SuryaRianto https://suryarianto.id Seterang Matahari Tue, 25 Feb 2020 11:58:38 +0000 id-ID hourly 1 https://wordpress.org/?v=5.3.2 https://suryarianto.id/wp-content/uploads/2019/03/cropped-orbz_sun-32x32.png SuryaRianto https://suryarianto.id 32 32 Kopi Kenangan IPO, Sebuah Dejavu yang Molor https://suryarianto.id/kopi-kenangan-ipo-sebuah-dejavu-yang-molor/ https://suryarianto.id/kopi-kenangan-ipo-sebuah-dejavu-yang-molor/#respond Tue, 25 Feb 2020 11:58:28 +0000 https://suryarianto.id/?p=892 Kopi Kenangan IPO pada 2022 menjadi salah satu kabar heboh sejak 24 Februari 2024. Eits, tunggu dulu, startup kopi itu bukan pertama kali mengungkapkan rencana melantai di bursa dan pengumuman kali ini malah jadi molor. Sebelumnya, pada pertengahan 2019, Kopi Kenangan IPO pada 2021. Pengumuman itu disebutkan tepat setelah perusahaan rintisan itu meraup dana US$20 […]

The post Kopi Kenangan IPO, Sebuah Dejavu yang Molor appeared first on SuryaRianto.

]]>
Kopi Kenangan IPO pada 2022 menjadi salah satu kabar heboh sejak 24 Februari 2024. Eits, tunggu dulu, startup kopi itu bukan pertama kali mengungkapkan rencana melantai di bursa dan pengumuman kali ini malah jadi molor.

Sebelumnya, pada pertengahan 2019, Kopi Kenangan IPO pada 2021. Pengumuman itu disebutkan tepat setelah perusahaan rintisan itu meraup dana US$20 juta atau sekitar Rp288 miliar dari Sequoia India.

Mereka bermimpi dana hasil melantai di bursa itu bakal digunakan untuk ekspansi ke luar negeri.

Perusahaan rintisan itu berencana ekspansi ke empat negara di Asia Tenggara. Dalam waktu dekat dari pertengahan 2019 itu, mereka bakal masuk ke salah satu negara tersebut.

Mereka menargetkan bisa ekspansi ke salah satu negara di Asia Tenggara pada kuartal IV/2019 atau kuartal I/2020. Bahkan, mereka sesumbar bisa membuka 5 sampai 10 gerai di satu negara Asia Tenggara tersebut.

Sebuah Dejavu Kopi Kenangan IPO

Nah, 24 Februari 2020, CEO dan Co-founder Kopo Kenangan Edward Tirtanata mengumumkan rencana ekspansi usahanya ke Asia Tenggara pada tahun ini. Untuk itu, mereka akan berupaya untuk mencari pendanaan baru.

Di sisi lain, Edward mengaku belum menemukan lokasi negara yang cocok untuk ekspansinya. Yang pasti, dia bakal ekspansi ke salah satu negara Asean dengan visi menguasai pasar kopi Asia Tenggara.

Lalu, perkembangan bisnis yang prospektif membuat Edward optimistis bisa melantai di bursa pada 2022.

Semua omongan itu membuat saya sedikit Dejavu. Perbedaannya, semua rencana Kopi Kenangan molor.

BACA JUGA: Saham Siantar Top Melejit, Siapa Penggorengnya?

Selain itu, perbedaan lainnya adalah Kopi Kenangan berencana mengubah nama atau rebranding agar bisa diterima secara internasional.

Kopi Kenangan didirikan oleh Edward pada 2017 dengan gerai pertama di gedung perkantoran Mayapada Tower.

Setelah debutnya itu, Kopi Kenangan mengantongi pendanaan sebanyak dua kali. Selain dari Sequoia India, mereka juga mendapatkan pendanaan dari Alpha JWC Ventures senilai Rp120 miliar.

Saat ini, perusahaan rintisan kopi itu memiliki 250 gerai. Mereka pun menargetkan bisa tambah gerai hingga 650 pada 2020.

Lalu, mereka menargetkan bisa menambah gerai menjadi sebanyak 1.200 pada 2021.

Layanan pengiriman makanan dinilai menjadi strategi ampuh untuk bisa meningkatkan omzet.

“Kebanyakan merek produk makanan dan minuman itu 30%-40% omzetnya berasal lewat layanan antar makanan dan minuman. Kalau lengah sedikit saja, kita bisa kehilangan potensi pembeli,” sebutnya.

Saat ini, perusahaan rintisan itu mencatatkan penjualan sebanyak 3 juta cup per bulan. Sampai akhir tahun ini, mereka menargetkan bisa mencapai 10 juta cup per bulan.

Belajar dari Luckin Coffee

Kopi Kenangan bisa belajar dari Luckin Coffee, startup kopi di China yang sudah menjadi penantang Starbucks di sana.

Tahun lalu, Luckin Coffee melantai di Bursa Amerika Serikat (AS) dengan harga penawaran perdana US$17 per saham. Dari aksi penawaran perdana itu, Luckin Coffee meraup dana sekitar US$561 juta.

Kini harga saham Luckin Coffee sudah melejit sekitar 117,64%, meski pada perdagangan 25 Februari 2020 harga sahamnya anjlok 4,62% menjadi US$37 per saham.

Setelah IPO, Luckin pun berencana menambah 2.500 gerai bari dari total yang dimilikinya saat itu sebanyak 2.370 gerai.

Dana IPO itu pun digunakan salah satunya untuk ekspansi jaringan, akuisisi pelanggan, pemasaran, dan penelitian serta pengembangan.

Umur Luckin Coffee dengan Kopi Kenangan hampir mirip. Keduanya didirkan pada 2017.

Saat melantai di bursa, Luckin Coffee masih dalam posisi berdarah-darah. Pada 2018, mereka rugi US$475,4 juta. Sampai kuartal I/2019 rugi US$85,3 juta.

Sampai kuartal III/2019, rugi Luckin Coffee senilai US$246,92 juta.

Dengan kerugian itu saja, harga saham Luckin Coffee masih menanjak. Namun, bagaimana dengan Kopi Kenangan, apakah mereka sudah menuai cuan?

Kalau pun belum, akankah daya tarik Kopi Kenangan di lantai bursa bisa merangsang para calon investor ritel?

Kita tunggu saja jawabannya nanti ketika mereka benar-benar melantai di bursa ya.

0Shares

The post Kopi Kenangan IPO, Sebuah Dejavu yang Molor appeared first on SuryaRianto.

]]>
https://suryarianto.id/kopi-kenangan-ipo-sebuah-dejavu-yang-molor/feed/ 0
Saham Siantar Top Melejit, Mencari Jejak Penggorengnya https://suryarianto.id/saham-siantar-top-melejit-mencari-jejak-penggorengnya/ https://suryarianto.id/saham-siantar-top-melejit-mencari-jejak-penggorengnya/#respond Mon, 24 Feb 2020 11:55:00 +0000 https://suryarianto.id/?p=888 Saham Siantar Top jadi obrolan setelah melejit sebesar 115,35% dalam sepekan terakhir. Ada sesuatu apakah yang terjadi pada emiten berkode STTP tersebut? Harga saham Siantar Top dalam 5 tahun terakhir bergerak di level sekitar Rp3.000-an. Selain itu, pergerakan harga saham emiten sektor konsumer ini juga kurang likuid. Meskipun begitu, harga saham Siantar Top sempat melejit […]

The post Saham Siantar Top Melejit, Mencari Jejak Penggorengnya appeared first on SuryaRianto.

]]>
Saham Siantar Top jadi obrolan setelah melejit sebesar 115,35% dalam sepekan terakhir. Ada sesuatu apakah yang terjadi pada emiten berkode STTP tersebut?

Harga saham Siantar Top dalam 5 tahun terakhir bergerak di level sekitar Rp3.000-an. Selain itu, pergerakan harga saham emiten sektor konsumer ini juga kurang likuid.

Meskipun begitu, harga saham Siantar Top sempat melejit dari level Rp150 per saham pada 30 September 2005 hingga tembus level Rp1.000-an untuk pertama kalinya pada 2012.

Lalu, lonjakan harga saham Siantar Top hingga tembus Rp10.100 kali ini apa penyebabnya?

Bursa Efek Indonesia (BEI) pun mengonfirmasikan hal itu ke pihak manajemen Siantar Top. Seperti, apakah pihak manajemen mengetahui ada yang menyebabkan lonjakan harga saham, termasuk aksi korporasi pemegang saham pengendali.

Jawabannya, manajemen Siantar Top tidak mengetahui apapun yang terjadi tentang lonjakan harga sahamnya. Untuk aksi korporasi, perseroan mengaku tidak ada rencana hingga tiga bulan ke depan.

BACA JUGA: Gojek Kenapa Sempat Viral, Ini Fakta Penyiksa Driver Gojek

Jika melirik hasil paparan publik terakhir perseroan, yakni pada 20 Desember 2019. Sesungguhnya tidak ada rencana spesial dari emiten berkode STTP tersebut.

Siantar Top hanya akan meningkatkan mitra distribusi lokal di domestik. Saat ini, mereka memiliki 70 merek yang dijajakan oleh distribusi lokal di 180 titik.

Selain itu, perseroan juga telah membuka jaringan pasar internasional baru di kawasan Asia, Timur Tengah, Afrika, dan Australia. Lalu, kontribusi penjualan ekspor saat ini masih sebesar 10%.

