Anak jalanan di perempatan stasiun Karet mondar-mandir menjajakan tisu sebanyak satu kantong plastik besar. Dengan wajah terpaksa, mereka menyodorkan barang jajaannya itu tidak seperti penjual yang mengharapkan barangnya di beli.

Saya terus memantau aktivitas anak-anak jalanan itu saat berangkat kantor pada pagi hari sampai malam hari. Beruntung, pada Jumat 13 Desember 2019 malam, saya berkesempatan berbincang-bincang dengan salah satu anak jalanan penjual tisu tersebut.

“Om tisunya dong beli, satu aja, belum makan nih,” ujar anak laki-laki berumur sekitar 7-8 tahun dengan wajah lemas sambil menenteng satu kantong plastik besar tisu yang belum terjual.

BACA JUGA: Achmad Zaky Cabut dari Bukalapak, Ini Pelabuhan Barunya

“Om bagi uang yang banyak dong,” ujar anak perempuan yang tidak menjual tisu, tetapi ternyata dia adalah adik perempuan dari anak laki-laki yang menawarkan tisu tersebut.

Berhubung lampu lalulintas belum berganti merah, saya pun membeli tisu mereka dengan tujuan untuk mengulik dari mana asal mereka mendapatkan tisu tersebut.

Saya benar-benar penasaran dengan konsep penjualan tisu yang memanfaatkan anak-anak ini. Pasalnya, kejadian ini terjadi hampir di seluruh wilayah Jabodetabek.

Artinya, ada sebuah sistem yang membuat ada orang-orang tertentu untuk mengeksploitasi anak-anak.

Menariknya, hal ini tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga Singapura. Saat itu, ketika saya berada di kawasan Little India, Singapura, ada penjual tisu serupa seperti di Indonesia.

PODCAST: Mau Tau Diary Gue Main FM 2020 Mobile? Cek di sini yak

Bedanya, para penjual tisu jalanan di Singapura dilakukan oleh lansia. Namun, gaya penawarannya sama, meminta kita membeli dengan alasan untuk mereka makan.

Saat itu, sang kakek juga masih mengangkut banyak tisu yang belum terjual juga. Sayang, dia tidak bisa bahasa Inggris sehingga dia meminta kita membeli untuk dirinya makan dengan gerakan tangan.

Eksploitasi Anak Jalanan yang Dianggap Angin Lalu

Masih ingat kejadian Juli-September 2019 terkait audisi Bulu tangkis PB Djarum yang dianggap eksploitasi anak untuk promosi produk rokok. Saya tidak habis pikir pihak Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mati-matian ingin menghentikan audisi tersebut.

Lalu, LSM Yayasan Lentera Anak juga mati-matian menghujat klub Bulu tangkis yang memang terafiliasi dengan konglomerasi Grup Djarum tersebut.

Namun, mereka seolah menutup mata dengan fakta banyak anak jalanan yang dimanfaatkan untuk menjual barang, salah satunya tisu tersebut.

Anak yang saya temui di persimpangan Stasiun Karet itu mengaku dirinya menjual tisu-tisu itu disuruh oleh ibunya.

Bahkan, bukan dia saja yang disuruh, saat itu, ada pula kakak dan adiknya yang ikut meramaikan penjualan tisu. Padahal, pertemuan kami itu terjadi pada waktu yang sudah malam, yakni pukul 20:30 WIB.

“Ibu saya ada di sana [dia menunjuk ke bawah fly over Jl. KH Mas Mansyur],” ujar anak itu.

Sang ibu tampak sedang santai ngobrol dengan teman-temannya sambil duduk, sedangkan anak-anaknya diminta menjual tisu-tisu tersebut.

“Saya cuma diberikan uang saku sehari Rp5.000 sampai Rp7.000 om,” ujarnya dengan ragu.

Ketika ditanya soal sekolah, anak itu menjawab dengan ragu dan bingung.

“Dia sekolahnya di Jambi om hahaha,” sambar adiknya yang ketawa dengan girangnya.

