Gojek Backdoor Listing Lewat Blue Bird?

gojek backdoor listing

Gojek backdoor listing bisa saja menjadi kenyataan setelah rumor dekakorn asal Indonesia itu mengakuisisi saham minoritas PT Blue Bird Tbk. Apalagi, isu Gojek mau backdoor listing sudah mencuat sejak 2018.

Backdoor listing adalah istilah perusahaan yang ingin menikmati fasilitas pencarian dana segar lewat bursa tanpa perlu melakukan penawaran perdana. Hal ini diasosiasikan masuk lewat pintu belakang.

Caranya dengan mengakuisisi mayoritas saham perusahaan yang sudah melantai di bursa.

Dengan begitu, perusahaan yang melakukan backdoor listing tidak perlu buka-bukaan secara detail tentang jeroannya. Misal, detail kepemilikan saham sampai kinerja keuangan beberapa tahun silam.

Gojek yang kini bervaluasi US$10 miliar sangat dinanti-nantikan untuk melantai di BEI. Banyak pemegang saham ritel bermimpi memiliki saham Gojek.

Nah, tingginya harapan Gojek untuk melantai di BEI membuat perusahaan rintisan itu dikabarkan memilih jalan backdoor listing pada 2018.

Kala itu, selentingan kabar menyeruak kalau Gojek backdoor listing dengan mengakuisisi PT Express Transindo Utama Tbk. yang memegang merek taksi Express.

Namun, manajemen TAXI pun menapik isu tersebut. Rumor itu tampaknya lebih ke strategi untuk mengerek harga saham TAXI.

Hal itu terlihat pada Maret 2018, harga saham TAXI yang berada di geng gocap alias Rp50 per saham melejit hingga Rp198 per saham. Sayangnya, kini saham TAXI kembali masuk ke dalam geng gocap.

Gojek Backdoor Listing dengan Blue Bird?

Hampir satu setengah tahun berlalu sejak rumor gojek backdoor listing, dekakorn Indonesia itu dikabarkan membeli 4,32% saham Blue Bird.

Lagi-lagi imajinasi liar saya muncul, apakah ini menjadi titik awal Gojek melantai di BEI dengan strategi backdoor listing?

Rumor Gojek akuisisi Blue Bird mencuat setelah ada keterbukaan informasi dari emiten berkode BIRD tentang penjualan saham pada 14 Februari 2020.

PT Pusaka Citra Djokosoetomo melepas 4,32% atau sebanyak 108 juta lembar saham dengan harga premium, Rp3.800 per saham pada 13 Februari 2020. Padahal harga saham Blue Bird pada penutupan perdagangan saat itu berada di level Rp2.490 per saham.

BACA JUGA: Pekan Bank BUMN RUPS Tahunan, Lebih Menarik BBRI, BMRI, atau BBNI?

Lalu, BIRD pun merahasiakan pembeli saham dalam transaksi tersebut. Hingga muncul berita dari Bloomberg kalau pembelinya adalah Gojek.

Namun, dengan pembelian sebanyak 4,32% tidak membuat Gojek resmi melakukan backdoor listing karena jumlah sahamnya masih minoritas.

Adapun, peluang itu bisa jadi terbuka di masa depan. Apalagi, Gojek dan Blue Bird baru saja memperpanjang kerja samanya yang sudah terjalin sejak 2017.

Gojek bakal resmi backdoor listing jika memegang mayoritas saham BIRD. Itu bisa terjadi kapan saja, apalagi jika dekakorn itu membutuhkan dana segar.

Strategi backdoor listing menjadi pilihan setelah kegagalan IPO UBER. Nasib UBER yang malang kini kapitalisasi pasarnya malah di bawah valuasi sebelum IPO.

Namun, apakah nasib para backdoor listingers selalu bagus?

Para Emiten Hasil Backdoor Listing

Ada beberapa emiten yang bisa dijadikan contoh kasus backdoor listing yang unik. Saya mengambil contoh empat emiten, yakni AISA, SIPD, RIMO, dan CMPP.

AISA yang kini bernama PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk. sejatinya adalah hasil bacdoor listing. Hal itu terlihat dari pilihan nama ticker dan perusahaan yang berbeda.

Tiga Pilar masuk ke BEI setelah mengakuisisi PT Asia Inti Selera Tbk., sebuah perusahaan yang merupakan produsen mie telor dengan merek Ayam 2 Telor pada 2002.

PODCAST: Harga Saham BTPS Melejit, Ini Ceritanya

Bisa dibilang bisnis Asia Inti Selera dengan Tiga Pilar punya banyak kemiripan sehingga aksi bacdoor listing cenderung sukses.

