Harga masker benar-benar melejit pascavirus corona. Bahkan, kenaikan harga masker melebihi lonjakan harga saham dua emiten farmasi pelat merah, PT Kimia Farma Tbk. dan PT Indofarma tbk. yang kini berangsur amblas.

Mengutip Bisnis.com, pada 4 Maret 2020, Kementerian BUMN memastikan ketersedian masker, antiseptik, dan suplemen tetap mencukupi permintaan.

Menteri BUMN Erick Thohir menyebutkan Kimia Farma memiliki 1.300 jaringan apotek dan 600 klinik di Indonesia.

BACA JUGA: Mau Tau Berapa Banyak Gaji Direksi Bank BUMN? Cek di Sini Aja

“Mereka [Kimia Farma] sudah melakukan antisipasi sejak 10 Januari 2020 dengan menghadirkan Corona Virus Centre untuk deteksi dini,” ujarnya.

Faktanya, ketika mengunjungi apotek Kimia Farma di Poris, Tangerang, pasokan masker sudah ludes terjual.

“Kami cuma dapat 1 box doang, itu pun kemarin satu orang maksimal beli satu pcs saja,” ujarnya kasir di apotek tersebut.

Masker benar-benar langka, ada sekitar 15 apotek yang saya datangi dengan tujuan membeli masker. Hasilnya, hanya 2 yang mengaku punya stok masker.

Pertama, K24 yang menjual masker N95 dengan harga Rp54.000 per buahnya. Padahal, yang saya cari masker biasa saja yang satu dus isi 50 pcs senilai rata-rata Rp25.000 – Rp30.000.

Kedua, ada tempat jualan alat dan perlengkapan kesehatan yang menjual masker dalam jumlah 1 dus isi 50 pcs. Namun, harga yang ditawarkan Rp450.000 untuk 1 dus yang berisi 50 pcs.

“Kalau beli satuan harganya menjadi Rp10.000,” ujarnya.

Tanpa basa-basi dengan senyuman sinis, saya pun tidak jadi membeli masker di tempat tersebut.

Alhasil, saya pulang dengan tangan hampa untuk mencari pasokan masker.

Harga Masker Naik, Nasib INAF dan KAEF Kini

Dalam berita Bisnis.com itu, Erick menuturkan Kimia Farma sudah melakukan pemesanan bahan baku dari China untuk menambah pasokan masker di dalam negeri.

Erick memastikan jika pasokan bahan baku dari China menipis, pihaknya akan memesan bahan baku dari Eropa sebagai alternatifnya.

“Namun, harga bahan baku dari Benua Biru itu lebih tinggi sehingga harga masker juga bisa lebih mahal nantinya,” ujarnya.

Sebelum harga naik, Erick pun memastikan kalau Kimia Farma tidak akan sengaja menaikkan harga untuk mendapatkan keuntungan lebih besar.

“Harganya kalau di Eropa kan mahal. Jadi jangan digosipkan Kimia Farma ambil kesempatan dalam kesempitan,” ujarnya.

Meskipun begitu, dalam berita itu disebutkan Kimia Farma memberlakukan pembatasan pembelian sebanyak dua masker per transaksi dengan harga Rp2.000 per pcs.

Melihat itu, harga masker yang dijual Kimia Farma sudah melonjak sekitar 300% dari harga normal.

Kita pun tidak bisa prediksi berapa harga masker jika mengambil bahan baku dari Eropa.

Di sisi lain, lonjakan harga masker itu nyatanya tidak membuat saham KAEF, ticker Kimia Farma dan INAF, ticker Indofarma makin renyah melonjak.

Sampai perdagangan Senin (09/03/2020), harga saham KAEF malah amblas 16,38% menjadi Rp740 per saham. Begitu juga dengan saham INAF yang hancur sebesar 14,19% menjadi Rp665 per saham.

Harga KAEF dan INAF sempat menunjukkan kebangkitan setelah hancur lebur pada 2019 sejak 28 Februari 2020.

Keduanya kompak menguat selama 5 hari perdagangan dari 28 Februari 2020 sampai 5 Maret 2020.

INAF naik paling tinggi sebesar 81,91% hanya dalam 5 hari hingga tembus Rp815 per saham. Di sisi lain, harga saham KAEF juga melonjak 57,75% dalam 5 hari hingga tembus Rp915 per saham.

Sayangnya, renyahnya gorengan INAF dan KAEF berakhir di 5 Maret 2020. Setelah itu, kedua saham terus amblas hingga perdangan hari ini.

Secara total, harga saham INAF sudah turun sekitar 18,4%, sedangkan harga saham KAEF sudah turun 19,12%.

Kinerja Keuangan KAEF dan INAF

Kalau dilihat dari segi kinerja keuangan, kedua saham itu lagi dalam kondisi yang kurang baik.

Sampai kuartal III/2019, INAF mencatatkan penurunan pendapatan sebesar 21,05% menjadi Rp583,53 miliar dibandingkan dengan Rp739,17 miliar pada periode sama tahun lalu.

Nasib bottom linenya lebih miris, masih rugi Rp34,84 miliar. Jika sampai akhir 2019 masih rugi, berarti INAF sudah 4 tahun berturut-turut mencatatkan kerugian.

Jika melihat struktur pendapatan INAF, mayoritas pendapatan perseroan ditopang oleh obat resep penjualan domestik sebesar 79,62% dengan nilai Rp464,65 miliar.

Pos pendapatan terbesar kedua datang dari alat kesehatan, diagnostik, dan lainnya yang sebesar 17,42% atau senilai Rp101,66 miliar.

Sisanya, porsi pendapatan yang berkisar antara 0,15% – 1,67%. Pendapatan lainnya itu berasal dari penjualan obat tanpa resep domestik senilai Rp7,42 miliar, obat resep ekspor Rp910,68 juta, dan obat tanpa resep ekspor Rp8,88 miliar.

Tak seburuk INAF, nasib KAEF bisa dibilang lebih baik. Kimia Farma mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 14,63% menjadi Rp6,87 triliun dibandingkan dengan Rp6 triliun pada periode sama tahun lalu.

Namun, laba bersih KAEF turun drastis sebesar 81,44% menjadi Rp41,83 miliar dibandingkan dengan Rp225,45 miliar. Jika tidak ada perubahan signifikan pada akhir tahun, ini menjadi penurunan laba bersih pertama KAEF sejak periode 2014.

Penyebab anjloknya laba KAEF adalah kenaikan pada semua pos bebannya dari beban pokok penjualan, beban usaha, dan beban keuangan.

beban pokok penjualan naik sekitar Rp700 miliar menjadi Rp4,36 triliun. Beban usahanya naik sekitar Rp400 miliar menjadi Rp2,21 triliun.

Lalu, beban keuangan naik sekitar Rp200 miliar menjadi Rp357,1 miliar. Kenaikan beban keuangan akibat kenaikannya beban bunga bank senilai Rp200 miliar menjadi Rp281,87 miliar dibandingkan dengan Rp83,11 miliar.

Hampir sama dengan INAF, mayoritas pendapatan KAEF ditopang oleh obat resep. Porsi pendapatan obat resep KAEF mencapai 35,07% atau Rp2,48 triliun.

Selain itu, obat generik dan tanpa resep masing-masing berkontribusi sebesar 21%. Sisanya, pendapatan KAEF ditopang oleh pil KB dan alat kesehatan lainnya sebesar 18,95% dan bahan baku sebesar 2,95%.

Jadi, kalian masih yakin mau berjudi di KAEF atau INAF?

0Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Social profiles