Benny Tjokrosaputro bak dewa penyelamat untuk PT Hanson International Tbk. Sempat ambruk gara-gara polemik penghimpunan dana ilegal sampai masalah laporan keuangan, kini Benny kembali masuk menjadi jajaran Direksi demi menyelamatkan emiten berkode MYRX tersebut.

Mendengar nama Benny, sebenarnya saya teringat dengan kisah PT Rimo International Lestari Tbk. Emiten berkode RIMO itu sejatinya bergerak di bidang bisnis ritel seperti, Matahari, Ramayana, dan teman-temannya.

Namun, bisnis ritel Rimo memang lesu sekali. Jaringan Rimo pun terus susut hingga memasuki 2015, Rimo membuat gebrakan dengan beralih bisnis ke sektor properti.

BACA JUGA: Transaksi Kode QR Lancarkan Pembayaran Hingga ke Kaki Lima

Dalam proses peralihan bisnisnya, Rimo berencana mengakuisisi sebuah perusahaan properti bernama PT Hokindo Mediatama.

Konon, Hokindo adalah pengembang properti di kawasan Jakarta, Cianjur, Serang, Sumbawa, Kendari, Balikpapan, Pontianak, dan Bekasi.

Nah, di sini lah Rimo melakukan sebuah kejutan, perusahaan yang tengah lesu itu berniat mencari pendanaan lewat penerbitan saham baru.

Jumlahnya tidak tanggung-tanggung, Rimo berniat melepas 30,6 miliar saham baru.

Jumlah saham baru itu jauh lebih besar ketimbang modal sahamnya saat itu [kuartal II/2015] yang sebanyak 960 juta saham.

Total nilai rights issue RIMO itu pun tembus Rp8,1 triliun, bisa dibilang salah satu yang cukup besar dalam sejarah BEI.

Namun, rencana rights issue itu urung dilakukan. RIMO merevisi jumlah saham baru yang diterbitkan menjadi Rp28,39 miliar denngan total perolehan dana sekitar Rp7,52 triliun.

Meskipun begitu, rencana penggunaan dana rights issue tetap sama, yakni mengakuisisi Hokindo Mediatam. Namun, revisi rights issue itu tidak lantas aksi korporasi bisa dilaksanakan.

Benny Tjokrosaputro dan Rampungnya RIMO Akuisisi Hokindo

Setelah berkali-kali di revisi, rights issue RIMO akhirnya rampung pada semester I/2017.

Akhirnya, RIMO melepas 40,59 miliar saham baru dengan harga penawaran Rp101 per saham dengan target dana Rp4,1 triliun. Di sini, pembeli siaganya adalah Benny Tjokrosaputro,

Lalu, PT Rimo Indonesia Lestari, PT Inti Fikasa Securindo, dan PT Fajar Indah Makmur Jaya sebagai pemegang saham perseroan telah memberikan pernyataan tidak akan ambil saham baru dari aksi rights issue tersebut.

Dalam aksi rights issue kali ini, RIMO akan menggunakan dananya untuk akuisisi PT Hokindo Properti Investama di mana itu adalah perusahaan yang dimiliki oleh Benny Tjokro. Sosok itu juga menjadi pembeli siaga dalam aksi rights issue RIMO.

harga saham RIMO
Harga saham RIMO dalam 5 tahun terakhir. Sempat ada lonjakan pada 2017 yang disebabkan oleh rampungnya aksi rights issue yang sudah digagas sejak 2015.

Nah, berhubung Benny adalah pembeli siaga dan juga pemilik perusahaan yang bakal diakuisisi RIMO, alhasil dana rights issue yang diterima RIMO tida segar langsung Rp4,1 triliun.

Jadi, dana segar berupa bentuk setoran modal dari Benny senilai Rp151,5 miliar, sedangkan Rp3,9 triliun sisanya dalam bentuk imbreng antara Hokindo dengan RIMO.

Rampungnya Rights Issue RIMO

Akibat aksi ‘rights issue’ itu harga saham RIMO pun melejit drastis dari Rp137 per saham pada 10 Maret 2017 terbang 381,75% menjadi Rp660 per saham pada Oktober 2017.

Sayangnya, setelah mencapai level tertinggi pada 27 Oktober 2017, harga saham RIMO langsung amblas 70,9% menjadi Rp192 per saham pada 8 November 2017.

Setelah itu, harga saham RIMO hanya bergerak sekitar Rp120 per saham – Rp130 per saham sampai Oktober 2019. Terakhir, harga RIMO langsung amblas ke level Rp50 per saham sejak 7 November 2019.

Sampai penutupan perdagangan Jumat 15 November 2019, harga saham RIMO berada di level Rp55 per saham dengan kapitalisasi pasar Rp2,48 triliun dan Price to earning ratio 20,1 kali.

Lewat BEI, manajemen RIMO menyampaikan beberapa informasi yang bisa menekan harga sahamnya, yakni, PT Matahari pontianak Indah Mall yang merupakan anak usaha Hokindo Properti Inivestama mendapatkan sanksi administrasi dari KPPU karena terlambat menginformasikan ambil alih saham PT Indo Putra Khatulistiwa.

Sampai kuartal III/2019, RIMO mencatatkan pertumbuhan penjualan sebesar 17,24% menjadi Rp507,98 miliar dibandingkan dengan periode sama tahun lalu. Kontribusi terbesar dalam penjualan itu berasal dari penjualan apartemen.

Namun, laba bersih perseroan melorot 28,34% menjadi Rp76,89 miliar dibandingkan dengan periode sama tahun lalu.

