Harga emas kembali menanjak seiring ketegangan di Timur Tengah, terutama ketika Pemimpin Pasukan Quds Qassem Suleimani tewas dalam serangan Amerika Serikat yang diperintahkan oleh Donald Trump.

Dikutip dari Bloomberg, harga emas dunia melonjak 3,75% menjadi US$1.574 per troy ounce selama 7 hari pertama 2020. Sebelumnya, harga emas sempat mencapai level US$1.588 pada 6 Januari 2020.

BACA JUGA: Carlos Ghosn, Penyelamat Nissan yang Jadi Buronan Jepang

Jika Ketua Federal Reserve periode 2013 Ben Bernanke pernah memberikan pernyataan kalau dia tidak bisa memahami harga emas. Berbeda dengan kali ini.

Terbunuhnya Qassem Suleimani membuat investor mencari tempat perlindungan aset kekayaan mereka. Jawabannya ada di emas.

Apalagi, situasi Timur Tengah makin memanas setelah pesawat Ukraine International Airlines jatuh, meski disebut karena masalah teknis, Perdana Menteri Kanada berkukuh jatuhnya pesawat itu karena rudal dari Iran.

Namun, jauh sebelum tewasnya Suleimani, harga emas memang sudah cemerlang sepanjang 2019.

The Economist mencatat, harga emas sudah meningkat 25% sejak November 2018. Efek kematian jenderal SUleimani hanya menjadi sentimen tambahan yang membawa emas makin tinggi ke angkasa.

Tak Sekadar Faktor Geopolitik

Melonjaknya harga emas dunia sejak tahun lalu terjadi karena perkembangan suku bunga nyata yang terepresentasikan dengan inflasi.

Indikator paling lazim adalah dengan melihat imbal hasil obligasi treasury Amerika Serikat (AS) 10 tahun yang turun mendekati 0 pada Agustus 2019 dari posisi 1,1% pada November 2018.

Penurunan imbal hasil obligasi treasury AS itu terjadi seiring dengan pemangkasan suku bunga The Fed.

Analis di PIMCO, salah satu manajer investasi pendapatan tetap yang besar, menilai emas aset tanpa risiko, termasuk dari inflasi sehigga selalu dianggap sebagai lindungnilai.

“Perbedaan antara emas dengan obligasi treasury AS adalah, emas tidak menghasilkan bunga,” ujarnya seperti dikutip dari The Economist.

Analis itu melanjutkan, jika ekonomi riil sedang membaik, harga logam mulia itu biasanya turun. Namun, ketike ekonomi riil memburuk, harga emas kian memikat.

“Untuk itu, penurunan suku bunga riil setahun terakhir membuat harga emas melejit. Emas mungkin memang tidak memberikan bunga, tetapi tingkat bunga obligasi treasury AS pun hampir tidak ada,” ujarnya.

Emas memang terkenal sebagai instrumen lindung nilai, tetapi tidak semua orang suka dengan emas.

Investor kawakan Warren Buffet salah satunya yang menolak menempatkan dana di emas.

Komentar Buffet terkait emas adalah instrumen investasi itu digali dari tanah di Afrika atau tempat lainnya.

“Lalu, kami meleburnya dan kembali menggali untuk menguburnya lagi. Kami harus membayar orang juga untuk menjaganya, artinya tidak ada kegunaannya,” ujar Buffet.

Berbeda dengan Buffet, John Pierpont (J.P) Morgan pendiri bank investasi terbesar di Amerika Serikat menyebutkan kalau emas adalah uang, dan yang lainnya adalah kredit.

“Ketika pengembalian untuk memberikan kredit mendekati nol, tidak heran kalau investor ingin uang mereka berbentuk emas,” ujarnya.

0Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close
Social profiles
Close