Digital marketing sempat menjadi hal yang tabu bagi saya yang tidak ingin neko-neko di dunia maya. Namun, perkembangan cepat dunia digital membuat mata saya terbelalak dan harus memulai sebelum terlambat.

Sebagai jurnalis, saya sangat memegang teguh kalau konten tidak boleh dipengaruhi oleh aroma-aroma pemasaran atau iklan, termasuk tidak peduli dengan digital marketing.

Begitu juga aktivitas blog saya yang dimulai sejak masih SMA dulu, tujuannya ingin memberikan fakta dan menyampaikan opini saya di dunia maya.

Tak pernah terpikirkan, saya bakal jualan konten lewat dunia digital. Hingga saya menjabat posisi manajer media sosial di sebuah perusahaan media massa, di situ mata saya mulai terbuka tentang kekuatan digital marketing.

Digital marketing
Suasana kantor yang masih sepi. / Pribadi

Kalau bikin parodi dari kata-kata iklan binary option Binomo, “Jutaan orang tidak menyadari potensi digital marketing, termasuk saya”

Digital Marketing dan Blogging Sejak 2006

Friendster menjadi media sosial paling tenar di Indonesia pada medio awal 2000-an. Kala itu, pelajar-pelajar dari SMP, SMA, hingga mahasiswa memadati warnet untuk bermain Friendster.

Maklum, dulu belum ada ponsel pintar, cuma ada featured phone yang bisa SMS dan telepon. Paling canggih bisa main game kayak Nokia N-Gage.

Saat itu, Friendster digunakan bukan untuk menjajakan jualan sampai melahirkan konten, tetapi sekadar mencari kenalan, terutama untuk lawan jenis.

BACA JUGA: Berikut Pilihan Makanan All You Can Eat yang Pasti Halal dan Terjangkau

Memang, saat itu saya belum pernah terpikir menjadi jurnalis atau pun mengakui suka sekali menulis. Namun, berawal dari Friendster itu tanpa sadar saya mulai menulis walaupun hal yang enggak jelas.

Puncak pertemuan saya dengan dunia blogger adalah ketika buku Kambingjantan Radityadika rilis pada 2005. Saya membacanya dan menilai nge-blog itu keren banget.

Tak hanya itu, kelahiran buku Kambingjantan juga beriringan dengan buku-buku terkait cara menghasilkan uang dengan nge-blog. Bahkan, banyak yang menyebutkan bisa menghasilkan uang dalam dolar AS.

Dengan gambaran seperti itu, saya pun menjajal provider blog gratisan, yakni Blogger alias Blogspot. Saat itu, nama Blogspot lebih mencuat ketimbang WordPress di mata para amatir.

PODCAST: Timnas Indonesia Kecanduang Naturalisasi yang Tak Bertuah

WordPress digambarkan sebagai platform untuk para profesional. Soalnya, desain logo dan tingkat kesulitannya jauh di atas Blogspot.

Disitu saya memulai brand blog Kristal-dunia.blogspot.com yang masih ada hingga saat ini. Isinya adalah tentang pendapat saya terkait Indonesia secara garis politik.

Setelah cukup banyak posting blog semasa SMA, saya melakukan kesalahan fatal ketika kuliah. Kala itu, saya memutuskan hapus tulisan semasa SMA.

Alasannya, saya merasa tulisan semasa SMA itu agak alay. Untuk itu, saya ingin membangun branding blog dari awal lagi.

Namun, setelah menghapus semua tulisan itu, saya menyesal setengah mati. Soalnya, tulisan lama justru bisa menjadi kisah historikal yang menggambarkan pemikiran saya saat muda.

Nasi memang sudah menjadi bubur, saya pun merelakannya dengan penuh penyesalan. Kini rekam jejak blog itu paling lama pada Maret 2010.

Memikirkan Menjadi Media Massa, Tutup Mata dengan Peluang Cuan (2013-2015)

Sempat bermimpi mendapatkan cuan dolar AS dari ngeblog, saya justru mengalihkannya dengan bermimpi melahirkan media massa.

Bentuknya, saya mengumpulkan tulisan dari para anonim atau masyarakat. Nanti, tulisan itu akan disortir dan dipublikasikan di blog yang saya buat.

