Bitcoin akan kembali menjadi primadona investasi gila pada tahun depan? entah itu cuma prediksi spekulan yang nyangkut di uang digital atau benar-benar terjadi. Namun, penikmat instrumen investasi konvensional selalu menyebut bitcoin hanyalah tren sesaat layaknya tanaman kembang cinta maupun batu akik.

Bitcoin memang sempat dianggap sampah ketika Satoshi Nakamoto meluncurkannya pada Oktober 2008. Dengan skema blockchain atau jaringan kontrol terpusat, Bitcoin bisa digunakan untuk transaksi elektronik antar masyarakat di berbagai belahan dunia.

BACA JUGA: Resesi Ekonomi, Antara Ancaman atau Angin Lalu

Bagi beberapa pro uang digital alias uang kripto menilai teknologi blockchain adalah solusi yang akan mengubah sistem keuangan global.

Pendiri Celsius Network, platform peminjaman uang kripto, Alex Mashinsky mengatakan teknologi blockchain dalam Bitcoin adalah yang pertama kalinya bisa memisahkan uang dengan negara.

PODCAST: Apakah Sindhu Benar Tidak Punya Hati?

“Ini bak memisahkan gereja dengan negara,” ujarnya sambil mengandai-andai seperti dikutip dari Bloomberg pada 31 Desember 2019.

Meskipun begitu, salah satu mata uang kripto itu bisa dibilang agak telat lepas landas untuk mencatatkan transaksi pertamanya. Bitcoin membutuhkan waktu hingga dua tahun untuk mencatatkan transaksi pertamanya setelah seseorang menggunakannya untuk membeli pizza.

Setelah itu, harga mata uang kripto melambung tinggi berkali-kali lipat hingga diburu para pemburu cuan.

Puncaknya pada 2017, harga 1 bitcoin melonjak di atas US$1.000. Mata uang kripto itu makin menggila setelah akhir 2017 sempat tembus US$14.000.

Namun, sesuai dengan pepatah investasi, “high risk, high return,” harga mata uang kripto itu yang melonjak tinggi dengan cepat pun hancur lebur dalam sekejap.

Akhir 2018, harga Bitcoin nyaris stagnan di kisaran US$3.000. Namun, harga Bitcoin mampu bangkit lagi pada musim panas pada US$13.800.

Bitcoin Bakal Jadi Emas Digital

Hal ini seolah memicu semangat para pemburu cuan untuk kembali melirik Bitcoin pada tahun depan, meskipun juga dirudung trauma hancur leburnya Bitcoin.

Presiden ProChain Capital David Tawil mengatakan, nilai mata uang kripto itu pastinya menggoda investor.

“10 tahun ke depan mungkin bisa jadi tahap pertumbuhan yang berbeda karena faktornya bisa dibilang beda dibandingkan dengan tahap pertama,” ujarnya.

Tantangan Bitcoin cenderung lebih kepada pengawasan dan regulasi yang lebih ketat dari bank sentral di seluruh dunia.

Meskipun begitu, ProChain Capital masih yakin ada peluang pertumbuhan signifikan pada tahun depan.

“Teknologi Blockchain akan merevolusi masalah sistem keuangan di dunia,” ujarnya.

Di sisi lain, Andy Bromberg dari Coinlist mengatakan harga mata uang kripto itu saat ini sudah terlalu mahal dan ada potensi penurunan.

“Jika harga Bitcoin turun, saya tidak akan terkejut,” ujarnya.

Di tengah kemungkinan itu, mata uang kripto itu akan memulai cerita baru sebagai emas digital. Emas sering dikaitkan sebagai instrumen lindung nilai dan Bitcoin disetarakan dengan status logam mulia tersebut.

“Jika Bitcoin bisa lepas landas maju ke depan, saya akan mendefinisikannya sebagai kesuksesan besar untuk aset kripto,” ujarnya.

Ada semangat baru untuk kembali memburu mata uang kripto ke depannya. Di Telegram pun banyak masuk pesan yang menawarkan transaksi Bitcoin dan mata uang kripto lainnya.

Bahkan, ada orang Kamboja yang dengan nada bersahabat mengirimkan pesan instan dari Telegram menawarkan saya cara mendapatkan pendapatan pasif dalam jumlah besar.

“Gajimu itu terlalu kecil, mending ikut saya trading mata uang kripto,” ujarnya setelah saya memberikan kisaran gaji sebulan dalam mata uang dolar AS.

Di tengah optimistis itu, muncul skeptisme kalau ini hanyalah akal-akalan para pelaku pasar yang nyangkut di mata uang kripto itu pada harga tinggi.

Toh, sampai detik ini, investor saham dan penikmat instrumen investasi tradisional masih menganggap mata uang kripto seperti mata uang kripto adalah tren belaka.

Nasibnya bakal sama seperti batu akik, anturium, hingga ikan lohan yang harganya bisa naik tinggi dalam singkat, tapi anjlok dalam sekejap. Lalu, siapa yang benar? para manusia dari generasi tradisional atau pro kripto yang konon paham tentang teknologi.

Semua keputusan ada di tangan masing-masing pihak. Hanya satu saja permasalahan dari mata uang kripto itu, sangat sulit membaca fundamental seperti, supply and demand yang menggerakkan harga, walaupun katanya yang main di sana sih ada analisisnya.

0Shares

2 thoughts on “Bitcoin, Antara Jadi Emas atau Sampah Investasi Digital

    1. Dari segi teknologinya blokchain memang akan digunakan sistem keuangan di dunia karena lebih efisien, tapi untuk Bitcoin sebagai alat transaksi maupun investasi inu yang masih pertanyaan. Soalnya, enggak ada data fundamental supply dan demand. Semua bisa mining yang bikin supply gak terbatas. Mungkin jadi mirip kayak uang zaman dlu yang bisa diproduksi sampe bikin hyperinflasi cuma semata2 buat mempersiapkan senjata untuk perang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close
Social profiles
Close