Bank Artos sudah resmi memiliki pemegang saham baru, yakni co-founder Northstar Grup Patrick Walujo dan PT Metamorfosis Ekosistem Indonesia yang dimiliki eks Dirut PT Bank Tabungan Pensiun Nasional Tbk. Jerry Ng. Dengan begini, apakah GoBank alias Bank Gojek akan jadi kenyataan?

Menurut keterbukaan informasi IDX, Metamorfosis Ekosistem Indonesia dan Wealth Track Technology Ltd milik Patrick Walujo membeli 51% saham emiten berkode ARTO itu senilai Rp242,99 miliar.

BACA JUGA: Membongkar Bisnis AKRA si Eks Produsen Sorbitol Terbesar Kedua di Dunia

Keduanya membeli ARTO di bawah harga pasar saat ini, yakni Rp395 per saham. Sampai penutupan perdagangan Kamis (26/12/2019), harga saham ARTO bertengger di Rp2.200 per saham.

Secara rinci, Metamorfosis Ekosistem Indonesia mengenggam 37,65% saham Bank Artos, sedangkan Patrick Walujo memiliki sebanyak 13,35%.

Sebelumnya, 80% saham ARTO masih dimiliki oleh keluarga Hardy, sedangkan 20% sisanya dimiliki oleh publik. Sampai saat ini, belum tahu komposisi pemegang saham detail ARTO, apakah kepemilikan keluarga Hardy berkurang 51% sehingga tersisa 29% atau ada porsi publik juga yang tergerus.

PODCAST: Seberapa Kuat Skuad PBSI Pada 2020?

Di sisi lain, ada yang menarik dari transaksi Bank Artos ini. Northstar Grup yang dimiliki Patrick Walujo sebelumnya adalah pemegang saham di Bank Tabungan Pensiun Nasional (BTPN) sebelum dijual ke Sumitomo Mitsui.

Northstar bersama Texas Pacific Grup mengakuisisi 71,6% saham BTPN senilai US$195 juta pada 2008. Setelah transaksi itu, Jerry Ng yang sebelumnya berada di Bank Danamon pun merapat ke BTPN.

Nah, hal itu seolah terulang dalam transaksi Bank Artos kali ini. Jerry Ng yang membawa eks Direktur BTPN Anika Faisal pun merangsek ke Bank Artos bersama Patrick Walujo sebagai mitranya.

Setelah RUPSLB, Jerry Ng dan Anika Faisal sudah resmi menduduki jabatan sebagai Komisaris Utama dan Komisaris di ARTO.

Jerry Ng dan Anika Faisal menjadi satu paket tim BTPN yang melahirkan Jenius. Lalu, Patrick Walujo lewat Northstar adalah salah satu investor awal Gojek. Butuh berapa banyak uang untuk menjadikan ARTO sebagai bank digital Gojek?

Butuh Berapa Banyak Uang Agar Bank Artos Jadi Bank Gojek?

Jika melihat kondisi Bank Artos sampai kuartal III/2019, Jerry Ng dan Patrick Walujo membutuhkan dana lebih dari Rp1 triliun untuk bisa menjadikan ARTO sebagai bank digital.

Saat ini, ARTO sudah tidak memenuhi syarat sebagai bank umum kegiatan usaha (BUKU) I karena modal intinya tidak mencapai Rp100 miliar. Sampai kuartal ketiga tahun ini, modal inti tier 1 ARTO cuma Rp85,33 miliar.

Dengan status itu, Bank Artos tidak serta merta bisa langsung menjadi bank digital. Soalnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mensyaratkan bank yang bisa melakukan layanan digital minimal berstatus BUKU II atau dengan modal sekitar Rp1 triliun – Rp5 triliun.

Soalnya, bank BUKU I memiliki keterbatasan dalam pengembangan transaksi digital atau elektronik.

Untuk itu, Jerry Ng dan Patrick Walujo harus mendongkrak modal inti Bank Artos minimal Rp1,5 triliun agar bisa naik kelas ke BUKU II.

Nilai itu termasuk hitungan kasar untuk pemberasan kredit bermasalah Bank Artos yang bisa kembali menggerus modal intinya.

Sampai kuartal ketiga, rasio kredit bermasalah kotor ARTO sebesar 8,18%, sedangkan rasio kredit bermasalah bersih sebesar 4,63%.