Siantar Top menargetkan secara keseluruhan penjualan bisa tumbuh 15% pada tahun ini. Dari sisi penjualan ekspor di targetkan bisa tumbuh hingga 20%.

Selain itu, tidak ada rencana besar dari emiten konsumer tersebut.

Saham Siantar Top, Tidak Ada Borong Saham dari Sang Empunya

Jika dilihat transaksi pemegang saham di atas 5% Siantar Top sejak 13 Februari 2020 sampai saat ini, tidak ada transaksi sama sekali.

Satu-satunya pemegang saham di atas 5% Siantar Top adalah PT Shindo Tiara Tunggal yang kemungkinan besar dimiliki oleh Shindo Sumidomo. Shindo Tiara Tunggal memiliki 56,76% saham Siantar Top.

Sisanya, ada Shindo Sumidomo yang secara langsung memiliki 3,1% saham Siantar Top. Lalu, ada Juwita Jaya yang memiliki 0,03%.

Sisanya, dimiliki oleh publik alias yang kepemilikannya di bawah 5% sebanyak 40,11%.

Sepanjang perdagangan Senin (24/02/2020), harga saham Siantar Top naik 12,22%. Namun, dari segi transaksi hanya ada 4 transaksi beli dengan harga di kisaran Rp7.300 – Rp9.000 per saham.

Lalu, transaksi jual ada 38 dengan rentang harga Rp9.850 per saham – Rp10.475 per saham.

Sepanjang sepekan terakhir, ada tujuh sekuritas yang melakukan transaksi saham Siantar Top.

Ketujuh sekuritas itu antara lain, Mandiri Sekuritas, Daewoo Securities Indonesia, Valbury Asia Securities, Phillip Securities Indonesia, CIMB Securities Indonesia, BNI Securities, dan Indo Premier Securities.

Daewoo Securities menjadi Top Buyers dan Sellers dengan total transaksi Buy 1.700 lembar, sedangkan sell sekitar 1.600 lembar.

Posisi kedua, top buyers adalah Mandiri Sekuritas dengan transaksi buy sebanyak 700-an lembar dan transaksi sell sekitar 300-an lembar.

Kinerja Siantar Top

Sementara itu, dari sisi kinerja, Siantar Top mencatatkan hasil yang cukup renyah pada 2019.

Sampai kuartal III/2019, perseroan mencatatkan pertumbuhan penjualan sebesar 26,73% menjadi Rp2,59 triliun, sedangkan laba bersih sebesar 88,93% menjadi Rp377,19 miliar.

Dari sisi fundamental lainnya, perseroan masih memegang arus kas sekitar Rp337,34 miliar dengan ekuitas Rp2,01 triliun dan aset Rp2,76 triliun.

Dari sisi debt to equity ratio (DER) alias utang dibandingkan dengan modal, Siantar Top masih cukup oke dengan persentase 36,67%.

Namun, Siantar Top menjadi emiten yang jarang bagikan dividen. Dikutip dari laporan keuangan perseroan, catatan dividen terakhir pada 2004 dengan total nilai Rp11,31 miliar atau setara dengan Rp8,63 per saham.

Seteah itu, sejak 2010-2018, perseroan selalu menjadikan 100% laba bersih sebagai laba ditahan untuk memperkuat modal.

Di sisi lain, angka return on equity (ROE) alias keuntungan yang diperoleh dengan menggunakan modal dari pemegang saham sebesar 25%. Lalu, Return on asset (ROA) alias keuntungan yang diperoleh dari aset sebesar 18,19%.

Sayangnya, valuasi harga saham STTP sudah terlalu tinggi. Price earnings ratio (PER) sebesar 26,3 kali. Lalu, Price Book Value (PBV) ratio sebesar 6,58 kali. Angka itu menunjukkan sudah harga saham perseroan sudah terlalu mahal.

Entah siapa yang menggoreng dan ada aksi apa yang terjadi atas lonjakan saham STTP ini. Namun, dengan fundamental oke, saham Siantar Top kurang likuid dan jarang bagikan dividen lagi. Jadi, kurang menarik bagi investor ritel.

0Shares

The post Saham Siantar Top Melejit, Mencari Jejak Penggorengnya appeared first on SuryaRianto.

]]>
https://suryarianto.id/saham-siantar-top-melejit-mencari-jejak-penggorengnya/feed/ 0
Gojek Kenapa Sempat Viral, Fakta Siapa Penyiksa Mitra Sebenarnya https://suryarianto.id/gojek-kenapa-sempat-viral-fakta-siapa-penyiksa-mitra-sebenarnya/ https://suryarianto.id/gojek-kenapa-sempat-viral-fakta-siapa-penyiksa-mitra-sebenarnya/#respond Mon, 24 Feb 2020 07:37:44 +0000 https://suryarianto.id/?p=885 Gojek Kenapa menjadi viral pada akhir pekan lalu. Sulitnya para driver dalam menjaring penumpang menjadi salah satu penyebabnya. Ketika Jumat (21 Februari 2020) saya menggunakan jasa Gojek dan iseng menanyakan faktanya kepada sang driver. Jawaban dari sang driver cukup menarik, dia menjadi salah satu yang tidak terlalu terganggu dengan sistem baru dari Gojek tersebut. “Sebenarnya […]

The post Gojek Kenapa Sempat Viral, Fakta Siapa Penyiksa Mitra Sebenarnya appeared first on SuryaRianto.

]]>
Gojek Kenapa menjadi viral pada akhir pekan lalu. Sulitnya para driver dalam menjaring penumpang menjadi salah satu penyebabnya.

Ketika Jumat (21 Februari 2020) saya menggunakan jasa Gojek dan iseng menanyakan faktanya kepada sang driver.

Jawaban dari sang driver cukup menarik, dia menjadi salah satu yang tidak terlalu terganggu dengan sistem baru dari Gojek tersebut.

“Sebenarnya enggak susah juga cari customer sih, itu mah biasanya yang diem-diem saja, makanya jadi susah,” ujarnya sambil di perjalanan menuju tujuan.

Dia mengaku selalu menikmati dalam menunggu penumpang hingga enggak terasa sudah bisa tutup poin.

BACA JUGA: Founder AKRA Borong Sahamnya, Saatnya Kita IKutan Beli Juga?

Meskipun begitu, dia pun mengakui di Gojek lebih susah mencari penumpang ketimbang Grab.

“Memang kalau di Grab lebih mudah mendapatkan penumpang ketimbang Gojek,” ujarnya polos.

Namun, potongan bagi hasil Grab dinilai lebih besar ketimbang Gojek.

“Kalau Gojek itu potongannya sekitar 20%, nah kalau Grab di atas itulah. Jadi, bisa dikira-kira tuh berapaan,” ujarnya tanpa menjawab detail potongan bagi hasil Grab.

Dia pun menyimpulkan kedua penyedia jasa transportasi daring itu memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Jadi, para calon mitra tinggal pilih, mau mudah mendapatkan pelanggan, tapi potongan bagi hasil lebih besar atau sebaliknya susah dapat customer, tapi potongan bagi hasil rendah.

Gojek Kenapa dan Siapa yang Paling Menyiksa Mitra

Secara subjektif driver Gojek malam itu, dia menilai Grab lebih menyiksa mitra ketimbang perusahaan rintisan besutan Nadiem Makarim tersebut.

Salah satu buktinya adalah Alfamart yang sudah tidak bisa melakukan transaksi dengan OVO lagi.

“Kalau Gopay sampai sekarang masih bisa transaksi di Alfamart kan. Kalau OVO sudah enggak bisa, nyiksa di promonya soalnya,” ujarnya.

Di sisi lain, kalau Gojek memiliki fasilitas Go-Biz yang dinilainya justru menguntungkan mitra.

“Jadi, kalau toko kelontong itu pakai Gopay dan transaksinya banyak, mereka bisa untung kayak driver gitu,” ujarnya bak nyambi promo tentang fasilitas Gojek.

Di sisi lain, masalah bakar uang perusahaan rintisan memang tengah mencuat. Pasalnya, beberapa startup yang kehabisan bensin di tengah jalan akhirnya hanya bisa hidup sambil tersengal-sengal.

Klarifikasi Gojek Terkait Viralnya Miris Nasib Para Driver

Seperti dikutip dari Bisnis.com, Senior Manager Corporate Affairs Gojek Teuku Pravinanda mengaku aplikator terus melakukan pengembangan sistem untuk menunjang kebutuhan pengguna, termasuk mitra pengemudi dan konsumen.

“Sistem algoritma pembagian order di Gojek selalu memperhitungkan kemungkinan terbesar suatu order dari konsumen dapat diselesaikan,” ujarnya.

Pravinanda menuturkan sistem algoritma itu telah memasukkan berbagai aspek termasuk kebutuhan konsumen agar bisa terlayani dengan cepat. Lalu, mitra driver akan mendapatkan pesanan sesuai dengan aspek yang diperhitungkan algoritma tersebut.

“Ini demi menjaga pendapatan yang berkesinambungan serta beraktivitas lebih efektif dan efisien,” ujarnya.

Bola Salju Mekanisme Pasar

Sementara itu, saya sendiri menilai gejolak para mitra driver yang mengaku sulit mendapatkan pesanan karena mekanisme pasar yang berjalan.

Saat ini, jumlah driver terus bertambah tanpa adanya pembatasan sehingga supply menjadi lebih banyak daripada demand. Di sisi lain, promosi Gojek sudah tidak segencar sebelumnya, alhasil memengaruhi permintaan yang ada.

