Bukalapak kini sudah ditinggal oleh seluruh para pendirinya. Punya irisan antara Alibaba dengan Softbank, akankah ada peluang perusahaan yang didirikan oleh Achmad Zaky dan kawan-kawannya itu dimerger dengan Tokopedia?

Isu unikorn itu bakal dimerger dengan e-Commerce lainnya sudah mulai mencuat sejak semester II/2019. Kala itu, Bukalapak disebut bakal dimerger dengan Lazada oleh Alibaba, tetapi tentu kedua belah pihak membantah rencana tersebut.

Rencana merger mencuat setelah perusahaan e-Commerce itu mengalami masa cukup sulit sepanjang 2019. Perusahaan besutan Achmad Zaky itu harus melakukan PHK demi melakukan efisiensi.

BACA JUGA: Telkom Minta Pendiri Bukalapak Kembangkan Bisnis Digital

Ditambah, pada akhir 2019, sang pendiri mengundurkan diri dari posisi Chief Executive Officer (CEO). Rachmat Kaimuddin menjadi pengganti sang pendiri di posisi CEO.

Achmad Zaky pun dikabarkan akan membuat yayasan, tetapi kabar teranyar dia membuat Init-6 yang membantu pendanaan tahap awal bersama eks Chief Technology Officer Bukalapak yang juga pendiri Nugroho Herucahyono.

Teranyar, Fajrin Rasyid yang juga pendiri unikorn itu harus cabut setelah digaet PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk. untuk menjadi Direktur Pengembangan Bisnis Digital di sana.

Namun, jalan unikorn itu untuk merger dengan siapapun itu, termasuk Tokopedia, harus melewati persetujuan PT Elang Mahkota Teknologi Tbk. (EMTK) yang kini memegang 35,22% saham sang unikorn.

Jejak Investasi Emtek di Bukalapak

PT Elang Mahkota Teknologi Tbk. masuk ke Bukalapak via PT Kreatif Media Karya (KMK). Perusahaan dengan sebutan Emtek itu masuk menjadi pemimpin konsorsium pendanaan seri B dengan nilai yang dirahasiakan.

Namun, dari laporan keuangan Emtek terdeteksi berapa angka investasi perusahaan yang membawahi SCTV itu ke Unikorn tersebut. Emtek masuk ke perusahaan besutan Achmad Zaky sejak 2014 dengan nilai investasi Rp29,41 miliar. Pada periode kuartal I/2015, Emtek menambah suntikan investasi ke Bukalapak senilai Rp123,69 miliar.

Dengan total investasi itu, Emtek memiliki 42,74% saham Bukalapak. Dari sini, artinya total modal disetor seluruh pemegang saham sekitar Rp300 miliar.

Di akhir 2015, Emtek makin mengokohkan fondasi kepemilikannya di Bukalapak setelah memiliki 49% saham perusahaan rintisan tersebut. Total investasi yang ditambahkan pada tahun itu senilai Rp215,42 miliar.

Namun, total saldo modal Emtek di Bukalapak susut Rp108,59 miliar karena kerugian perusahaan toko daring tersebut. Jika angka kerugian itu representatif dari jumlah saham yang dimiliki Emtek, artinya pada 2015 perusahaan yang didirikan Achmad Zaky itu alami kerugian sekitar Rp200 miliar.

Komitmen Emtek untuk tetap di Bukalapak cukup kuat jika melihat total kepemilikan yang bertahan di level 49% pada 2016. Dari total kepemilikan itu, kontribusi kepada pendapatan Emtek senilai Rp34,95 miliar. Pada periode ini Bukalapak juga masih mencatatkan kerugian senilai Rp498,32 miliar.

Sampai akhir 2017, kepemilikan Emtek di Bukalapak masih sebesar 49,21%, meski unikorn itu mendapatkan pendanaan dari Ant Financial senilai US$1,1 miliar pada periode yang sama. Ant Financial adalah anak usaha dari Alibaba.

Kontribusi pendapatan ke Emtek pada 2017 melejit jadi Rp81,07 miliar dibandingkan dengan Rp19,19 miliar.

Memasuki 2018, Bukalapak resmi menjadi unikorn alias startup dengan valuasi US$1 miliar. Namun, kepemilikan Emtek di sana mengalami penurunan persentase menjadi 35,52%.

Di sisi lain, kontribusi pendapatan ke Emtek pada 2018 melejit menjadi Rp297,07 miliar dibandingkan dengan Rp81,07 miliar .

Sayangnya, Bukalapak mulai goyah pada 2019. Kontribusi Pendapatan ke Emtek sepanjang 2019 turun menjadi Rp174,36 miliar dibandingkan dengan RP297,07 miliar. Dengan porsi kepemilikan Emtek tetap 35,52%.

Per 31 Maret 2020 saja, Emtek masih memiliki 35,22%. Kontribusi pendapatan ke Emtek juga naik hampir 100% menjadi Rp44,59 triliun dibandingkan dengan Rp26,27 triliun.

Kalau Merger dengan Tokopedia, Bukalapak Akan Jadi Warna Hijau?

Peluang Bukalapak merger dengan Tokopedia sangat besar jika merujuk rumor merger antara OVO dengan DANA.

Rumor merger OVO dengan DANA bukan tanpa hubungan. Konon, Grab memiliki saham OVO, dan di balik layar Grab ada sosok Softbank. Lalu, DANA dimiliki oleh Alibaba.

Softbank dengan Alibaba punya hubungan erat. Pasalnya, Alibaba menjadi salah satu investasi Softbank yang sukses. Hubungannya pun sudah afiliasi.

Jika OVO dan DANA jadi merger, hal itu bisa saja berpeluang membuat portofolio Softbank dan Alibaba lainnya untuk merger.

Softbank dan Alibaba juga memiliki investasi di Tokopedia. Lalu, Alibaba juga memiliki jejak investasi di Bukalapak via Ant Financial. Artinya, jika ingin mengefisiensikan portofolio bisnis toko daringnya, bukan tidak mungkin keduanya dimerger.

Kekuatan hasil merger dua e-Commerce itu akan disokong oleh sistem pembayaran mumpuni hasil merger OVO dengan DANA.

Kemudian, jika jadi merger dengan Tokopedia, kemungkinan besar perusahaan besutan William Tanuwijaya itu akan menjadi entitas utamanya. Alasannya, kini Bukalapak sudah tidak memiliki pendiri yang akan berupaya mempertahankan brand Bukalapak.

Dari segi valuasi pun, Tokopedia memang jauh lebih tinggi ketimbang Bukalapak. Valuasi Tokopedia sekitar US$7 miliar, sedangkan Bukalapak sekitar US$2,5 miliar.

Jika unikorn besutan Zaky itu beneran merger dengan Tokopedia, bisa jadi e-Commerce hasil merger itu akan menjadi dekakorn kedua di Indonesia.

Namun, semua keputusan itu harus melewati persetujuan dari Emtek. Kira-kira kedua e-Commerce unikorn Indonesia itu bakal merger beneran enggak ya?

0Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Social profiles