah, di sini produk ketiga perusahaan itu memiliki margin yang berbeda. Untuk itu, harus membuatnya menjadi satu atau dua produk dengan perhitungan margin yang sesuai.

Namun, permasalahan produk ini tidak akan sesulit permasalahan tender offer saham publik. Jika para pemegang saham sudah setuju merger, konsolidasi produk juga akan lebih mudah.

Bagian tersulitnya adalah membuat konsumen tetap loyal, meski operator seluler sudah merger. Belum lagi jika ada masalah dalam konsolidasi produk dan jaringan.

Seberapa Besar Perusahaan Hasil Merger Itu?

Dengan melihat kinerja 2019, perusahaan hasil merger yang terdiri XL Axiata, Indosat, dan Fren [mengecualikan Tri yang masih perusahaan tertutup], secara aset bajal jauh mengungguli Telkomsel.

Sampai 2019, aset Telkomsel senilai Rp82,73 triliun. Nilai itu jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan aset ketiga perusahaan itu senilai Rp153,18 triliun.

Namun, perusahaan hasil merger itu bakal memiliki liabilitas yang hampir 200% lebih besar dari ekuitasnya. Tingkat liabilitas ketiga perusahaan itu senilai Rp107,62 triliun dengan ekuitas senilai Rp45,56 triliun.

Nah, jika dari aset perusahaan ini unggul jauh dibandingkan dengan Telkomsel. Namun, dari segi kinerja pendapatan dan laba bersih masih kalah jauh dengan Telkomsel.

Sepanjang 2019, Telkomsel mencatatkan pendapatan Rp91,08 triliun dengan laba bersih Rp25,79 triliun.

Lalu, ketiga perusahaan merger itu hanya mencatatkan total pendapatan Rp52,79 triliun dengan laba bersih Rp94 miliar.

Dengan begitu, Indosat merger dengan XL Axiata, Fren, dan Tri tidak lantas langsung jadi penguasa pasar. Soalnya, setelah merger, perusahaan baru itu butuh masa adaptasi dengan produk baru.

Di sisi lain, Telkomsel yang sudah punya pakem produknya bisa lebih cepat pengembangan untuk menjaga kinerja keuangannya.

Kira-kira Indosat merger dengan XL Axiata, Fren, dan Tri itu akan jadi kenyataan enggak ya?

0Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Social profiles