Angka Rp1,5 triliun itu pun belum termasuk investasi pengembangan infrastruktur teknologi informasi Bank Artos, meskipun hal itu bisa disinergikan dengan mitra seperti Gojek.

Dalam aturan nomor12/POJK.03/2018 bank diperkenankan bermitra dalam memberikan layanan perbankan digital dengan lembaga keuangan atau non lembaga keuangan.

Jika ingin menjadi Bank Gojek, tampaknya Bank Artos membutuhkan waktu lebih dari 1 tahun. Soalnya, dari segi kinerja keuangannya pun tampaknya perlu dibenahi.

Sekadar Investasi atau Jadi Bank Gojek

Namun, menurut saya, peluang Bank Artos menjadi Bank Gojek sangat kecil. Alasannya, tujuan Patrick Walujo di sana adalah investasi.

Berbeda dengan tujuan transaksi Metamorfosis Ekosistem Indonesia yang memang untuk akuisisi Bank Artos

Artinya, bisa jadi nanti setelah Bank Artos sehat dia akan menjualnya ke pihak lain. Apalagi, industri perbankan Indonesia memiliki daya tarik yang tinggi dari investor lokal maupun asing.

Namun, untuk arah bank digital berpotensi bisa tetap berjalan dengan keberadaan Jerry Ng dan Anika Faisal yang merupakan eks direksi di BTPN.

Kedua sosok ini bisa jadi bakal mengarahkan Bank Artos menjadi bank digital untuk menggapai segmen UMKM lebih dalam. Segmen itu sudah menjadi makanan sehari-hari para eks direksi BTPN.

Sisi Lain: Kisah Keluarga Hardy Sang Pendiri Bang Artos

Keluarga Hardy bukanlah keluarga sembarangan, terutama di kawasan Jawa Barat. Keluarga Hardy memiliki beberapa bisnis selain Bank Artos.

Mayoritas bisnis keluarga Hardy berada di sektor tekstil. Tercatat, Keluarga Hardy memiliki dua perusahaan tekstil dan satu distributor produk FILA.

Induk usaha bisnis tekstilnya adalah PT Artostex yang dimiliki keluarga Hardy melalui PT Artomegah Arga Sejati dan PT Cemerlang Megah Dian Sejati.

Dari situ, Artostex memiliki saham perusahaan tekstil lainnya, yakni PT Polyfin Canggih.

Lalu, Keluarga Hardy juga memiliki PT Polyfilatex yang menjadi distributor produk FILA. Perusahaan itu 40% dimiliki langsung oleh Arto Hardy, 45%nya dimiliki oleh Sinatra, William, dan Lina Arto Hardy.

Selain tekstil, keluarga Hardy juga memiliki bisnis perhotelan lewat PT Hotel Talagasari. Di sana, Arto bersama Sinatra Arto Hardy memiliki 66,66%, sedangkan sisanya dimiliki oleh William dan Lina Arto Hardy.

Kemudian, di sektor finansial, keluarga Hardy bukan sekadar memiliki Bank Artos. Mereka juga memiliki PT BPR Pandu Rheksa Berkah yang 99,67% sahamnya langsung dimiliki Arto Hardy.

Lalu, keluarga Hardy juga memiliki PT Swarna Niaga Finance melalui Artostex.

0Shares

2 thoughts on “Bank Artos, Jadi GoBank atau Sekadar Investasi Patrick Walujo

  1. jadi penasaran sama kelanjutan dari perkembangan GObank ini, apakah bakal jadi bank digital beneran?

    oh iya, jika sudah jadi bank digital bukankah nanti bisa jadi layanan bank worlwide seperti paypal dan payoneer?

    1. Bisa saja, cuma yang pasti modal inti bank Artos harus dinaikkan dulu agar bisa naik kelas. Saat ini, Bank Artos berstatus bank BUKU I dengan modal inti cuma Rp80-an miliar. Padahal, untuk bisa menjadi bank digital dengan cakupan layanan yang luas minimal jadi bank BUKU II dengan modal inti minimal Rp1 triliun. Itu pun bakal susah bersaingnya dengan bank BUKU IV yang modalnya minimal Rp30 triliun. Jadi, jauh banget sih Bank Artos menuju bank digital dengan layanan seluas itu hehe ini sih pendapat pribadi aja ya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close
Social profiles
Close