Syarat tahanan kota eks Bos Nissan yang makin berat sampai sulit bertemu istrinya ternyata membuat eks bos Nissan itu menggila. Dia melarikan diri dari kediaman sementara di Tokyo menuju Libanon. Perjalanan Ghosn benar-benar seperti kisah dalam film pelarian diri dari tahanan, meski dia lari dari kediaman sementara.

Seperti dikutip dari Bloomberg, Carole, istri Ghosn, langsung menuju Tokyo ketika tahu suaminya ditahan untuk kedua kalinya.

LANJUT KE SERI-3: Carlos Ghosn, dari Bos Nissan Sampai Jadi Buron Pemerintah Jepang (3)

“Mereka [Penuduh Ghosn] telah menghancurkan hidup kami, kami akan mengingat itu selamanya,” ujar Carole pada November 2019.

Syarat bebas Ghosn yang juga termasuk bertemu dengan istrinya membuat Carole makin tertekan. Bayangkan, Carole hanya punya kesempatan berbicara dengan suaminya selama 1 jam.

“Bayangkan, bicara dengan suami hanya 1 jam, itu tidak akan cukup,” tegasnya.

Carole makin tertekan setelah mengetahui persidangan selanjutnya baru dilakukan pada 2021. Artinya, ada waktu sekitar 1 tahun lebih suaminya harus menjadi tahanan bebas bersyarat di mana sangat sulit untuk bertemu istrinya lebih lama.

PODCAST: Seberapa Kuat Skuad PBSI 2020?

Ghosn pun masih merasa dirinya tidak bersalah sama sekali. Namun, peluang Ghosn bisa membuktikan itu sangat kecil.

Jaksa Jepang bisa dibilang memiliki catatan statistik bisa memenangkan 99% kasus dan mendapatkan keuntungan dari situ. Apalagi, ancaman hukuman Ghosn bisa mencapai satu dekade dengan nilai aset yang menggiurkan.

Ini mengingatkan dengan salah satu serial dorama Jepang berjudul Legal V di mana ada firma hukum yang mendukung korporasi apapun posisinya antara salah dan benar.

BACA JUGA: Carlos Ghosn, dari Bos Nissan sampai Jadi Buronan Jepang (1)

Untuk itu, Ghosn yang memiliki tiga kewarganegaraan, Prancis, Brasil, dan Libanon, pun meminta bantuan ke ketiga negara itu. Hasilnya, hanya Libanon yang tertarik, itu pun tak berhasil juga.

Namun, Ghosn melihat peluang besar saat jelang libur tahun baru. Dia memutuskan untuk melakukan perjalanan ilegal saat natal dan tahun baru kemarin.

Bantuan Ghosn dari Rekan Senasib

Nasib Ghosn makin tertekan setelah pihak Nissan menyewa perusahaan swasta untuk memantau gerak-gerik eks bosnya tersebut. Namun, bak menemukan oase di gurun pasir, Ghosn menemukan peluang besar di tahun baru.

Di Jepang, tahun baru adalah momentum liburan terpanjang di sana. Ghosn menilai itulah peluang dirinya bisa keluar dengan menghindari beberapa pihaknya yang terus memantaunya.

Rencana pelarian Ghosn tidak sendiri, kabarnya dia mengajak Taylor, eks pelatih pasukan khusus Amerika Serikat (AS) di Afganistan. Ada dua kemungkinan Taylor memutuskan untuk membantu Ghosn.

Pertama, nasib karirnya sama dengan Ghosn. Setelah menjadi pelatih pasukan khusus AS dengan kontrak US$54 juta, dia didakwa menghalangi penyelidikan terhadap komplotan yang memberikan nilai kontrak di Afganistan dengan nilai berlebihan.

Taylor yang tak berdaya pun mengakui kesalahan dan di penjara selama dua tahun penjara. Namun, itu bukan pengakuan bersalah pertamanya, Taylor pernah mengaku bersalah atas pelanggaran ringan pada 1997 di kantornya.

Selain itu, Taylor berada dalam satu komunitas kristen bersama Ghosn. Hal itu terjadi saat dia dikerahkan mengurus perang sipil di Beirut. Dari sana, Taylor kenal dengan Ghosn yang merupakan anggota komunitas terkemuka.

Nah, Taylor tidak sendirian dalam membantu pelarian diri Ghosn dari Jepang. Dia dibantu oleh pria asal Libanon George-Antoine Zayek. Taylor mengenal Zayek sejak 1980-an sebagai seorang komunitas kristen militan.

Petualangan Ghosn, Taylor, dan Zayek

29 Desember 2019, Taylor dan Zayek tiba di bandara Kansai, di dekat Osaka dengan pesawat Bombardier Global Express Jet, pesawat yang memiliki jangkauan terbang hingga 11.000 km. Pesawat itu mendarat di terminal pesawat jet pribadi Bandara Internasional Kansai, Osaka.

Lewat pantauan CCTV, Ghosn juga bergerak ke luar kediaman sementaranya dengan menggunakan masker untuk operasi yang biasa digunakan untuk menghalau debu, serta topi pada hari yang sama. Ghosn disebut naik kereta cepat dari Stasiun Shinagawa Tokyo menuju Osaka pada pukul 04:30 pagi.

Malamnya, pesawat Bombardier Global Express Jet yang dibawa Taylor dan Zayek terbang landas ke Istanbul. Pesawat itu tidak langsung menuju ke Beirut, Libanon, karena penerbangan ke sana cenderung sepi sehingga berpotensi terdeteksi.

Menariknya, ada perkiraan kalau Ghosn masuk ke pesawat tidak sebagai penumpang resmi. Soalnya, jika menjadi penumpang resmi dia harus melewati berbagai tim keamanan dan pengawasan.

Ghosn disebut masuk ke dalam kotak besar yang harus disimpan di bagasi kargo. Pukul 22:10, pesawat jet pribadi itu pun mengudara. Ghosn pun keluar dari kotak itu dan duduk menjadi penumpang di pesawat Taylor dan Zayek.

Pesawat Bombardier itu membutuhkan waktu lebih lama untuk ke Istanbul, sekitar 12 jam. Alasannya, mereka berhati-hati memilih rute.

Taylor dan Zayek menghindari jalur Korea Selatan yang memiliki perjanjian ekstradisi dengan Jepang. Mereka membawa Ghosn melewati Rusia untuk bisa sampai di Istanbul.

Rusia pun dipilih karena Ghosn punya reputasi baik di sana. Dulu, Ghosn sempat menyelamatkan AvtoVAZ, produsen mobil asal Uni Sovyet yang sempat bermasalah. Kini, produsen mobil itu menjadi bagian dari aliansi Renault-Nissan.

Jika pesawatnya menghadapi hadangan di Rusia, Ghosn berharap adanya simpati dari pihak Negeri Beruang Merah yang tersisa itu.

0Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close
Social profiles
Close