Carlos Ghosn bak menjadi aktor utama film Escape 3 ketika berhasil melarikan diri sebagai tahanan rumah di Jepang menuju Libanon. Eks bos Nissan yang dihukum penuh dengan kontroversi itu memilih ke Libanon karena merasa dicurangi oleh hukum di Jepang.

23 Februari 2017, Carlos Ghosn mundur dari posisi chief executive officer (CEO) Nissan dengan karir yang gemilang. Masuk ke Nissan sejak 1999, Ghosn mampu menyelamatkan merek mobil asal Jepang itu dari kebangkrutan.

LANJUT KE SERI-2: Carlos Ghosn, dari Bos Nissan sampai Jadi Buronan Jepang (2)

Dikutip dari Tirto.id, Ghosn juga berhasil membawa masuk Mitsubishi untuk bergabung dengan aliansi Nissan-Renault pada 2017. Alhasil, penjualan ketiga aliansi otomotif besar dunia itu mencatatkan penjualan tahunan sebanyak 9,3 juta unit pada tahun tersebut.

Setelah mundur dari posisi CEO Nissan, Ghosn tetap berada di sana sebagai komisaris. Namun, Ghosn akan lebih mengurusi Renault sebagai CEO. Si tukang jagal julukan Ghosn ke Renault demi memadukan aliansi perusahaan otomotif itu makin kompak.

LONCAT KE SERI-3: Carlos Ghosn, dari Bos Nissan sampai Jadi Buron Pemerintah Jepang (3)

Pengetatan aturan emisi menjadi tantangan besar aliansi tiga merek produk otomotif tersebut. Untuk itu, dia berencana mengintegrasikan mesin dengan gearbox untuk produk otomotif aliansinya.

Ghosn percaya aliansi tiga perusahaan otomotif itu tak sekadar memangkas biaya, tetapi juga bisa meningkatkan daya saing untuk produksi mobil listrik dan swakemudi.

Di tengah rencana itu, muncul wacana merger antara Renault dan Nissan yang diutarakan oleh Ghosn. Namun, konon pihak Jepang menolak rencana merger dua perusahaan otomotif terkemuka dunia tersebut.

Momen Bandara Haneda yang Tak Bisa Dilupakan Carlos Ghosn

 19 November 2018 mungkin menjadi momentum yang tak terlupakan bagi Ghosn. Bagaimana tidak, baru saja mendarat di Bandara Haneda, Tokyo, Ghosn bersama Direktur Perwakilan Greg Kelly langsung ditangkap tim Jaksa Jepang.

Tuduhannya, Ghosn dan Kelly telah melakukan manipulasi pendapatan Ghosn di Nissan selama lima tahun sejak 2010-2015. Selama lima tahun itu, Ghosn melaporkan pendapatannya ke pajak sekitar 4 miliar yen. Padahal, pendapatan sesungguhnya adalah sekitar 9 miliar yen.

PODCAST: Seberapa Kuat Skuad PBSI 2020? Ini Jawabannya

Jaksa Jepang mengaku informasi penyelewengan itu didapatkan dari salah seorang whistleblower yang dirahasikan sosoknya.

Penangkapannya itu membuat Ghosn ditendang dari kursi komisaris Nissan dan Mitsubishi, sedangkan Renault masih mempertahankannya sambil menunggu perkembangan kasusnya saat itu.

Nissan menganggap kasus Ghosn itu sangat serius. Menurut pengawas sekuritas di Jepang, Securities and Exchange Surveillance, kejahatan pemalsuan laporan tahunan bisa dikenakan denda hingga 700 juta yen.  

Setelah ditangkap Jaksa, Ghosn pun dikirim ke penjara. Menurut Tribun, penjara Ghosn akan sama dengan tahanan lainnya alias tidak ada perbedaan bagi eks CEO penyelamat Nissan tersebut.

Penjara Ghosn berukuran 2,5 meter x 3,5 meter standar Jepang dengan satu tempat tidur single, tempat buang air besar, wastafel, dan tatami.

Di balik penangkapan Ghosn itu, Nissan bisa mengambil alih dua dari tiga hak representasi dari Renault. Soalnya, dua hak representasi itu dimiliki oleh Ghosn dan Kelly, sedangkan Nissan hanya memiliki satu hak representasi yang dipegang oleh Hiroyuki Nishikawa.

Kebebasan Bersyarat Ghosn yang Sesaat

100 hari di ruangan 2,5 meter x 3,5 meter mungkin menjadi hal terberat Ghosn. Sang eks bos Nissan itu akhirnya bebas bersyarat dari penjara Jepang dengan mengeluarkan jaminan yang tak sedikit jumlahnya.

6 Maret 2019, Ghosn akhirnya bebas dari penjara Jepang setelah memberikan jaminan senilai US$9 juta. Dengan jaminan itu, Ghosn tidak serta merta bebas begitu saja, ada syarat yang harus dipenuhinya. Ghosn akan tinggal di Jepang dengan kamera pengintai dan komputer yang tanpa akses internet.

Jelang kebebasannya, Ghosn membuat kehebohan dengan mengenakan pakaian pekerja konstruksi, topi biru, dan jaket kerja dengan garis-garis kuning. Kehadiran Ghosn dengan pakaian itu sempat dianggap sebagai humor dari sang eks bos Nissan tersebut.

Sayangnya, 4 April 2019 Jaksa Jepang kembali datang ke kediaman sementara Ghosn di Tokyo. Mereka membawa sang eks bos Nissan itu dengan mobil. Seorang wartawan AFP yang berada di depan rumah Ghosn melihat ada beberapa pria dengan pakaian gelap serta polisi yang berpatroli.

Ternyata, jaksa ingin memeriksa Ghosn terkait kasus penyelewengan dana transfer senilai US$32 juta milik Nissan ke distributor di Oman. Bahkan, ada klaim kalau dana yang diselewengkan itu digunakan untuk pembelian kapal mewah untuk keluarganya.

Ghosn mulai memanas atas penangkapannya ke dua. Pada 9 April 2019 atau beberapa hari setelah penangkapan merilis video yang mengisahkan penangkapan dirinya adalah konspirasi dari eksekutif Nissan.

Namun, hasil pengadilan tidak membawa Ghosn kembali ke penjara setelah menggelontorkan jaminan US$4,5 juta pada 25 April 2019. Namun, status bersyaratnya makin ketat dari dilarang ke luar negeri sampai perlu izin jika ingin bertemu istrinya.

Tak lama setelah itu, Renault mengungkapkan kalau ada pengeluaran misterius 11 juta euro dari perusahaan bayangan Renault Nissan BV. Pengeluaran itu kabarnya digunakan Ghosn yang salah satunya untuk pembayaran perjalanan pesawatnya.

0Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close
Social profiles
Close