Polemik Hanson International

Jika dari 2015 sampai 2017, RIMO menjadi bahan perbincangan karena rencana rights issue besar dan akuisisi serta alih lini usaha, sedangkan Hanson International yang memiliki hubungan dengan Benny tengah diterpa berbagai sanksi pada tahun ini.

Sanksi pertama dikenakan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait penyajian laporan keuangan emiten berkode MYRX itu pada 2016.

Hanson terbukti melakukan pelanggaran terkait standar akutansi keuangan dalam penulisan penjualan kavling siap bangun dengan nilai gross Rp732 miliar pada laporan keuangan Desember 2016.

Harga saham Hanson International
Pergerakan harga saham Hanson International. Harga saham emiten berkode MYRX itu anjlok sejak awal November 2019 seiring dengan mencuatnya kasus penghimpunan dana ilegal perseroan.

Lalu, Hanson juga tidak mengungkapkan perjanjian pengikatan jual beli kavling siap bangun di perumahan Serpong Kencana pada 14 Juli 2016.

Selain itu, Direktur Utama Hanson International saat itu Benny Tjokro juga terbukti melanggar karena menandatangani perjanjian pengikatan jual beli kavling pada 14 Juli 2016 tersebut.

Hal itu membuat pendapatan Hanson menjadi terhitung terlalu tinggi dengan total nilai Rp613 miliar. Selain itu, Benny juga harus bertannggung jawab atas kesalahan penyajian laporan keuangan pada 2016.

Selain itu, Adnan Tabrani dan Sherly Jokom selaku direktur Hanson dan kantor akuntan publik juga harus bertanggung jawab atas kesalahan tersebut.

Hal itu membuat Hanson Internasional didenda Rp500 juta, Benny Tjokro didenda Rp5 miliar, dan Adnan Tabrani didenda Rp100 juta. Adapun, Sherlu Jokom dikenakan sanksi pembekuan izin selama 1 tahun.

Polemik laporan keuangan itu pun menggoyahkan saham MYRX ke bawah Rp100 per saham. Namun, penurunan masih cenderung wajar.

Hanson, Benny, dan Penghimpunan Dana Ilegal

Memasuki penghujung akhir 2019, Hanson kembali diterpa badai, yakni ada isu mencuat perusahaan properti itu melakukan penghimpunan dana kepada investor ritel.

Sebagai perusahaan non keuangan, Hanson tidak memiliki izin untuk melakukan aktivitas tersebut. Di sisi lain, Hanson juga menampik kalau mereka melakukan penghimpunan dana dengan produk seperti deposito.

Nyatanya, itu memang bukan produk deposito, melainkan produk penghimpunan dana bersifat pinjaman jangka pendek individual dengan tawaran bunga 9% sampai 12%.

Jadi, para investor itu meminjamkan uangnya kepada Hanson demi mendapatkan imbal hasil 9% sampai 12%.

Sampai 25 Oktober 2019, nilai pinjaman individual yang didapatkan Hanson itu senilai Rp2,53 triliun yang berasal dari 1.197 pihak.

Artinya, rata-rata pemberi pinjaman memberikan Rp2,12 miliar per pihak kepada Hanson.

Dari keterbukaan publik BEI, Hanson mengaku dana itu digunakan untuk pembebasan dan pematangan lahan yang dimiliki entitas anak perseroan.

Nantinya, Hanson akan membayar bunga dan pokok pinjaman jangka pendek itu lewat proyek yang sudah masuk tahap penjualan seperti, Citra Majaraya, Forest Hill, dan Pacific Millenium City.

Selain itu, Hanson juga menyiapkan dana dari penjualan tanah di luar ketiga proyek itu sehingga pembayaran utang tidak menganggu alannya proyek yang sedang dikerjakan.

Setelah mendapatkan teguran dari OJK, Hanson pun mengumumkan di media massa sejak 28 Oktober 2019 tidak menerima dana dalam bentuk tabungan, deposito, atau lainnya.

MYRX pun berkomitmen untuk membayar seluruh pinjaman individu pada saat jatuh tempo sesuai dengan perjanjian yang ada.

Benny Tjokrosaputro Kembali Menjadi Dirut Hanson

Terkait polemik itu, Benny Tjokro pun kembali turun tangan. Konon, pihak internal mengakui butuh tangan dingin Benny untuk menyelamatkan perusahaan.

Benny Tjokrosaputro yang merupakan investor kawakan ini adalah pemilik Hanson. Dia sempat menjabat Direktur Utama sampai medio 2016, tetapi setelah itu mengundurkan diri dan menjadi komisaris utama.

Namun, Benny juga mengundurkan diri dari posisi Komisaris utama pada bulan lalu. Kini, Benny kembali turun gunung untuk menyelamatkan perusahaanya tersebut.

Kehadiran Benny memang membawa angin segar untuk saham Hanson.

Gara-gara isu penghimpunan dana ilegal ini, harga saham MYRX jatuh ke dasar Rp50 per saham. Kehadiran Benny menjadi Direktur utama sempat mendongkrak harga saham MYRX tembus Rp61 per saham.

Namun, pada penutupan perdagangan Jumat (15/11/2019), harga saham MYRX kembali ambrol 14,75% menjadi Rp52 per saham dengan kapitalisasi pasar Rp4,56 triliun.

Di sisi lain, kinerja kuartal III/2019 Hanson juga tengah memburuk. Dari segi pendapatan turun 15,74% menjadi Rp923,01 miliar, sedangkan laba bersih susut 57,54% menjadi Rp77,43 miliar.

0Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close
Social profiles
Close