Setelah akuisisi Asia Inti Selera, Tiga Pilar mengubah namanya menjadi PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk. Lalu, PT Tiga Pilar Sejahtera justru menjadi anak usaha AISA.

Sayangnya, kini nasib AISA di ujung tanduk karena konflik internal. Bukan gara-gara karma melakukan backdoor listing sih.

Cuma, dengan aksi backdoor listing ini, para investor tidak tahu jeroan Tiga Pilar Sejahtera sebelum bergabung dengan Asia Inti Selera.

Sementara itu, PT Sierad Produce Tbk. atau SIPD menjadi kendaraan Gunung Sewu Grup untuk menyicipi renyahnya bermain di lantai bursa.

Gunung Sewu yang memilik produk Sunpride ini mengambil alih 63% saham SIPD melalui PT Great Giant Pineapple senilai Rp1,09 triliun melalui skema penerbitan saham baru pada 2015.

Menariknya, dana hasil penerbitan saham baru itu digunakan untuk obligasi wajib tukar. Obligasi wajib tukar itu pun akan dikonversi menjadi 80% saham PT Great Giant Livestock, anak usaha Great Giant Pinneapple.

Dengan begini, Gunung Sewu Grup memiliki lini usaha yang lengkap di sektor peternakan, dari ayam sampai sapi. Dengan begitu, Gunung Sewu bisa saja head to head dengan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk.

Namun, sayangnya harga saham SIPD tetap tidak berubah nasib pasca diakuisisi Gunung Sewu.

Uniknya Backdoor Listing RIMO dan Air Asia yang Batal Buka-bukaan di Indonesia

Paling menarik adalah geliat Benny Tjokrosaputro dalam menjadi pembeli siaga penerbitan saham baru PT Rimo International Lestari Tbk. Sebagai catatan, emiten berkode RIMO itu awalnya memiliki lini bisnis ritel, seperti Ramayana dkk.

Namun, rencana penerbitan saham baru itu mengarahkan RIMO untuk menjadi perusahaan properti. Mengajukan rencana rights issue atau penambahan saham baru pada 2015, aksi korporasi itu baru terealisasi pada 2017.

Awalnya, Hokindo seperti ingin melakukan backdoor listiing, tetapi rencana itu berubah setelah Benny Tjokro yang menjadi pembeli siaga penerbitan saham baru perseroan tersebut.

Total nilai dana segar hasil rights issue itu senilai Rp4,1 triliun. Namun, bentuk dananya ternyata tidak segar Rp4,1 triliun, melainkan Rp3,9 triliun dalam bentuk saham PT Hokindo Mediatama yang konon pengembang properti di Jakarta, Cianjur, Serang, Sumbawa, Kendari, Balikpapan, Pontianak, dan Bekasi.

Jadi, RIMO hanya mendapatkan dana segar sekitar Rp151,5 miliar. Nasib saham RIMO pun kini terjebak di geng gocap.

Berbeda dengan kasus RIMO, Air Asia Indonesia yang sempat berniat melakukan penawaran perdana di BEI malah memilih jalur backdoor listing.

Air Asia memilih jalur belakang karena tidak memenuhi syarat untuk melantai di BEI lewat skema penawaran perdana. Kala itu, Air Asia masih mencatatkan kerugian, sedangkan aturannya perusahaan yang IPO harus membukukan laba pada satu tahun terakhir.

Di sisi lain, Air Asia ingin segera cepat menyicipi lantai BEI sehingga jalur backdoor listing yang dipilih.

Prosesnya, Air Asia Bhd mengakuisisi PT Rimau Multi Putra Pratama Tbk. atau CMPP sebesar 48%. Dari aksi rights issue itu, CMPP akan mengantongi dana segar Rp3,4 triliun.

Lalu, 76% dana itu atau setara Rp2,6 triliun akan digunakan untuk mengambil surat berharga Air Asia Indonesia. Dengan begitu, Air Asia Indonesia pun resmi melantai di BEI tanpa perlu penawaran perdana.

Kini, nasib saham CMPP masih kena suspend oleh BEI karena jumlah saham publik masih di bawah persyaratan bursa saham di Indonesia tersebut.

Nah, melihat nasib perusahaan yang backdoor listing enggak selalu bagus begini, jika Gojek memilih jalan backdoor listing nasibnya bisa sial juga enggak ya. Bisa jadi, valuasi satu-satunya Dekakorn di Indonesia jadi anjlok.

Kalau menurut kalian, Gojek bakal pilih jalur backdoor listing enggak?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.