Belum lagi, para mitra driver yang kerap melakukan cancel untuk customer yang tujuannya agak ‘ribet’. Dengan begitu, sang driver ditandai tidak bisa memenuhi pemesanan customer sehingga jika ada pesanan ke daerah itu, sang driver tidak akan terpilih.

Selain itu, saya tidak tahu mekanisme-mekanisme lainnya. Soalnya, dulu pernah ada driver yang curhat susah sekali bisa tutup poin untuk dapat bonus.

Hal ini pun dikaitkan dengan berhentinya Gojek untuk membakar uang sehingga para mitra susah mendapatkan bonus.

Terkait hal itu belum ada bukti kuat. Intinya sih, ini semua adalah masalah bola salju yang bisa tercerai berai menghantam sispapun di akhirnya.

Jika pendapatan driver menurun, bahkan ada yang menjadi pengangguran bisa berdampak juga kepada perekonomian Indonesia secara keseluruhan. Menurut kalian, bagaimana prospek era transportasi daring ini ke depannya? Akankah ada seleksi alam demi bisa mencapai keseimbangan supply and demand?

0Shares

The post Gojek Kenapa Sempat Viral, Fakta Siapa Penyiksa Mitra Sebenarnya appeared first on SuryaRianto.

]]>
https://suryarianto.id/gojek-kenapa-sempat-viral-fakta-siapa-penyiksa-mitra-sebenarnya/feed/ 0
Saham AKRA, Ketika Founder Tambah Kepemilikan, Saatnya Ikut Koleksi? https://suryarianto.id/saham-akra-ketika-founder-tambah-kepemilikan-saatnya-ikut-koleksi/ https://suryarianto.id/saham-akra-ketika-founder-tambah-kepemilikan-saatnya-ikut-koleksi/#respond Thu, 20 Feb 2020 12:32:07 +0000 https://suryarianto.id/?p=877 Saham AKRA sudah turun hingga 22,53% sepanjang tahun berjalan ini. Namun, ada secercah harapan untuk saham eks produsen sorbitol ini ke depannya, meski dari sisi kinerja masih sangat menantang. Harga saham AKRA bisa kembali menghijau tipis 0,66% menjadi Rp3.060 per saham pada penutupan perdagangan Kamis (20/02/2020). Sebenarnya, saham AKRA mulai menarik saat perdagangan pada 18 […]

The post Saham AKRA, Ketika Founder Tambah Kepemilikan, Saatnya Ikut Koleksi? appeared first on SuryaRianto.

]]>
Saham AKRA sudah turun hingga 22,53% sepanjang tahun berjalan ini. Namun, ada secercah harapan untuk saham eks produsen sorbitol ini ke depannya, meski dari sisi kinerja masih sangat menantang.

Harga saham AKRA bisa kembali menghijau tipis 0,66% menjadi Rp3.060 per saham pada penutupan perdagangan Kamis (20/02/2020).

Sebenarnya, saham AKRA mulai menarik saat perdagangan pada 18 Februari 2020. Saat itu, harga saham naik 0,97% menjadi Rp3.100 per saham.

Sebuah angin segar untuk para pemegang saham AKRA yang masuk pada kisaran Rp3.700-an, meski penguatannya masih tergolong labil.

BACA JUGA: AKRA, Membongkar Pesona Eks Produsen Sorbitol Raksasa Dunia

Namun, kenaikan harga saham AKRA pada periode itu bukan tanpa sebab. Ada transaksi yang dilakukan oleh pemegang saham di atas 5%.

PT Artha Kencana Rayatama belanja 1,7 juta saham AKRA pada periode itu. Dengan transaksi itu, jumlah kepemilikan Artha Kencana Rayatama menjadi 10,95% dibandingkan dengan 10,91% pada periode sebelumnya.

Usut punya usut, Artha Kencana Rayatama memiliki presiden komisaris yang sama dengan AKRA, yakni Soegiarto Adikoesoemo.

Soegiarto adalah founder AKR Corporindo yang didirikan pada 1992. Jadi, bisa dibilang, transaksi ini dilakukan oleh pihak AKR sendiri.

Ketika sang founder memutuskan untuk melakukan aksi beli, akankah ada suatu aksi dari AKRA yang bisa mengerek harga sahamnya?

Prospek Saham AKRA

Salah satu prospek saham AKRA adalah lini bisnis kawasan industri. Perseroan optimistis kalau lini bisnis itu bisa mendongkrak kinerja dengan potensi tambahan tenant.

Dikutip dari Bisnis.com, Direktur AKR Corporindo Suresh Vembu mengatakan perseroan tengah bernegosiasi dengan beberapa calon tenant yang berminat untuk kawasan Industry Java Integrated Industrial Port Estate (JIIPE) di Gresik, Jawa Timur.

Tahun lalu, AKRA sudah memiliki dua penghuni baru di JIIPE, yakni PT Waskita Beton Precast Tbk. dan PT Pangan Sari Utama Food Distribution.

Selain dua perusahaan itu, PT Freeport Indonesia juga menyewa lahan seluas 103 hektare di JIIPE untuk pembangunan smelter.

Nantinya, pendapatan sewa itu bakal dimasukkan ke dalam laporan keuangan kuartal IV/2019. Artinya, bisa saja kinerja AKRA sepanjang 2019 akan lebih baik.

Pasalnya, kinerja laba bersih AKRA sampai kuartal III/2019 susut 58,75% menjadi Rp521,97 miliar dibandingkan dengan Rp1,26 triliun pada periode sama tahun sebelumnya.

Penurunan laba bersih itu selaras dengan penurunan pendapatan sebesar 10,15% menjadi Rp15,11 triliun.

Lebih miris lagi, arus kas AKRA juga minus Rp526,46 miliar. Ditambah, rasio debt to equity ratio (DER) perseroan sudah lebih dari 100%, yakni 115,17%.

Apakah AKRA Layak Koleksi?

Kalau dilihat rasio profitabilitynya, Dividend Payout Ratio (DPR) AKRA bisa dibilang cukup tinggi, yakni 127,66%. Bagi, yang mengincar laba jangka pendek, AKRA bisa menjadi opsinya nih. Apalagi, sekarang mulai masuk masa RUPS tahunan dan pembagian dividen, meski sampai kuartal ketiga kemarin laba AKRA lagi tergerus.

Dari sisi Return on Equity (ROE) AKRA berada di sekitar 9,19%, sedangkan Return on Asset (ROA) sebesar 3,9%. Artinya, AKRA hanya mampu menghasilkan keuntungan 9,19% dari total modalnya. Lalu, perseroan juga cuma bisa menghasilkan keuntungan 3,9% dari aset yang dimilikinya.

Dengan fundamentalnya itu, Price Earning Ratio (PER) AKRA sebesar 16,28 kali dengan Price Book Value (PBV) Ratio 1,5 kali. Saya tidak bisa mengatakan posisi ini sudah murah, tetapi sudah masuk ke dalam posisi layak koleksi.

Itu pun jika bisnis sektor lahan industri bisa berjalan dengan baik. Target tenant baru bisa tercapai sehingga kinerja bisa optimal dan harga saham AKRA bisa bangun lagi.

Kamu mau koleksi AKRA jadi salah satu portofolio sahammu?

0Shares

The post Saham AKRA, Ketika Founder Tambah Kepemilikan, Saatnya Ikut Koleksi? appeared first on SuryaRianto.

]]>
https://suryarianto.id/saham-akra-ketika-founder-tambah-kepemilikan-saatnya-ikut-koleksi/feed/ 0
Saham Astra, Koleksi Blue Chip yang Tengah Dirudung Badai https://suryarianto.id/saham-astra-koleksi-blue-chip-yang-tengah-dirudung-badai/ https://suryarianto.id/saham-astra-koleksi-blue-chip-yang-tengah-dirudung-badai/#respond Wed, 19 Feb 2020 12:30:26 +0000 https://suryarianto.id/?p=870 Saham Astra International terus anjlok sepanjang tahun ini. Puncaknya, pada 13 Februari 2020 ketika harga saham perusahaan multinasional itu turun tembus Rp5.950 per saham. Kira-kira, salah satu saham Bluechip ini bisa tetap jadi koleksi yang menarik enggak ya? Kini, harga saham Astra dengan kdoe ASII itu sudah bangkit lagi. Pada penutupan perdagangan Rabu (19/02/2020), harga […]

The post Saham Astra, Koleksi Blue Chip yang Tengah Dirudung Badai appeared first on SuryaRianto.

]]>
Saham Astra International terus anjlok sepanjang tahun ini. Puncaknya, pada 13 Februari 2020 ketika harga saham perusahaan multinasional itu turun tembus Rp5.950 per saham. Kira-kira, salah satu saham Bluechip ini bisa tetap jadi koleksi yang menarik enggak ya?

Kini, harga saham Astra dengan kdoe ASII itu sudah bangkit lagi. Pada penutupan perdagangan Rabu (19/02/2020), harga saham Astra International naik 2,46% secara harian menjadi Rp6.250 per saham. Namun, badai Astra tampaknya belum berhenti.

Jika melihat kinerja Astra sampai kuartal III/2019, tekanan kinerja keuangan bisa membuat harga saham ASII kembali tertekan.

BACA JUGA: Beli 4% Saham Blue Bird, Jadi Langkah Awal Gojek untuk Delisting?

Sampai 9 bulan pada 2019 saja, Astra hanya mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 1,24%. Persentase itu jauh lebih kecil dibandingkan dengan periode sama pada tahun sebelumnya yang sebesar 16,41%.