Mungkin, saat ini bentukannya mirip IDN times. Kalau saya kembangkan lagi, mungkin saya sudah jadi founder startup media kali ya.

Saat itu, sistem blog yang mengumpulkan tulisan dari teman-teman di kampus itu lewat email. Pada blog itu, saya tuliskan bagi yang berminat tulisannya dimuat, bisa kirimkan ke email.

Sayangnya, saya lupa nama blog yang mengumpulkan tulisan dari orang lain tersebut. Soalnya, umur blognya pun seumur jagung sekali.

Selain itu, saya juga menggunakan peran Grup Facebook dan Twitter untuk menarik para calon kontributor penulis di blog tersebut.

Kalau dipikirkan sekarang agak konyol juga, itu kan blog gratisan, siapapun bisa buat, jadi siapa yang mau ngirim? namun faktanya, ada yang tertarik mengirim loh, dari cerpen sampai opini pribadi.

Blog yang mengumpulkan tulisan dari orang lain itu terhenti karena memang tidak ada yang mengirimkan tulisannya lagi. Saya pun keteteran untuk menulis di sana karena juga nulis di Kristal-dunia.

Apalagi, saat itu saya punya pendirian tulisan di Kristal-dunia tidak boleh sama dengan di blog tersebut.

Bicarakan Indonesia, Demi Negara yang Lebih Baik

Ada beberapa media yang cukup menginspirasi pada medio 2012-2013, salah satunya Good News From Indonesia atau GNFI.

Saya agak lupa berawal dari mana, tetapi ada hubungan dengan GNFI, saya bersama empat rekan kampus punya ide membangun sebuah situs yang isinya gagasan untuk negara.

digital marketing
Sosok dibalik kicauan Bicarakan Indonesia pada periode 2013. / Pribadi

Gagasan itu digambarkan seperti sedang ngobrol atau membicarakan negara sehingga lahirlah Bicarakan Indonesia.

Jika sebelumnya menggunakan Blogspot, untuk Bicarakan Indonesia menggunakan Weebly. Salah satu pendiri memilih Weebly karena pengaturan layoutnya lebih fleksibel ketimbang Blogspot.

Bicarakan Indonesia
Dua pendiri Bicarakan Indonesia, sedangkan posisi saya yang mengambil foto mereka berdua. /Pribadi

Dengan arah yang lebih serius, kami patungan untuk membeli domain dengan menggunakan CMS dari Weebly.

Untuk pengembangan Bicarakan Indonesia, kami mengandalkan Twitter. Saat itu, Twitter bisa dibilang adalah media sosial primadona.

Apalagi, banyak akun-akun seperti Triomacan yang memberikan kultwit tentang fakta-fakta politik yang menarik. Akun-akun seperti itu benar-benar digandrungi dan menciptakan opini publik.

Bicarakan Indonesia
Saya dengan stiker Bicarakan Indonesia. / Pribadi

Namun, arah Bicarakan Indonesia ini memang tidak terpikirkan sampai strategi mendapatkan uangnya. Kami hanya bersemangat untuk membangun medianya saja.

Alhasil, Bicarakan Indonesia kurang terurus karena masing-masing dari kami memiliki kesibukan lain. Saya sendiri pun juga sedang terlibat sebuah proyek lainnya ketika mengerjakan Bicarakan Indonesia.

Pamerbuku, Proyek yang Menghasilkan Uang

Di tengah pengerjaan Bicarakan Indonesia, saya juga membangun Pamerbuku pada 2013. Kala itu, tujuan Pamerbuku didirikan untuk memberikan informasi tentang industri buku dan dunia literasi.

Harapannya, Pamerbuku bisa menjadi acuan para pecinta buku untuk mencari ulasan buku atau tentang fakta industri buku dan minat baca di Indonesia.

pamerbuku
Para pendiri pamerbuku. / Pribadi

Saat itu, saya memiliki tim yang lebih beragam dari segi latar belakang pendidikan. Saya menggandeng rekan kampus dari ilmu kehumasan yang juga satu tim saat di pers mahasiswa.

