IHSG anjlok berdarah-darah hingga tembus 5.535 pada perdagangan Kamis (27/02/2020). Level itu mendekati level terendah pada Februari 2017.

Entah, ada apa dengan IHSG anjlok, mungkin ada kombinasi wabah Virus Corona yang kian meluas, serta perubahan status negara maju versi Amerika Serikat (AS). Domestik sendiri ada isu cukai yang dikenakan ke sektor plastik, otomotif, dan makanan minuman.

BACA JUGA: Kopi Kenangan IPO, Dejavu untuk Rencana yang Molor

Di luar itu, ada pula sentimen positif yang berasal dari penurunan suku bunga Bank Indonesia (BI) sebesar 25 bps pada pekan lalu. Kemudian, pemerintah yang siap menggelontorkan Rp10 triliun untuk paket ekonomi menahan tekanan Virus Corona.

Sayangnya, sentimen positif itu belum mampu mengangkat IHSG lebih kuat lagi.

Di tengah IHSG anjlok ini, kira-kira saham apa ya yang menarik?

Menurut data statistik perdagangan Kamis (27/02/2020), secara year to date, IHSG sudah anjlok 12,13%. Lalu, sepanjang Februari 2020 sudah anjlok 6,81%.

Dari situ, harga saham yang sudah melorot cukup dalam dengan indikator pengaruhnya ke IHSG sepanjang 2020 antara lain, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk., PT Bank Central Asia Tbk., PT Unilever Indonesia Tbk. PT Barito Putra Tbk., dan PT Chandra Asri Petrochemical Tbk.

Di bawah 5 besar saham paling anjlok sepanjang tahun ini, ada PT HM Sampoerna Tbk., PT Astra International Tbk., PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., PT Perusahaan Gas Negara Tbk., dan PT Bank Mayapada International Tbk.

Nah, dari kesepuluh saham itu mana yang valuasinya sudah murah banget ya?

Kalau dari 10 saham itu, ada lima emiten yang paling murah di antara yang mahal, yakni Astra International (ASII), PGN (PGAS), BRI (BBRI), HM Sampoerna (HMSP). dan Telkom (TLKM).

Menatap Pesona PGAS di Tengah Sentimen Penurunan Harga Gas Industri

Dari segi Price Book Value (PBV) Ratio, PGAS menjadi yang paling murah dengan PBV 0,91 kali. Sepanjang tahun ini, harga saham PGAS pun sudah turun hingga 36,2%.

Namun, sentimen negatif PGAS belum berakhir karena pemerintah memutuskan untuk turunkan harga gas industri menjadi US$6 per MMBTU. Penurunan harga gas industri bisa menekan kinerja PGAS, apalagi jika trader gas bertingkat masih berlaku.

Polemik trader gas bertingkat ini sulit dibasmi pemerintah karena sudah mendarah daging. Hal itu pula yang mendongkrak harga gas industri domestik cukup mahal.

Dengan begitu, ada potensi harga saham PGAS terus turun selanjutnya. Namun, jika ingin koleksi jangka panjang mungkin bisa masuk secara bertahap sesuai dengan tren penurunan harga saham selanjutnya.

IHSG Anjlok, Daya Tarik Astra International

Saham yang menarik kedua adalah ASII. Alasannya, emiten multinasional itu adalah emiten dengan Price to Earning Ratio (PER) terendah dari 10 emiten yang harga sahamnya paling anjlok sepanjang tahun ini.

PER ASII tercatat sebesar 11,38 kali. Sama halnya dengan PGAS, ASII belum menemukan sentimen positifnya.

Pasalnya, di tengah penjualan otomotif yang bergairah, ASII juga diserang sentimen negatif lainnya, yakni usulan cukai emisi kendaraan bermotor.

Jika jadi terlaksana, artinya harga jual kendaraan bermotor bisa makin tinggi. Hal itu menambah buruk nasib penjualan otomotif di Indonesia.

Di sisi lain, ASII juga mendapatkan sentimen negatif lainnya dari kinerja anak usaha yang kurang bergairah.

Harga saham ASII sudah anjlok 14,1% sepanjang tahun ini. Dengan sentimen negatif cukai emisi kendaraan bermotor, bukan tidak mungkin harga saham ASII makin amblas.

Seperti juga saran pada saham PGAS, kalian bisa mulai masuk saham ASII secara bertahap setiap ada penurunan harga sahamnya. Pasalnya, secara jangka panjang saham ASII masih punya prospek cerah dan balik ke level Rp8.000-an.

Pesona BBRI dan TLKM dari Para Laggard Sepanjang 2020

Di luar kedua saham itu, BBRI dan TLKM cukup menarik dikoleksi jika dibandingkan dari 10 saham yang paling ambyar sepanjang 2020.

Saat ini, PER BBRI sebesar 14,8 kali dan PBVnya 2,47 kali. Harga saham BBRI sudah amblas 6,1% sepanjang tahun ini.

Namun, tantangan dari BBRI adalah tingkat suku bunga yang rendah bisa memangkas net interest margin (NIM) perseroan. Belum lagi perlambatan ekonomi juga bisa memengaruhi permintaan kredit.

Lalu, TLKM yang harga sahamnya sudah amblas 12,6% sepanjang tahun ini menjadi menarik karena sindiran Menteri BUMN Erick Thohir pada Februari 2020.

Sindiran Erick soal Telkom yang cuma ngandelin Telkomsel membuat perseroan berecana ekspansi ke bisnis big data pada tahun ini. Artinya, ada prospek cerah ke depannya.

PER Telkom saat ini sebesar 15,36 kali, sedangkan PBVnya 3,45 kali.

Tantangannya adalah persaingan industri telekomunikasi makin sengit, meski Telkomsel tetap menguasai pangsa pasar. Di sisi lain, jika ekspansi Telkom tidak langsung berhasil justru bisa menjadi pedang bermata dua.

Kinerja TLKM yang bisa dibilang cukup oke dari segi bottom line pada 2019 bisa amblas. Pasalnya, mereka menyiapkan anggaran ekspansi sebesar 25% dari total pendapatan pada 2019.

Kedua saham itu layaknya PGAS dan ASII, bisa dikoleksi secara bertahap. Soalnya, masih ada potensi penurunan harga lagi ke depannya.

Sambil koleksi bertahap, kalian juga bisa menikmati dividennya. Dengan catatan, kalian koleksi untuk jangka panjang sehingga tidak terjebak pada dividen trap.

Tertarik mulai koleksi saham-saham itu?

0Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Social profiles