Era Influencer menjadi profesi yang diimpikan anak-anak masa kini. Cukup dengan posting konten, uang sudah langsung mengalir dengan mudahnya.

Namun, itu sekadar teori, toh prakteknya pun tidak semudah itu. Para influencer harus punya jumlah pengikut dan rasio enggagement yang tinggi.

Entah berapa indikator minimal jumlah pengikut untuk seorang influencer. Soalnya, banyak pula akun media sosial di bawah 1.000 sudah berstatus sebagai influencer.

BACA JUGA: Bitcoin Antara Jadi Emas atau Sampah Digital

Di balik hingar-bingarnya, ternyata profesi influencer ini tengah terancam oleh kebijakan Instagram yang akan menyembunyikan fitur like. Padahal, like adalah indikator utama yang menandakan popularitas sebuah postingan di suatu akun.

Keputusan Instagram itu dinilai bisa mengancam karir para influencer. Bahkan, ada yang menyebutkan keputusan itu untuk meredam laju pertumbuhan influencer yang makin masif.

PODCAST: Benarkah Pusarla Sindhu Tak Punya Hati?

Soalnya, perputaran transaksi influencer sudah semakin besar, tetapi Instagram maupun Facebook tidak merasakannya sepeser pun.

Financial Times pun mencatat bisnis pemasaran lewat influencer itu tumbuh sangat gila dan nilainya bisa mencapai US$8 miliar. Namun, nilai yang besar itu bisa jadi sinyal kalau bisnis influencer sudah mencapai titik jenuhnya.

Apalagi, Instagram juga sudah mengotak-atik algoritmanya demi menahan laju jangkauan secara organik. Tujuannya, agar menarik para influencer beriklan untuk bisa mengejar target engagement yang diinginkan.

Jadi, uang para influencer pun bisa dicicipi juga oleh Instagram.

Bisnis Influencer Sudah Jenuh dan Kelelahan

Jauh sebelum Instagram akan menyembunyikan like. Karir para influencer sudah diprediksi berada di titik jenuh.

Alasannya, dari data InfluencerDB, tingkat keterlibatan jumlah suka pada akun influencer kian menurun selama setahun terakhir.

Dikutip dari Financial Times, Brendan Robinson aktor dalam drama remaja AS Pretty Little Liars mulai khawatir kelangsungan karirnya di masa depan sebagai influencer.

Dengan menjadi influencer, dia mendapatkan pendapatan dari salah satu merek asuransi dan produk es krim yang membayar sekitar ribuan dolar AS per konten untuk promosi produknya.

Namun, tingkat kejenuhan ini bisa membuat pendapatannya itu hilang.

“Saya khawatir momen influencer akan menghilang,” ujar Robinson yang tengah mempertimbangkan bikin konten podcast dan blog.

Titik jenuh era influencer juga terjadi seiring dengan kelelahannya para klien menghadapi para tokoh berpengaruh tersebut.

Amber Atherton, eks bintang televisi Made in Chelsea yang sekarang mengelola Zyper mengatakan influencer telah menggeregoti kepercayaan publik.

“Konsumen menjadi sangat bosan dan klien sudah lelah dengan ketidakjelasan industri pemasaran lewat influencer,” ujarnya.

Facebook dan Instagram Bakal Berkuasa

Jika era influencer tamat, artinya iklan digital akan benar-benar dikuasai oleh raksasa media sosial Facebook.

Kepala SOsial Global Group M Kieley Taylor mengatakan pengamat pasar menilai langkah Facebook untuk membatasi jangkauan konten sejak beberapa tahun lalu sangat tepat.

“Hal itu membuat konten yang muncul relevan dengan para pengguna,” ujarnya.

Namun, tetap saja ada nada skeptis, terutama iklan yang muncul di instastory.

Karakter konten instastory adalah 24 jam akan hilang, tetapi jika mengiklan konten itu bisa bertahan lebih lama. Ini artinya Instagram menutup peluang influencer di Instastory demi pundi-pundi lebih besar ke media sosial Grup Facebook tersebut.

Pendiri Agensi Pemasaran Clever Stefania Pomponi mengaku khawatir jika hanya Instagram dan Facebook yang menguasai pasar iklan digital di media sosial.

“Apalagi, Facebook memiliki sejarah buruk dengan data dan privasi,” ujarnya.

Influencer pun disebut tidak bisa apa-apa menghadapi kekuatan raksasa media sosial tersebut.

“Tidak ada persatuan untuk influencer agar bisa melawan,” ujar Sarah Peretz seorang influencer berusia 23 tahun.

Mitos Instagram Batasi Jangkauan dan Ketakutan Konsultan Influencer

Beberapa waktu lalu, saya mengunjungi Instagram Indonesia di kantor Facebook. Setelah dijelaskan kalau ada beberapa fakta yang menyebutkan Instagram bisa membatasi jangkauan, mereka langsung mengelak.

“Kami enggak bisa membatasi jangkauan suatu akun, semua sudah diatur lewat sistem,” ujarnya.

Dikutip dari Financial Times, Instagram juga mengelak kalau mengurangi jangkauan organik dengan cara mengubah algoritma.

“Tidak benar kalau kami melakukan ini demi mendongkrak pendapatan iklan,” ujarnya.

Untuk membuktikan itu, Instagram pun membuat fasilitas iklan konten bermerek yang bisa menghubungkan influencer dengan kliennya. Fasilitas ini disebut bisa memangkas pemain tengah atau middle man yang jadi perantara antara influencer dan klien.

Konon, Instagram juga akan meluncurkan platform yang bisa menyesuaikan kebutuhan klien dengan influencer yang dituju. Instagram disebut sudah menguji platform itu bersama 40 influencer AS.

Di sisi lain, para konsultan influencer makin ketar ketir setelah influencer menghasilkanbanyak pengikut di berbagai platform. Salah satunya, TikTok milik China.

Konsultan pemasaran Influencer di Inggris Scott Guthrie mengatakan klien besar memang ingin memasuki ruang publikasi dengan cepat, tetapi menyarankan hanya di Instagram bisa mengurangi keunggulan seorang influencer.

“Jika kamu hanya bangun di satu platform, artinya kamu hanya punya satu layanan sehingga layanan itu menjadi tidak relevan,” ujarnya.

Setelah membaca panjang lebar artikel Financial Times berjudul Have We Reached Peak Influencer? tampaknya nasib influencer masih akan difasilitasi oleh para platform media sosial.

Justru, para konsultan influencer yang terancam. Pasalnya, media sosial raksasa ingin menghapus perantara yang membuat nilai influencer bisa melonjak tajam.

Kamu masih tertarik menjadi influencer?

0Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close
Social profiles
Close