Lalu, dari belakang saya muncul anak laki-laki yang lebih tua dari mereka meminta saya untuk tidak mendengarkan omongan mereka.

“Jangan dengerin omongan mereka mas, orang gila mereka semua itu,” ujarnya.

Saya pun bertanya, apakah dia kenal dengan anak-anak itu. Sang anak misterius itu pun menjawab hanya sering melihatnya jualan tisu di persimpangan tersebut.

“Kalau saya mah orang sini mas, tinggalnya di gang sana,” ujar anak laki-laki yang menggunakan jersey Portugal tersebut.

Asal Pasokan Tisu

Obrolan saya dengan anak jalanan penjaja tisu itu sempat terhenti ketika dia sibuk mencari uang kembalian. Untungnya, saya ada uang pas sehingga obrolan bisa dilanjutkan.

Jujur saja, saya sangat penasaran asal pasokan awal tisu itu hingga skema penjualannya bisa mirip, yakni memanfaatkan anak jalanan.

“Ibu saya ambil tisu-tisu ini dari Pal Merah om,” ujarnya dengan polos.

Saya berpikir, memang ada pabrik tisu atau distributor tisu di Pal Merah. Lalu, mengulik-ulik lagi merek tisu yang dijajakan membuat alasan pasokan tisu diambil dari Pal Merah menunjukkan titik terang.

Tisu yang dijajakan oleh anak jalanan itu bermerek Tessa yang diproduksi oleh PT Graha Bumi Hijau.

Namun, ketika saya masuk ke situs resmi Tessa, ternyata produk tisu itu ada di bawah beberapa PT, yakni PT Graha Kerindo Utama dan PT Graha Cemerlang Paper Utama.

Dikutip dari situs perseroan, Graha Kerindo Utama dan Graha Cemerlang Paper Utama adalah anak usaha Kompas Gramedia yang fokus pada jaringan bisnis.

Graha Kerindo Utama adalah produsen spesialis konversi kertas tisu. Kantor Graha Kerindo Utama ada di Gedung Kompas Gramedia, Tamansari, Jakarta Barat alias dekat daerah Palmerah.

Siapa yang Salah?

Apakah dalam kasus ini berarti yang salah adalah si produsen tisu? Saya tidak mau menghakimi hal tersebut.

Produsen tisu bisa dibilang tidak salah jika mereka hanya menjual karena memang ada pembeli. Kecuali, produsen tisu ini menerapkan sistem yang bisa memicu eksploitasi anak.

Misalnya, ada sistem anggota pemasaran eksternal [mungkin kayak MLM] bisa mendapatkan pasokan tisu secara cuma-cuma. Nanti, keuntungannya dibagi hasil dan produk yang tidak laku bisa dikembalikan.

Jika ada sistem seperti itu, jelas menjadi pemicu oknum tertentu memanfaatkan anak untuk membantu penjualan.

Namun, saya belum sampai menemukan adanya sistem tersebut.

Di sisi lain, Dinas Sosial pun tidak bisa bergerak apa-apa karena kegiatan mereka adalah jualan bukan pengemis.

Nah, sosok yang ditunggu pergerakannya adalah Kementerian Pemberdayaan perempuan dan Perlindungan Anak yang sampai saat ini tidak bertaji menghadapi model eksploitasi anak seperti itu.

Ditambah, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) yang lebih mengurus masalah-masalah yang enggak krusial.

Lalu, pihak-pihak yang mengasihani anak-anak itu dengan memberi uang tambahan atau tisunya juga membuat model bisnis ini terus berjalan. Padahal, uang yang dikumpulkan anak-anak itu pun ujung-ujungnya untuk sang mandor, yakni ibunya.

Jadi, para pemangku kepentingan hanya akan menutup mata saja dengan eksploitasi anak bertajuk jualan tisu ini?

Disclaimer: Tessa menjadi salah satu merek tisu yang dijajakan anak jalanan yang saya temukan. Mungkin di luar sana ada merek lainnya.

0Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close
Social profiles
Close