Dalam pengembangan proyek Pamerbuku, kami memanfaatkan Facebook, Twitter, dan Instagram. Namun, fokusnya tetap menggunakan Twitter karena sedang menjadi primadona saat itu.

Sebelum situsnya lahir, kami mencoba pre launch dengan menampilkan konten kultwit di akun Twitter. Responsnya cukup bagus, banyak yang menantikan kultwit kami yang memiliki rubrik berbeda, tetapi tematik setiap harinya.

Jika Bicarakan Indonesia masih menggunakan Weebly, proyek Pamerbuku ini lebih serius lagi. Kami menggandeng mahasiswa IT dari universitas sebelah untuk membuat CMS sendiri dan desain web custom.

Total biaya yang dikeluarkan untuk semua pengerjaan itu cukup murah, yakni sekitar Rp1 juta.

Tak hanya serius lewat situsnya saja, kami juga sampai membuka perekrutan secara terbuka alias umum. Saat itu, cukup banyak yang melamar dari berbagai kampus.

Akhirnya, tim kami yang berawal dari 5 orang bertambah menjadi sekitar 20 orang.

Dengan tim yang lebih banyak, kami pun mulai agresif. Selain terus branding di media sosial alias lewat digital, kami juga membuka peluang branding secara luring.

Kompas Muda
Menjadi penyelenggara acara Kompas di Kampus kami. / Pribadi

Saat itu, tim Kompas Muda mengajak kerja sama untuk mengadakan acara di kampus. Nah, kami mengambil alih itu dan mendapatkan pendapatan lumayan serta branding yang cukup luas.

Apalagi, di acara puncak, kami juga mendapatkan booth sehingga bisa memperkenalkan Pamerbuku ke dunia luar.

Total pendapatan dari acara itu sekitar Rp2 juta. Dana itu pun rencanya akan digunakan untuk lebih ekspansif ke depannya.

Pamerbuku, Bingung Mau Dibawa Kemana

Geliat startup pada medio 2013-2014 sudah mulai muncul kepermukaan, disitulah kami bermimpi Pamerbuku bisa menjadi startup besar ke depannya.

Sayangnya, kami semua tak lebih dari para amatiran yang bingung menentukan arah. Alih-alih mengembangkan Pamerbuku dengan strategi digital marketing yang mumpuni, kami malah berdebat.

Pamerbuku
Booth Pamerbuku di acara puncak Lego Ergo Scio. / Pribadi

Saat itu, rekan saya yang berlatar kehumasan sempat ingin melepas brand Pamerbuku ke pihak tender taman baca di Bandung. Jadi, Pamerbuku akan menjadi platform taman baca tersebut.

Lalu, kami selaku pendiri akan menjadikan Pamerbuku sebagai portofolio untuk mengembangkan agency ke depannya.

Saya yang paling tua di tim itu menolak keras. Alasannya, kami sudah membangunnya susah payah masa mau dilepas begitu saja.

Keputusan ini bisa jadi sebuah blunder, tetapi melihat perkembangan taman bacanya juga enggak jelas mungkin sebuah keputusan bagus.

Namun, keputusan menolak skema agency itu bisa jadi adalah yang fatal. Kami bisa saja menjadi agency dengan portofolio Pamerbuku, tetapi saya yang gila nulis dan ilmu jurnalistik berkeras hati menolak rencana itu.

Alhasil, Pamerbuku tinggal kenangan meskipun beberapa kali dicoba selamatkan. Sayangnya, kesibukan para pendiri membuat semangat mengembangkannya meredup.

Bloger yang Lebih Profesional

Di tengah perkutatan terkait nasib Pamerbuku, saya mencoba branding blog baru dari Kristal-dunia menjadi ruangsurya. Jika dulu menggunakan Blogspot, kini saya memilih WordPress.com yang lebih kece.

Di tengah menggunakan platform gratisan itu saya melihat iklan Domainesia yang menawarkan domain gratis. Alhasil, ada niat dari hati untuk membuat aktivitas nge-blog ini lebih serius, yakni dengan memiliki domain dan hosting sendiri.

DomaiNesia

Apalagi, Domainesia juga memasangkan cms sehingga pengguna tidak perlu repot-repot install di Cpanel. Saat itu, saya pilih WordPress.org, meskipuns sempat tertarik dengan Ghost.

