Indonesia Master 2020 menjadi ajang pesta gelar bagi pasukan tuan rumah. Indonesia mampu menggondol tiga gelar setelah sempat puasa pada turnamen pembuka awal tahun Malaysia Master 2020.

Gelar pertama sudah dipastikan dari sektor ganda putra setelah tercipta All Indonesian Final antara Kevin Sanjaya/Marcus Gideon dengan Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan. Minions, julukan Kevin/Marcus, berhasil mempertahankan gelar Indonesia Master sejak tahun lalu setelah mengalahkan The Daddies, julukan Ahsan/Hendra.

Minions menang atas The Daddies lewat dua set langsung 21-15, 21-16 selama 32 menit. Ini pun kian mengokohkan dua ganda putra Indonesia itu di puncak klasemen peringkat dunia.

Gelar kedua diraih oleh Greysia Polii/Apriyani Rahayu setelah mati-matian melawan pasangan Denmark Maiken Fruergaard/Sara Thygesen. Greysia/Apri menang lewat rubber set 18-21, 21-11, 23-21 selama 1 jam 20 menit.

Lalu, gelar ketiga sangat spesial karena datang dari Anthony Sinisuka Ginting yang akhirnya mengakhiri puasa gelar selama 16 bulan. Ginting menang atas wakil Denmark si Istora Boy, Anders Antonsen.

Ginting menang lewat rubber set 17-21, 21-15, 21-9 selama 1 jam 11 menit.

Indonesia Master 2020, Ganda Campuran China Kokoh, Denmark Siap Bangkit

Jika Indonesia sangat kokoh di sektor ganda putra setelah menempatkan tiga wakilnya di 5 besar dunia, maka China adalah sang raja ganda campuran.

Dua pasang ganda campuran China mencatatkan All China Final sebanyak dua kali berturut-turut sepanjang tahun ini. Kedua pasangan itu adalah Zheng Si Wei/Huang Ya Qiong dan Wang Yi Lyu/Huang Dong Ping.

BACA JUGA: Anders Antonsen si Istora Boy yang Selalu Ke Final

Kedua pasangan itu pun kokoh di peringkat ke-1 dan 2 dunia saat ini, sedangkan Indonesia hanya menempatkan satu wakil di 5 besar ganda campuran dunia, yakni Praveen Jordan/Melati Daeva.

Sayangnya, peforma Praveen/Melati bisa dibilang masih cukup labil. Setelah meraih gelar beruntun di Denmark dan Prancis Open, pasangan ini masih belum mampu pecah telor lagi.

Selain itu, Denmark mulai memberikan sinyal kebangkitan di sektor ganda putri. Pencapaian Maiken/Sara hingga ke final menjadi sebuah kejutan.

Kini, Maiken/Sara adalah penghuni peringkat ke-30 dunia, tetapi dia mampu mengandaskan lawan-lawan yang punya peringkat lebih tinggi sepanjang Indonesia Master 2020.

Sepanjang gelaran Indonesia Master, lawan pasangan Denmark ini bisa dibilang cukup sulit. Di babak pertama, mereka langsung bertemu dengan pasangan Inggris peringkat 21 dunia Chloe Birch/Lauren Smith.

Pasangan Denmark itu mampu menang cepat 21-14, 21-14 dalam 37 menit.

Tantangan berat datang di babak kedua. Mereka harus berhadapan dengan wakil Jepang peringkat 3 dunia Yuki Fukushima/Sayaka Hirota. Secara mengejutkan, mereka mengalahkan pasangan Jepang itu lewat rubber set 18-21, 23-21, 21-10 selama 1 jam 11 menit.

Di perempat final, lawan yang dihadapin pun bukan pemain kacangan. Pasangan Denmark ini berhadapan dengan wakil Thailand peringkat 19 dunia Puttitta Supajirakul/Sapsiree Taerattanachai dua set langsung 21-15, 22-20 selama 50 menit.

Lanjut ke semi final, mereka kembali menghadapi lawan berat asal Jepang, yakni Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi yang kini bertengger di peringkat ke-5 dunia.

Hasilnya, mereka menang dua set langsung 22-20, 22-20 selama 57 menit. Sayangnya, mereka kandas di final oleh wakil tuan rumah Greysia/Apri.

Namun, mungkin saja hingga akhir tahun pasangan ini bisa merangsek ke peringkat 10 besar dunia.

Catatan untuk Indonesia

Pekerjaan rumah terbesar Indonesia masih mengurus bangkitnya tunggal putri. Sampai saat ini, tunggal putri Indonesia seperti kewalahan untuk bisa lolos hingga babak perempatfinal atau semifinal.

