Bisnis gagal di tengah pandemi sudah bukan menjadi hal yang luar biasa. Seluruh elemen baik bisnis besar maupun kecil akan tertekan di tengah kondisi krisis seperti ini.

Ramen House dekat rumah yang menurut saya enak sekali pun akhirnya memutuskan tutup. Mereka menjual gerobak ramennya dan kini restorannya telah beralih fungsi menjadi counter handphone.

Itu hanya salah satu contoh dari banyak bisnis yang tenggelam di tengah pandemi Covid-19.

Seperti dikutip dari Inc.com, ada pula kisah salah satu pemilik startup Recovree yang memiliki solusi untuk pemulihan pengguna narkoba harus menutup bisnis rintisannya per 31 Juli 2020.

BACA JUGA: Kasus Jouska, Perencana Keuangan Kekinian yang Menyimpang

Dalam semalam Recovree tamat, pelanggan perusahaan rintisan itu membatalkan kontraknya. Recovree tercatat kehilangan lebih dari 90% pendapatan dari kontrak yang dibatalkan tersebut.

CEO Recovree Melissa Kjolsing mengaku kondisi ini rasanya seperti lutut dipotong dan wajah ditendang.

“Ini benar-benar menghancurkan bisnis,” ujarnya yang sempat mencatatkan pendapatan US$50.000 pada 2019.

Ekonom di Amerika Serikat (AS) mencatat ada lebih dari 100.000 bisnis kecil yang telah ditutup permanen sejak Maret 2020. Penutupan bisnis itu telah memicu banyak diskusi menyakitkan tentang pekerjaan, utang, dan PHK sdm.

Dosen di Wharton School of University of Pennyslyvania Patrick Fitzgerald mengatakan para pebisnis itu tidak hanya menjual produk, tetapi juga menjual kemampuan untuk menciptakan produk atau perusahaan.

“Jika itu gagal, bukan berarti produk kalian tidak bekerja, tetapi rasanya kalian yang tidak bekerja,” ujarnya.

Nah, berikut 3 tips untuk menghadapi periode penutupan bisnis bagi para founder atau wirausaha lainnya.

1. Beristirahat Dulu

Seorang pengusaha yang hebat sekalipun membutuhkan waktu istirahat sejenak. Begitu juga dengan kalian yang baru saja mengalami kebangkrutan bisnis.

Psikoterapis berbasis di Baltimore John Gartner mengatakan setelah memutuskan tutup bisnis, kalian bisa cuti sejenak sebelum meluncurkan ide selanjutnya.

“Pengusaha adalah orang yang ulet, tetapi bahkan mereka perlu istirahat,” ujarnya.

Istirahat itu diperlukan untuk memberikan waktu bebas sejenak. Seperti, untuk meluapkan kesedihan dan sebagainya.

Gartner mengatakan pengusaha yang bisnisnya sudah berakhir memang butuh bisnis kedua. Namun, langsung membangun bisnis baru bukan berarti menjadi obat dari kesedihan penutupan bisnis pertama.

Waktu senggang yang digunakan untuk proses kesedihan dan istirahat itu bisa digunakan untuk mempelajari pasar baru bersama orang-orang yang paham di bidangnya.

Hal ini akan membuat kalian membangun bisnis kedua secara sistematis, tidak impulsif. Artinya, peluang keberhasilan di bisnis kedua juga menjadi tinggi.

2. Bisnis Gagal, Ingat Kalian Tetap Dibutuhkan

Patrick FitzGerald mengatakan kegagalan dalam berbisnis tidak membuat kalian dinilai gagal segalanya. Malah, ada perusahaan yang merekrut eks pengusaha karena keberanian, keahlian, dan kemampuan dalam memulai sesuatu dari nol.

Namun, jika kalian belum siap untuk memulai bisnis yang baru, pilihan untuk meminjamkan keahlian dan pengalaman kepada pihak lain alias membantu bisnis orang lain bisa menjadi pilihan.

Langkah ini bisa dilakukan sambil kalian mencari ide bisnis selanjutnya.

3. Bagikan Kisah Kegagalan Kalian

Percayalah, enggak cuma kalian mengalami kegagalan dalam berbisnis. Untuk itu, kisah kegagalan kalian bisa bermanfaat untuk orang lain.

Tulis kisah yang kalian rasakan dan pelajari di platform publik seperti media sosial.

FitzGerald mengatakan langkah ini bisa membuat kalian lebih lega karena berbagi cerita kepada orang lain, meski bercerita secara terbuka di media sosial.

“Selain itu, dengan berbagi cerita, kalian bisa menambah jejaring yang mungkin bisa berguna untuk bisnis selanjutnya,” ujarnya.

Jadi, apa nih pengalaman bisnis kalian?

0Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Social profiles