BJBR, Nasib BPD Terbesar yang Merger dengan BEKS

BJBR

BJBR alias PT BPD Jawa Barat dan Banten Tbk. harus tekor menanggung PT BPD Banten Tbk. yang ujung-ujungnya dimerger. Padahal, sebelum adanya Bank Banten, Pemprov ujung barat pulau Jawa itu pun sudah memiliki BJBR. Gara-gara ini, saham BJBR masih layak beli enggak ya?

Bank Banten kembali heboh dibahas setelah memunculkan opsi merger dengan BJBR. Prosesnya sudah sampai pada tahap tanda tangan Letter of Intent (LoI) antara Gubernur Banten dengan Gubernur Jawa Barat.

BACA JUGA: BEKS, Mimpi Bank UMKM yang Kandas Jadi Bank Banten

Nantinya, BJBR akan membantu Bank Banten untuk memenuhi likuiditas dengan menempatkan dana line money market dan atau pembelian aset secara bertahap sesuai dengan persyaratan.

Kenapa hal ini bisa terjadi? alasannya kondisi Bank Banten benar-benar terjepit. Mereka butuh dana segar untuk memperbaiki kinerja keuangannya.

Sampai 2019 modal inti Bank Banten cuma Rp154,13 miliar. Nilai itu merosot dibandingkan dengan 2016 ketika periode lahirnya Bank Banten yang senilai Rp560,63 miliar. Padahal, rasio kredit macetnya masih sekitar 5%.

PODCAST: Pilih SIDO atau BBCA ya?

Lebih menyedihkan lagi, rasio kecukupan modal Bank Banten sudah 9,01%. Rasio itu sangat rendah dan berisiko, seharusnya Bank Banten sudah masuk pemantauan OJK.

Apalagi, perseroan sudah mencatatkan rugi selama 6 tahun berturut-turut. Terakhir, pada 2019 rugi sekitar Rp137,55 miliar.

Sangking butuh modalnya, BEKS, ticker emiten Bank Banten, sampai menerbitkan saham baru dengan estimasi harga pelaksanaan yang murah sekali, yakni Rp1,25 per saham. Padahal, saat ini harga sahamnya Rp50 per saham.

Estimasi harga pelaksanaan itu muncul setelah melihat prospektus perseroan yang bakal menerbitkan 400 miliar saham baru. Dari situ, Bank Banten berharap mampu menghimpun dana Rp500 miliar.

Fundamental BJBR Cukup Kokoh untuk Menyelamatkan Bank Banten?

Sementara itu, untungnya kondisi fundamental Bank Jabar alias BJBR masih cukup kokoh jika dilihat sekilas mata. Jadi, meski ini misi konyol karena harus menyelamatkan bank sakit yang dibeli BUMD Banten, Banten Global Development, seharusnya Bank Jabar bisa menyelesaikannya.

Dari sisi neraca keuangan, BJBR mencatatkan pertumbuhan kredit 2019 sebesar 9,12% menjadi Rp87,28 triliun secara konsolidasi. Namun, pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) perseroan hanya sebesar 2,7% menjadi Rp89,35 triliun.

Dari segi laba bersih, BJBR masih mencatatkan pertumbuhan yang sangat tipis sebesar 0,77% menjadi Rp1,56 triliun.

Di sisi lain, BJBR mencatatkan penurunan modal inti tier 1 sebesar 8,5% menjadi RP9,7 triliun.

Dari segi rasio kredit bermasalah kotor, Posisi BJBR cukup bagus sebesar 1,58%. Lalu, rasio kecukupan modalnya sebesar 17,71%.

Seharusnya, dengan fundamental seperti itu, aksi merger dengan Bank Banten bukan hal sulit. Namun, merger dengan bank Banten bukan pula pilihan yang bagus untuk meningkatkan modal inti maupun aset. Malah, modal inti Bank Jabar bisa tergerus karena membereskan kredit bermasalah Bank Banten tersebut.

Sampai 2019, Bank Banten mencatatkan penurunan DPK sebesar 16,11% menjadi Rp5,58 triliun. Artinya, jumlah aset yang diterima bisa jadi tidak sebanding dengan rasio kredit bermasalah yang harus dibereskan BJBR.

Dari segi kredit, sampai 2019 Bank Banten mencatatkan penurunan kredit sebesar -3,22% menjadi Rp5,33 triliun. Sayangnya, dari jumlah total kredit itu, sebanyak 37%nya mengalami kondisi yang kurang baik dari di bawah pengawasan khusus sampai macet.

Kisah kredit bermasalah Bank Banten pun memang sudah bertahun-tahun sejak bank itu masih bernama Bank Eksekutif pada 2010. Selama itu, kredit bermasalah kotor Bank Banten praktis tidak pernah di bawah 4%.

Melahirkan Bank Banten Adalah Sebuah Kesalahan Besar

Sebenarnya, Banten sudah cukup memliki BPD dengan ticker BJBR tanpa perlu membuat bank baru. Pasalnya, bisnis bank bukanlah bisnis yang murah dan mudah.

Pemerintah provinsi Banten memiliki 5,29% saham dari BJBR. Artinya, dengan pembagian dividen senilai Rp94,02 per saham pada tahun ini, Provinisi Banten mendapatkan cuan dari dividen Bank Jabar itu senilai Rp48,94 miliar.