Di Indonesia Master, Indonesia menurunkan tiga wakil tunggal putri, yakni Fitriani, Gregoria Mariska, dan Ruselli Hartawan. Sayangnya, ketiga wakil itu langsung tamat di babak pertama.

Gregoria harus kandas oleh pemain Jepang Akane Yamaguchi lewat rubber set 21-12, 15-21, 22-24. Ruselli kalah dari pemain Kanada Michelle Li dua set langsung 14-21,15-21, dan Fitriani kalah dari Han Yue dua set langsung 6-21, 17-21.

Polesan Rionny Mainaky yang menduduki jabatan pelatih tunggal putri sejak tahun lalu tampaknya belum memberikan hasil yang memuaskan.

Pemain tunggal putri Indonesia pun masih tercecer di bawah peringkat 20 dunia. Gregoria menjadi tunggal putri dengan peringkat tertinggi, yakni 24 dunia.

Fitriani menyusul di peringkat ke-32, sedangkan Ruselli diperingkat ke-35. Susi Susanti pernah mengeluhkan susah mencari pemain tunggal putri yang tangguh, artinya ketiga pemain saat ini bisa dibilang kurang tangguh.

Namun, di tahun ini, PBSI menyematkan satu pemain tunggal putri muda di tim senior, yakni Putri Kusuma Wardhani.

Pemain berusia 17 tahun itu kini berada di peringkat ke-275 dunia. Memang, karir di kancah seniornya belum teruji, tetapi Putri bisa menjadi jawaban untuk Indonesia yang sulit mencari pemain tunggal putri yang tangguh.

Sayangnya, sepanjang tahun ini Putri belum menyicipi turnamen apapun. Dengan peringkat ke-275 dunia, peluangnya bermain di level tinggi pun agak sulit.

Regenerasi Ganda Campuran

Permasalahan Indonesia lainnya ada di sektor ganda campuran. Selepas pensiunnya Liliyana Natsir, Indonesia belum bisa berbicara lebih di sektor ini.

Indonesia memiliki tiga pemain existing yang diandalkan, yakni Hafiz Faizal/Gloria E. Widjaja, Praveen/Melati, dan Rinov Rivaldy/Pitha Haningtyas Mentari. Sayangnya, prestasi ketiga pasangan itu belum terlalu menonjol.

Praveen/Melati yang sangat diharapkan bisa menjadi andalan Indonesia kerap bermain buruk. Hafiz/Gloria pun juga kerap kesulitan melawan pemain 10 besar.

Di sisi lain, Rinov/Pitha sebagai pemain muda juga belum mampu mencolok dengan meraih gelar prestisius.

Di Indonesia Master 2020 saja, dua dari tiga pasangan itu langsung kandas di babak pertama.

Hafiz/Gloria langsung dibantai oleh Zheng Si Wei/Huang Ya Qiong 14-21, 13-21, sedangkan Rinov/Pitha dikandaskan Lee Jhe-Huei/Hsu Ya Ching 15-21, 13-21.

Praveen/Melati sempat memberikan harapan setelah mampu tembus hingga perempat final. Sayangnya, di babak itu, andalan Indonesia ini malah kandas di tangan pasangan Prancis peringkat ke-21 dunia Thom Gicquel/Delphine Delrue 19-21, 21-14, 18-21.

Tontowi Ahmad/Apriyani Rahayu

Di sisi lain, Indonesia memiliki harapan baru di ganda campuran setelah PBSI memutuskan untuk membiarkan Apriyani bermain rangkap di ganda campuran. Dia dipasangkan dengan Tontowi Ahmad, eks pasangan Butet, julukan Liliyana.

Sebelumnya, Tontowi dipasangkan dengan Winny Kandow, tetapi peformanya tidak menunjukkan peningkatkan signifikan.

Pasangan Owi, sapaan Tontowi, dengan Apriyani diharapkan bisa seganas pasangan Nova Widianto yang kala itu dipasangkan dengan Butet muda.

Indonesia Master 2020 pun menjadi turnamen debut pasangan tersebut. Bermain sejak babak kualifikasi, Owi/Apri harus berhadapan dengan pemain Korea Selatan unggulan ketujuh Seo Seung Jae/Chae Yujung.

Beruntungnya, Owi/Apri menang mudah 6-1 setelah pasangan Korea Selatan itu retired.

Di babak kedua, Owi/Apri berhadapan dengan pasangan suami istri asal Inggris Chris/Gabrielle Adcock. Nah, di sini Owi/Apri kalah dua set langsung 9-21, 12-21.

Apakah pasangan Owi/Apri bisa memberikan kejutan ke depannya? kita tunggu saja ya, yang pasti Rinov/Pitha tetap menjadi masa depan Indonesia.

0Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Social profiles