Begitu juga dengan laba bersih, Astra mencatatkan penurunan laba bersih sebesar 7,06% dibandingkan dengan kenaikan 20,37% pada kuartal ketiga 2018.

Dengan begitu, harga saham Astra pun terancam mendapatkan sentimen musiman akibat kinerja yang kurang bagus.

Saham Astra Tertekan Industri Otomotif dan Kinerja Anak Usaha yang Kurang Bergairah

Secara keseluruhan, bisnis Astra menjamah tujuh sektor usaha. Ketujuh sektor itu antara lain, otomotif, jasa keuangan, alat berat, pertambangan, konstruksi, dan energi, agri bisnis, infrastruktur dan logistik, teknologi informasi, dan properti.

Di sektor otomotif, Astra memiliki anak usaha yang sudah melantai di BEI, yakni PT Astra Otoparts Tbk. Saat ini, emiten berkode AUTO itu memiliki aset senilai Rp16,43 triliun.

Kinerja AUTO bisa dibilang sedikit lebih baik dari sisi laba bersih. Sampai kuartal III/2019, AUTO mencatatkan kenaikan laba bersih 23,69%, meski pendapatannya tumbuh melambat 1,12%.

Dari sektor jasa keuangan, Astra tengah memproses penjualan PT Bank Permata Tbk. Dengan penjualan itu, Astra harusnya memiliki dana segar yang lumayan besar.

Bangkok Bank mengakuisisi Bank permata dengan harga Rp1.498 per saham atau senilai Rp37,43 triliun. Jika dibagi dua dengan Standard Chartered, Astra mendapatkan dana segar sekitar Rp18 triliun.

Selain Bank Permata yang sudah dilepas, Astra tidak memiliki entitas di sektor jasa keuangan yang melantai di bursa.

Lalu, untuk alat berat, pertambangan, konstruksi, dan energi, Astra memiliki dua entitas yang melantai di BEI, yakni PT Acset Indonusa Tbk. dan PT United Tractors Tbk.

Namun, nasib Acset Indonusa bisa dibilang lagi kurang baik. Perseroan mencatatkan pertumbuhan laba bersih minus 924,56% pada kuartal III/2019, meski pendapatannya tumbuh 12,28%.

Pertumbuhan pendapatannya itu pun cenderung melambat dibandingkan dengan kuartal III/2018.

Hampir senasib, tapi enggak separah ACST, United Tractors atau UNTR juga mencatatkan penurunan laba bersih sebesar 4,77%. Di sisi lain, pendapatannya tumbuh melambat 7,33% dibandingkan 32,14% pada kuartal III/2018.

Dari sektor Agribisnis, Astra memiliki PT Astra Agro Lestari Tbk. Sayangnya, nasib AALI [kode Astra Agro Lestari] juga kurang bagus. Laba bersihnya minus 90,11%, sedangkan pendapatannya turun 9,99%.

Kemudian, di sektor teknologi informasi, Astra memiliki Astra Graphia. Nasibnya pun sama dengan saudara-saudara lainnya, laba bersih minus 27,69%, sedangkan pendapatan hanya tumbuh 2,82%.

Lalu, Semenarik Apa Saham Astra untuk Dikoleksi?

Melihat badai yang menerpa anak usaha, termasuk Astra Internationalnya sendiri. Apakah artinya saham Astra tidak menarik?

Untuk jangka panjang, saya masih menyarankan ASII sebagai salah satu koleksi. Pasalnya, diversifikasi sektor usaha yang sudah banyak itu punya prospek cerah ke depannya.

Apalagi, dari segi valuasi saham, ukuran emiten dengan kapitalisasi pasar Rp253,02 triliun tergolong sudah lumayan murah.

Price to earning ratio (PER) ASII sebesar 11,95 kali, meski masih di atas 10 namun level itu masih cenderung murah. Lalu, price book value ratio (PBV) ASII juga masih di level 1,77 kali.

Meskipun murah, ternyata tingkat Debt to Equity Ratio (DER) Astra lumayan besar, yakni sebesar 124,08%. Level itu sudah di atas 100%.

Apalagi, arus kas yang tersedia di ASII saat ini sekitar Rp17,61 triliun.

Melihat fundamental itu, mungkin saja harga ASII tertahan di level Rp6.000 dengan sesekali sentuh Rp5.000-an. Namun, kita perlu juga melihat prospeknya di 2020.

Jika oke, bisa saja saham ASII kembali ke level Rp8.000-an seperti akhir 2018. Artinya, saat ini bisa menjadi momentum untuk meng-average down share price atau menurunkan rata-rata harga saham ASII yang dimiliki, khusus bagi kalian yang sudah pegang Astra.

Buat yang belum, tidak ada salahnya mulai menyicil di setiap posisi harganya rendah. Kalau rata-rata harga di level Rp6.000 dan tahun ini bisa ke Rp8.000 kan lumayan bisa cuan 30%-an.

Jadi, apa kamu tertarik koleksi ASII?

0Shares

The post Saham Astra, Koleksi Blue Chip yang Tengah Dirudung Badai appeared first on SuryaRianto.

]]>
https://suryarianto.id/saham-astra-koleksi-blue-chip-yang-tengah-dirudung-badai/feed/ 0
Gojek Backdoor Listing Lewat Blue Bird? https://suryarianto.id/gojek-backdoor-listing-lewat-blue-bird/ https://suryarianto.id/gojek-backdoor-listing-lewat-blue-bird/#respond Wed, 19 Feb 2020 09:48:17 +0000 https://suryarianto.id/?p=867 Gojek backdoor listing bisa saja menjadi kenyataan setelah rumor dekakorn asal Indonesia itu mengakuisisi saham minoritas PT Blue Bird Tbk. Apalagi, isu Gojek mau backdoor listing sudah mencuat sejak 2018. Backdoor listing adalah istilah perusahaan yang ingin menikmati fasilitas pencarian dana segar lewat bursa tanpa perlu melakukan penawaran perdana. Hal ini diasosiasikan masuk lewat pintu […]

The post Gojek Backdoor Listing Lewat Blue Bird? appeared first on SuryaRianto.

]]>
Gojek backdoor listing bisa saja menjadi kenyataan setelah rumor dekakorn asal Indonesia itu mengakuisisi saham minoritas PT Blue Bird Tbk. Apalagi, isu Gojek mau backdoor listing sudah mencuat sejak 2018.

Backdoor listing adalah istilah perusahaan yang ingin menikmati fasilitas pencarian dana segar lewat bursa tanpa perlu melakukan penawaran perdana. Hal ini diasosiasikan masuk lewat pintu belakang.

Caranya dengan mengakuisisi mayoritas saham perusahaan yang sudah melantai di bursa.

Dengan begitu, perusahaan yang melakukan backdoor listing tidak perlu buka-bukaan secara detail tentang jeroannya. Misal, detail kepemilikan saham sampai kinerja keuangan beberapa tahun silam.

Gojek yang kini bervaluasi US$10 miliar sangat dinanti-nantikan untuk melantai di BEI. Banyak pemegang saham ritel bermimpi memiliki saham Gojek.

Nah, tingginya harapan Gojek untuk melantai di BEI membuat perusahaan rintisan itu dikabarkan memilih jalan backdoor listing pada 2018.

Kala itu, selentingan kabar menyeruak kalau Gojek backdoor listing dengan mengakuisisi PT Express Transindo Utama Tbk. yang memegang merek taksi Express.

Namun, manajemen TAXI pun menapik isu tersebut. Rumor itu tampaknya lebih ke strategi untuk mengerek harga saham TAXI.

Hal itu terlihat pada Maret 2018, harga saham TAXI yang berada di geng gocap alias Rp50 per saham melejit hingga Rp198 per saham. Sayangnya, kini saham TAXI kembali masuk ke dalam geng gocap.

Gojek Backdoor Listing dengan Blue Bird?

Hampir satu setengah tahun berlalu sejak rumor gojek backdoor listing, dekakorn Indonesia itu dikabarkan membeli 4,32% saham Blue Bird.

Lagi-lagi imajinasi liar saya muncul, apakah ini menjadi titik awal Gojek melantai di BEI dengan strategi backdoor listing?

Rumor Gojek akuisisi Blue Bird mencuat setelah ada keterbukaan informasi dari emiten berkode BIRD tentang penjualan saham pada 14 Februari 2020.

PT Pusaka Citra Djokosoetomo melepas 4,32% atau sebanyak 108 juta lembar saham dengan harga premium, Rp3.800 per saham pada 13 Februari 2020. Padahal harga saham Blue Bird pada penutupan perdagangan saat itu berada di level Rp2.490 per saham.

BACA JUGA: Pekan Bank BUMN RUPS Tahunan, Lebih Menarik BBRI, BMRI, atau BBNI?

Lalu, BIRD pun merahasiakan pembeli saham dalam transaksi tersebut. Hingga muncul berita dari Bloomberg kalau pembelinya adalah Gojek.

Namun, dengan pembelian sebanyak 4,32% tidak membuat Gojek resmi melakukan backdoor listing karena jumlah sahamnya masih minoritas.

Adapun, peluang itu bisa jadi terbuka di masa depan. Apalagi, Gojek dan Blue Bird baru saja memperpanjang kerja samanya yang sudah terjalin sejak 2017.

Gojek bakal resmi backdoor listing jika memegang mayoritas saham BIRD. Itu bisa terjadi kapan saja, apalagi jika dekakorn itu membutuhkan dana segar.