Ruangsurya.wordpress.com pun beralih menjadi ruangsurya.id. Isinya membahas hobi sampai opini dan cerita-cerita tentang kehidupan saya.

Melihat harga hosting yang murah ditambah domain gratis. Saya sempat menambah situs blog lainnya, yakni Channelekonomi.com yang juga dibeli dari www.domainesia.com/hosting . Selain itu, Pamerbuku.com juga sempat dibangkitkan lagi dengan jasa Domainesia walaupun nasibnya tetap meredup lagi.

Dengan memiliki dua situs, yakni ruangsurya.id dan channelekonomi.com, saya sempat membuat fokus tersendiri. Ruangsurya fokus untuk bulu tangkis, sedangkan Channelekonomi fokus untuk investasi dan bisnis.

Kedua situs itu pun saya pasang adsense dengan harapan ada tambahan pendapatan, minimal untuk biaya perpanjangan hosting dan domain.

Namun, beban pembuatan konten keduanya cukup berat. Pendapatan dari adsense pun tidak seberapa.

Masuk ke beberapa grup komunitas, mereka merekomendasikan pendapatan berasal dari content placement, tetapi untuk bisa itu tidak mudah. Situs blog harus memiliki tingkat domain authority dan page authority di level tertentu.

Perkenalan Lebih dalam Dengan SEO

Saya sempat berada satu tim dengan SEO kantor tempat saya bekerja. Disitu, mata saya tentang SEO mulai terbuka, dari membangun backlink hingga teknis tulisan dan settingan blog sangat menentukan.

Di sisi lain, saya memutuskan untuk mematikan channelekonomi.com dan fokus di ruangsurya. Sayangnya, struktur ruangsurya ini sudah berantakan sekali.

Alhasil, saya putuskan matikan ruangsurya dan bangun brand blog baru, yakni suryarianto.id. Hosting dan domainnya tetap beli di Domainesia lagi karena terpercaya dan layanannya cepat serta sangat membantu.

Di sini, saya mulai membuat tulisan dan membangun backlink demi struktur fundamental situs blog yang lebih kuat. Harapannya bisa menjadi digital marketing amatir yang bercuan.

Saya pun mencari cara agar dari blog ini bisa mendapatkan pundi-pundi cuan. Salah satunya dengan meningkatkan fundamental blog agar bisa ikut proyek-proyek para komunitas blogger.

Integrasi blog dengan media sosial dan podcast pun diupayakan untuk meningkatkan penyebaran tulisan dan perkenalan ke orang lain.

Sejauh ini, upaya mendongkrak fundamental situs blog saya masih berlanjut. Integrasi dengan media sosial untuk penyebaran konten pun terus diupayakan.

Jika sudah makin besar dan trafik makin tinggi, bukan tidak mungkin saya akan melirik produk virtual private server (VPS) dari Domainesia yang ada di Domainesia.com/VM

Jadi, cloud VPS itu adalah server virtual yang berbeda dengan shared hosting. Penggunanya akan memiliki tempat khusus untuk instal aplikasi dan menggunakan semua sumber cloud VPS sendirian.

Semoga sukses untuk saya dan kalian semua para penggiat digital marketing dan pengguna Domainesia.

Pengalaman dengan Affiliate marketing

Ada beberapa pendapatan yang bisa diperoleh dari blog, yakni Adsense, Affiliate marketing, dan content placement. Saya pernah mencoba Adsense dan hasilnya agak engap biar bisa nyairin uang minimal Rp1,5 juta, wong sehari aja cuma dapat Rp1.000 sampai Rp5.000.

Selain itu, saya juga pernah mencoba Affiliate marketing di beberapa tempat, salah satunya Domainesia. Hasilnya, hanya di Domainesia saya bisa mendapatkan uang berbentuk saldo di Domainesia.

Itu pun didapatkan setelah istri saya ingin membuat blog. Akhirnya, saya tawarkan saja lewat kode refferal saya.

Selain itu, saya belum lagi mendapatkan konversi. Kalau liat analyticsnya sudah ada 237 orang yang ngeklik sih, tetapi yang konversi cuma satu.

DomaiNesia
0Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close
Social profiles
Close