Bukalapak kembali membuat heboh setelah aplikasinya tidak ada di Playstore. Sebelumnya, salah satu unikorn Indonesia itu sempat mencuat gara-gara isu pemutusan hubungan kerja. Berikut fakta-fakta terkait perusahaan rintisan yang didirikan oleh Achmad Zaky tersebut.

DENGERIN PODCAST BACOT BADMINTON YUK

Kehebohan muncul pada Kamis (19/09/2019) pagi setelah aplikasi aplikasi startup besutan Achmad Zaky itu hilang dari Playstore. Namun, akun Twitter @BukaBantuan menjelaskan hal itu disebabkan adanya pembaruan sistem di aplikasi marketplace tersebut.

BukaBantuan pun menyebutkan, Bukalapak tetap bisa diakses melalui webnya di Bukalapak.com

Selain masalah hilangnya dari Playstore, Unikorn asal Indonesia itu juga didera isu pemutusan hubungan kerja (PHK). Pihak startup itu pun mengakui tengah menata ulang dan itu menjadi strategi perusahaan rintisan tersebut.

Harapannya, penataan ulang itu bisa membuat bisnisnya bisa terus berkelanjutan untuk jangka panjang.

Kontribusi Pendapatan ke EMTK Turun

Dari laporan keuangan kuartal II/2019 PT Elang Mahkota Teknologi Tbk.,  kontribusi pendapatan Bukalapak ke EMTK  selaku entitas asosiasi mencatatkan penurunan sebesar 41,39% menjadi Rp69,76 miliar dibandingkan dengan Rp119,05 miliar pada periode sama tahun lalu.

Sebelumnya, kontribusi Bukalapak terhadap pendapatan konsolidasi EMTK terus melejit sejak 2017 setelah melonjak sebesar 322,4% menjadi Rp81,07 miliar dibandingkan dengan Rp19,19 miliar pada 2016. Kontribusi pendapatan Bukalapak ke EMTK makin tinggi pada 2018 setelah naik  266,41% menjadi Rp297,07 miliar.

BACA JUGA: Mau Internetan Lancar di Luar Negeri, Ini Perbandingan Untung Rugi Mifi vs Paket Data Roaming Internasional

Sayangnya, di tengah penurunan kontribusi pendapatan, Bukalapak justru mencatatkan kenaikan kontribusi kepada beban pokok pendapatan ke EMTK. Kontribusi beban pokok pendapatan startup itu ke EMTK melejit 883,05% menjadi Rp37,73 miliar. 

Nilai itu memang jauh lebih besar ketimbang kontribusi beban pokok pendapatan pada 2016 yang baru senilai Rp9,39 juta. Kontribusi beban pokok pendapatan ke EMTK terus meningkat pada 2017 menjadi Rp3,53 miliar, sedangkan pada 2018 senilai Rp12,63 miliar. 

Perjalanan EMTK di Bukalapak

Dari data CB Insights, Emtek Group mulai masuk ke Bukalapak sejak pendanaan Seri B pada 4 Februari 2015 dengan nilai yang dirahasiakan.

Laporan keuangan EMTK pada 2016 pun mencatat, perseroan masuk ke Bukalapak melalui anak usaha PT Kreatif Media Karya. Pada Agustus 2015, EMTK memiliki 49% saham startu tersebut. Jumlah kepemilikan EMTK terus bertambah hingga 11 Agustus 2017 menjadi 49,21%.

Namun, kepemilikan EMTK turun menjadi 36,86% pada Juni 2018. Sampai Januari 2019, kepemilikan EMTK di salah satu Unikorn di Indonesia itu sebesar 35,18%.

Sepanjang sebulan terakhir, harga saham EMTK pun sudah turun sebesar 26,02% menjadi Rp5.400 dengan kapitalisasi pasar senilai Rp30,46 triliun.

Investor di Balik Bukalapak

Selain EMTK, ada dua pemegang saham Bukalapak lainnya, yakni Ant Financial dan GIC [Gonverment of Singapore Investment Corporation].  

Ant Financial mulai masuk ke perusahaan yang didirikan Achmad Zaky itu pada Agustus 2017 setelah menyuntikkan dana senilai US$1,1 miliar. 

Di sisi lain, menurut catatan CB Insight, Bukalapak mendapatkan beberapa pendanaan setelah seri B dari EMTK tersebut. Salah satunya,  500 Accelerator senilai US$50.000 pada 6 Agustus 2015. 

Kemudian, Bukalapak juga mendapatkan pendanaan seri C dari investor yang tidak mau disebutkan pada 16 November 2017. Pendanaan seri C itulah yang mengerek valuasi Bukalapak tembus US$1 miliar atau resmi menjadi Unikorn

Teranyar, Bukalapak mendapatkan pendanaan seri D senilai US$50 juta dari Mirae Asset Financial Group pada 16 Januari 2019.

Secara keseluruhan, investor yang sudah buka-bukaan mendanai Bukalapak sebanyak 8 institusi, termasuk EMTK, Mirae, dan 500 Accelerator.

Pertama, Batavia Incubator yang berasal dari Indonesia menjadi pemberi dana pertama kepada perusahaan rintisan Achmad Zaky tersebut.

Kedua, ada perusahaan modal ventura asal Jepang STRIVE yang pertama kali masuk pada 11 November 2012.

Ketiga, ada IREP, perusahaan asal Jepang yang masuk sejak 2014. IREP dan STRIVE ikut tergabung dalam konsorsium pendanaan seri A Startup tersebut.

Anggota konsorsium pendanaan seri A startup yg terafiliasi dengan EMTK itu lainnya, yakni Aucfan, perusahaan asal Jepang dan 500 Startups. perusahaan modal ventura asal Amerika Serikat.

0Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close
Social profiles
Close