Strategi backdoor listing menjadi pilihan setelah kegagalan IPO UBER. Nasib UBER yang malang kini kapitalisasi pasarnya malah di bawah valuasi sebelum IPO.

Namun, apakah nasib para backdoor listingers selalu bagus?

Para Emiten Hasil Backdoor Listing

Ada beberapa emiten yang bisa dijadikan contoh kasus backdoor listing yang unik. Saya mengambil contoh empat emiten, yakni AISA, SIPD, RIMO, dan CMPP.

AISA yang kini bernama PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk. sejatinya adalah hasil bacdoor listing. Hal itu terlihat dari pilihan nama ticker dan perusahaan yang berbeda.

Tiga Pilar masuk ke BEI setelah mengakuisisi PT Asia Inti Selera Tbk., sebuah perusahaan yang merupakan produsen mie telor dengan merek Ayam 2 Telor pada 2002.

PODCAST: Harga Saham BTPS Melejit, Ini Ceritanya

Bisa dibilang bisnis Asia Inti Selera dengan Tiga Pilar punya banyak kemiripan sehingga aksi bacdoor listing cenderung sukses.

Setelah akuisisi Asia Inti Selera, Tiga Pilar mengubah namanya menjadi PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk. Lalu, PT Tiga Pilar Sejahtera justru menjadi anak usaha AISA.

Sayangnya, kini nasib AISA di ujung tanduk karena konflik internal. Bukan gara-gara karma melakukan backdoor listing sih.

Cuma, dengan aksi backdoor listing ini, para investor tidak tahu jeroan Tiga Pilar Sejahtera sebelum bergabung dengan Asia Inti Selera.

Sementara itu, PT Sierad Produce Tbk. atau SIPD menjadi kendaraan Gunung Sewu Grup untuk menyicipi renyahnya bermain di lantai bursa.

Gunung Sewu yang memilik produk Sunpride ini mengambil alih 63% saham SIPD melalui PT Great Giant Pineapple senilai Rp1,09 triliun melalui skema penerbitan saham baru pada 2015.

Menariknya, dana hasil penerbitan saham baru itu digunakan untuk obligasi wajib tukar. Obligasi wajib tukar itu pun akan dikonversi menjadi 80% saham PT Great Giant Livestock, anak usaha Great Giant Pinneapple.

Dengan begini, Gunung Sewu Grup memiliki lini usaha yang lengkap di sektor peternakan, dari ayam sampai sapi. Dengan begitu, Gunung Sewu bisa saja head to head dengan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk.

Namun, sayangnya harga saham SIPD tetap tidak berubah nasib pasca diakuisisi Gunung Sewu.

Uniknya Backdoor Listing RIMO dan Air Asia yang Batal Buka-bukaan di Indonesia

Paling menarik adalah geliat Benny Tjokrosaputro dalam menjadi pembeli siaga penerbitan saham baru PT Rimo International Lestari Tbk. Sebagai catatan, emiten berkode RIMO itu awalnya memiliki lini bisnis ritel, seperti Ramayana dkk.

Namun, rencana penerbitan saham baru itu mengarahkan RIMO untuk menjadi perusahaan properti. Mengajukan rencana rights issue atau penambahan saham baru pada 2015, aksi korporasi itu baru terealisasi pada 2017.

Awalnya, Hokindo seperti ingin melakukan backdoor listiing, tetapi rencana itu berubah setelah Benny Tjokro yang menjadi pembeli siaga penerbitan saham baru perseroan tersebut.

Total nilai dana segar hasil rights issue itu senilai Rp4,1 triliun. Namun, bentuk dananya ternyata tidak segar Rp4,1 triliun, melainkan Rp3,9 triliun dalam bentuk saham PT Hokindo Mediatama yang konon pengembang properti di Jakarta, Cianjur, Serang, Sumbawa, Kendari, Balikpapan, Pontianak, dan Bekasi.

Jadi, RIMO hanya mendapatkan dana segar sekitar Rp151,5 miliar. Nasib saham RIMO pun kini terjebak di geng gocap.

Berbeda dengan kasus RIMO, Air Asia Indonesia yang sempat berniat melakukan penawaran perdana di BEI malah memilih jalur backdoor listing.

Air Asia memilih jalur belakang karena tidak memenuhi syarat untuk melantai di BEI lewat skema penawaran perdana. Kala itu, Air Asia masih mencatatkan kerugian, sedangkan aturannya perusahaan yang IPO harus membukukan laba pada satu tahun terakhir.

Di sisi lain, Air Asia ingin segera cepat menyicipi lantai BEI sehingga jalur backdoor listing yang dipilih.

Prosesnya, Air Asia Bhd mengakuisisi PT Rimau Multi Putra Pratama Tbk. atau CMPP sebesar 48%. Dari aksi rights issue itu, CMPP akan mengantongi dana segar Rp3,4 triliun.

Lalu, 76% dana itu atau setara Rp2,6 triliun akan digunakan untuk mengambil surat berharga Air Asia Indonesia. Dengan begitu, Air Asia Indonesia pun resmi melantai di BEI tanpa perlu penawaran perdana.

Kini, nasib saham CMPP masih kena suspend oleh BEI karena jumlah saham publik masih di bawah persyaratan bursa saham di Indonesia tersebut.

Nah, melihat nasib perusahaan yang backdoor listing enggak selalu bagus begini, jika Gojek memilih jalan backdoor listing nasibnya bisa sial juga enggak ya. Bisa jadi, valuasi satu-satunya Dekakorn di Indonesia jadi anjlok.

Kalau menurut kalian, Gojek bakal pilih jalur backdoor listing enggak?

0Shares

The post Gojek Backdoor Listing Lewat Blue Bird? appeared first on SuryaRianto.

]]>
https://suryarianto.id/gojek-backdoor-listing-lewat-blue-bird/feed/ 0
Saham Bank BUMN, Pilih BBRI, BMRI, atau BBNI Nih? https://suryarianto.id/saham-bank-bumn-pilih-bbri-bmri-atau-bbni-nih/ https://suryarianto.id/saham-bank-bumn-pilih-bbri-bmri-atau-bbni-nih/#respond Tue, 18 Feb 2020 11:58:30 +0000 https://suryarianto.id/?p=861 Saham Bank BUMN layak dipantau sepanjang pekan ini. Bukan apa-apa, tiga saham Bank BUMN, yakni BRI, Bank Mandiri, dan BNI bakal menggelar rapat umum pemegang saham tahunan. Isu perombakan direksi dan komisaris mengemuka ketika RUPS tahunan kali ini. Terutama, BNI yang kini dipimpin oleh Achmad Baiquni. Tak hanya itu, posisi direksi dan komisaris Bank Mandiri […]

The post Saham Bank BUMN, Pilih BBRI, BMRI, atau BBNI Nih? appeared first on SuryaRianto.

]]>
Saham Bank BUMN layak dipantau sepanjang pekan ini. Bukan apa-apa, tiga saham Bank BUMN, yakni BRI, Bank Mandiri, dan BNI bakal menggelar rapat umum pemegang saham tahunan.

Isu perombakan direksi dan komisaris mengemuka ketika RUPS tahunan kali ini. Terutama, BNI yang kini dipimpin oleh Achmad Baiquni.

Tak hanya itu, posisi direksi dan komisaris Bank Mandiri juga rentan dibongkar pasang lagi, meski Royke Tumilaar sudah resmi menjabat dirut bank dengan kode BMRI tersebut.

Jika melihat dari kinerja 2019, pertumbuhan laba bersih ketiga Bank BUMN itu mencatatkan perlambatan.

PODCAST: Melihat Lika-liku Saham BOLA Sejak IPO hingga Saat Ini

BRI menjadi bank BUMN dengan perlambatan yang paling rendah. Laba bersih BRI sepanjang 2019 tumbuh 7,04% menjadi Rp34,41 triliun dibandingkan dengan Rp32,14 triliun pada 2018. Persentase itu lebih rendah dibandingkan dengan periode 2018 yang tumbuh sebesar 10,68%.

BNI berada di posisi kedua setelah mencatatkan pertumbuhan laba bersih 2,76% menjadi Rp15,5 triliun dibandingkan dengan Rp15,09 triliun pada 2018. Persentase pertumbuhan itu lebih rendah ketimbang 2018 yang tumbuh 9,59%.

Terakhir, Bank Mandiri yang melambat lumayan drastis. Laba bersih Bank Mandiri 2019 tumbuh 10,07% menjadi Rp28,45 triliun dibandingkan dengan Rp25,85 triliun pada 2018. Persentase itu lebih kecil ketimbang 2018 yang tumbuh 20,55%.

Secara harian per 18 Februari 2020, harga saham BNI menjadi satu-satunya yang menguat. Saham emiten berkode BBNI itu naik 0,98% menjadi Rp7.700 per saham.

Di sisi lain, saham BBRI dan BMRI turun masing-masing 1,57% dan 0,32% menjadi Rp4.400 per saham dan Rp7.825 per saham.

Secara year to date, saham Bank Mandiri yang berkode BMRI menjadi yang paling kuat dengan kenaikan 1,85%. Saham BBNI hanya menguat 0,65% dan BBRI malah stagnan.

Hasil RUPS BBRI

BBRI menjadi bank pelat merah yang melakukan RUPS Tahunan pertama pada tahun ini.

Hasilnya, Kartika Wirjoatmodjo, eks Dirut Bank Mandiri yang kini menjabat sebagai Wamen Kementerian BUMN menjadi komisaris utama BRI.