Mungkin ada oknum yang memberikan janji manis [toh dari awal kasus akuisisi Bank Pundi oleh BGD terciduk KPK] provinsi Banten bisa mendapatkan pendapatan lebih besar dengan memiliki bank daerah sendiri. Apalagi, APBD Banten terhitung cukup rendah, pada 2020 saja cuma Rp13,21 triliun.

Sayangnya, membangun bank besar hingga seperti BPD terbesar di Indonesia, BJBR, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dibutuhkan modal besar, apalagi yang dibeli bank sakit, yakni Bank Pundi dengan segudang kredit bermasalah dan kekurangan modal.

Dengan anggaran APBD cuma Rp13 triliunan, Pemprov Banten pasti berat mengeluarkan Rp500 miliar hanya untuk menyelamatkan BPD yang sakit itu. Apalagi, setelah diselamatkan belum tentu langsung memberikan cuan balik.

Jika Banten tidak pernah melahirkan Bank Banten, Pemerintah provinsi di ujung barat Jawa itu tak akan pernah pusing mengurus nasib BPD tersebut.

Mungkin Ongkos Merger Bank Banten Bisa Lebih dari Rp500 miliar

Ongkos merger Bank Banten ke Bank Jabar mungkin enggak cuma Rp500 miliar. Dengan asumsi, Bank Jabar ambil semua saham baru yang diterbitkan Bank Banten.

Soalnya, rencana rights issue sejak 2016 itu tak kunjung rampung. Artinya, Pemprov Banten pun sangat sulit untuk mengeluarkan dana tersebut.

Pilihannya, BJBR yang sudah mapan yang masuk, atau dibantu dengan dana APBD Jawa Barat. APBD Jawa Barat jauh lebih besar berkali-kali lipat dibandingkan dengan Banten.

APBD Jawa BArat pada 2020 senilai Rp46 triliun. Menyisihkan Rp250 miliar untuk Bank Banten mungkin bukan masalah, sisanya akan ditanggung oleh Bank Jabar.

Sayangnya, masalah merger ini enggak cuma Rp500 miliar, tetapi bisa lebih. Hal itu tampak dari perjanjian yang ditanda tangani di mana Bank Jabar akan menyokong kebutuhan likuiditas Bank Banten dengan penempatan dana di pasar uang atau beli aset secara bertahap.

Ongkos merger yang tidak berdampak signifikan terhadap peforma keuangan Bank Jabar ini bisa dibilang cukup besar. Namun, Bank Banten butuh penyelamat agar tidak kolaps.

Portofolio Kredit Bank Jabar dan Banten

Karakter bank daerah adalah mayoritas kreditnya adalah kredit konsumsi. Hal ini yang menjadi kritik sejak lama, tetapi sulit diubah.

Bayangkan saja, BPD terbesar, Bank Jabar, memiliki portofolio kredit 80,19% di sektor lain-lain yang artinya bisa mayoritas konsumsi. Sisanya, paling tinggi berasal dari sektor konstruksi sebesar 6,029% dari total kredit.

Bagaimana dengan Bank Banten? bisa dibilang hampir mirip-mirip. 53,52% portofolio kredit Bank Banten berasal dari lainnya yang bisa berarti sektor konsumsi.

Sektor kedua terbesar datang dari perdagangan, hotel, dan restoran sebesar 18,79% dari total kredit.

Nah, di sinilah yang mungkin bisa meningkatkan ongkos penyelamatan Bank Banten dengan merger ke BJB. Pandemi Covid-19 bisa saja menaikkan rasio kredit bermasalah Bank Banten karena sektor mayoritas keduanya itu sangat rentan bermasalah.

Total kredit Bank Banten yang sudah macet sampai kuartal III/2019 senilai Rp169,17 miliar. Lalu, total kredit yang diragukan senilai Rp78,11 miliar.

Kredit kurang lancar senilai Rp29,53 miliar, dan dalam pantauan khusus senilai Rp1,74 triliun. Total kredit lancarnya hanya Rp3,48 triliun dari total kredit Rp5,5 triliun.

Valuasi BJBR Saat Ini Lebih Murah dari BJTM, tapiā€¦

Sampai perdagangan Senin 27 April 2020, Harga saham BJBR sudah turun sebesar 27,84% menjadi Rp855 per saham.

Sejak 23 April 2020 alias isu merger dengan Bank Banten mencuat, harga saham Bank Jabar sudah turun 9,52%. Artinya, rencana merger Bank Banten ini memberikan sentimen negatif kepada Bank Jabar.

Secara valuasi, BJBR lebih murah dibandingkan dengan BJTM atau Bank Jawa Timur.

Dilihat dari price to earning ratio (PER) dan price to book value ratio (PBVR), Bank Jabar memiliki valuasi PER sebesar 5,41 kali dan PBV 0,7 kali. Di sisi lain, BJTM memiliki PER 5,87 kali dan PBV 0,88 kali.

Sayangnya, dari arus kas, dari data laporan keuangannya, Bank Jabar memiliki arus kas neto yang digunakan untuk aktivitas operasi minus Rp6,59 triliun. Masalah arus kas ini bisa jadi tanda tanya, semampu apa BJBR melakukan aksi merger dengan Banten jika tidak dibantu APBD Jabar?

Jika bicara arus kas, BJTM justru lebih baik. Bank daerah Jawa Timur itu masih mencatatkan arus kas positif Rp2,34 triliun sampai 2019.

Dengan rencana merger Bank Banten dan arus kas yang negatif, kira-kira Bank Jabar masih layak beli enggak ya?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.