BACA JUGA: Saham Pakan Ternak, Pilih JPFA atau MAIN? CPIN Sudah Mahal Banget Euy

Komposisi direksi yang berubah hanya kepatuhan. Untuk Direktur Utama tetap dipegang oleh Sunarso.

Lalu, BBRI juga memutuskan untuk membagikan dividen senilai Rp20,62 triliun. Nilai itu lebih besar 27,52% dibandingkan dengan total dividen pada tahun lalu.

Jadi Saham Bank BUMN Mana yang Menarik?

Jika dilihat secara kinerja keuangan, tidak ada perbedaan signifikan antara ketiga bank pelat merah tersebut.

Dari segmen bisnis, hanya BBRI yang memiliki perbedaan, yakni fokus di segmen UMKM, sedangkan segmen bisnis BBNI dan BMRI bisa dibilang hampir mirip, yakni korporasi dan ritel.

Namun, dari segi rasio kredit bermasalah kotor atau NPL gross, Bank Mandiri bisa dibilang yang terbaik. Pasalnya, Bank Mandiri mencatatkan penurunan rasio kredit bermasalah pada 2019 menjadi 2,39% dibandingkan dengan 2,79% pada periode sebelumnya.

Adapun, BBRI dan BBNI justru mencatatkan kenaikan NPL gross. NPL BBRI naik menjadi 2,62% dibandingkan dengan 2,16%, sedangkan BBNI naik menjadi 2,3% dibandingkan dengan 1,9%.

Kondisi bisa mengkhawatirkan di tengah kondisi ekonomi domestik dan global yang tidak pasti. Rasio NPL itu berpotensi meningkat dengan kondisi pertumbuhan ekonomi global yang belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan.

Jika itu melihat kinerja, bagaimana dengan valuasi saham ketiga bank BUMN ini?

BBNI bisa dibilang yang paling murah dengan Price to earning ratio (PER) 9,33 kali dan Price to Book Value (PBV) ratio 1,17 kali.

BMRI menyusul di posisi kedua dengan rasio PER 13,29 kali dan PBV 1,78 kali. Lalu, BBRI menjadi yang termahal dengan PER 15,77 kali dan PBV 2,63 kali.

Melihat valuasi itu, bagi kalian yang mengincar capital gain bisa memburu BBNI atau BMRI.

Di sisi lain, jika mengincar dividen, rasio Dividen Yield BMRI menjadi yang terbesar, yakni 3,08%.

Posisi kedua ditempati oleh BBRI sebesar 3%, dan terakhir BBNI sebesar 2,61%.

Nah, bagi yang mau berbagi peruntungan capital gain dan dividen, saham BMRI bisa dibilang cukup menarik untuk dikoleksi.

Namun, berhubung ketiganya perusahaan pelat merah, faktor politik bisa memengaruhi pergerakan harga sahamnya juga. Jadi, tetap hati-hati ya.

0Shares

The post Saham Bank BUMN, Pilih BBRI, BMRI, atau BBNI Nih? appeared first on SuryaRianto.

]]>
https://suryarianto.id/saham-bank-bumn-pilih-bbri-bmri-atau-bbni-nih/feed/ 0
Saham Pakan Ternak, Pilih MAIN atau JPFA? CPIN Kemahalan https://suryarianto.id/saham-pakan-ternak-pilih-main-atau-jpfa-cpin-sudah-kemahalan/ https://suryarianto.id/saham-pakan-ternak-pilih-main-atau-jpfa-cpin-sudah-kemahalan/#respond Mon, 17 Feb 2020 12:37:00 +0000 https://suryarianto.id/?p=858 Harga saham pakan ternak lagi menanjak seiring dengan kebijakan pemerintah dalam mengendalikan harga bibit ayam. Apakah ini saat yang tepat untuk meraup capital gain atau cuan dari kenaikan harga saham emiten sektor tersebut? Emiten sektor itu memang terkenal paling labil dari segi harga saham. Soalnya, faktor permintaan dan pasokan sangat fluktuatif. Ingat kejadian peternak melepas […]

The post Saham Pakan Ternak, Pilih MAIN atau JPFA? CPIN Kemahalan appeared first on SuryaRianto.

]]>
Harga saham pakan ternak lagi menanjak seiring dengan kebijakan pemerintah dalam mengendalikan harga bibit ayam. Apakah ini saat yang tepat untuk meraup capital gain atau cuan dari kenaikan harga saham emiten sektor tersebut?

Emiten sektor itu memang terkenal paling labil dari segi harga saham. Soalnya, faktor permintaan dan pasokan sangat fluktuatif.

Ingat kejadian peternak melepas ayamnya secara cuma-cuma karena harga jual yang jatuh terlalu dalam, tetapi harga ayam dan telur bisa saja menanjak tiba-tiba ketika permintaan naik drastis.

Hal itu pula yang terjadi dengan harga saham emiten sektor tersebut.

Sebenarnya, ada empat emiten pakan ternak di BEI, yakni PT Charoen Phokphand Indonesia Tbk., PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk., PT Malindo Feedmill Tbk., dan PT Sierad Produce Tbk. Namun, dari keempat saham pakan ternak itu, hanya tiga yang cukup likuid.

Ketiga saham pakan ternak yang cukup likuid adalah Charoen Pokphand (CPIN), Japfa (JPFA), dan Malindo (MAIN).

Secara harian, harga saham CPIN naik 1,54% menjadi Rp6.575 per saham. Harga saham JPFA naik sebesar 1,34% menjadi Rp1.515 per saham. Harga saham MAIN naik 3,68% menjadi Rp845 per saham, sedangkan harga saham SIPD turun 8,99% menjadi Rp810 per saham.

Kenaikan harga saham emiten pakan ternak ini sudah mulai terjadi sejak akhir pekan lalu. Lonjakan harga saham emiten pakan ternak berkaitan erat dengan upaya pemerintah mengatur harga acuan bahan pangan pokok, termasuk bibit anak ayam usia sehari atau day old chick (DOC).

Harga bibit ayam itu dipatok dikisaran Rp5.000 sampai Rp6.000 per ekor. Harga itu dinilai ideal.

Saat ini, harga bibit ayam tengah anjlok di kisaran Rp4.000 per ekor atau di bawah harga normal.

Meskipun begitu, harga bibit ayam masih bisa bergerak sesuai dengan permintaan dan pasokan.Namun, pemerintah akan melakukan langkah pemangkasan populasi bibit ayam jika harga pasar lebih rendah atau malah terlalu tinggi di pasar.

Selain terkait harga bibit ayam, pemerintah juga mengatur harga jagung pipil kering menjadi RP4.500

Selain itu, harga acuan pembelian di tingkat petani untuk daging ayam ras dan telur ayam juga diubah dari Rp18.000 – Rp20.000 per kg menjadi Rp19.000 – Rp21.000.

Harga Saham Pakan Ternak Naik, Saatnya Jual?

Untuk masalah jual, saya menyarankan kalian pemegang saham pakan ternak tidak menanti cuan yang lebih tinggi. Alasannya, harga saham pakan ternak bakal tetap labil, apalagi sebentar lagi jelang bulan puasa dan lebaran.

Biasanya, bukannya harga saham naik, pada periode padat permintaanitu harga saham pakan ternak malah anjlok.

Namun, kalian harus lihat dulu juga apakah sudah cuan atau belum. Jika masih merugi, lebih baik tahan hingga bisa mendapatkan sedikit cuan.

Sebagai gambaran, meski harga saham emiten pakan ternak tengah naik, tetapi secara year to date belum menunjukkan kenaikan yang signifikan, malah masih minus.

PODCAST: Mengulas Jejak Saham Bali United dari Tembus Rp442 per saham Hingga Terseok-seok Menuju Rp100-an per Saham

CPIN menjadi satu-satunya saham pakan ternak yang masih memberikan capital gain sepanjang tahun ini sebesar 1,15%.

Lalu, JPFA, MAIN, dan SIPD malah cenderung masih minus. JPFA minus sebesar 1,3%, MAIN sebesar 15,92%, dan SIPD 4,7%.

Artinya, justru bisa jadi saat ini momentumnya beli jika ingin mengambil opsi jangka pendek.

Bagaimana Valuasi Harga Saham Pakan Ternak?

Jika dilihat dari segi price earning to ratio (PER) dan Price to Book Value (PBV) ratio, MAIN bisa dibilang paling murah ketimbang CPIN dan JPFA.

MAIN memiliki PER 7,28 kali dengan PBV 0,93 kali. Harga saham MAIN yang sudah anjlok 15,92% sepanjang tahun ini membuat saham daya tarik untuk membeli saham ini makin kuat.

Apalagi, MAIN juga memiliki dividen yield 4,5%. Jadi, jika pun nyangkuters selama setahunan, masih bisa menikmati dividennya.

Jika ingin menjajal yang lebih oke, JPFA bisa menjadi pilihan. Harga saham JPFA memang agak lebih mahal valuasinya ketimbang MAIN, tetapi secara fundamental lebih bagus Japfa.

BACA JUGA: Goyangan Kresna dan Salim Belom Bikin Saham Bali United Meroket

PER JPFA sebesar 12,73 kali dengan PBV 1,77 kali membuat emiten pakan ternak itu masih terjangkau untuk dibeli. Apalagi, secara sektoral, dividen yield JPFA paling besar, yakni 6,6%.

Emiten pakan ternak yang paling besar adalah CPIN, tetapi perusahaan asal Thailand itu sudah kepalang mahal.

PER CPIN sudah mencapai 31,46 kali dengan PBV 5,39 kali. Dividen yieldnya pun lebih kecil ketimbang MAIN dan JPFA, yakni sebesar 1,79%.

Jika kamu ingin membeli JPFA yang harga sahamnya kini di level Rp1.515. Artinya, minimal kalian harus menggelontorkan Rp160.000 per lotnya.

Namun, jika memilih MAIN, kamu bisa menggelontorkan sekitar Rp90.000-an per lotnya.

Tertarik bertaruh di sektor pakan ternak?

0Shares

The post Saham Pakan Ternak, Pilih MAIN atau JPFA? CPIN Kemahalan appeared first on SuryaRianto.

]]>
https://suryarianto.id/saham-pakan-ternak-pilih-main-atau-jpfa-cpin-sudah-kemahalan/feed/ 0
Saham Bali United, Goyangan Salim dan Kresna Belum Bertuah Cuan https://suryarianto.id/saham-bali-united-goyangan-salim-dan-kresna-belum-bertuah-cuan/ https://suryarianto.id/saham-bali-united-goyangan-salim-dan-kresna-belum-bertuah-cuan/#respond Sun, 16 Feb 2020 15:10:34 +0000 https://suryarianto.id/?p=854 Saham Bali United anjlok hingga 11,2% menjadi Rp222 per saham pada perdagangan Jumat 14 Februari 2020. Entah apa yang menyebabkan, satu-satunya perubahan yang terjadi di Bali United adalah kepergian Irfan Bachdim ke PSS Sleman. Memasuki tahun tikus logam tampaknya bukan menjadi periode positif bagi saham Bali United. Saham klub Bola itu malah terus turun padahal […]

The post Saham Bali United, Goyangan Salim dan Kresna Belum Bertuah Cuan appeared first on SuryaRianto.

]]>
Saham Bali United anjlok hingga 11,2% menjadi Rp222 per saham pada perdagangan Jumat 14 Februari 2020. Entah apa yang menyebabkan, satu-satunya perubahan yang terjadi di Bali United adalah kepergian Irfan Bachdim ke PSS Sleman.

Memasuki tahun tikus logam tampaknya bukan menjadi periode positif bagi saham Bali United. Saham klub Bola itu malah terus turun padahal bisa dibilang mereka cukup agresif di bursa transfer. Harga saham Bali United pun telah merosot 32,72%.

Bali United sudah mendatangkan beberapa pemain dengan label bintang maupun pemain timnas.

BACA JUGA: Bali United IPO, Ini 4 Sosok Di Balik Layarnya

Beberapa nama itu antara lain, Gavin Kwan Adsit, Hariono, dan Nadeo Argawinata. Entah sudah sesuai dengan ekspektasi pasar atau tidak, kedatangan ketiga pemain itu belum mampu mendongkrak harga saham BOLA.

Secara kepemilikan saham di atas 5%, pemegang saham emiten berkode BOLA itu memang mengalami sedikit perubahan pada perdagangan 13 Februari 2020. PT Asuransi Jiwa Kresna yang pada 24 Januari 2020 memegang 9,2% saham BOLA menyusut jadi 5,38%.

Kepemilikan Asuransi Jiwa Kresna di BOLA itu tinggal dimiliki oleh produk Unit Link Investa 4 AJK. Sisanya, kepemilikan saham Bali United dimiliki oleh Ayu Patricia Rachmat sebesar 5,25%, Miranda 5,25%, Pieter Tanuri 24,23%, PT Indolife Pensiontama 5,39%, dan PT Asuransi Central Asia 8,88%.

Selaras dengan perubahan kepemilikan di atas 5% itu, harga saham Bali United turun 12% dalam periode 24 Januari 2020 – 13 Februari 2020.

Jika dilihat secara historis awal sejak melantai di BEI pada 17 Juni 2019, harga saham BOLA memang diprediksi tidak bakal melejit drastis.

Hal itu melihat historis saham klub bola global yang sangat labil. Sentimen saham klub bola banyak dipengaruhi oleh hal non fundamental, seperti hasil pertandingan, transfer pemain, pergantian pelatih, dan polemik pendukung setia dengan manajemen.

Tulisan sebelumnya, saya menyebutkan kalau ada 4 sosok di balik Bali United sebelum IPO. Keempat sosok itu adalah Grup Salim, Pieter Tanuri, Grup Kresna, dan Grup Ascend.

Dalam prospektus, Salim masuk ke BOLA melalui PT Bali Paraga Bola, sedangkan Piter Tanuri masuk bersama saudaranya Yabes Tanuri.

Bulan Madu Saham Bali United Pasca IPO

Setelah melantai di BEI, harga saham Bali United langsung auto rejection atas (ARA) setelah melejit 69,14% menjadi Rp296 per saham. Padahal, Bali United menawarkan harga saham senilai Rp175 per saham saat IPO.

Beberapa pemegang saham di atas 5% yang tercatat di sana antara lain, PT Graha Kreasindo Prima sebanyak 5,81%, PT Bali Peraga Bola 15,67%, Ayu Patricia Rahmat 6,3%, Miranda 6,3%, dan Pieter Tanuri 13,44%.

Menariknya, di sini ada nama putri dari taipan T.P Rachmat. Ayu juga merupakan istri dari Patrick Walujo. Artinya, ada tangan taipan lain dalam Bali United.

Sehari kemudian 18 Juni 2019, harga saham Bali United kembali melonjak sebesar 25% menjadi Rp370 per saham. Perubahan kepemilikan di atas 5% terjadi pada PT Bali Peraga Bola.

Entitas yang diduga terafiliasi dengan Salim Grup itu menambah kepemilikan saham sebesar 10% menjadi 16,67%.

Keesokan harinya, 19 Juni 2019, harga saham BOLA kembali melejit 14,05% menjadi Rp422 per saham. Kenaikan itu tampaknya berhubungan erat dengan hadirnya PT Asuransi Jiwa Kresna yang memiliki saham hingga 5,01%.

Tak hanya itu, Pieter Tanuri juga menambah kepemilikan sahamnya di BOLA menjadi 13,49% dibandingkan dengan 13,44% pada periode sebelumnya.

Kemudian, pada 20 Juni 2019, harga saham BOLA melemas 10,9% menjadi Rp376 per saham. Pelemahan ini mungkin juga ada hubungannya dengan tidak ada transaksi signifikan yang terjadi di kelompok pemegang saham di atas 5%.

Hal itu bisa saja terjadi jika melihat transaksi pada 21 Juni 2019. Harga saham BOLA kembali melejit 2,65% menjadi Rp386 per saham. Padahal, Ayu Patricia Rachmat dan Miranda sama-sama mengurangi kepemilikan sahamnya di Bali United menjadi 5,25% dibandingkan dengan 6,3% pada hari sebelumnya.

Perubahan Kepemilikan Saham di Atas 5% Bali United

Nah, setelah dua bulan melantai di BEI, ada perubahan signifikan yang terjadi dalam komposisi pemegang saham Bali United.

Nama Bali Peraga Bola menghilang dari daftar pemegang saham di atas 5%. Per 2 Agustus 2019, komposisi pemegang saham BOLA antara lain, Ayu Patricia Rahmat dan Miranda masing-masing 5,25%, Pieter Tanuri 13,57%, PT Asuransi Jiwa Kresna 5,02%, dan PT Asuransi Central Asia 5,61%.

Harga saham Bali United pada 2 Agustus 2019 pun lebih rendah 1,55% menjadi Rp380 per saham dibandingkan dengan 21 Juni 2019 yang senilai Rp386 per saham.

Lompat ke 8 November 2019, harga saham Bali United kian turun. Padahal klub berkandang di Bali itu tengah berada di puncak peformanya.

Harga saham BOLA susut sebesar 5,26% menjadi Rp360 per saham dibandingkan dengan RP380 per saham pada 2 Agustus 2019.

Komposisi pemegang saham di atas 5%nya pun sedikit mengalami perubahan. Pieter Tanuri gencar menambah kepemilikan hingga 23,62%, sedangkan PT Asuransi Jiwa Kresna menghilang dari kelompok pemegang saham di atas 5%.

Lalu, PT Indolife Pensiontama dan PT Asuransi Jiwa Central Asia juga masuk menjadi pemegang saham diatas 5% dengan masing-masing memegang 5,39% dan 5,61%. Kedua perusahaan asuransi itu bisa dibilang masih punya hubungan dengan Grup Salim.

Kemudian, PT Asuransi Central Asia menambah kepemilikan sahamnya di BOLA menjadi 8,88% dibandingkan dengan 5,61% pada periode sebelumnya.

Menuju Kampiun, Harga Saham BOLA Terus Menyusut

Sampai 27 November 2019, jelang Bali United menjadi juara, harga saham BOLA malah terus turun. Harga saham BOLA susut 2,85% menjadi Rp350 per saham dibandingkan dengan Rp360 per saham pada 8 November 2019.

Di tengah penurunan itu, Pieter Tanuri terus menambah kepemilikan sahamnya di BOLA menjadi 24,23% dibandingkan dengan sebelumnya sebesar 23,62%.

Awal Desember 2019 menjadi kabar yang membahagiakan bagi Bali United karena menjadi kampiun Liga 1 Shopee musim 2018/2019. Namun, pergerakan harga sahamnya berkata lain.

Per 9 Desember 2019, harga saham BOLA malah turun sebesar 0,57% menjadi Rp348 per saham dibandingkan dengan periode 27 November 2019.

Di tengah penurunan harga saham itu, PT Asuransi Jiwa Central Asia menambah kepemilikannya menjadi 6,4% dibandingkan dengan 5,61% pada periode sebelumnya.

Nasib apes tidak henti-hentinya mewarnai harga saham BOLA. Emiten klub bola satu-satunya di Asean itu mencatatkan penurunan harga saham sebesar 7,47% menjadi Rp322 per saham pada 13 Desember 2019 dibandingkan dengan 9 Desember 2019.

Dalam periode itu, PT Asuransi Jiwa Kresna kembali masuk menjadi pemegang saham di atas 5% sebesar 9,2%. Sayangnya, masuknya Asuransi Jiwa Kresna itu nyatanya belum mendongkrak harga saham BOLA secara berkelanjutan.

Nah, apakah ada perubahan komposisi kepemilikan saham di atas 5% yang membuat harga saham Bali United anjlok hingga 11% pada periode valentine kemarin? Nantikan jawabannya besok ya.

0Shares

The post Saham Bali United, Goyangan Salim dan Kresna Belum Bertuah Cuan appeared first on SuryaRianto.

]]>
https://suryarianto.id/saham-bali-united-goyangan-salim-dan-kresna-belum-bertuah-cuan/feed/ 0
Saham Telkom yang Cuma Andalkan Telkomsel, Ini Prospek Ke Depannya https://suryarianto.id/saham-telkom-yang-cuma-andalkan-telkomsel-ini-prospek-ke-depannya/ https://suryarianto.id/saham-telkom-yang-cuma-andalkan-telkomsel-ini-prospek-ke-depannya/#respond Thu, 13 Feb 2020 11:28:58 +0000 https://suryarianto.id/?p=848 saham Telkom ditutup anjlok 2,36% menjadi Rp3.730 per saham. Sindiran Erick Thohir kepada perusahaan pelat merah itu ditenggarai menjadi salah satu faktornya. Lalu, apakah saham berkode TLKM itu tetap layak dikoleksi? Kalau mengutip Bisnis.com, Menteri BUMN Erick Thohir menyindir Telkom yang dinilai kurang melakukan inovasi di dunia teknologi. Padahal, perusahaan itu berada di sektor yang […]

The post Saham Telkom yang Cuma Andalkan Telkomsel, Ini Prospek Ke Depannya appeared first on SuryaRianto.

]]>
saham Telkom ditutup anjlok 2,36% menjadi Rp3.730 per saham. Sindiran Erick Thohir kepada perusahaan pelat merah itu ditenggarai menjadi salah satu faktornya. Lalu, apakah saham berkode TLKM itu tetap layak dikoleksi?

Kalau mengutip Bisnis.com, Menteri BUMN Erick Thohir menyindir Telkom yang dinilai kurang melakukan inovasi di dunia teknologi. Padahal, perusahaan itu berada di sektor yang sangat berdekatan dengan teknologi.

BACA JUGA: Pasca Anjlok, Mending Beli INDF atau ICBP?

Erick menuturkan Telkom itu sangat enak sekali karena 70% pendapatan diraih dari Telkomsel. Belum lagi, Telkom mendapatkan dividen dari Telkomsel.

“Kalau begini, mending Telkomsel saja yang langsung dimiliki oleh Kementerian BUMN biar dividennya lebih jelas,” ujarnya.

Erick pun menceritakan pengalamannya ketika mengurus Asian Games 2018. Kala itu, dia terpaksa menggunakan Ali Cloud untuk menyelenggarakan gelaran acara multi event tersebut.

“Bisnis seperti big data, cloud, dan sebagainya jangan sampai diambil oleh asing. Telkom harusnya bisa,” ujarnya.

Lalu, bagaimana fakta kontribusi Telkomsel kepada Telkom?

Telkom memiliki banyak anak usaha, salah satunya PT Telekomunikasi Selular atau Telkomsel. Operator selular itu pun menjadi anak usaha Telkom dengan aset paling besar.

Sampai September 2019, aset Telkomsel senilai Rp83,68 triliun, tetapi Telkom tidak memiliki 100% Telkomsel.

Perusahaan pelat merah itu hanya memiliki 65% saham Telkomsel. Sisanya, dimiliki oleh Singapore Telecom Mobile Pte Ltd.

Jika melihat laporan keuangan Telkom, pos pendapatan yang berasal dari bisnis Telkomsel memang mendominasi.

Dari 15 pos pendapatan saham Telkom, ada tiga yang merupakan bagian dari bisnis Telkomsel. Ketiga pos pendapatan itu antara lain, jaringan Telepon bergerak [seluler], internet dan data seluler, serta SMS.

Namun, pada kuartal III/2019, ketiga pos pendapatan itu berkontribusi sebesar 65,87% pendapatan Telkom. Artinya, peran Telkomsel ditubuh Telkom memang sangat signifikan.

Saham Telkom yang Bertumpu Pada Telkomsel

Tak hanya kontribusi kinerja saja yang diterima oleh Telkom dari Telkomsel. Perusahaan itu juga menikmati legitnya dividen dari Telkomsel.

Mengutip laporan tahunan Telkomsel pada 2018, perusahaan operator seluler itu mencatatkan arus kas keluar untuk dividen tunai senilai Rp27,86 triliun.

Dengan mengenggam 65% saham Telkomsel, artinya Telkom berhak atas dividen tunai itu senilai Rp18,11 triliun.

Nilai dividen tunai Telkomsel itu pun lebih besar ketimbang nilai dividen Telkom pada 2018 yang diambil dari kinerja keuangan 2017. Pada periode itu, Telkom membagikan dividen senilai Rp16,6 triliun.

Nilai dividen itu pun tidak semuanya dinikmati oleh pemerintah karena 43,02% pemegang saham dari pihak masyarakat.

Wajar saja jika Erick menilai lebih baik Telkomsel langsung di bawah Kementerian BUMN agar pendapatan ke negara lebih besar ketimbang Telkom.

Prospek Saham TLKM Selanjutnya

Meskipun begitu, masih sulit bagi Erick jika menghilangkan Telkom begitu saja. Prosesnya akan memakan waktu panjang, apalagi Telkom adalah perusahaan publik.

Namun, sindiran Erick memang menjadi masukan yang bagus buat Telkom. Soalnya, perusahaan pelat merah dengan kapitalisasi pasar saat ini senilai Rp369,5 triliun cenderung lambat berinovasi.

Bahkan, e-Commerce besutan Telkom yang merupakan hasil kerja sama dengan e-Bay, yakni Blanja.com nasibnya seperti mati segan, hidup pun tidak mau.

Di luar itu, masih banyak yang menilai saham TLKM masih layak koleksi. Apalagi, dengan adanya Telkomsel di dalamnya.

Jika dilihat dari historis fundamental keuangan, pertumbuhan pendapatan Telkom memang terus melambat sejak 2015 sampai 2018. Adapun, kinerja pendapatan kuartal III/2019 tumbuh tipis sebesar 3,46%, persentase itu masih lebih tinggi ketimbang periode sama pada 2018 yang sebesar 2,27%.

Persentase pertumbuhan itu juga jauh lebih besar daripada peforma sepanjang 2018 yang hanya tumbuh 1,97%. Artinya, pada 2019 bisa saja Telkom mencatatkan pertumbuhan pendapatan yang sedikit jauh lebih tinggi ketimbang 2018.

Sayangnya, dari sisi laba bersih perseroan mencatatkan penurunan drastis pada 2018. Pada periode itu, laba bersih Telkom susut 18,57%.

Sebelum 2018, pertumbuhan laba bersih Telkom memang mulai melambat sejak 2016. Pada periode itu, laba bersih Telkom memang melejit tinggi 24,94%, tetapi tren selanjutnya terus melambat.

Meskipun begitu, nasib kinerja laba bersih TLKM di kuartal III/2019 bisa dibilang membaik setelah tumbuh 15,65%. Jika mampu dipertahankan hingga akhir tahun, artinya pertumbuhan laba bersih TLKM akan lebih pesat dibandingkan dengan 2018.

Jadi, Beli, Jual, atau Dipantau Saja Saham Telkom Ini?

Setelah penurunan yang terjadi dalam perdagangan harian pada 13 Februari 2020, apakah harga saham Telkom sudah murah?

Saat ini, Telkom memiliki arus kas senilai Rp38,26 triliun dengan tingkat Debt to Equity Ratio (DER) 98,95%. Nilai DER TLKM itu adalah yang terendah di sektor telekomunikasi.

PT Indosat Tbk., PT XL Axiata Tbk., dan PT Smartfren Tbk. memiliki tingkat DER jauh lebih tinggi di atas TLKM.

Dengan melihat kondisi arus kas dan DERnya, saham Telkom memiliki valuasi Price to Earning Ratio 16,8 kali dan Price Book Value (PBV) ratio 3,71 kali.

Secara sektoral, TLKM menjadi saham yang paling murah dengan fundamental baik. Sisanya, Indosat dan Smartfren memiliki PER minus, sedangkan XL Axiata memiliki PER 40,45 kali, meski PBVnya 1,51 kali.

Dengan rasio valuasi itu, saham Telkom rasa-rasanya masih sangat direkomendasikan untuk dibeli. Apalagi, kalau manajemen perseroan segera berbenah setelah disindir oleh sang menteri.

0Shares

The post Saham Telkom yang Cuma Andalkan Telkomsel, Ini Prospek Ke Depannya appeared first on SuryaRianto.

]]>
https://suryarianto.id/saham-telkom-yang-cuma-andalkan-telkomsel-ini-prospek-ke-depannya/feed/ 0